
"Apa?" Seperti ada yang salah dengan pendengarannya, dia pun jadi bertanya apa? Karena tidak percaya dengan jawabannya, kalau Revina tidak takut jadi janda?
"Siapa yang takut jadi janda?" Ucapnya lagi. Kepala yang awalnya menunduk itu perlahan di angkat dan menatap pria itu dengan ekspresi wajah meremehkan.
'Kenapa wanita ini malah tersenyum seperti itu?!' pria ini lantas terkejut karena perubahan ekspresi yang di miliki oleh wanita yang ada di sampingnya itu benar-benar cukup cepat. 'Lalu apa yang dia maksud? Dia kan is-'
"Apa kamu tahu apa alasan aku tidak takut jadi janda? Karena aku saja bahkan belum menikah." Ucapnya lagi.
Kesedihan yang sempat tertuang tadi, menghilang dan tergantikan dengan senyuman manis yang kian melebar, seolah senyuman lebar itu adalah sebuah peringatan bahwa dia sudah salah menangkap wanita!
'Padahal aku sudah mengamatinya, aku pikir dia adalah Istrinya Dhavin, tapi-' Kalimat yang ada di dalam pikirannya langsung terpotong saat wanita yang ada di sampingnya itu tiba-tiba saja berdehem.
"Ehem..ehehm.." Setelah berdehem dengan sengaja, suaranya pun langsung berubah menjadi lain. "Aku masih single, apa kamu mau menikahiku? Mumpung aku memakai gaun pengantin."
"Karena hanya ada kita berdua, bukankah ini waktu yang cocok untuk bersenang-senang denganku malam ini sebagai ganti kerugian apa yang sudah kamu perbuat padaku?"
Itulah kalimat yang sebenarnya di ucapkan oleh, Vinella, selaku wanita yang berperan menjadi pengganti Revina.
Dalam hati pria ini, dia sudah tertawa, sebab ia tidak pernah berpikir akan mendapatkan tipuan seperti ini.
Mengira kalau wanita yang sudah dia dapatkan adalah target sebenarnya, ternyata semuanya adalah salah.
Dia adalah Vinella, orang yang selalu memiliki peran sebagai seorang bayangannya Revina. Orang yang menggantikan posisi dari majikannya yang sering mengundang banyak bahaya.
"Jadi apa yang akan kamu lakukan sekarang?" Tanya pria ini. Walaupun merasa kecewa karena dia tidak berhasil menculik Revina yang asli, dia tetap saja harus menghadapi wanita ini.
Apa kemampuannya, atau apa trik yang akan di lakukan nya, dia harus mengahadapinya.
"Pertanyaan bodoh macam apa kamu ini? Tentu saja aku akan menangkapmu balik!" Balas Vinella dengan semangat yang tinggi.
__ADS_1
Sampai kedua tangan yang tadinya di borgol dan di sambung ke gagang pintu, dengan mudah langsung terlepas hanya dengan cara menggerakkan kedua tangan dari pergelangan tangannya itu dengan arah yang berlawanan, sehingga Vinella yang sudah memiliki pengalaman dalam hal melepaskan diri, bisa melepaskan borgol itu dari tangannya juga.
Setelah berhasil lepas dari borgol tadi, Vinella langsung membuka bawah gaunnya, dan langsung mengambil pistol yang tersimpan di sarung pistol yang posisinya ada di paha bagian dalam.
CKLEK...
Dengan sorotan mata yang cukup dingin, tepat setelah Vinella mengeluarkan senjatanya itu, dia langsung menarik pemicunya ke arah pria tersebut.
"Ancaman harus di bereskan." kata Vinella dengan nada yang begitu rendah.
DORR....
KWAAK....
Hutan yang gelap dan sunyi itu pun sedikit di isi tembakan yang cukup keras, hingga beberapa binatang yang sempat beristirahat seperti burung gagak, burung hantu, dan rusa yang ada di sekitarnya langsung pergi dari sana.
________________
KLEK.
Satu orang wanita keluar dengan gaun pengantin membalut tubuhnya yang yang ramping.
"Shhtt~ Tidur yang Tuan muda. Jangan berisik, kalau Tuan dan Nyonya pulang, anda boleh berisik." Ucap Lusi sambil menggendong salah satu anak milik sang majikannya.
"Apakah Levine dan Louisa tertidur?" Satu suara paling familiar di telinga Lusi membuat Lusi langsung mendongak ke atas.
"N-nyonya?!" Panggil lusi dengan wajah terkejutnya. "B-bukankah anda seharusnya sudah per-"
Namun kalimat yang akan di tanyakan oleh Lusi langsung Lusi telan kembali, sebab di saat Revina sedang menuruni anak tangga, tepat di lantai dua tiba-tiba saja muncul satu orang pria yang paling mereka kenal.
__ADS_1
'Tuan Freddy? K-kenapa dia ada di sini?' Pikir Lusi setelah dia melihat Freddy memberikan kode kepada Lusi agar tidak bertanya lebih, karena Revina sendiri sebenarnya tidak tahu kalau Arlsei sudah pergi dengan membawa wanita lain yang berpenampilan sama dengan Revina saat ini.
"Tidak, aku tadi hanya tidur sesaat. Tapi di mana Arlsei? Padahal aku sudah menelepon nya, tapi dia sama sekali tidak bisa aku hubungi." Kata Revina dengan wah bingung sekaligus penasaran, sebab selama ini Arlsei akan selalu datang dengan cepat tiap kali di panggil, tapi kali ini tidak, sebab nomor yang biasa di hubungi sama sekali tidak aktif.
"Tuan Arlsei tiba-tiba pergi dengan mendadak, dan mungkin saja handphone Tuan Arlsei mati di tengah jalan." Ucap Lusi sambil memperhatikan instruksi dari Freddy yang berbicara tanpa suara kepada Lusi.
"Tumben, apakah Dhavin yang menyuruhnya?" tanya Revina lagi.
"Saya tidak tahu juga." Sahut Lusi sambil menggendong Tuan Levine.
Revina yang awalnya kebingungan itu, rasa penasaran dan bingungnya pun Revina tarik dan di gantikan dengan senyuman puas, karena dia tiba-tiba merasa gemas dengan melihat Levine yang tertidur?
Tidak, Levine saat ini membuka matanya, dan mengerjapkan matanya untuk melihat langit-langit rumah.
"Oh, Tuan Levina bangun, apa anda mau menggendongnya?" Lusi menawarkan Levine untuk di gendong oleh Revina.
Revina berjalan mendekat dan mengusap pipi gembul dari Levine dan menjawab : "Tidak. Aku takut kulitnya tergores dengan hiasan dari gaunku ini."
Karena gaun nya ada beberapa aksesoris, termasuk payet dan batu kristal yang entah asli atau palsu, dia hanya ingin menghindari resiko itu saja.
"Baiklah. Atau anda mau melihat Nona Louisa?"
Senyuman itu pun sudah menjadi jawaban untuk Lusi, bahwa Nyonya majikan nya itu ingin melihat salah satu anak perempuan nya yang sedang tertidur di dalam kamar.
KLEK.
Setelah Revina dan Lusi masuk kedalam kamar, Freddy yang tadinya berdiam diri di lantai dua, memutuskan menuruni anak tangga sambil mengeluarkan kunci helikopter.
'Arlsei, lagi-lagi aku di bawa oleh rencana yang kamu rancang dengan Dhavin lagi.' Pikir Freddy.
__ADS_1