Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2

Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2
121 : DBMJCP : Awal keberangkatan


__ADS_3

"Tapi kalau Arlsei pergi, lalu siapa yang akan mengantarku ke tempat Dhavin?" Tanya Revina kepada Lusi, berharap kalau Lusi tahu.


Setelah menengok kedua anaknya, Revina kembali keluar dan tiba-tiba di tengah Revina sedang bingung soal orang yang akan mengantarkan dirinya ke tempat Dhavin berada, Revina tiba-tiba saja di hadapkan oleh Freddy.


Pria yang kualitasnya sebelas dua belas dengan Dhavin.


'Kenapa dia tiba-tiba ada di sini? Bukannya Dhavin tidak menyukai dia yang datang ke rumahnya ini? Tapi apa? Kenapa orang yang dulu pernah menculikku sekarang ada di depanku dan-' Tatapan Revina perlahan turun, saat dia melihat tangan Freddy terulur ke arah Revina. "Apa?"


'Ternyata dia tidak tahu.' Freddy terpaksa menarik kembali tangan kanannya yang sempat terulur ke arah Revina.


Niatnya Freddy melakukan itu untuk membantu Revina berjalan, tapi karena Revina terlihat seperti orang yang tidak kesulitan untuk berjalan dengan menggunakan gaun pengantin yang sedikit panjang itu, makannya Freddy tidak jadi memberikan bantuannya.


'Yah~ Walaupun aku sudah memaafkan perbuatannya dulu kepadaku, tapi yang jadi pertanyaan, kenapa orang ini memandangiku seperti itu terus? Dia pikir aku merasa tidak risih?' Pikir Revina, sedikit risih dengan tatapan yang di berikan oleh Freddy kepadanya.


"Bukankah kamu ingin pergi menemui Dhavin?" satu-satunya orang yang tidak memanggilnya Nyonya, Freddy bertanya demikian kepada Revina dengan bahasa informal.


"Iya. Tapi Arlsei tidak ada di rumah." Jawab Revina.


"Nyonya, kelihatannya Tuan Freddy lah yang akan mengantar anda pergi." Bisik Lusi.


Revina kembali menatap penampilan Freddy yang terlihat cukup rapi.


"Kalau begitu hati-hati ya Nyonya, semoga acaranya sukses." Imbuh lusi, sebelum Lusi akhirnya undur diri pergi dari sana untuk meninggalkan sang Nyonya dengan Freddy.


'Jadi aku akan di antar oleh dia?' Revina sedikit ragu, tapi kalau bukan Freddy lantas siapa lagi yang akan mengantarnya?


Jika memang ada yang mau mengantarnya, sudah pasti akan datang ke Revina dulu. Tapi karena yang datang adalah Freddy, jadi sudah pasti adalah pria ini.


Freddy yang mengetahui tatapan ragu milik Revina kepadanya adalah sesuatu yang pastinya berkaitan dengan apa yang terjadi pada masa lalunya, membuat Freddy langsung balik badan.


"Waktunya sudah mepet, jika mau disini aku ak-"


"A-aku ikut. Tunggu aku." Revina yang tidak mau di tinggal oleh Freddy, buru-buru berjalan menyusul. 'Padahal Arlsei saja sopan kepadaku, kenapa sikap Freddy kepadaku seperti itu?' Gerutu Revina di dalam hati.


Dengan susah payah, Revina mencoba menyamai langkah kaki Freddy yang terkesan cepat itu.


'Ngomong-ngomong aku baru menyadarinya saat aku melihat punggungnya. Dari belakang, dia jadi terlihat seperti Dhavin.' Kernyit Revina. 'Tidak mungkin, tidak mungkin.'


Revina menggeleng dengan cepat agar apa yang sempat terlintas di dalam pikirannya tadi itu adalah salah besar.

__ADS_1


Dia tidak mau berpikir bahwa Freddy yang di lihat dari belakang terlihat seperti Dhavin!


Hanya saja setiap melihat kembali Freddy berjalan dengan penuh wibawa seperti Dhavin, membuat Revina benar-benar punya pikiran kalau Freddy bisa jadi Dhavin!


'Kalau seperti ini, bagaimana jika suatu hari nanti saat Dhavin dan Freddy berdiri bersama, dan aku ada di belakang mereka berdua tiba-tiba memeluk salah satu di antara mereka berdua, dan yang aku peluk adalah orang yang salah? Bukannya aku akan mampus oleh Dhavin?' Dan pikiran dari imajinasi itu pun berhasil melayangkan khayalan Revina.


"*Revina~ Kamu lebih suka memeluk baj*ngan ini ketimbang aku?! Aku berikan hukuman fisik padamu malam ini juga*." Khayalan akan imajinasi Revina saat Dhavin memergoki Revina memeluk Freddy dari belakang pun muncul, hingga Dhavin yang tersenyum lebar tapi penuh maut, langsung menyusup ke otak Revina.


'Noooo! Aku tidak mau! Dhavin itu sudah mesum, jangan sampai aku dapat pengalaman lebih mesum lagi!' Revina pun jadinya berteriak di dalam hati, karena dia sedang tidak ingin mendapatkan hukuman ar*tis dari seorang Dhavin Calvaro.


Karena Revina terfokus ke imajinasi yang sedang masuk, langkah kakinya pun jadi tidak Revina perhatikan.


"Oh ya, kita tidak akan naik Mobil, tapi Hel-"


Dan Freddy yang hendak memutar tubuhnya untuk memberitahu Revina soal kendaraan yang akan di gunakan oleh mereka bukanlah mobil, wajahnya tiba-tiba berubah menjadi panik saat Revina tersandung dengan kakinya sendiri.


"Akh...!" Revina langsung memejamkan matanya, takut jatuh tapi juga pasrah kalau dia akan jatuh dengan memalukan di depan Freddy.


BRUKK....


'Eh?' Revina tersentak kaget karena tubuhnya tiba-tiba saja di tahan alias di tangkap oleh kedua tangan Freddy.


"T-terima kasih." Revina buru-buru lepas dari pelukannya Freddy.


"Hm..., masuk ke helikopter." Kata Freddy dengan singkat.


"Iya," Masih gugup dengan jantung terus berdegup kencang, Revina bergegas menaikkan gaunnya dengan kedua tangan, lalu berusaha untuk naik ke dalam helikopter.


Tapi satu masalah lagi, tiba-tiba muncul, saat Revina benar-benar sudah ada di ambang pintu helikopter gara-gara ujung gaunnya terinjak oleh kaki Freddy.


Revina menoleh ke belakang, dan berkata : "F-fredd, gaunku...itu kamu injak." Beritahu Revina dengan nada yang begitu hati-hati.


"........!" Freddy langsung mengangkat salah satu kakinya, sehingga dia berhasil membebaskan ujung gaun pengantin yang dipakai oleh Revina itu. 'Aku lagi-lagi merasakannya.' Detik hati Freddy.


Dia diam-diam mengangkat salah satu tangan nya dan meletakkan telapak di depan hidung dan mulutnya, dan dari situlah dia akhirnya menemukan kembali aroma tubuh Revina yang tertinggal di telapak tangan Freddy setelah Freddy menyelamatkan Revina yang hampir terjatuh tadi.


'Wangi ini, Aloevera? Dia suka aroma ini?' Freddy menarik semua segala pikirannya itu untuk memperhatikan Revina yang baru saja masuk itu.


"Apa ada sesuatu yang salah?" Tanya Revina saat mengetahui Freddy sedang memperhatikannya.

__ADS_1


'Sudahlah, lagi pula, dia bukanlah milikku.' Freddy yang sudah tahu posisinya hanya di tempatkan sebagai orang yang bertugas mengerjakan pekerjaan dari Dhavin dari balik layar, hanya pasrah.


Dia akan tetap mengerjakan pekerjaannya, meskipun ujung-ujungnya dia juga harus berhadapan dengan wanita yang pernah ia culik ini.


Meskipun sempat terbesit ingin memilikinya juga, tapi karena Freddy sudah terlambat untuk menangani hati yang pernah memiliki perasaan untuk Revina, maka ia hanya bisa membiarkan perasaan itu untuk terus tertanam saja. Karena terlihat jelas, meskipun banyak gulungan ombak yang menghempas kisah dari Dhavin dan Revina, pada akhirnya mereka berdua terus saja bisa bersama-sama.


"Ya," Freddy menyahut ucapan Revina dengan senyuman tipis, lalu dia pergi masuk kedalam Helikopter juga dan duduk di kursi depan sebelah kanan.


"Apa?"


"Ya, karena kamu, Dhavin jadi punya perubahan." Imbuh Freddy sambil memakai headphone.


'Ya..., aku tahu karena aku, Dhavin pasti sikapnya kepada teman-temannya jadi berubah. Walaupun aku tidak tahu itu apa saja, pasti akan ada perubahan juga.


Seperti, orang yang sukanya keras kepala saja, bisa luluh dan mau menuruti perintah pada orang yang di sukai nya.' Dan pikiran Revina merujuk pada dirinya sendiri.


Dan lamunannya Revina seketika menghilang saat Revina menyadari sesuatu.


"Eh tunggu! Tapi apa kit-"


WHOSH......


WOSH....


Seketika kalimatnya menghilang setelah baling-baling helikopter sudah berputar cukup kencang, hingga Revina buru-buru memakai sabuk pengaman dan memakai headphone.


Karena jika tidak memakai headphone, suaranya tidak akan terdengar oleh salah satu orang yang ingin dia tanyai.


"Ada apa?"


"Tapi apa kita harus memakai helikopter?!" Panik Revina, karena ia memang sama sekali belum pernah naik helikopter. Meskipun begitu, dia tahu kalau saat naik helikopter maka ia harus memakai sabuk pengaman dan headphone.


"Ya. Jika tidak, sama saja dengan membuang-buang waktu. Tahu sendiri kan, kalau naik mobil paling tidak memerlukan dua puluh menit sampai setengah jam. Sedangkan jika pakai ini, sepuluh menit juga bisa sampai." Jawab Freddy, setelah itu helikopter pun naik kian tinggi.


"I-ini tinggi! Freddy aku tetap ingin pakai mobil!"


"Sudah terlanjur masuk juga, jadi tidak bisa! Atau kamu ingin terlambat?" Seringai Freddy melihat wajah panik Revina, karena belum pernah sekalipun naik helikopter.


"Tapi jangan terlalu cep-, kyaaa...! Freddy jangan terlalu cepat!"

__ADS_1


Dan helikopter berwarna hitam itu pun langsung mengisi keheningan dari langit malam.


__ADS_2