Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2

Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2
82 : DBMJCP : Jelek


__ADS_3

Manusia itu adalah makhluk yang serakah.


Ketika satu keinginannya tercapai, maka ada keinginan lain yang harus didapatkannya juga.


Tapi pasti akan ada satu waktu dimana apa yang sudah di dapatkannya, akan menghilang untuk menggantikan dengan yang baru.


_______________


Mata yang awalnya terpejam, tiba-tiba terbuka.


"Hah...!" Dhavin, yang tadinya tertidur itu tiba-tiba terbangun.


"Bos, anda akhirnya bangun juga." Suara dari seorang wanita yang cukup familiar, mengusik indera pendengarannya.


Dhavin lantas melirik kearah samping kirinya, Vinella kini ada di sampingnya dengan posisi membungkukkan tubuhnya, dengan kata lain Vinella sedang memeriksa apakah Dhavin akan bangun atau tidak, itulah yang di yakini oleh Dhavin kali ini.


'Aku pikir aku sedang tidur dengan Revina, kenapa aku malah duduk di kantorku sendiri?' Dhavin merasakan keanehan, karena dia ternyata tidur dalam kondisi duduk di kursi singgasana nya. "Apa yang sedang kamu lakukan di sampingku? Dan apa-apaan dengan penampilanmu itu?"


Dhavin mendorong wajah Vinella dari samping nya dengan menggunakan tangan kirinya agar menjauh dari sekitarnya.


"Eh Bos, anda tahu ini aku?" Vinella mencengkram pergelangan tangan Dhavin, dan menatap Dhavin dengan tatapan penuh harap, agar pertanyaannya barusan segera di jawab.


Dhavin menarik tangannya dari pada di cengkram oleh Vinella dan menjawab : "Apa kamu baru saja jadi bodoh? Jika kamu tidak memanggilku Bos seperti itu, aku pasti akan menganggapmu Revina? Tidak juga sih, karena kamu punya tubuh seperti itu, jelas aku langsung tahu itu kamu, Vinella."


Vinella yang akhirnya mendapatkan jawaban dari Dhavin, segera melihat penampilannya sendiri.


Dia memang berpenampilan cukup sederhana, karena tidak mengesankan kesan seksi?


Hanya saja, sekalipun dirinya sudah memakai pakaian yang lonnggar dan rok panjang, dia tetap akan menarik perhatian banyak laki-laki, karena perbedaannya tentu saja hanya satu, yaitu buah dada nya yang cukup berisi itu, layaknya kelapa tapi punya kelembutan yang hakiki.


Setidaknya itu yang Dhavin rasakan saat dia bermain dengan Revina.


Namun, apa alasan di balik Vinella saat ini menyamar jadi Istrinya?


Dhavin mengernyitkan matanya, dan menggeleng kepala nya dengan pelan. Dia tetap masih mampu membedakan mana Istrinya dan mana yang bukan. "Apa alasanmu menjadi Revina?"


"Apa?" Vinella langsung memberikan ekspresi wajah yang bingung. "Bukankah Bos sendiri yang menyuruhku untuk menjadi Nyonya? Kenapa anda malah bertanya balik?"


"Ha?" Salah satu alis Dhavin terangkat seraya menatap wajah Vinella yang di make over seperti Revina persis.

__ADS_1


Melihatnya saja sungguh menyakitkan, karena ada yang menyamai penampilan dari Istrinya, dan sekarang, yang barusan Dhavin dengar adalah, 'Aku sendiri yang menyuruhnya menyamar jadi Revina?'


Tentu saja Dhavin kembali jadi bingung.


'Kenapa aku menyuruh dia menyamar? Memangnya apa yang ingin aku lakukan padanya dengan menyuruhnya menyamar jadi Istriku?' Dalam kebingungannya sendiri, Dhavin mencoba mencerna situasinya sendiri itu.


"Apakah Bos lupa karena ketiduran, makannya jadi linglung ya?" Sindir Vinella.


Karena kebetulan Vinella ini tiba-tiba menyindirnya dengan kalimat yang tepat, maka itu pun dijadikan sebuah kesempatan untuk Dhavin. "Karena aku kebetulan sedang linglung, gara-gara kamu muncul di sampingku, bagaimana jika kamu memberitahuku lagi?"


"Kenapa Bos jadi aneh seperti ini?" Gumam Vinella.


Raut wajah Dhavin langsung jadi dingin dan berkata : "Aku Bos mu, katakan saja wanita." Celetuk Dhavin, tidak suka mengulur-ulur waktu.


Vinella langsung terperanjat melihat Bos Dhavin sudah dalam mode serius!


"Ok ..., ok. Jangan marah."


"Tch.." Dhavin berdecih karena tidak mau berkomentar apapun selain mendengar jawaban dari Vinella ini.


"Dua hari yang lalu, nyonya kan menghilang."


BRAKK ...!


Hingga Vinella ikut terkejut dengan reaksi yang di berikan oleh Bos nya itu.


"Hilang, bagaimana bisa hilang? Ini pasti mimpi, tidak mungkin Revina yang selama ini aku jaga, tiba-tiba saja menghilang." Ucap Dhavin, lalu memberikan jelingan yang cukup tajam kearah Vinella yang masih memasang wajah takut. "Dan katakan kenapa kamu jadi menggantikannya?"


"I-itu..itu karena," Vinella jadi bingung harus menjelaskannya seperti apa.


Hingga pintu kantor milik Dhavin, tiba-tiba saja terbuka.


KLEK....


"Revina! Ternyata kamu ada di sini. Padahal kami berdua sedang mencarimu, tapi berani-beraninya kamu pergi ke kantor milik Ayah dan menggodanya? Iya, benar kan? Kamu sedang menggoda Ayah kami agar Ayah bisa menidurimu dan membuat anak selain kami berdua?"


Dhavin sontak memicingkan matanya, melihat ada dua bocah memanggil Vinella dengan sebutan Revina secara langsung?


"A-apa?" Vinella terkejut setengah mati dengan penuturan dari anak perempuan itu.

__ADS_1


Dhavin yang marah dengan cara bicara dari anak perempuan yang ada di depan meja nya itu, langsung bertanya. "Kenapa kalian berdua ada disini? Dan apa-apaan dengan kalian, kenapa memanggilnya Revina? Dia ini adalah Ibu mu."


Dhavin sekalian melakukan drama untuk menyesuaikan situasinya yang memang sedang tidak masuk akal.


'Anak perempuan ini memanggilku Ayah, berarti dia anakku, Louisa, lalu yang ada di belakangnya itu pasti Levine. Tapi kenapa mereka berdua sudah tumbuh besar? Bukannya mereka berdua masih sepanjang tanganku, dengan tangisan bayi mereka, kenapa jadi seperti ini?' Dhavin tetap pada posisinya, menginterogasi Louisa yang rupanya memanggil Ibunya dengan nama nya langsung.


Walaupun Dhavin sadar yanga ada di sampingnya itu adalah Vinella, tapi teap saja mengingat Vinella sedang menyamar jadi Revina, maka seharusnya Louisa memanggilnya Ibu, setidaknya aturan nya memang seperti itu.


Tapi karena Louisa sendiri malah memanggil Ibu nya sendiri dengan nama nya langsung, maka ada yang tidak beres di sini.


"Ha~ Ibu? Wajahku secantik ini kenapa aku bisa memiliki Ibu dengan wajah sejelek dia?" Dengan seringaian tipis ucapan dari hinaan miliknya pun di tunjukkan langsung ke wajah Vinella yang masih berdiri di samping Dhavin.


Dhavin sekilas menoleh ke arah Vinella, baginya wanita di sampingnya itu tetaplah cantik, tapi kenapa hanya karena permasalahan wajah, justru membuat Louisa menuduh Revina bukanlah Ibu kandung?


Dhavin pun memejamkan matanya, dia benar-benar sedang bermimpi, itu yang Dhavin yakini.


Tapi sekalipun memang mimpi, Dhavin juga merasa ada yang terasa nyata, itu saja.


"Louisa, jangan seperti itu. Walaupun kamu mengganggap wajahmu itu cantik, bukan berarti kamu sampai menuduh Ibu sampai seperti itu." Tegas Dhavin.


Ketika Dhavin melirik ke satu anak laki-laki yang sedang asik main game, Dhavin hanya dapat lirikan mata sekilas sebelum mata milik Levine itu kembali fokus kepada handphone nya lagi.


"Tidak ..., tidak ..., dia bukan Ibu ku. Ayah pasti menyembunyikan Ibu yang as-"


BRAKK...!


Satu bogem mentah itu mendarat di permukaan meja marmer, tapi sekalipun sudah begitu, suara keras itu tetap terdengar dengan cukup mengerikan.


Dan perbuatan dari Dhavin itu pun memicu Levine, Louisa, dan Vinella sama-sama mengangkat kedua bahunya karena saking terkejutnya.


"Masih mau mengelak kalau Revina bukan Ibumu, Louisa?" Sayang seribu sayang, sekalipun Dhavin memang merasa ini adalah mimpi, tapi membogem mentah ke permukaan meja ternyata cukup menyakitkan, maka Dhavin pun tetap merasakan tidak rela jika Revina tetap di anggap bukan Ibu nya oleh anak nya sendiri.


"I-itu ...,-" Louisa pun jadi ketakutan karena ekspresi sang Ayah yang cukup bengis, seakan bisa membunuhnya kapan pun hanya dengan mengeluarkan aura hitam dan dingin itu. "Ayah jahat! Karena dia, Ayah membentakku!"


Kehabisan kata-kata untuk mengelak kenyataan yang sebenarnya, Louisa yang seperti hendak menangis itu, langsung berlari kabur dari kantor nya Dhavin.


"Hahh~ kenapa Louisa jadi seperti itu? Siapa yang akhir-akhir ini dekat dengan dia? Pasti ada seseorang yang menghasut kepalanya itu." Ujar Dhavin.


Tidak seperti louisa yang sudah berlari kabur dari hadapannya, Levine masih duduk sambil bermain game.

__ADS_1


Levine yang sedari tadi diam itu, akhirnya membuka suara. "Jika Ayah tanya siapa yang sering bersamanya, itu adalah seorang wanita, namanya Adel."


DEG..!


__ADS_2