Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2

Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2
15 : DBMJCP : Rasa penyesalan


__ADS_3

“Ini sungguh bau.” Rutuk Dhavin, saat dia mengendus telapak tangan dan lengan tangannya yang saat ini sudah bau karena dia baru saja kena pup oleh Levine.


Dia tidak pernah berpikir kalau itu akan jadi kali pertamanya tangannya ternyata bisa di nodai oleh hal lain selain darah. 


“Hah…kalau sudah seperti ini, lebih baik aku mandi saja dulu.” Gumam Dhavin. 


Dhavin pun pergi menuju kamarnya, setelah pergi masuk, dia tanpa pikir panjang langsung melepaskan semua pakaiannya satu persatu, dan meninggalkannya sembarangan di lantai, sehingga dia pun secara tidak langung membuat jejak bahwa dirinya saat ini akan melakukan ritual sore nya.


KLEK…


Suara pintu yang berhasil terbuka itu menciptakan suasana baru untuk mereka berdua. 


Ya….


Bukan seperti yang biasanya Dhavin lakukan selama satu bulan terakhir, dimana dirinya selalu mandi, makan, dan tidur sendirian, sebab dirinya di tinggal Revina dalam posisi Revina sedang koma, maka kegiatan yang serba sendirian itu akhirnya bisa berakhir. 


Seperti saat ini, dimana saat ini, dimana kamar mandi yang biasanya kosong itu akhirnya di isi lagi oleh keberadaan dari sang Istri, yaitu Revina. 


'Dia ternyata sedang berendam.' detik hatinya


Dhavin jadi terharu, karena akhirnya Revina bisa kembali dan sekarang sedang tertidur di dalam bathtup.


‘Hah…ternyata seperti ini. Suasana hatiku kembali senang setelah tahu kalau di kamar ini akhirnya aku sudah tidak sendirian lagi. Dia memang wanita yang bisa membuatku gila kapanpun dan dimana pun.’ Dengan wajah sumringah, Dhavin pun berjalan masuk kedalam kamar mandi yang sedang di gunakan oleh Istrinya itu. 


Tentu saja, hatinya terbesit rasa senang yang tidak bisa Dhavin ungkapkan dengan kata-kata selain, 


‘Akhirnya aku bisa berduaan dan bermain lagi dengannya.'


Dhavin pun melepas handuk kecil yang awalnya melingkar di pinggangnya, lalu dengan serta merta, dia pun mencelupkan dirinya di dalam bathtup juga dan duduk di posisi belakangnya Revina persis. 


SPLASSH…..


Air yang ada di bathtup pun kembali meluap karena adanya tambahan kapasitas yang harus di tampung oleh bak mandi itu. 


“.............” Revina yang sesaat tadi duduk meringkuk sambil memeluk lututnya sendiri akhirnya terbangun. “Sempit.” jeling Revina saat melihat Dhavin sudah masuk dan sedang duduk di belakangnya persis. 


“Aku bisa menggantinya jika memang terasa sempit.” Sahut Dhavin seraya menarik bahu Revina agar tubuhnya bersandar ke belakang, atau lebih tepatnya bersadar ke tubuh Dhavin.


“Kamu memang bisa melakukan segalanya. Tapi yang seperti ini, tidak perlu di ganti.” Lirih Revina tanpa menatap lawan bicaranya yang sudah memiliki harapan besar kepada Revina agar bisa tersenyum ataupun bereaksi dengan ekspresi malunya.


Akan tetapi, semua itu tidak terjadi, karena sekarang Revina jadi terlihat seperti biasa saja dengan posisi mereka berdua yang berendam bersama dalam keadaan telanjang. 


‘Dhavin ini, padahal biasanya kalau mandi seperti ini…dia tidak akan bereaksi apapun. Tapi kenapa ini kembali bangun? Apa dia sedang menggodaku?’ Benak hati Revina, dia pun hanya duduk diam tanpa berkomentar apapun tentang aset milik Dhavin yang sudah kembali bangun, tepat di bawah sana. 


“Apakah kamu masih marah denganku?” tanyanya.


“Entahlah.” Jawab Revina dengan selamba. Revina hanya duduk dan bersandar di depan dada bidang Dhavin seraya menikmati aroma tubuhnya yang masih kuat dengan keringat khas dari pria itu. ‘Apakah aku sudah kecanduan dengan aroma tubuh miliknya ini? Tiap kali seperti ini, aku jadi merasa tenang.’ pikir Revina. 


‘Revina…. kenapa dia jadi lebih diam? Apakah dia benar-benar lelah atau karena masih marah kepadaku? Aku salah…dia jadi terlalu terlibat dengan hal yang tidak perlu. Jika saja Freddy itu tidak termakan dengan pancingan Ibuku, kejadian hari ini mana mungkin terjadi.’ batin Dhavin. 


Merasa kasihan dengan istri kecilnya yang ada di depannya itu baru saja menghadapi segala peristiwa, Dhavin yang juga merasa lelah akhirnya melingkarkan kedua tangannya di bahu Revina.

__ADS_1


Dhavin benar-benar memeluk Revina dari belakang, lalu meletakkan kepalanya di atas kepala Revina. 


“Maafkan aku.” itulah kata-kata yang terucap dari mulutnya yang bisa saja membuat sebuah kalimat penghakiman yang tidak bisa di ganggu gugat.


“............?” Revina yang awalnya sudah memejamkan matanya itu, kembali terbuka dan bertanya, “Minta maaf untuk apa lagi? Jika soal tadi siang, akulah yang harusnya minta maaf,” kata Revina, dia tidak bisa langsung memahami apa maksud dari ucapannya Dhavin sesaat tadi.


“Tidak-tidak…bukan itu.” Ucap Dhavin, langsung menyela ucapannya Revina. 


“Lalu minta maaf karena apa?” tanyanya lagi, ingin menguak apa alasan dari suaminya itu tiba-tiba bertingkah aneh lagi. ‘Berat ya? Padahal hanya tangan dan kepala. Tapi ngomong-ngomong bau apa ini?’


Revina mencoba mengendus aroma yang familiar itu.


‘Oh iya, tadi dia kan menggendong Levine, apakah dia mandi karena baru saja kena pup?’ Revina mencoba menoleh ke belakang, di saat itulah pelipisnya tiba-tiba saja di cium oleh Dhavin. 


CUP.


Mereka berdua pun saling bertatapan mata. Dan kali ini Revina sudah mampu untuk menatap matanya Dhavin yang terlihat seperti seorang yang mampu melihat segalanya. 


Ya…


Hanya dengan melihat dari matanya saja, terkadang ada orang yang mampu membaca pikiran seseorang, dan Dhavin adalah orang itu. 


“Maafkan aku, karena kamu jadi menderita.” Kata Dhavin, mengungkapkan rasa bersalahnya dengan kata-kata maaf, disertai ekspresi orang yang sedang bersalah. 


‘Menderita? Menderita karena apa? Aku hanya menderita karena mentalku selalu diuji olehmu. Yah..yang seperti itu, aku tidak begitu mempermasalahkannya. Tapi- kenapa Dhavin seperti orang yang terdengar sedang putus asa? Apakah ada sesuatu yang menyadarkan otaknya itu?’ Pikir Revina. 


Karena hanya di pikirkan dan menebak-nebaknya saja Revina tidak akan pernah mendapatkan jawabannya, maka Revina pun bertanya lagi : “Dhavin, katakan saja apa maksudmu sudah membuatku menderita? Padahal selama ini kamu baik-baik saja, bahkan terus berusaha membahagiakanku, seperti hari ini.”


Akan tetapi..


SPLASH….


Air di dalam bathtup kembali meluap karena Dhavin yang tiba-tiba membuat gerakan besar. 


Tentu saja karena Dhavin langsung meraih wajah Revina yang kembali bahagia ketika memperlihatkan barang seperti handphone itu, sebelum akhirnya Dhavin kini mengecup bibir Revina, sampai Revina yang kala itu sedang memegang handphone, handphone itu jadi langsung terjatuh ke lantai, karena aksi Dhavin yang begitu mendadak itu. 


‘A-apa? Ini bukan reaksi wajah seperti orang yang sedang menginginkan sesuatu kepadaku gara-gara miliknya sedang berdiri, tapi ekspresinya…kenapa dia terlihat seperti sedang sedih?! Siapa orang yang berhasil membuat seorang Dhavin Calvaro ini sedih seperti ini?!’ Racau Revina, tatkala tautan bibir dari mereka berdua akhirnya berakhir juga. 


Dan akhir dari ciuman singkat itu, Dhavin pun kembali mengungkapkan rasa yang sedang melanda hati dan pikirannya itu. 


Apa itu?


“Revina, kedatangan mereka berdua, pasti sangat membuatmu lelah kan? Bahkan karena melahirkannya, kamu jadi koma. maafkan aku karena aku tidak membicarakan hal seperti ini lebih dulu, se-”


Satu ujung jari yang menempel di permukaan bibir Dhavin, berhasil membungkam mulut yang akan mengatakan lebih dari banyak kalimat yang tidak ingin Revina dengar. 


“Shhtt…..” Tatapan mata Revina yang awalnya terlihat terkejut itu, berubah menjadi sendu. 


Kini dia akhirnya tahu, kalau Dhavin ternyata baru saja mengatakan rasa bersalahnya karena dulu tidak pernah membicarakan soal anak lebih dulu. Dan ketika mereka berdua sudah diberikan karunia dua anak kembar, lalu melihat Revina yang terlihat menderita karena pergerakannya jadi terbatas karena hamil sampai sembilan bulan, melahirkan Levine dan Louisa dalam kondisi genting sebab di kelahirannya Louisa, ternyata air ketubannya sudah sampai habis, mendapatkan pendarahan sampai membuat Revina koma, sampai akhirnya jadi mendapatkan insiden lain karena sebuah foto. 


Semua masalah itu langsung melingkupi Revina secara bertubi-tubi, hingga Dhavin sendiri sebagai seorang pria, tidak bisa berbuat apapun saat kehamilan sampai proses persalinan selain menyemangatinya terus. 

__ADS_1


Sampai masalah foto yang terjadi tadi siang, Dhavin baru bisa menangani itu dengan tangannya sendiri.


“Jika kamu berpikir aku menderita karena semua ini, itu memang iya."


DEG.!


Dhavin terkesiap dengan jawaban yang di jawab oleh Istrinya itu. 'Jadi memang benar kan? Ah..aku sudah menduga ini. Dia pasti memang cukup menderita.'


"Akan tetapi, sayangnya aku tidak begitu mempermasalahkan hal itu Dhavin. Justru aku senang, karena aku bisa ada disini dan mempunyai Levine juga Louisa, semua itu berkat kamu yang mau menerimaku apa adanya. Jangan pikirkan itu lagi, ya?” Jelas Revina, mencoba menenangkan seorang pria yang terlihat frustasi karena tidak bisa berbuat apapun saat kehamilan sampai persalinan.


Itu terpancar dari mata yang biasanya punya mata cerah untuk melakukan segala hal dengannya, kini seperti seseorang yang sedang di landa putus asa.


Dikarenakan Revina mengungkapkan kalimat terakhir yang bagi Dhavin cukuplah menakjubkan, Dhavin pun langsung memeluk tubuh mungil Istrnya itu.


Karena di peluk, Wajah Revina pun mendarat di atas dada bidang Dhavin persis.


Suara detang jantung yang tidak begitu beraturan itu berasil menarik perhatian Revina untuk berpikir. 'Kenapa jantungnya bisa berdetak tidak beraturan seperti itu? Dia benar-benar sesuatu sekali. Sampai berdebar seperti ini, apakah hanya permasalahan seperti itu, lantas pantas di berdebarkan?'


Kedua tubuh yang sedang telanjang itu pun saling menempel. Dan hal itu memberikan sensasi kenyamanan tersendiri yang bisa di dapatkan oleh mereka berdua.


'Ahh~ Tepatnya sudah berapa lama aku tidak mendapatkan momen seperti ini? Dan...' Dhavin yang sedang bersandar ke belakang dari sisi bathtup itu, melirik kerah bawah, dimana saat ini Revina dengan begitu senang hatinya mau memeluknya seperti itu. 'Revina...dia memang wanita yang baik. Saking baiknya, aku benar-benar seperti orang yang berhasil memanfaatkannya dalam segal hal. Karena dia aku memang tidak kesepian lagi, aku juga merasa tidak begitu direpotkan olehnya, karena dia bukan tipe wanita yang banyak maunya, sampai aku harus inisiatif sendiri memberikannya sesuatu lebih dulu. Tapi yang terpenting, dengan keberadaannya Revina saat ini, aku jadi bisa menikmati semuanya tanpa kendala. Sekalipun yang harus aku lakukan adalah bersabar menghadapi tingkahnya dan pola pikir yang perlahan mulai ketebak'


Melihat Revina memeluknya seperti itu, DHavin pun semakin mendekapnya.


Tatapan mata yang tadinya terlihat sendu, berubah menjadi seperti orang yang baru saja mendapatkan sebuah mangsa.


"Ahw.." rintihan singkat Revina tadi memberikan reaksi yang membawa Dhavin ikut terbawa terkejut.


"Apa yang sakit?" Lontar Dhavin, melihat Revina tadi seperti kesakitan.


"Punya mu itu...menggesekku."


Secar Dhavin langsung memejamkan matanya. "Apa maksudmu Vin? Kamu menginginkannya?"


Revina membuka matanya sesaat, lalu kembali menutup untuk tidur lagi. "Itu sakit, punyaku masih belum sembuh. Jadi jangan terus memancing untuk mengajakku." Jawab Revina secara terus terang.


Mendengar hal itu, Dhavin pun sebenarnya jadi lebih menginginkannya lagi, karena sekarang Revina jadi lebih terbuka soal hubungan yang mampu membuat mereka berdua mendapatkan kepuasan.


Namun, mengingat kondisi Revina saat ini memang sedang tidak memungkinkan untuk melakukannya, maka Dhavin pun hanya mampu untuk menahan dan bertahan saja, seraya memeluk tubuh mungil istrinya yang kian hari bagi Dhavin cukuplah mengundang seleranya.


Tentu saja...


Karena berkat semua uang yang dimiliki Dhavin, maka dia pun mampu merubah penampilan Revina jadi semakin menarik perhatiannya terus.


Semua usahanya untuk membuat Revina memiliki penampilan yang cantik, memang bisa Dhavin wujudkan kapanpun itu


Tapi yang terpenting di sini adalah...


Hati.


Dhavin memang mampu merubah hal yang biasa jadi luar biasa, yang ada menjadi tiada, ataupun yang tidak ada jadi ada. Tapi kira-kira bagaimana dengan hati?

__ADS_1


__ADS_2