
Mendapati tubuhnya di bawa oleh Dhavin, Revina pun menatap wajah Dhavin itu.
Ada perasan lega sebab Dhavin akhirnya mau menepati janjinya, sesuai dengan apa yang di ucapkan oleh Dhavin beberapa hari yang lalu.
Karena itu, Revina pun jadi merasakan senang, bahwa pria ini akhirnya mau bertanggung jawab juga atas apa yang sudah mereka berdua lakukan sebelum pernikahan mereka berdua.
"Kenapa menatap wajahku seperti itu?"
"Karena aku..., suka menatap wajahmu." Jawab Revina dengan serta merta. Sampai saat Revina mengatakannya saja, sudah membuat rona pipinya muncul lagi.
Dhavin tentu saja langsung menyeringai tipis, karena dia senang kalau kata suka akhirnya keluar juga dari mulut manisnya itu.
Dhavin kemudian menunduk ke bawah, dan menatap wajah Revina yang sudah merona.
Mengulas senyum lembut pada istrinya itu, Dhavin pun mendorong pintu kamar itu dengan salah satu kakinya. Membawa mereka berdua masuk ke dalam kamar yang pengantin yang sudah di hias dengan dekorasi yang memperlihatkan kesan romantis, Dhavin akhirnya langsung meletakkan tubuh Revina perlahan di atas tempat tidur yang sudah bertabur bunga dari kelopak mawar.
BRUK...
Dua wajah, dua tubuh, dan dua perasaan yang sedang saling berhadapan satu sama lain itu, akhirnya membawa mereka berdua masuk kedalam nuansa romantis yang mereka berdua dalam sebuah gairah panas yang kian muncul ke permukaan kulit mereka berdua.
"Untuk malam ini, apa kamu mau melakukannya?" Bisik Dhavin tepat di wajah Revina dengan tatapan mata yang menyipit. Sebab sekalipun Dhavin bertanya, sebenarnya Dhavin sudah menunggu sajian yang di berikan Revina kepadanya.
Revina pun membalas tatapan mata Dhavin yang terlihat begitu ingin memenuhi apa yang di namakan makan malam bersama di malam pertama dari pernikahan mereka berdua.
"I-iya." Jawab Revina dengan jantung sudah tidak bisa Revina kendalikan lagi.
Dan balasan dari Dhavin adalah senyuman lembut penuh dengan godaan. Karena apa yang di tunggu-tunggunya, akhirnya bisa Dhavin dapatkan lagi.
"Kelihatannya kita berdua memang sedang sama-sama lapar." Kata Dhavin, kembali bangkit dan memposisikan kakinya tetap dalam keadaan jongkok di atas sepasang kakinya Revina. "Aku akan memberimu pilihan, karena hari ini hari spesial, apa yang kamu pilih? Mau cara kasar atau lembut?"
__ADS_1
Sambil menanyakan pilihan apa yang akan di pilih oleh Revina, Dhavin secara berurutan mulai melepaskan satu per satu kancing dari kemeja putih miliknya, setelah beberapa waktu tadi dia sudah lebih dulu menanggalkan jas putih nya.
'Tumben sekali dia memberiku pilihan. Padahal terakhir kali dia melakukannya, caranya adalah kasar.' Tatap Revina. Tapi karena di berikan pilihan yang cukup mudah, maka Revina dengan sangat gampang langsung menjawab. "Aku ingin cara lembut."
Setelah Revina mengatakan itu, di saat yang sama, Dhavin pun sudah berhasil melucuti kemeja putih nya, dan membuangnya ke sembarang tempat, sampai akhirnya Revina di perlihatkan sosok Dhavin yang kini kebetulan sedang memunggungi cahaya matahari yang sedang tenggelam.
Sehingga bayangan yang dihasilkan pun berhasil melahap keberadaan dari Revina yang terbaring di bawahnya persis. "Aku-"
Dan sayangnya kalimat yang hendak Revina keluarkan langsung terbungkam saat Revina di perlihatkan sebuah senjata yang memang beberapa kali sudan Revina coba.
'Apakah aku terlalu lelah? Kenapa aku merasa kalau miliknya lebih tinggi dan besar?' Dan apa yang sedang di pikirkan nya itu itu pun terpampang jelas pada wajah Revina yang sedang bengong karena akhirnya dia kembali di perlihatkan apa itu yang nama Dhavin junior, karena demi melindungi juniornya itu, pria ini pasti selau membawanya kemanapun itu berada.
Dhavin yang terpegun melihat Revina bisa-bisanya bengong seperti itu di depan matanya, membuat Dhavin yang sudah tidak memakai busana itu langsung menyergap tubuh Revina saat itu juga, dan di susul dengan kecupan singkat di bibir Revina.
"Apa kamu mau mengatakan apa yang sedang ada di dalam pikiranmu?" Tanya Dhavin sekaligus meminta.
Revina yang masih seorang pemalu langsung menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Eh?! J-jangan..aku terlalu lelah jika menggunakan cara kasar." Protes Revina karena tiba-tiba pendapatnya tadi sudah tidak di dengarkan.
"Kamu pikir aku mudah di bodohi? Lelah apanya? Asal kamu tahu saja, di bagian sini, jika sudah aku masuki, rasa lelahmu akan hilang dalam waktu singkat." Dhavin yang sudah tidak tahan dengan godaan dari wajah Revina yang terus saja mempertahankan sipu malu hingga membuat rona pipi dan telinganya sama-sama memerah, segera mencengkram sisi depan dari gaun pengantinnya.
"T-tunggu Dhavin. J-jangan terlalu terbu-"
Dan belum juga mengatakan kemauannya itu, gaun pengantin yang di pakai oleh Revina pun langsung di tarik secara kasar oleh Dhavin.
SHRAKK.....
Lalu suara dari kain yang sobek itu pun menjadi pertanda kalau Dhavin berhasil merobek gaun itu dengan begitu mudahnya.
__ADS_1
"Nah...ini jauh lebih cantik." Dhavin tersenyum puas penuh dengan kemenangan, karena dia akhirnya bisa menyingkirkan kain yang menghalanginya dari melihat keindahan yang ada di balik gaun pengantin milik Revina itu.
_____________
Flashback Off.
"Nah...meskipun kamu sudah melahirkan pun, kamu masih saja punya pesona dengan tubuhmu ini." Puji Dhavin, dengan kalimat yang memiliki makna yang sama dengan apa yang Dhavin katakan dulu.
Revina yang sudah kembali dalam kenyataan sebenarnya itu, hanya diam memperhatikan dan mendengarkan apa lagi gombalan yang akan keluar dari mulut maut Dhavin ini?
"Oh ayolah Revina, katakan saja jika kamu sudah tidak sabar mencobanya." Tatap Dhavin terhadap ekspresi Revina yang terlihat diam tapi memang juga sedang memperhatikannya.
'Itu-' Dan Revina langsung memejamkan matanya.
Dia sungguh, beruntung punya suami seperti Dhavin.
Tapi sayangnya, yang paling parahnya adalah Dhavin lah yang lebih bucin ketimbang Revina, karena dengan penampilan Dhavin yang mampu menarik lebih banyak orang, justru lebih memilih Revina yang biasa-biasa saja.
Dan itu bisa di lihat dari Dhavin yang selalu mengatakan kalimat penuh gombalan.
Namun, sekalipun sudah tahu begitu, yang ada sebenarnya Revina jadi semakin senang, karena dia akhirnya sadar, kalau selama ini dirinya tidak pernah kekurangan cinta.
Dan orang yang melakukannya itu adalah : "Ya, Dhavin." Jawab Revina kepada Dhavin yang terlihat sudah menunggu jawaban. "Aku memang sudah tidak sabar lagi bisa merasakan-"
Lalu tatapan matanya pun beralih pada celana Dhavin yang masih di pakai dengan sempurna itu.
"Sentuhanmu." Tidak kuasa menahan malu dengan menatap si empu, Revina segera memalingkan wajahnya ke tempat lain setelah mengatakan hal itu.
"Aku tahu, kamu pasti merindukan sentuhanku." Dhavin pun mengangkat tangan kanannya dan memperhatikan dengan lebih dalam lagi, lalu berkata lagi : "Karena aku sendiri, sebenarnya juga sudah merindukan tubuhmu. Jadi biarkan aku yang memuaskanmu dengan caraku ini." Imbuhnya lagi.
__ADS_1
Seperti seorang dokter yang hendak melakukan operasi kepada Revina, Dhavin pun memulai pengobatan mental untuk Revina.