
"Umphh...!" Ronta Revina, ia ingin mencoba melepas diri, tapi tendangan yang dia lancarkan, sama sekali tidak berhasil, dan malahan membuat dia akhirnya tidak bisa bergerak sama sekali setelah kedua tangan yang entah milik siapa, tiba-tiba saja menggerayangi tubuhnya.
'Siapa orang ini? Aku tidak bisa melihatnya, dan tidak mau melihat.' Karena memang dirinya tidak bisa membuka matanya, gara-gara air hangat itu menjadi penghalangnya, Revina hanya bisa mencoba terus-menerus untuk melepaskan diri.
Tapi...
Seperti yang di harapkan, sekaligus di perkirakan, tubuhnya terkunci di dalam pelukan yang di lakukan dari belakang, setelahnya hal yang lebih parahnya lagi, adalah tangannya itu masuk kedalam lingerie nya.
'Akhh! Siapa orang ini?! Jangan-jangan Freddy?! Dia kan diam-diam punya karakter seperti Dhavin, dan dia bisa melakukan tiruannya dengan cukup sempurna. Atau, Dhavin? Tapi-' Seketika matanya lebih mengernyit, karena tangan itu sungguh, menyebalkan, karena di saat ingin mendapatkan udara, sebab oksigen mulai menipis, sepasang asetnya di mainkan dengan cukup ganas. "Ukhmph..!"
Revina semain meringkuk, karena geli sendiri, sampai di detik di saat Revina benar-benar mulai kehabisan nafasnya, tubuhnya tiba-tiba saja di angkat ke atas.
"Kyaa...!" Teriak Revina, terkejut setengah mati, karena kedua tangan yang berasal dari belakang, melingkar di perutnya, dan menarik tubuhnya sedikit ke atas, sehingga Revina jadi panik sendiri. "Tolomph.?!"
Hingga kalimat untuk meminta pertolongan, langsung di rebut oleh seseorang dengan sebuah ciu*an yang cukup kasar.
"Mphh...lep...mph!" Revina meronta, tapi perbedaan tenaga diantara mereka berdua tidak dapat di pungkiri kalau dirinya tidak mampu untuk mengalahkannya. 'Aku mulai kehabisan nafas. Hahh...apa-apaan ini?' Revina mencoba mengintip, ia ingin melihat wajah siapa yang sedang memeluknya dari belakang, tetapi, selain tangan kanan yang melingkar di perutnya, tangan kirinya itu justru di gunakan untuk menutup sepasang matanya, sehingga separuh wajah Revina pun tertutup dengan telapak tangan yang cukup besar itu, sedangkan separuh wajah bagian bawahnya itu, mulutnya sedang di timpa dengan mulut miliki seseorang yang rasanya cukup familiar.
"Mphh...!"
Dan makin lama, akhirnya Revina jadi terhanyut sendiri.
Setelah setengah menit lebih berlalu, tautan diantara mereka berdua akhirnya terlepas.
"Hahh....hah.....hah...." deru nafas yang tidak karuan, membuatnya tidak mampu untuk merangkai kata-kata untuk bicara lebih dulu.
"Apa kamu menyukainya?" Sebuah bisikan yang biasa ia lakukan di samping telinga Revina, lantas tidak mampu membuat Revina bungkam lagi.
Dhavin, dia melepaskan telapak tangannya dari wajah sang Istri, dan melihat bagaimana ekspresi wajah Istrinya yang nampak begitu mesum, karena terlalu menggoda untuk sekedar di pandang dengan mata saja.
"Dhavin? Hahh..hh..hah.., kenapa kamu mengagetkanku saja? Apa kamu pikir itu menyenangkan ha?" Revina yang sempat ketakutan, kakinya jadi lemas sendiri, setelah tahu orang yang membuatnya terkejut seperti orang yang mau di bunuh dengan cara di tenggelamkan, justru adalah Dhavin sendiri.
Betapa terkejutnya Revina, bagaimana bisa dirinya mampu memikat sang raja kegelapan ini menjadi pasangannya?
Revina sendiri tidak mampu membayangkan apapun selama dirinya berkenalan dengan pria ini.
__ADS_1
Yang paling mengesankannya hanya satu, di awal pertemuannya, Dhavin justru terlihat seperti orang bule biasa. Maksudnya hanyalah seorang pemuda biasa yang tidak memiliki latar belakang semengerikan itu.
Coba bayangkan, dibalik senyuman, ekspresi wajah yang terlihat ramah, ataupun wajah yang merasa bersalah jika pernah melakukan kesalahan kepada Revina sendiri, adalah seseorang yang menjabat sebagai seorang Bos.
'Ok kalau dia adalah Bos dari perusahaan bisnis perdagangan atau apa, tapi dia adalah Bos bisnis yang sektor bisnis legal dan ilegal secara bersamaan!' Revina yang awalnya terlihat marah, jadi tidak bisa marah lebih jauh lagi karena tampangnya yang cukup menyita perhatiannya itu.
"Bagiku itu terlihat menyenangkan. Bukankah begitu, istriku?" Jawab Dhavin, memutar tubuh Revina agar berdiri menghadapnya, setelah itu matanya yang tadinya begitu tegas, lagi-lagi berubah jadi sayu.
"Apanya yang menyenangkan? Aku pikir aku akan mati." Revina yang tidak mau melihat ekspresi wajah Dhavin yang begitu polos di hadapannya itu, menunduk, dan jari tangannya bermain-main di area perut Dhavin yang terdiri dari roti sobek.
Revina memencetnya, layaknya sebuah tombol yang pantas di tekan-tekan seperti itu.
"Memangnya siapa yang ingin kamu mati? Yang ada, mereka mengincarmu karena kamu adalah kelemahanku. Mereka memang berpikir seperti itu, tapi kamu sendiri bisa menjaga dirimu sendiri kan? Sayangnya kelemahanmu itu karena kamu berada di tanganku saja, jadi jangan begitu khawatir soal itu. Banyak orang yang akan melindungimu." Ungkap Dhavin.
"Padahal aku adalah nyonya yang biasa-biasa saja." Gerutu Revina, jari jemarinya terus menyusur ke bawah, ada yang sedang menegang di bawah sana, dan Revina yang sedang cemberut karena Dhavin sebentar lagi akan pergi, setidaknya kali ini ia akan menyentuhnya.
TUING.
Betapa hebatnya pusaka itu. Meski sudah di tekan, tapi kembali ke posisi berdiri.
Apakah itu sebuah pegas?
"Biasa apanya, kamu bahkan baik kepada semua orang di sini, mereka itu menyukaimu." Sela Dhavin. "Sebagai imbalan dari kebaikanmu kepada mereka, bahkan tanpa aku suruh, mereka berinisiatif melindungimu." Imbuhnya, sambil mengusap wajah Revina yang bercucuran air. "Revina-"
Dhavin meraih wajah itu lebih erat, dan menariknya sedikit ke atas, agar Revina menatap nya.
"Hanya enam hari, aku berjanji akan menyelesaikan urusanku di sana, dan langsung kembali kepadamu." Ungkap Dhavin, betapa beratnya ia harus meninggalkan Revina dan kedua anaknya di rumah.
Tapi jika di bawa pun, itu akan membuat mereka bertiga lelah, apalagi di mata Dhavin, lebih baik bekerja sendiri, ketimbang membawa beban, hanya itu yang Dhavin pikirkan.
"Hmm...terserahmu saja, yang penting bisa sampai di sana dan pulang dengan selamat, itu lebih dari cukup." Revina sebenarnya sedang iri, mengingat wanita di arab, semuanya cantik-cantik, bahkan punya hidung yang cukup mancung, seperti Dhavin, sedangkan dirinya, standar-standar saja.
"Otakmu ini, selalu saja ya."
CTAK...
__ADS_1
"Ahw..." Kena sentilan di dahinya langsung. "Kenapa menyentilku?!" Reaksi wajahnya langsung berubah lebih cepat dari pada saat membuka aplikasi.
"Kamu pikir, karena di sana banyak wanita cantik, aku akan berpaling darimu? Sebenarnya mau aku ajari berapa kali lagi agar kamu paham sih?" Gemas dengan Istrinya sendiri yang terus saja berburuk sangka kepadanya, bahwa dirinya akan selingkuh di luar sana, Dhavin langsung mengangkat tubuh Revina dengan tangan kanannya yang ada di bawah pant*atnya langsung, setelah itu dia pun membungkam mulut Revina yang hendak bicara dengan meraup keuntungan di salah satu asetnya itu.
"Ukhh...!" Revina langsung membungkuk, dan menekan kepala Dhavin secara refleks, antara agar tidak jatuh terjungkal, juga geli yang tidak bisa dia ungkapkan.
"Sebelum aku berangkat besok, aku ingin bersenang-senang denganmu semalaman."
"Ap- Ihh..." Revina pun jadinya menjambak rambut Dhavin dengan kasar, karena Dhavin benar-benar akan membuatnya begadang semalaman.
___________
"Wow, Tuan dan Nyonya memang nomor satu jika sudah berkaitan dengan romantis-romantisan."
"Kamu iri ya?" Tanya pelayan berambut pirang ini.
"Siapa yang tidak iri? Semua orang yang ada di sini, bahkan termasuk kamu, juga bukannya iri dengan kedua majikan kita?" Balasnya.
Ada lima orang pelayan sudah termasuk dengan Lisa dan Lusi, lalu ada juga empat bodyguard lainnya yang mengintip dari kejauhan, lagi.
Mereka sebenarnya cukup beruntung, karena punya majikan yang tidak begitu galak, tapi untuk sekedar melayaninya, juga cukup menyenangkan.
"Jadi apa kalian semua sudah punya gebetan kalian masing-masing?"
Satu suara yang sangat di kenali oleh mereka, membuat mereka saling tersenyum tawar, sebab Arlsei juga jadi ikutan berkumpul dengan mereka.
"Kyaa! Dhavin, jangan di situ."
"Kenapa jangan? Tapi ini masih cukup sensitif ya? Punyamu ternyata sudah sangat kenal dengan punyaku. Sayang sekali ya, harus menunggu waktu sedikit lebih lama lagi."
"Dhavin, tutup mulut mesu*u itu!" Revina pun menutup mulut Dhavin dengan kedua tangannya, tapi sebagai ganti perbuatan dari sang Istri sendiri, tentu saja Dhavin jadi menjilat telapak tangan Revina yang berharga. "Kyaa.., itu geli."
"Hahaha..."
Suara tawa pun mengisi kedamaian di rumah Calvaro dengan canda dan tawa dari mereka berdua.
__ADS_1
Tapi semua kedamaian tidak selalu nya berlangsung lama. Itu sudah pasti, karena banyak hal yang tidak terduga di dunia ini.
Dan hanya tinggal menuggu waktu saja bagi mereka untuk menemukannya.