Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2

Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2
159 : DBMJCP : Pemikiran


__ADS_3

Pagi itu, terasa cukup damai, apalagi sekarang mereka berempat sedang bersama-sama.


Berkumpul bersama di ruang keluarga yang posisinya berhadapan langsung dengan kolam renang yang cukup besar juga cantik, sebab di seberang kolam renang ada air mancur yang di desain seperti tebing dengan air yang jatuh layaknya air terjun dan jatuh ke dalam kolam yang berisi ikan koi.


Mungkin ini adalah kedamaian pertama mereka?


Tapi memang benar, kalau sekarang memang hari yang cukup damai. Sampai Dhavin yang biasanya pagi-pagi sudah keluyuran keluar rumah, entah cara kerja sebagai mafia itu seperti apa, Revina sendiri kurang tahu, pria ini sekarang sedang duduk di sebelah Revina.


Sambil duduk bersandar ke sandaran sofa, kedua tangannya pun sedang memeluk Levine dan Louisa, dimana sebelah kanan adalah Levine, maka Loisa ada di sebelah kiri.


Untung saja mereka berdua sedang anteng karena sudah terlelap tidur dalam pelukan Dhavin, yang entah bagaimana ceritanya, setiap masuk kedalam pelukannya Dhavin, sudah pasti efek sampingnya bisa buat orang terlelap tidur, dan salah satu korbannya adalah Revina sendiri.


"Pfft..khihihi...."


"Kenapa kamu tertawa seperti kunti?" tanya Dhavin dengan salah satu alis terangkat. Padahal dari lima menit ini tidak ada pembicaraan diantara mereka berdua, tapi Revina secara tidak terduga langsung membungkukkan tubuhnya ke sisi lain sofa, menutup wajahnya dengan bantal sofa dan setelah itu suara cekikikan pun menyelimuti ruangan tersebut.


Hanya ada satu orang yang sedang tertawa, dan cuma Revina seorang saja yang punya kebiasaan aneh. Di saat sedang diam, tiba-tiba sudah tersenyum-senyum sendiri, dan parahnya jika sudah tertawa seperti sekarang.


Orang lain yang melihatnya, dari segala sisi pun akan menganggap kalau Revina sedang di landa kegilaan.

__ADS_1


"Kan ada yang lucu." Cekikikan nya sama sekali tidak bisa berhenti.


Revina masih tertawa setelah ia menjawab pertanyaan singkat dari Dhavin tadi.


"Iya, tapi apa yang lucu, kamu selalu diam-diam punya sisi aneh yang tidak aku ketahui." Ungkap Dhavin, ia pun merasa seperti belum sepenuhnya mengenal Revina, karena Revina memang bukanlah orang yang begitu terbuka kepadanya jika tidak di tanyai langsung.


"Aku..aku hanya merasa lucu karena melihatmu."


Dhavin yang begitu mendengar kalau tawa milik Revina berhubungan dengannya, sontak membuatnya langsung mengerjapkan matanya beberapa kali, lalu melihat kembali sosok Revina yang sedang memantatinya.


Ya iya lah, Revina duduk, tapi malah membelakanginya, lantas pan*at yang terlihat menggoda itu pun seolah sedang menantangnya untuk di tusuk.


"..........!" Dhavin jadi diam membisu sendiri dengan imajinasi yang sempat mendatanginya.


Dengan tubuh yang bergetar karena tawa milikinya, Levine dan Louisa pun sempat membuka matanya sesaat dan menatap Dhavin, yang mana hal itu membuat Dhavin yang sedang tertawa malah jadi di pandang oleh kedua anaknya sendiri.


Sontak Dhavin jadi terdiam melihat mata kedua anaknya yang bulat itu.


Tapi tidak lama kemudian mereka berdua kembali tidur dan tangan kecil itu menggenggam sedikit kain baju yang di pakai Dhavin.

__ADS_1


"Ohww...i-itu, itu sungguh comel." Lisa yang tidak tahan dengan pemandangan yang begitu imut itu, langsung berjongkok dengan ekspresi wajah yang begitu frustasi.


Ia hanya tidak menyangka kalau dirinya adalah seorang pengasuh yang merawat penerus dari keluarga Calvaro.


Tapi bukan itu yang terpenting, yang paling penting adalah tingkah imut dari baby manis itu bagi mereka adalah hadiah paling luar biasa.


Maka dari itu, saat Lusi tahu kalau Lisa kembali bertingkah karena melihat tingkah imut dari Tuan dan Nona muda, Lusi segera menyeret kembarannya itu agar pergi dari sana dan membiarkan ke empat majikannya itu bersama-sama.


"Hahh~" Revina akhirnya menghentikan tawanya, dan masih belum tahu kalau tadi juga ada sesuatu fantastis di belakang Revina. "Aku ingin ketawa lagi, tapi lelah." Rutuk Revina sambil terus menatap kolam yang ada di luar sana.


Walaupun lelah, namun Revina masih tersipu malu dengan senyuman manis terus saja mengembang tanpa henti.


'Sebenarnya apa yang sedang dia pikirkan sih? Aku ingin sekali membuka masuk kedalam isi kepalanya itu.' Dhavin yang sudah tersadar dari tawanya tadi jadi iri dengan apa yang sedang di pikirkan oleh Revina itu.


"Hehehe....aku tidak menyangka, huh." Revina bergumam sendiri, dan selagi itu pula karena posisinya sedang bagus serta enak, ia pun tanpa sadar jadi menggoyang-goyangkan pan*atnya di samping Dhavin persis. "Kenapa bisa seperti ini ya? Aku jadi heran. Tapi ini nyata."


Sambil berbicara sendiri dan terbuai dalam lamunannya Revina sendiri pula, pan*at nya pun bergoyang ke kanan dan ke kiri.


'Ini Istri minta di makan ya?' Dhavin pula, tatapan matanya begitu dingin, dan mulutnya pun menutup rapa, sebab sesuatu yang hanya Dhavin miliki dan ia bawa kemanapun ia pergi sudah bergejolak ingin keluar dari tempatnya.

__ADS_1


"Hehehe," Lagi-lagi Revina dalam mode Isti gaje, dia tersenyum sendiri, tertawa dan bicara sendiri, sedangkan suaminya di abaikan dengan kesengsaraan. 'Kenapa aku bisa ada di sini? Kenapa aku sudah punya dua anak? Suami tampan? Mafia? Dan aku sudah jadi Istrinya?'


Deretan pertanyaan itu membawa Revina di selimuti tawa kecil yang begitu hakiki.


__ADS_2