
"Jadi aku harus pakai pakaian ini?" Tanya Revina palsu ini kepada manager cafe Lotus itu.
"Tuan lah yang menyuruh kami untuk memberikan pakaian sesuai dengan pesanan beliau. Jadi turuti saja, jangan membuat kami di persulit jika kamu menolak memakai itu."
"Ok..Ok.. Jangan marah seperti itu. Aku akan memakainya, jadi jangan khawatir." Tukas Revina palsu ini.
Setelah mendapatkan pakaian yang harus dia pakai, dia pun pergi menuju kamar mandi untuk bergnti pakaian.
*
*
Sedangkan diluar.
Adel yang merasa sudah di permalukan oleh banyak orang di cafe tersebut, terpaksa mengambil tindakan untuk memberikan pelajaran kepada Revina yang dia anggap sebagai wanita dekil yang dia kenal itu dengan memberikan obat perangsang pada minuman Revina yang baru saja di hidangkan oleh pelayan beberapap saat tadi.
"............!" Temannya Adel ini langsung mengusik kaki Adel, karena terkejut Adel benar-benar meletakkan obat afrodisiak itu kedalam minumannya Revina?
"Kamu kenapa? Masalah dengan ini?" Tanya Adel dengan nada berbisik.
Karena mendapatkan tatapan sengit dari Adel, dia pun tidak berani bertingkah lagi, sebab dirinya itu bukanlah apa-apa dimata Adel. Dia hanyalah teman bayaran, karena dibayar untuk menemani Adel.
TAP...TAP....TAP....
"Apakah aku membuat kalian menunggu lama?" Revina palsu ini tentu saja sudah kembali dengan penampilan barunya.
Dia memakai rok brokat yang punya panjang di bawah lutut persis berwarna abu, lalu pakaian atasnya adalah blouse berwarna putih yang sengaja id masukkan kedalam rok, sehingga sekalipun sudah berpakaian tertutup, sayangnya tidak bisa menutupi kesan dari buah dadanya yang besar itu.
"............." Adel memperhatikan Revina itu dengan seksama. 'Bahkan pakaian yang diberikan oleh wanita tadi, masih saja bermerek. Dia cukup beruntung juga, langsung diberikan kompensasi dengan pakaian baru yang terlihat mahal pula. Tunggu, bahkan dengan pakaian mahal itu, tidak bisa menutupi kerugian yang hanya sekecil itu. Apakah dia sudah jadi orang penting? Ini cukup mencurigakan.' pikir Adel.
Dengan pikirannya ynag cukup tajam itu, dia terus memperhatikan segala tindakan yang di ambil oleh Revina ini.
"Tidak juga. Oh ya...kamu belum menajwab pertanyaan dari temanku tadi."
Revina ini melirik kearah teman yang dikatakan oleh Adel, "Yah....Bos memang cukup mempercayaiku. Dia bahkan memberikanku cuti setiap satu minggu sekali, dan mendapatkan liburan sebulan sekali."
Padahal cuti yang dimaksud adalah dia selalu mendapatkan jatah lembur satu minggu sekali, dan mendapatkan liburan yang liburannya itu bukan berwisata ke tempat indah dan menyenangkan, tapi aalah tempat yang memacu adrenalin jika tidak terbiasa dengan kekerasan.
"Wah..bagus dong, ternyata kamu punya pekerjaan yang cukup mendukungmu bisa tinggal di negara maju seperti ini." Ungkap Adel.
__ADS_1
'Bagus apanya, kamu pikir pekerjaanku itu mudah dari yang terlihat ya?' pikirnya.
"Oh ya...kamu mau makan apa? Biar aku yang traktir." Tawar Adel.
"Kalau begitu aku tidak akan sungkan ya?" Wanita ini dalam diam menyeringai. 'Akhirnya aku jadi sekalian makan. Ini benar-benar malam penuh berkah, aku menyamar menjadi Nyonya, tapi di saat yang sama aku juga dapat pakaian baru dan makanan juga.'
_____________
'Wanita ini, aku menyuruh dia untuk menyamar, jadi setidaknya harus terlihat anggun juga. Kenapa dia mau-mau saja makan disana?! Dia itu punya lambung seperti tong, kalau seperti itu, bagaimana jika suatu hari ada yang mengenali Revina yang asli? Mereka pasti berpikir Istriku itu punya daya makan yang banyak.' Dhavin jadi Frustasi dengan apa yang sedang dia tonton dan mencoba mengira hasil dari perbuatan anak buahnya yang sedikit melenceng dari rencana itu.
"Apa? Kenapa melirikku seperti itu? Apa yang sedang kamu pikirkan lagi?" Celetuk Revina, lagi-lagi melihat Dhavin meliriknya.
'Revina juga, emosinya naik turun, aku jadi susah sendiri. Apa yang aku lakukan jadi terlihat serba salah.' Dhavin yang merasa terjerat dengan semua drama yang dia buat sendiri itu memutuskan untuk istirahat sejenak di atas tempat tidur.
Dhavin mengalihkan posisi tubuhnya untuk miring ke arah kanan, sehingga saat ini dia pun memunggungi Revina yang baru saja mengeluarkan pertanyaan dari protesnya itu.
"Dhavin~" Revina mencolek-colek lengan Dhavin itu agar tidak memunggunginya.
"Hmm..."
"Apa kamu masih marah kepadaku soal yang tadi?" Tanya Revina dengan nada yang cukup lirih. Dia mulai mencoba untuk berhati-hati agar Dhavin tidak tersinggung lagi.
"............" Revina yang hendak mengucapkan beberapa patah kata, hanya bisa mengatupkan mulutnya dan berakhir dengan diam. Sudah sangat jelas, baik dari nada, dan tingkah Dhavin saat ini, pria di depannya itu sedang marah kepadanya. "Maaf." Tangan kirinya yang hendak menyentuh punggung Dhavin pun, dia urungkan niatnya itu, sebab dia tidak mau mengganggu pria ini dengan banyak kalimat dari pembahasan sama yang tidak akan pernah habis-habis itu.
Disebabkan masing-masing sudah lelah menjalani hari mereka penuh dengan berbagai konflik aneh, kecil maupun sedang, mereka berdua pun memutuskan untuk terlelap dalam tidnya untuk meraih mimpi yang akan mereka dapatkan saat itu juga.
Mimpi yang menyenangkan atau menyedihkan?
Mereka tidak bisa mengatur mimpi mereka sendiri.
____________
"Nyam....nyam..." Revina palsu ini justru menikmati makanannya ketimbang pembicaraan mereka.
Tapi apa gunanya itu, jika dengan makan banyak seperti itu, maka kemungkinan besar agar Revina palsu itu minum juga semakin besar.
"Jadi kamu bekerja dimana, atau apakah kamu sedang berlibur disini?" Tanya Revina dengan serta merta, di tengah-tengah sedang melahap makanannya dalam jumlah besar.
'Yang benar saja, dia makan banyak sekali. Dia memang tidak punya sopan santu dari pada yang terlihat. Mau kampungan ya tetap saja kampungan.' Pikir Adel.
__ADS_1
'Gila, dia makan sebanyak itu. Apakah Adel mampu membayarnya? Mengingat yang dia pesan itu mahal-mahal semua. Ternyata Revina ini rakus juga.' Wanita yang duduk di sebelah Revina itu pun memperhatikannya terus.
"Aku hanya berlibur. Tapi aku pikir akan sedikit lebih lama dari jadwal, karena aku juga disini aku juga sebenarnya punya urusan lain." Jawab Adel.
"Begitu ya, semoga urusanmu cepat selesai." pungkas Revina ini. "Hahh...hah...hah...pedas sekali ini."
"Ini minum dulu, dari tadi kamu kan tidak minum. Setelah minum pasti rasa pedasnya langsung hilang." Adel menawarkan jus jeruk itu untuk di berikan kepada Revina. 'Ayo minum itu...kalau bisa habiskan sekalian.' Batin Adel.
Hanya saja ketika dia hendak mengambil minuman itu, Revina di kejutkan dengan...
"Hmmm? Kamu mau memberikanku bekas minumanmu?" Sela Revina ini, saat melihat sisi dari pinggiran gelas itu terlihat ada bekas mulut.
"Apa?" Adel bertanya karena pertanyaan aneh dari Revina.
"Apa matamu rabun? Ini.." Revina mengambil gelas itu dari tangannya Adel, dia menjunjung tinggi gelas itu samapi di mana saat terkena cahaya lampu yang terang, maka terlihat sudah, ada bekas bibir yang menempel di sisi gelas dari minuman yang hendak Adel berikan kepadanya.
"Ihh...dia melakukan apa lagi? Masa bekas minumannya sendiri mau di berikan kepada orang lain."
"Itu menjijikan."
"Ya..cukup menjijikan."
"Menjijikan."
Adel yang diperlihatkan fakta nyata dari gelas itu, hanya bisa diam membawa rasa kesal sendiri. 'Kenapa aku tidak menyadarinya? Pelayan tadi? Apakah dia memberikan gelas yang sudah dipakai oleh orang lain. Pasti ini jebakan untukku. Apalagi, Revina ini, dia menghinaku mataku rabun?!'
Pupus sudah rencana Adel untuk memberikan pelajaran kepada Revina yang ada di depannya itu.
__________
"Huft...huft....huft...." Karena keterdiaman mereka berdua berlangsung cukup lama, maka Revina yang sudah kelelahan itu pun akhirnya tertidur juga.
Dhavin yang dari tadi sebenarnya tidak tidur, karena sedang menonton film yang sedang di buat oleh semua anak buahnya, akhirnya berakhir juga.
Dhavin yang memang lelah itu, menghentikan acara menontonnya, sehingga dia pun meletakkan handphone miliknya di atas nakas, setelah itu Dhavin kembali miring ke sisi kiri, dimana dia akhirnya bisa menonton Istrinya tidur di tempat tidur mereka untuk pertama kalinya setelah selama satu setengah bulan terakhir ini Dhavin hanya tidur sendirian.
Tapi sekarang berbeda, karena Istrinya akhirnya kembali ke sisinya. Mengisi kekosongan dari sebelah tempat tidurnya itu yang dari kemarin terasa dingin.
Karena saat ini kembali di hangatkan olah keberadaan dari Revina, maka dari situlah Dhavin yang benar-benar ingin melepas rindu, bergeser lebih ke depan lagi, sampai jarak diantara mereka berdua semakin menghilang, dan membuat Dhavin merasakan hembusan tiap nafas yang dilakukan oleh Istri kecilnya itu.
__ADS_1
'Revina~'