
'Huh...aku pikir dia mau mengatakan apa. Tapi ternyata hanya mengatakan itu.' Hati Revina serasa kurang selesa dengan apa gang dikatakan oleh Dhavin kepadanya.
"Sesuai janji, besok kita akan pergi jalan-jalan, kamu ingin pergi kemana?"
'Kenapa aku kesal, karena dia tidak mengatakan hal menggoda kepadaku? ..., sudahlah lebih baik aku tidur.' Revina yang tidak mau perduli dengan pikiran dan harapannya tadi, memutuskan untuk tidur sambil memunggungi Dhavin yang ada di belakangnya.
Dhavin yang melihat Istrinya sudah tidur, hanya bisa mengutuk dirinya sendiri. 'Kenapa mulutku tidak mau mengatakannya? Padahal apa yang ingin aku ucapkan tadi itu adalah hal yang mudah. Aku ingin mengatakan kepadanya untuk menikah lagi, memen baru dengan nuansa baru, itulah yang aku harapkan dari mulutku ini, tapi kenapa yang keluar jadi seperti itu?'
Dhavin pun melirik ke arah punggung kecil yang sedang membelakanginya itu?
Sayangnya itu tidak berlangsung lama, karena lengan sebelah kiri Revina terluka, maka akhirnya Revina tidur dengan posisi menghadap ke arahnya.
Mungkin karena memang sedang mengantuk berat, perlahan sepasang mata Revina tertutup juga. "Jangan ganggu aku lagi."
Gumaman dari sebuah pemberitahuan, keluar dari mulut yang akhirnya terdiam juga.
Melihat Revina tidur, tapi sempat memberikan peringatan, Dhavin jadi terkekeh.
'Aku sudah terlalu mengusiknya.' Benak hati Dhavin, lalu kembali fokus pada laptop yang ada di atas meja lipat yang di berikan oleh Revina tadi.
Walaupun meja lipat pemberian Revina itu memiliki karakter yang cukup kekanakan, tapi Dhavin tetap memakainya karena kebetulan memang pas dengan posisinya yang sedang malas duduk di kursi.
____________
"Dhavin, jangan bercanda deh. Belikan aku pakaian dala ma. Masa aku tidak memakainya sih? Kan rasanya benar-benar aneh." Protes Revina di tengah pagi-pagi buta, dimana sekarang masih jam setengah dua pagi.
Inilah yang sebenarnya setiap bulan Revina alami, suaminya yang serba mesum itu selalu mempermainkannya, karena dalam kurung satu bulan itu akan ada waktu dimana Dhavin berulah, agar sehari semalam untuk tidak memakai 'itu'.
Makannya Revina bisa berdiam diri di dalam kamar gara-gara ulang pria yang sedang ada di depannya itu.
"Aku akan membelikannya kalau sudah siang." Jawab Dhavin.
__ADS_1
'Kan-' Revina sudah bisa menebaknya, kalau Dhavin pasti akan memberikannya yang baru saat hari sudah siang. Itu adalah kebiasaan paling aneh yang tidak pernah Revina pikirkan, kalau suaminya itu bisa punya sisi yang cukup aneh itu. 'Sebenarnya kenapa aku bisa punya suami yang seperti ini?'
Revina menyingkap rambutnya yang sempat menghalangi wajahnya itu dengan jari-jari tangannya ke arah belakang.
"Lalu kalau aku sampai siang tidak boleh memakainya, terus apa yang terjadi dengan janjimu yang akan membawaku jalan-jalan?" Revina yang teringat dengan ucapan nya Dhavin semalam, akhirnya menuntut juga.
Dia memang sangat ingin keluar untuk menghilangkan kejenuhan nya.
Tetapi karena Revina sendiri tidak tahu mau pergi kemana, makannya dia lebih memilih untuk diam di rumah.
"Memangnya kamu sudah menentukan tempatnya?" Tanya Dhavin, dirinya dan Revina masih berada di atas tempat tidurnya, dan sekarang posisi mereka berdua pun sedang saling memeluk satu sama lain, untuk mendapatkan kehangatan dan aroma tubuh dari lawan bicaranya itu.
"Yang menentukannya kamu saja. Kamu biasanya pergi ke tempat apa aku akan ikut." Ucap Revina, dia memang sangat lemah dalam hal untuk memilih tempat, maka dari itu, Revina hanya ingin ikut Dhavin kemana pergi.
Dhavin yang awalnya terus menutup matanya, perlahan semakin mengeratkan tangan kanannya untuk menekan pinggang Revina agar menempel ke dadanya, karena dia memang ingin bisa merasakan sensasi pelukan itu sendiri yang tidak bisa di artikan dengan kata-kata lagi.
"Itu tempat yang cukup membosankan." Kata Dhavin.
"Mungkin membosankan untukmu. Aku tetap ingin pergi ke tempat yang biasanya kamu kunjungi itu." Revina benar-benar bertekad bisa menemani Dhavin pergi.
Bukannya sungguh terbalik? Seharusnya Dhavin yang menemani Revina pergi, tapi yang ada keadaannya justru sangat terbalik, karena Revina lebih memilih untuk menemaninya pergi.
"Baiklah, jika kamu memang menginginkan itu. Tapi sebelum itu, setidaknya manjakan punyaku dulu." Pinta Dhavin.
Sontak Revina jadi mendongak ke arah atas, dan menemukan wajah Dhavin yang sedang menaruh harapan besar kepadanya?
Memangnya harapan untuk apa?
Dan tangan kiri Revina yang semula menganggur itu, tiba-tiba di cengkram dan menaruh tangan itu ke arah area bawah, tepatnya sesuatu yang terbungkus oleh celana boxer itu.
"Dhavin," Revina memanggil namanya dengan sedikit tegas, dan di sertai sorotan mata yang cukup datar.
__ADS_1
"Iya, aku Dhavin, kenapa sayangku Revina?" Kalimat gombalannya mulai kambuh lagi. Dhavin memang kembali menutup matanya, tapi tidak dengan senyumannya yang cukup miring seperti orang yang baru saja menemukan ide licik.
Tapi ide licik nya memang sudah ada, dan Dhavin sudah menantikan pijatan khusus kelas VVIP untuk Dhavin seorang.
Sebenarnya mendengar kata sayang, Revina jadi merasa bergidik ngeri, karena dia masih leluasa jika hanya di panggil nama nya.
"Aku ingin tidur, jangan membuatku bekerja seperti ini." Revina jadi protes lagi kepada Dhavin, sebab dia sudah tahu niat sebenarnya dari Dhavin Calvaro ini adalah untuk memijat kepunyaan nya Dhavin ini.
"Hanya sebentar."
"Tapi mau sebentar pun, efeknya akan beraksi lama kan?"
"Karena aku memang menginginkan itu." Dhavin tetap pada keseriusan nya dalam meminta sesuatu kepada Revina ini. "Aku ini suami mu, bukannya Istri harus menuruti perintah suami?"
"A-apa? Kamu membuat aku melakukannya mengatasnamakan otoritasmu sebagai suami?" Revina benar-benar tidak percaya, kalau peran nya sebagai Istri adalah untuk melayani has rat milik Dhavin ini.
Sebenarnya bukan ingin menolaknya, tapi bagi Revina sendiri, dia merasa kalau peran Dhavin sebagai suami ini adalah yang paling hebat tapi sekaligus aneh, sebab Revina merasa, dari sekian banyak teman nya yang sudah menikah, hanya Revinia saja yang mendapatkan pelayanan serta layanan dari suami nya tanpa kenal waktu.
Siang bisa, di dalam mobil bisa, bahkan saat di tengah-tengah mereka sedang tidur, atau sedang mandi bersama, Dhavin pun bisa memintanya kapan pun dia mau.
"Iya lah, kenapa? Apa kamu tidak suka?" Dua pertanyaan yang di selingi dengan tatapan mata Dhavin yang cukup dingin, membuat Revina jadi menelan saliva nya sendiri.
Dia takut, dia takut akan di marahi oleh pria ini jika menolaknya.
Tapi dia juga setidaknya ingin berhenti untuk melakukannya.
Karena itu, Revina pun buru-buru meraih harta milik Dhavin untuk di pijat sampai, entah pria di depannya ini mau sampai seperti apa. Sebab Revina yang masih mengantuk itu, hanya bisa melakukannya dengan durasi yang singkat saja, sampai tangannya itu berhenti bergerak.
'Kamu memang benar-benar kurang pekerjaan, sampai menyuruhku melakukan ini. Tapi memang asik sih, besar, bahkan aku sangat ini mere mas nya dengan kuat. Tapi sayangnya, aku sudah ngantuk. Ah Dhavin, kenapa kamu punya perangai yang aneh.' Pikir Revina di detik terakhir sebelum dia memutuskan untuk tidur kembali.
'Ah...padahal sedang enak, kenapa tangannya berhenti bergerak?' Dhavin yang penasaran itu pun kembali membuka matanya, menarik kepalanya untuk menunduk ke bawah dan sedikit menjauhkan tubuhnya dari wajah Revina, yang ternyata Istrinya sudah kembali tidur, sedangkan tangan kirinya masih menyangkut di dalam celana boxer yang Dhavin pakai.
__ADS_1
Karena itu pula, Dhavin pun memeluk Istrinya lebih erat.