
"Selamat datang Tuan," Sapa para pelayan laki-laki yang sudah berdiri berjejer rapi di pintu masuk persis, menyambut kedatangan Dhavin Calvaro.
Dhavin yang sudah terbiasa dengan sambutan seperti itu, terus berjalan melangkah masuk menyusuri karpet merah.
Karpet mewah yang membentang cukup panjang sampai ke depan, tempat dimana ada satu tangga yang menghubungkan antara lantai satu dan lantai dua.
Dan tangga tersebut kemudian terbelah menjadi dua ke samping kanan dan kiri.
Ketika di lihat ke atas, bertemulah satu orang pria berambut pirang cepak, bibir tebal, punya iris mata berwarna biru, hidung mancung, dengan wajah blasteran antara asia dan eropa, membuat dia punya wajah tampan berpostur tinggi dan lebih kental ke wajah asia.
Dia adalah Vian, orang yang menjadi pembicaraannya bersama dengan Revina tadi sebelum dirinya pergi.
Tidak seperti dirinya yang lebih suka memakai pakaian formal, sekalipun di dalam mobil dia punya cadangan pakaian santai, tapi Vian ini, dia memang benar-benar memakai pakaian santainya.
Kaos putih oblong dipadukan celana kolor dengan warna hitam tapi punya loreng seperti celana tentara.
"Hei Bro~ Dhavin." Dengan senyuman cerah, Vian merentangkan tangannya dan memeluk tubuh Dhavin yang kebetulan tinggi mereka berdua tidak jauh berbeda. "Padahal ini bukan acara formal, tapi kamu selalu saja memakai jas seperti ini." Sambil memperhatikan pria di depannya itu dari atas sampai bawah.
Sungguh sempurna, seperti patung dengan pahatan dari bahan khusus.
Siapapun akan terpana untuk melihat penampilan Dhavin yang sungguh mencolok, sekalipun pria di depannya itu sedang berjongkok dan mengorek telinga.
"Aku hanya lebih terbiasa dengan pakaian seperti ini." Jawabnya dengan lugas.
"Kamu terkesan kaku." Sambil menimbang-nimbang penampilan Dhavin yang bisa di ganti itu. "Ngomong-ngomong dimana wanitamu itu? Dia tidak di ajak? Padahal aku sangat ingin menemuinya." Vian menoleh ke arah kanan dan kiri, sama sekali tidak ada satu orang wanita pun yang menemani Dhavin Calvaro dengan berjuta pesona ini.
"Untuk apa? Dia masih trauma dengan kemunculanmu yang tiba-tiba itu. Jadi jangan berharap kalau kamu akan bertemu dengannya." Kata Dhavin.
"Hee~ padahal itu sudah satu tahun yang lalu, masa masih belum melupakannya." Kata Vian, dengan wajah masam. 'Padahal wajahnya saat malu itu sungguh lucu. Aku pikir dia akan di ajak, jadi aku bisa menjahilinya. Atau aku diam-diam bawa dia tanpa sepengetahuannya ya?'
Tapi karena Vian melihat adanya sesuatu yang tersembunyi di balik jas nya Dhavin itu, Vian pun menolaknya.
'Tidak, tidak, tidak. Itu berbahaya. Anak ini saja sekarang malah membawa senjatanya di balik jas nya itu, aku tidak mau mengambil resiko untuk membawa Istrinya itu kesini juga, apalagi jika aku melakukannya, Dhavin pasti akan benar-benar menembak tanganku deh.' Ide jeniusnya pun sirna juga, karena dia tidak mau membangunkan serigala hitam ini ke mode bertarungnya.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong, dari tadi aku mendengar banyak orang berbicara dan tertawa." Ucap Dhavin sambil sedikit memiringkan kepalanya ke arah kanan, yang artinya menunjuk pada halaman belakang rumah Vian.
"Oh~ Ya, aku sampai lupa karena aku saking kangennya bertemu denganmu. Sini, biar aku perlihatkan pesta paling eksotis yang pernah ada." Kata Vian.
Ketika hendak merangkul leher Dhavin, lirikan yang terkesan seperti sebuah peringatan membuat Vian mengurungkan niatnya itu.
'Seram, padahal denganku, tapi tetap saja waspada.' Karena sudah seperti itu, Vian memimpin jalan untuk Dhavin. "Ikut aku. Inilah yang aku maksud sebagai kejutan dariku."
Dhavin dan Vian pun naik ke lantai dua, dari balkon, mereka berdua pun langsung di perlihatkan pemandangan yang cukup menyita perhatian mereka berdua.
"Ayo lempar!"
"Hei! Lempar sini! Jangan ke arah dia!"
"Berikan saja kepadaku, mereka berdua itu tidak layak."
Semua laki-laki yang kini sudah bertelanjang dada itu terus mengulurkan tangan mereka ke atas untuk mendapatkan bola yang akan di lempar oleh satu wanita cantik dan cukup seksi, karena tentu saja banyak wanita yang hanya menggunakan bikini demi menarik perhatian lawan jenis mereka.
"Akhh...! Jangan begitu, a-aku masih belum mau masuk ke kolam!"
Karena itulah, sekarang posisinya jadi seperti sedang tarik.
"Tidak, jangan dulu. Aku belum mau masuk," Protes wanita ini ketika tubuhnya sudah di ayun ke samping kanan dan kiri, mengambil ancang-ancang untuk melemparkan tubuh montok nya itu ke dalam kolam, dan akhirnya dengan anggukan, kedua laki-laki itu pun melempar tubuh wanita tersebut.
BYURR...!
"Akhh...! Apa-apaan kalian ini," protes wanita yang lainnya, karena mereka sedang asik minum di pinggir kolam, tapi hasilnya mereka langsung mendapatkan cipratan air dalam jumlah besar.
"Maaf sayang, hanya menjahili yang belum masuk ke dalam kolam. Kan wajib hukumnya, jika mau disini harus cebur dulu ke kolam." Dengan senyuman remehnya, pria ini langsung saling mendapatkan tos, sebagai hasil kemenangan mereka berdua untuk membuat wanita tadi masuk kedalam kolam.
"'Uhuk ...uhuk ...uhuk." Wanita dengan pakaian renang berwarna hitam itu akhirnya terbatuk-batuk setelah di cebur dengan paksa oleh orang lain, yang bahkan sebenarnya ia sendiri tidak begitu kenal. "Kurang ajar kalian."
Tidak terima dengan apa yang di lakukan oleh mereka berdua, wanita ini langsung berjalan ke arah tepi kolam dan langsung naik ke atas sebelum akhirnya ia mencengkram masing-masing dari salah satu tangan milik mereka berdua dan menariknya dengan kuat, dan akhirnya.
"Eh...?"
__ADS_1
BYURR...
"Kyaaa...!" Bertambah ramailah orang yang kena imbas dari gelombang besar yang di ciptakan dari tubuh mereka berdua yang terjatuh masuk kedalam kolam renang.
"Phuah...!" Mereka berdua akhirnya keluar dari dalam air dan langsung mengambil nafas sebanyak-banyaknya.
Kembali ke posisi Vian dan Dhavin berada.
"Jadi ini yang kamu maksud dengan pesta eksotis itu?" Tanya Dhavin sambil menumpukan kedua tangannya di pagar pembatas dari balkon tersebut, dan terus menatap ke arah bawah, dimana banyak pria dan wanita sedang bersenang-senang di kolam renang besar, dan kebetulan airnya menggunakan air hangat, makannya pada betah di dalam kolam.
Dan sisanya ada yang duduk santai, menari, ataupun duduk berdua dengan pacar sambil sayang colek sana dan colek sini di tempat-tempat tertentu, yang tentu saja Dhavin tahu dimana itu.
'Untung saja aku tidak mengajak Revina. Kalau aku mengajak dia kesini, pasti dia akan melirik ke arah pria lain.' Benak hati Dhavin, jika mengingat Revina sekalipun sudah menikah dengannya, dengan segala aspek yang cukup sempurna untuk memuaskannya, Revina akan tetap melirik ke pria lain yang punya wajah juga tubuh wow-wow seperti itu.
Makannya, Dhavin hanya datang sendiri, karena ingin membiarkan Revina istirahat. Tapi siapa yang akan menduga kalau acara yang di adakan oleh Vian adalah pesta kolam renang.
Maka dari itu Dhavin merasa beruntung, keputusannya cukup tepat untuk tidak membuat Revina ikut bersamanya.
"Kenapa? Sudah tidak tertarik lagi dengan yang seperti itu?" Vian duduk di tepi pagar pembatas menghadap ke arah Dhavin yang sedang ada di depannya persis itu.
"Ya, seperti itulah."
"Woh~" Vian sedikit membungkukkan tubuhnya ke depan, dan menoleh ke arah samping kanan, untuk menatap wajah Dhavin yang terlihat serius. "Padahal bukannya tahun lalu saja kamu masih bisa duduk bersenang-senang menikmati pesta kolam renang seperti itu? Apakah ini ada hubungannya dengan Istrimu?"
Dhavin yang awalnya terdiam, akhirnya melirik ke arah Vian yang sedang menunggu jawaban yang sebenarnya sudah cukup jelas apa itu.
"Itu sudah jelas kan? Aku hanya merasa lebih tertarik dengannya, ketimbang kegiatan seperti itu." Jawab Dhavin.
'Ternyata dia memang benar-benar bisa jatuh cinta sedalam itu. Sungguh di luar perkiraanku sih, kalau laki-laki seperti dia ini, ternyata bisa mendapatkan wanita yang dia inginkan.
Dan wanita itu justru wanita polos, yang malah memang imut sih saat malu-malu gitu. Aku juga harus mendapatkan wanita yang seperti itu juga ah, kan enak bisa di jahili terus.' Vian dalam diam pun jadi ikutan setuju dengan pilihan Dhavin soal wanita pendamping. Dan akan memutuskan mengikuti jalan seperti Dhavin juga.
GRRRTT
Tapi melihat Dhavin tiba-tiba saja menggertakkan gigi, Vian langsung tersenyum tawar dan kembali berdiri dengan sempurna. "Kenapa ekspresimu jadi seperti itu?"
__ADS_1