Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2

Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2
73 : DBMJCP : Siapkan


__ADS_3

Sampailah, ajakan dari Revina pun Dhavin ambil.


Dua wajah yang awalnya berjarak, sekarang sudah mereka makan dengan sebuah kecupan manis dan lembut?


Sebenarnya tidak manis. Tapi karena perasaan dari mereka berdua tertuang dengan sempurna dalam ciuman itu, maka dua bibir yang saling menyatu itu pun terasa lembut, memberikan kesan indah dan menyenangkan, membuat mereka berdua merasa tidak rela untuk menyudahinya dalam waktu singkat.


Itulah, mengapa dua orang yang berciuman seperti merasakan sensasi manis, padahal itu adalah rasa lembut yang terasa tidak bisa di lepaskan begitu saja.


Dan pergulatan dari dua mulut itu berhenti saat mereka merasakan rasanya kekurangan oksigen.


Dua wajah dua pasang mata dari dua orang yang sedang saling bertatap muka itu pun membuat salah satu diantara mereka akhirnya membuka suaranya.


Dan yang pertama kali melakukannya adalah Dhavin. "Revina, aku benar-benar bertanya padamu. Apa yang kamu inginkan di hari ulang tahun pernikahan kita?"


"Aku- " Dengan wajah yang masih tersipu, karena dia merasakan apa itu rasanya malu, karena dia sendiri yang mengajak Dhavin lebih dulu untuk melakukan ciumannya tadi, membuat Revina jadi sedikit ragu untuk berbicara.


Dengan masih berada di posisinya, Dhavin pun terus menatap wajah Revina yang terlihat di landa kebingungan.


Makannya, Dhavin pun menyela ucapannya Revina. "Inilah yang membuatku merasa gemas padamu." Ungkapnya. "Apa kamu tahu apa itu?"


Revina hanya diam untuk menunggu jawabannya.


Melihat hal itu, Dhavin pun menurunkan kembali kepalanya.


Tapi tidak seperti yang tadi, dimana dia menurunkan kepalanya dan mendaratkan bibirnya di permukaan bibirnya, tapi sekarang yang Dhavin lakukan adalah, dia mendaratkan wajahnya di atas permukaan dada Revina yang hanya terbalut dengan piyama saja.

__ADS_1


"Wajah yang selalu tersipu saat kita berdua saja seperti ini, kamu membuat mataku melihat kalau kamu terlihat lebih berharga dari permata Ruby." Ungkap Dhavin. "Jadi-"


Dhavin yang sedikit lelah untuk menahan tubuhnya terus, segera mengistirahatkan tangan kirinya itu dan meletakkannya di atas sana. Permukaan yang terlihat datar, tapi sebenarnya ada sesuatu yang lumayan menonjol.


"Katakan, sebenarnya apa yang kamu inginkan? Aku sudah tidak sabar mendengarnya. Bahkan untuk ini-" Dhavin lagi-lagi menggantungkan kalimatnya, dan meneruskan maksud dari ucapannya yang tidak penuh itu dalam sebuah tindakan yang langsung menguras mental Revina untuk memiliki pikiran lain yang lebih wah.


Revina mengernyitkan matanya, menahan sensasi geli yang cukup menyulitkan mulutnya untuk tidak membuka suara dengan sebuah lenguhan.


"Ah~" Menyadari kalau mulutnya baru saja mengeluarkan kalimat ambigu yang menggugah selera Dhavin, Revina buru-buru menyadarkan pikirannya. "A-aku hanya ingin itu saja."


"Itu apa? Coba katakan yang lebih jelas." Dhavin yang sudah terlalu ahli dalam memuaskan tubuh Revina, perlahan memulai pekerjaannya yang sudah lama tidak Dhavin lakukan hampir satu tahun itu.


Dan salah satu diantaranya adalah dengan membelai apa yang ada di balik piyama Revina, setelah beberapa saat tadi berhasil membuka ke lima kancing baju yang menautkan kedua sisi dari baju piyama itu.


Revina yang perlahan menikmati apa itu sensasi saat tangan milik Dhavin itu akhirnya kembali menyambut miliknya, Revina pun menjawab dengan suara yang sengaja di tahan. "Aku..ingin, kita- ah..."


Melihat Dhavin bertubuh besar layaknya beruang, tapi bertingkah seperti anak kecil yang sudah mau merengek minta jajan kepadanya, membuat Revina tersenyum.


Dia senang, karena ada yang bisa membuatnya senang dan bahkan sebenarnya jadi ingin tertawa. Karena itu, Revina pun mengangkat tangannya dan mendaratkan tangannya di atas kepala Dhavin, lalu mengusap rambut hitam legam yang terasa lembut di tangan itu.


"Aku hanya..ingin mengulang."


Dhavin yang sedang asik bermain dengan miliknya Revina sambil menikmati usapan lembut di kepalanya, membuat Dhavin tiba-tiba saja menghentikan aksinya untuk sesaat, dan bertanya : "Mengulang apa?"


"Pernikahan kita. Itu kalau kamu mau-mph...!" Imbuhan dari jawabannya pun langsung menghilang saat Dhavin membekap mulutnya dengan mulutnya Dhavin, tentunya. 'Dhavin ini, dia suka sekali seenaknya seperti ini. Tapi..aku yang sudah di bodohi oleh cinta, merasa aku akan menerima apapun yang dia miliki.'

__ADS_1


Setelah tautan diantara mereka berdua berheti, Dhavin pun berbicara. "Ok, aku akan menyi-"


Tapi sama hal nya dengan apa yang di lakukan oleh Dhavin kepadanya, Revina pun membalaskan perbuatan Dhavin dengan hal yang sama juga.


Tapi itu hanyalah sebuah kecupan yang berlangsung sesaat saja, dan langsung menyela ucapannya juga. "Tidak. Aku tidak memerlukan apa yang ada saat itu. Aku hanya ingin bisa memakai baju pengantin lagi dan duduk di tepi danau."


"Apa maksudnya kamu ingin kita berdua melakukan kencan romantis di tepi danau dengan memakai baju pengantin? Begitu kan?" Kata Dhavin, menjelaskan maksud dari ucapannya Revina barusan.


Dan jawaban Revina pun hanya dengan sebuah anggukan.


Dhavin bangkit dari posisinya yang sedang menindih Revina dan menjawab: "Baiklah, aku akan menyiapkan tempatnya untuk kita berdua. Lalu yang perlu kamu siapkan saat ini adalah tubuhmu saja, mengerti?"


Setelah ucapan Dhavin berakhir, Dhavin tiba-tiba langsung melucuti setelan jas hitam yang membalut tubuh atletisnya itu.


Membuang pakaiannya ke sembarang tempat, hingga apa yang terpampang jelas di hadapannya Revina adalah benar-benar tubuh beruang dengan deretan roti sobek yang bisa di hitung dengan cukup jelas itu.


"Air liurmu keluar lagi tuh." Ledek Dhavin, ketika dia melihat Revina sangat terlihat antusias sekali melihat tubuhnya yang kini sudah separuh telanjang itu.


"Slurp.." Revina yang terpancing dengan ucapannya Dhavin pun jadi membuat Revina kelabakan untuk menelan saliva nya lagi.


'Dia masih saja sama seperti yang dulu. Tidak bisa mengatur air muka nya sendiri.' Senang melihat kepolosan Revina masih menempel pada Revina, Dhavin jadinya merasa senang dan benar-benar tidak ingin melepaskan Revina begitu saja. 'Hahh~'


Dengan gayanya sendiri saat menghela nafas kasar sambil menyisir rambutnya dengan kelima jari tangan kanannya, Dhavin kemudian menundukkan kepalanya ke bawah.


"Revina sudah lapar ya?" Seringai Dhavin.

__ADS_1


Revina yang awalnya tidak begitu memperhatikan wajah Dhavin karena tetap terfokus pada deretan roti sobek itu, membuat Revina mendongak ke atas.


Sampai sosok Dhavin yang tinggi juga besar, hingga hasil bayangan karena menghalangi cahaya matahari yang terang itu menutupi seluruh tubuh Revina yang terbaring di atas tempat tidur, nyatanya selalu sukses menyita perhatian Revina.


__ADS_2