
“Jangan dengarkan, langsung gendong dia dan masukan kedalam mobil.”
Tanpa banyak kata lagi, walaupun hatinya tidak menerima dirinya di hina karena jelek, pria berkepala plontos ini pun langsung mengangkat tangannya untuk meraih punggung dan belakang lutut Revina.
Tapi apa yang terjadi setelah itu, bunyi dari suara borgol yang terbuka langsung terdengar.
KLEK.
‘Dia bisa melepaskan borgolnya hanya dengan sekali hentakan seperti itu?’ sedikit tercengang dengan aksi yang di perlihatkan oleh Revina yang tiba-tiba saja memperlihatkan aura yang berbeda, membuat mereka berdua yang awalnya sudah berada di dekat mobil, langsung berbalik menghampiri Revina yang mana borgolnya sudah terlepas dari kedua tangannya.
“Jangan biarkan lolos!” Teriak salah satu diantara mereka berdua kepada teman berkepala plontos itu agar Revina jangan kabur.
“Kamu harus ikut kami!” Pria ini pun langsung mencengkram salah satu tangan Revina.
“Tidak akan pernah.” Tekan Revina saat itu juga. Walupun perbandingan ukuran tangan mereka berdua cukup terlihat, itu tidak membuat Revina menemukan masalah, ‘Maafkan aku Dhavin, karena malam ini aku akan membuat dosaku sendiri.’
Dengan kalimat yang Revina katakan di dalam hatinya, Revina langsung memanfaatkan cengkraman tangan yang ia dapatkan itu sebagai salah satu serangan yang akan ia lakukan.
Dia menarik tubuhnya untuk menghampiri tubuh penjahat ini, dan memulai serangan untuk menendangnya.
BUKH…
Tangan dari pria ini langsung menangkap kaki Revina yang hampir saja menendang perutnya.
“Ternyata diam-diam bisa bela diri.” Ucapnya, dengan wajah datar.
“........” Diam membisu dengan tangan kanan masih di cengkram dan kaki kanannya di tangkap oleh laki-laki itu, Revina langsung mengangkat tubuhnya untuk memberikan layangan kaki kirinya ke atas dengan gerakan cepat, sehingga sekalipun tangan kanannya sempat terpelintir, tapi demi memberikan tendangan di kepala pria ini, Revina pun tetap melakukannya.
__ADS_1
BUKKH…
Kepalanya langsung di tendang cukup keras. “AKh….”
Refleks kedua cengkraman tangan dan kaki Revina langsung terlepas, dan membuat Revina terjatuh, sekalipun Revina berhasil mendarat dengan sempurna.
“Ayo maju.” Tantang Revina. Tidak seperti seperti beberapa menit lalu, Revina memperlihatkan sorotan mata yang ketakutan, sekarang sorotan mata yang di milikinya adalah sebuah keberanian.
“Berarti aku tidak akan sungkan menggunakan kekerasan kepadamu!” Satu orang lagi datang kearah Revina.
Melihat pria yang barusan dia tendang tadi sudah kembali berdiri dan sama-sama ikut untuk menyerang Revina secara serentak, Revina pun sudah bersiap untuk menghadapi mereka bertiga.
Dia sedikit membungkukkan tubuhnya ke depan, dengan sepatu yang sudah terlepas dari kakinya, Revina langsung berlari ke arah mereka bertiga.
Satu orang hampir memberikannya pukulan, tapi Revina langsung sedikit memiringkan kepalanya ke samping kiri, sehingga pukulan yang hampir mengenai wajahnya pun berhasil Revina hindari.
KREK.
“Akhh…!” Pria tersebut langsung meraung kesakitan dengan bahu kanannya yang mengalami dislokasi bahu.
“Hebat juga, tapi apa kamu bisa menghindari ini?!” satu orang lainnya, tiba-tiba saja menodongkan pistolnya ke arah Revina, dan saat jari telunjuk itu menarik pemicunya, Revina langsung menarik ujung rok nya, dan tangan kirinya mengambil senjata yang tersimpan di salah satu paha nya.
Sehingga di saat bersamaan, Revina pun sama-sama menodongkan senjatanya ke depan. Dengan ekspresi yang cukup datar, Revina menarik pemicunya dan dua suara tembakan pun menyatu menjadi satu yang cukup mencuri perhatian semua orang.
DORR….
JLEB.
__ADS_1
______________
Sedangkan di dalam perjalanan, Dhavin yang akhirnya mendapatkan kebebasan setelah berhasil mengalahkan kedua kedua orang bodyguard milik Ibunya, dengan mobil yang mleaju dalam kecepatan tinggi, ia selalu menerima instruksi yang di berikan oleh anak buahnya, yaitu Lisa.
-”Tuan, sekarang anda belok ke kiri.”-
“Apa kamu yakin? Jalan itu rusak, dan kamu menyuruhku untuk lewat sana?” Protes Dhavin saat mendengar ia harus mengambil jalan tikus untuk sampai ke tempat di mana Revina berada.
Yang mana, jalan tikus memang membuatnya bisa sampai di tempat tujuan karena hanya menggunakan separh perjalanan dari waktu tempuh yang biasa Dhavin gunakan, tapi sayangnya jalan itu adalah jalan yang cukup rusak, dan masih dalam proses perbaikan.
-”Eh~ T-tapi Tuan, meskipun begitu, kata Tuan Arlsei jalan itu baru saja selesai di perbaiki setengah hari yang lalu.”-
“............” Karena sudah tidak ada waktu lagi, Dhavin pun mencoba mengiyakan arahan dari Lusi untuk menggunakan jalan tersebut. Dimana jalan yang harus Dhavin lalui itu membelah tengah hutan, dan sempat melewati tebing yang curam juga.
Dan ketika Dhavin mengambil arah kanan, dimana jalan alternatif itu berada, jalan yang awalnya gelap, secara berurutan lampu penerangan jalan yang awalnya tidak ada, sekarnag sudah ada dan menyala secara berurutan.
‘Arlsei, dia mengerjalan pekerjaan yang aku berikan dengan lebih cepat dari target yang seharusnya setengah minggu, jadi tiga hari. Aku pikir dia harus mendapatkan cuti dan beberapa hadiah. Aku sangat mengakui dan mengapresiasi pekerjaannya.
Jika bukan karena dia juga, aku tidak akan sampai di titik ini bersama dengan Revina dan kedua anakku.’ Dhavin pun semakin menaikkan kecepatan mobilnya, melewati tengah hutan, tebing, dan sungai, sampai dalam kurung waktu kurang dari sepuluh menit, Dhavin akhirnya sampai di lokasi yang di beritahukan oleh Lisa kepadanya.
Dan di saat itu, betapa terkejutnya saat Dhavin melihat ada dua helikopter yang sudah terbakar.
Dengan buru-buru, Dhavin langsung membanting stir belok ke arah kiri dan mengendarai mobil di atas pada safana dengan cukup cepat.
Sampai di satu titik, ketika Dhavin melihat Visco dan Freddy sedang bertarung dengan sekelompok orang yang Dhavin tidak ketahui, suara tembakan yang cukup keras itu berhasil mengejutkan Dhavin yang langsung menoleh ke arah kanannya.
“Revina!” Teriak Dhavin, langsung keluar dari mobil dan berlari ke arah Revina yang sedang di serang oleh tiga orang sendiran.
__ADS_1