Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2

Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2
102 : DBMJCP : Persiapan


__ADS_3

"Hanya itu saja?"


"Memangnya kamu ingin lebih? Jika saja-" Mata Dhavin melirik ke bawah. Tepatnya bukan pada miliknya Dhavin itu, tapi miliknya Revina, yang masih terbungkus dengan rapi di dalam CD nya.


Revina menggelengkan kepalanya dengan kuat, dia tidak bisa membayangkannya jika Dhavin sungguh ingin memasuki penjaranya. Itu akan menjadi bahaya, karena sekarang saja dia tetap masih merasakan sakit, apalagi kembali di hantam dengan adik manis yang super duper hebat itu?


Itu sangat gila.


Mengecup kembali bibir itu dengan singkat, Dhavin pun berkata : "Aku tidak akan menyakitimu. Aku bukanlah orang yang akan melakukannya pada wanita yang sudah melahirkan anak untukku. Tidak akan pernah, jadi-" Dhavin kembali meraih tangannya dan menempatkannya di bawah sana.


Dhavin membuat senyum paksa, karena ia merasakan sensasi hebat tepat di bawah sana, padahal baru menempelkannya saja, tapi kenapa reaksinya bisa sebesar itu?


Dhavin yang sudah tidak mau berpikir apapun lagi untuk memikirkan hal yang tidak berguna lagi itu, karena yang ia butuhkan itu satu saja, di puaskan oleh Istrinya ini.


"B-baik, lah," dengan terpaksa Revina pun membelai adik manis itu.


'Dia ternyata berani juga.' Dhavin hanya tersenyum sambil menikmatinya.


'Tapi tanganku sudah mulai lelah.' Rungut Revina dalam hati, karena ia tidak bisa merasakan nikmat seperti milik Dhavin ini.


Tapi melihat Dhavin terasa menikmati pijatannya itu, Revina pun memutuskan untuk mendorong Dhavin ke samping kanan.


"Ada apa?"


Seperti bangunan kokoh, Revina tidak sekuat Dhavin agar bisa menumbangkan tubuh dalam sekali percobaan.


"Biarkan aku di atas," Tantang Revina.


"Kamu sungguh Istri yang cukup menantang,"


"Aku terima pujianmu,"


Dhavin pun dengan menurut merebahkan tubuhnya, dan membiarkan Revina berada di atasnya. Dan itu berhasil membuat Dhavin melihat posisi paling bagus untuk melihat tubuh Revina.


"Kenapa punyamu selalu terlihat indah ya?" lagi-lagi godaan itu mendarat bersamaan dengan kedua tangan yang membelai lembut sepasang bakpau manis itu.


"Punyamu juga sangat menantang." Tukas Revina.


"Makannya, cepat sembuh, biar kita bisa bermain normal." Imbuh Dhavin. Dia sudah mulai tidak sabar ingin melepaskannya.


"Hm..." Dehem Revina, menahan erangan yang sewaktu-waktu bisa keluar kapanpun ia mau.


Dan pikatan itu pun memang benar membuat apa yang ada di dalam sepasang buah, mengeluarkan cairan berwarna putih yang dapat di minum.


Apakah ada orang lain segila mereka berdua?

__ADS_1


Dhavin mulau separuh bangun, menyesap air berwarna putih itu untuk ia minum.


"Ah..." Revina yang mengerang itu pun akhirnya di susul oleh erangan milik Dhavin.


Pelepasan itu membuat tubuh Revina seperti hendak mandi dengan sabun cair.


Dan karena perasaan nikmat itu masih ada, Dhavin terus memeluk tubuh Revina dengan erat, disertai hisapan dari ujung kecil yang masih mendiami rongga mulutnya, sampai dia terus merasakan adanya aliran yang mengisi mulutnya tersebut.


"D-dhavin, memangnya itu enak?" Revina mengernyitkan matanya, karena ia juga merasakan hal yang sama, sensasi aneh dari tubuhnya yang menginginkan lebih.


"Tenang saja, bagiku ini enak. Dari pada di buang, karena kamu minum obat, lebih baik untukku saja." jawaban yang cukup menggoda, bahkan Revina membelalakkan matanya saking terkejutnya dengan sifat posesif milik Dhavin yang sangat besar itu.


Lima menit kemudian.


BRUK...


TUbuh Revina langsung ambruk di atas tubuh Dhavin. "Maaf, aku sangat lelah." Kata Revina dengan nafas yang tersengal-sengal.


"Tapi punyaku masih berdiri." Dhavin berwajah masam.


"Salahmu tidak hati-hati."


"Makannya, karena ada kamu yang bisa membantuku sepuasnya, aku sampai repot-repot pulang dengan keadaanku yang memalukan ini untuk menemuimu."


Merasa bersalah kurang membuat suaminya bisa menikmati apa itu layangan yang membuat tubuh seperti terbang ke atas awan, Revina yang tadinya sudah terbaring di atas tubuh Dhavin dengan nafas sedang di atur, kembali bangkit.


Revina menempatkan posisi dari pangkal paha milik dari tiang listrik ini di depan perutnya, berbaring miring ke arah kiri, tangannya kembali memegang adiknya Dhavin yang cukup sangar itu dengan sedikit erat.


Panas, besar, dan berdenyut. Apa-apaan itu?


Itulah yang dulu pernah terbenam di pusat inti milik Revina.


Bahkan Revina sendiri tidak percaya kalau benda itu pernah masuk kedalam rumah surga miliknya.


"Kalau kamu seperti itu, aku tidak bisa men-"


"Tapi ini posisi yang pas, aku lebih leluasa seperti ini. Setidaknya biar aku bisa melihatnya dengan jelas, ya kan?"


'Kenapa tiba-tiba jujur sekali?' Semakin terangsang dengan jawaban dari Revina tadi, adiknya pun jadi bertambah besar.


"K-Kenapa ini tambah besar?!" Bahkan untuk menutupi semua sisinya, Revina memerlukan kedua tangannya untuk melakukannya.


Dan itu adalah ukuran yang cukup gila!


"Gara-gara ucapanmu tadi, siapa yang tidak semakin senang?" balas Dhavin sambil melirik ke bawah sana. "Bahkan saat kakimu memeluk ke kakiku, itu semakin menambah untuk gila, Revina."

__ADS_1


Revina spontan terdiam. Dia tidak lagi menggerakkan kakinya yang halus itu di atas kaki Dhavin karena dia tidak ingin melihat itu lebih besar dari terong ungu yang sudah besar.


Dia tidak mau mendapatkan masalah lebih besar jika sewaktu-waktu Dhavin tidak bisa mengendalikan dirinya dan malah membuat Revina sungguh jadi mangsa tanpa akal sehat.


'Ah! Sudahlah. Aku sendiri bahkan bingung mau memberikannya hadiah apa. Dari pada bingung-bingung lagi, lebih baik aku puaskan dia. Kalau dia semakin ganas, aku akan butuh bantuan Arlsei untuk menanganinya' Batin Revina dengan berteriak. Dia sudah bertekad pada dirinya sendiri.


______________


"Hachumm....!" Arlsei spontan mematung karena baru saja bersin.


"Ada apa Tuan? Apa anda sakit?" Tanya salah satu seorang pelayan, saat melihat Tuan Arlsei yang sedang Istirahat di temani secangkir kopi juga laptop, tiba-tiba saja bersin.


Tidak seperti orang lainnya, Arlsei terbilang sangat jarang bersin.


"Ada seseorang yang sedang membicarakanku." Sahut Arlsei. Tangan kirinya mengangkat cangkir kopi, dan tangan kanannya dia gunakan untuk terus mengetik keyboard laptop dengan cepat. 'Tapi kira-kira siapa ya?'


SLURP..


Tanpa memperdulikan lagi soal apapun itu, Arlsei kembali bekerja. Dibalik dia kini tengah duduk dan main laptop, dia sebenarnya sedang mengawasi anak buahnya yang sedang dia pekerjakan di suatu tempat karena perintah dari Bos mereka.


BIsa di bilang memang cukup melenceng, karena mereka sedang membantu untuk mendekorasi suatu tempat agar tampak indah.


Tapi bagi mereka yang hanya menginginkan sebuah gaji, apapun yang harus mereka kerjakan, akan tetap di kerjakan dengan baik.


"Apa kamu sudah menyiapkan sepasang setel pakaian pernikahan untuk Tuan dan Nyonya?"


-"Iya, Tuan. Kami sedang mempersiapkannya. Karena acaranya akan di lakukan sore hari, kami bisa memiliki waktu yang cukup untuk menyelesaikan gaun dan setelan jas untuk Tuan juga Nyonya."-


Arlsei melirik ke arah jam tangannya, lalu kembali mengatakan : "Aku sarankan kurang dari jam tiga sore sudah jadi."


-"Baik Tuan."-


Panggilan itu pun tertutup.


Dengan tatapan mata yang tidak terlihat bercahaya, ekspresi datar yang tidak menggambarkan perasaan apapun di dalam dirinya, Arlsei pun menatap lantai dua, dimana kamar Tuan dan Nyonya sudah bisa kembali di gunakan lagi.


"Dua malam ini akan jadi malam yang cukup panjang untukku." Gumam Arlsei, lalu kembali menyeruput kopinya sebagai peneman begadangnya.


Tapi tidak lama kemudian, dia mengambil alat komunikasi berupa radio dan menghubungi seseorang lagi.


"Apa kamu tidak mengerti tata letak, jangan diletakkan di sana. Lalu karpet merah jangan di bentangkan dulu.


Bunga di atur dulu di dalam Vas bunga, besok baru di letakkan di luar ruangan." Tegur Arlsei terhadap kinerja anak buahnya yang kurang memuaskan hati.


-"B-baik Tuan."-

__ADS_1


Arlsei menghela nafas kasar, dan meletakkan radio tersebut di samping laptop lagi.


"Tuan memnag ada-ada saja. Kenapa harus mendadak seperti ini?" Kutuk Arlsei, sebagai tangan kanan nya Dhavin, dia selalu di tuntut untuk menyelesaikan semuanya dari balik layar.


__ADS_2