Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2

Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2
98 : DBMJCP : Recana


__ADS_3

Flashback 30 menit yang lalu.


Saat ini Dhavin sedang dalam perjalanan untuk menemui teman lamanya.


Menyusuri jalanan yang cukup lengang yang memisahkan tebing juga laut, pria ini melajukan mobilnya dengan cukup cepat. Ia mengendarainya dengan kecepatan di atas delapan puluh kilometer per jam, dan kecepatannya kian naik, hampir menyentuh seratus kilometer.


Karena waktu itu hari sedang senja, langit jingga yang terpantul di permukaan air yang nampak biru itu, membuat suasana bisa saja menjadi romantis, jika saja pria ini membawa Istrinya.


Tapi karena ia memutuskan untuk pergi sendirian, maka apa boleh buat? Pemandangan dari pantai yang memperlihatkan matahari tenggelam di ufuk barat, hanya bisa Dhavin nikmati seorang diri.


BRRMMMM.........


Sayangnya di tengah-tengah Dhavin sedang bersantai sambil sesekali melihat ke arah gantungan kunci akrilik yang ia pasang di spion tengah mobilnya, karena gantungan itu memiliki gambar unik yang sedikit kekanakan, sebab di gantungan itu terdapat gambar Revina yang sedang duduk melamun ke arah laut lepas, tiba-tiba handphone nya berdering.


Dhavin meraih earphone nirkabel dan mengangkat telepon tersebut.


"Ada apa? Apa ada sesuatu pada Revina?" Sebuah pertanyaan terlempar dari mulutnya untuk orang yang ada di ujung telepon nya.


-"Tidak ada Tuan. Nyonya, hanya merasa galau karena sendirian. Itu saja untuk laporan keadaan Nyonya."-


"Lalu apa laporan yang lainnya?"


-"Sesuai dengan perintah anda dua hari yang lalu, saya sudah menyelidiki wanita yang anda maksud itu."- Arlsei yang merupakan orang yang sedang berbincang dengan Dhavin, segera membuka file yang ada di folder dalam laptop nya.


"Jadi kamu sudah menemukannya?"


-"Iya Tuan."-


"Kebetulan aku ingin Istirahat dulu, kirimkan saja file nya kepadaku." Pinta Dhavin.


-"Baik Tuan."- Arlsei pun menutup telepon nya, dan tidak lama kemudian dia mengirimkan berkas kepada Tuan nya itu.


TING.


Satu notifikasi masuk dari tab yang Dhavin simpan di dalam laci dashboard mobilnya. Karena kebetulan tempatnya cocok untuk dirinya singgah untuk beristirahat sejenak menikmati terbenamnya matahari, Dhavin pun menepikan mobilnya ke pinggir jalan, yang langsung berpapasan dengan pantai pasir putih.


Setelah berhasil menghentikan mobilnya, Dhavin kemudian turun sambil membawa tab yang sudah dia keluarkan tadi dan pergi ke depan mobil untuk duduk di atas kap mobil.


Dhavin membuka file yang barusan masuk itu, dan akhirnya memperlihatkan puluhan halaman yang berisi mengenai informasi seorang wanita yang beberapa hari ini di awasi oleh anak buahnya itu.

__ADS_1


Sebuah cerita panjang dan terlihat membosankan itu justru menarik perhatian Dhavin sampai bibir itu tersenyum tipis, sampai senyuman itu terasa tidak ada sama sekali.


"Adel, jadi ini rupanya. Wajahmu yang dulu sebelum operasi plastik, dan sampai operasi pembesaran pyu*dra? Ternyata kecantikannya di bawah Revinaku sayang.


Aku memang sungguh beruntung. Ya, aku memang tidak salah memilih. Walaupun jika memilih berdasarkan hati itu seperti taruhan antara hidup dan mati ketika harus mengambil keputusan mau membunuhnya atau tidak.


Setidaknya Revina bisa di percantik tanpa oplas, dia apa adanya, tentu saja karena aku memang yang menyuruhnya untuk terus apa adanya." Gumam Dhavin, sebagai orang yang memilih pasangan berdasarkan hati, jadi ia akan menganggap apa yang ia miliki itu lebih unggul ketimbang orang lain.


Setelah satu halaman selesai di baca, halaman kedua pun ia baca juga.


"Ok, pendidikannya memang cukup tinggi, karena dia keluarga yang cukup kaya, makannya bisa menindas Revinaku."


Lumayan tidak puas hati, karena ia sempat melihat adanya kasus yang tercantum dalam halaman itu, ujung jari telunjuk Dhavin pun menunjuk layar tab itu dengan sedikit keras.


"Aku jadi ingin sekali menembak kepalanya itu." Geram Dhavin.


BYURR.....


Sara dari gulungan ombak itu mencoba untuk mengistirahatkan matanya sebentar dengan memejamkan matanya.


Sebagai orang yang cukup santai, Dhavin semakin menaikkan tubuh nya di atas kap mobil, hingga akhirnya dia tiduran di atas sana, tapi bukan ia tidur betulan, ia hanya berbaring untuk menikmati semua isi dari informasi mengenai Adel itu.


Setelah beberapa saat Istirahat, dia kembali membacanya.


'Dia ternyata anak pria tua bangka itu. Dugaanku memang benar, dia ternyata menyembunyikan anak haramnya.


Padahal dia punya Istri, tapi karena di kira si bangka ini mandul, karena sudah tidak di karuniai anak selama tiga tahun, dia jadi mencoba untuk meniduri wanita lain, dan hasilnya Adel ini?


Felinst, aku memang selama ini tidak pernah bergerak, karena aku sama sekali belum menemukan kelemahannya.


Yah, entah orang ini akan menganggap anak haramnya ini berharga atau tidak, aku bisa mengancamnya agar dia mau memberikan properti yang dia curi dariku satu setengah tahun yang lalu, dan ini cukup bagus juga agar tempat judi punyaku di legalkan. Satu lagi, penyelundupan senjata, aku akan membuat dia punya alasan untuk melonggarkan penyelundupan itu.


Jika tidak mau, itu tidak masalah sih, tapi efek sampingnya pasti ada. Aku akan mengungkapkan perselingkuhannya.'


Hanya dengan memikirkannya saja, Dhavin jadi senang sendiri. Setidaknya entah rencana untuk mengancam ayah dari Adel berhasil atau tidak, Dhavin tetap akan mendapatkan keuntungan.


Keuntungan jika berhasil mengancam Ayahnya Adel yang sekarang menjabat menjadi menteri dinas perhubungan adalah semua barang selundupannya bisa di atur lebih baik, lebih tepatnya bisa di permudah dan tidak akan memerlukan waktu lama saat pembongkaran di dermaga.


Tapi jika gagal, mudahnya Dhavin akan menargetkan Istri sah nya Felinst, karena perempuan itu adalah orang yang lebih berkuasa, sedangkan Felinst sebenarnya adalah orang dari kalangan biasa, dan sempat melakukan korupsi, jadi Dhavin bisa memberitahu Istri sah nya Felinst soal perselingkuhannya Felinst dengan wanita lain, serta data tentang korupsi Felinst.

__ADS_1


Dengan begitu, Dhavin sama sekali tidak akan merugi dalam membuat ancaman itu.


"Hahh~" Selesai membaca bagian penting dari semua informasi yang ia dapat itu, Dhavin menghela nafas kasar, betapa rumitnya ia menjalani hidup menjadi seorang petinggi dari organisasi yang Ayah nya dirikan, dan dirinya adalah penerusnya.


Tapi semua kerumitan yang Dhavin harus lalui, selalu jadi mudah saat di selingi dengan memikirkan Revina yang entahnya sekarang sedang melakukan apa, Dhavin sendiri kurang tahu.


Tapi setidaknya Dhavin merasa lega. 'Aku lega karena aku jadi bisa menemukan solusi dari orang yang membuatmu kerepotan saat sekolah dulu.'


Dhavin tidak bisa menahan untuk bisa senyum-senyum sendiri ketika untuk mengingat Revina.


"Hahaha ...., aku sungguh jadi orang bodoh karena cinta." Senyuman merubahnya menjadi tawa, sebab ia benar-benar menyadari kalau ia adalah pria paling bucin seantero bumi, gara-gara seorang wanita.


_____________


Flashback Off.


"Rusa, bawa dia ke tempat biasa, biarkan dia tahu kalau dia memilih orang yang salah untuk di usik," Perintah Dhavin sambil memberikan kibasan tangan kepada Vinella yang memang sedang memakai topeng rusa untuk menyembunyikan wajahnya serta identitasnya, tentunya.


"Cepat berdiri!" Vinella memberikan perintah kepada Adel yang sudah tertangkap basah saat akan menggoda Dhavin.


Adel yang dari tadi diam dan menyimak apa yang sebenarnya terjadi sampai dirinya rupanya di selidiki lebih dulu ketimbang Adel sendiri, tiba-tiba terkekeh.


"Hahahaha,"


Dhavin hanya diam dan mencoba mencari tahu apa alasan di balik Adel yang tiba-tiba saja tertawa seperti itu.


"Kenapa tidak tanya kenapa aku tertawa?"


"Untuk apa tanya, toh kamu akan memberitahuku apa alasanmu tertawa," Balas Dhavin dengan percaya diri kalau Adel akan memberitahunya juga, walaupun tidak di tanyakan.


Adel mengerjapkan matanya mendengar jawaban Dhavin yang sedemikan rupa cukup santai. "Mungkin karena kamu sendiri punya latar belakang yang kuat, makannya bisa sesantai ini ya?"


'Santai? Dia pikir aku sedang santai? Justru aku sedang bekerja untuk menahan naf*suku gara-gara obat pemberianmu itu!' Dhavin memejamkan matanya untuk menata hati dan pikirannya agar bertingkah biasa. 'Tapi apa yang sebenarnya dia maksud? Aku seperti merasa ada sesuatu yang kurang enak.'


TING.


Sampai suara notifikasi itu terdengar dan berasal dari handphone miliki Dhavin yang masih tergeletak di lantai.


Karena punya nada dering berbeda untuk setiap pesan yang masuk, Dhavin pun tahu kalau pesan tadi berasal dari Arlsei. Makannya selagi matanya mengawasi Adel yang terlihat sedang mengumbar senyuman remeh, Dhavin pun sedang memungut handphone nya itu.

__ADS_1


Mata yang langsung memicing itu langsung membuat Dhavin menelepon Arlsei dengan perasaan yang kembali campur aduk.


__ADS_2