
"Hmm...? Mhh..~"
Mendengar suara lenguhan dari Revina yang tertidur di sebelahnya, Dhavin langsung menutup laptop miliknya dan meletakkannya di atas nakas. Setelah itu Dhavin membungkukkan tubuhnya ke depan dan mendekatkan wajahnya ke wajah Revina yang sudah dibanjiri keringat.
"Vin~" Dhavin memilih untuk menempelkan dahinya di depan dahi milik istrinya itu. Dan betapa terkejutnya dia, kalau istrinya itu sedang demam tinggi disertai rahang yang semakin mengeras untuk menggertakkan giginya.
Dhavin yang panik, langsung memasukkan kedua jarinya itu ke dalam mulut Istrinya dan akhirnya sebuah gigitan yang cukup keras langsung Dhavin dapatkan.
GRRT....
Dhavin mengernyitkan matanya karena kedua jarinya yang di gigit dengan cukup kuat itu sangatlah sakit. Jika dirinya tidak membungkusnya denggan kain, sudah pasti yang ada adalah hihi itu menancap ke dagingnya.
DRRT...DRRT...
Dan di saat yang bersamaan pula, ada telepon yang masuk.
Karena Dhavin sibuk dengan urusan pribadinya, makannya Dhavin terpaksa tidak mengangkatnya.
"Revina~" panggilnya, dengan tangan kiri mencoba mengsuap keringat yang membasahi wajah cantik milik istrinya itu.
Tapi panggilan tersebut tetap tidak di sahuti oleh Revina yang tidak sadar dengan tindakannya itu.
"Errhh..." Di dalam tidurnya, Revina pun mengerang dan mencoba untuk mengeratkan kekuatan gigitnya dalam mengigit.
'Apakah karena dia trauma, makannya jadi demam? Tapi ini tinggi, aku harus menghubungi Arlsei.' Dhavin memang sempat berpikir seperti itu, tapi bagaimana caranya dia memanggil pelayannya itu agar datang ke kamarnya, jika Dhavin sendiri tidak bisa memegang hanphone yang di letakkan di samping lampu tidur nya?
Dan mujur sekali, ketika Dhavin di pojokkan dengan situasinya itu, tiba-tiba saja sebuah ketukan pintu datang.
TOK..TOK...TOK...
"Tuan."
'Arlsei ini peka sekali. Dia selalu ada di waktu yang tepat. Dia memang lebih mud adariku, tapi kinerjanya selalu membuatku kagum.' Pikirnya, lalu segera menjawab, "Masuk."
Setelah di izinkan masuk, Arslei ternyata sudah membawa beberapa obat di atas nampan yang Arlsei bawa itu.
__ADS_1
"Saya tahu Nyonya pasti akan mengalami demam, jadi saya sudah mempersiapkan obat untuk Nyonya. Tapi karena ini juga, saya sarankan untuk tidak memberikan Tuan dan Nona muda Asi lebih dulu." beritahu Arlsei dan meletakkan obat, camilan, dan air minum di atas nakas sebelah Revina. "Nanti di minumkan ya Tuan, tapi tunggu sampai Nyonya sudah tidak ada fase itu."
Arlsei melirik ke arah jari milik sang majikan yang sedang di gigit oleh sang Nyonya.
"Aku mengerti." Sahut Dhavin, tidak bisa mengalihkan pandangannya dari menatap Revina yang punya ekspresi terilhat seperti orang yanng tersiksa.
"Kalau begitu saya permisi lebih dulu." Ucap Arlsei kepada Tuan nya itu sebelum akhirnya Arlsei mengundurkan diri keluar dari kamar utama milik kedua majikannya itu.
KLEK.
Setelah pergi, Dhavin terus membisikkan kata-kata di telinganya Revina agar segera sadar.
Lalu....
_______________
"Apa? Kenapa ibu bisa sebodoh ini sih? Kalau baju sudah rusak ya tinggal di buang, kenapa pakai di jahit segala? Ah...kamu sebenarnya ibu aku atau bukan, malahan seperti pembantu. Jangan-jangan Ayah memungutmu untuk di jadikan ibu sambungku kan? Demi bisa naik pangkat jadi Nyonya Calvaro." Beber Louisa kepada Revina.
'Kenapa aku bisa ada di sini? Kenapa aku berlutut di depan anakku sendiri? Louisa?' Revina yang penasaran itu pun mencoba mendongak ke atas, untuk melihat wajah anak perempuannya. Tapi saat itu juga, gaun yang sempat dipegang oleh Louisa langsung di lempar ke wajah Revina persis.
"Kamu pasti hanya wanita yang menggoda ayahku kan? Agar bisa mendapatkan status setinggi ini di keluarga kami?" Tuding Louisa kepada Revina persis di depan matanya langsung.
Tapi apa yang di dapat, itu adalah sebauh tepisan yang cukup kuat dan berakhir dengan sebuah tamparan.
PLAKK....
"Aku tidak mungkin punya Ibu sejelekmu." Hina Louisa.
____________
"HAH..?!" Dan Mata Revina yang semula terpejam itu langsung terbuka lebar dengan air mata sudah membanjiri pelupuk matanya dan membasahi pelipisnya.
Dhavin yang hendak memeras kain handuk untuk dia gunakan untuk menyeka wajah Revina yang penuh keringat tadi, langsung menjatuhkan handuk kecil itu kedalam mangkuk besar dan hendak menghampiri Revina yang tiba-tiba saja terbangun dari tidurnya dengan wajah terkejut.
"Rev-"
__ADS_1
Tapi belum sempat menanyakan kondisi macam apa yang sedang di rasakan oleh Istrinya itu, Revina malah langsung turun dari tempat tiudurnya, dan berlari keluar kamar.
KLEK...KLEK...KLEKK.....
"Kenapa pintunya tidak bisa di buka?" Gerutu Revina, masih mencoba membukanya dengan paksa. Tapi apa yang terjadi, tentu saja tidak membuahkan hasil sama sekali.
Melihat Revina terlihat panik dan ingin keluar dari kamar, dengan langkah cepat dan lebar, Dhavin langsung meraih bahu Revina dan memeluknya dari belakang.
GREEP..
Tangan kiri Dhavin itu dia letakkan di atas bahu dan melingkar di leher Revina, sedangkan tangan kanannya, dia lingkarkan di depan perut Revina. Dia mencoba agar Revina tidak sepanik itu dengan pelukan miliknya, sambil berbisik : "Revina, aku mohon tenanglah."
"Tenang apanya, aku ingin keluar. Lepaskan-" Revina mencoba melepaskan diri dari pelukan Dhavin yang cukup membuat tubuh Revina merasa berada di dekapan Dhavin dengan cukup dalam. Sehingga dia pun tidak bisa lepas dengan mudah, jika tidak memintanya dengan sedikit keras.
"Keluar untuk apa? Disini saja bersamaku, kamu akan lebih aman."
"Tapi aku ingin keluar melihat Louisa-" Dan kalimatanya berhenti diudara.
"Apa kamu seperti ini karena bermimpi buruk lagi? Coba katakan, apa yang kamu mimpikan? Apakah itu juga berhubungan lagi dengan anak kita, yaitu Loisa?" Tanya Dhavin.
Semua pertanyaan itu pun mewakili rasa cemas yang di miliki oleh Revina saat ini.
Ya..apa yang dikatakan oleh Dhavin memang benar.
Revina yang akhirnya merasakan sakit di bagian lengan kirinya, memutuskan untuk menyerah. Menyerah kalau pelukannya akan di lepaskan dengan mudah jika dirinya belum menjawab pertanyaannya Dhavin barusan.
Revina menunduk, mencengkram pergelangan tangan kiri Dhavin yang besar itu. Sebuah tangan yang bisa saja mencekiknya saat ini juga.
"Ya...aku, aku hanya takut-" Ucapannya lagi-lagi menggantung.
"Takut tentang apa?"
"Kalau Louisa suatu hari nanti..." Nadanya semakin lirih. Untuk mengulas balik ingatan yang masih Revina ingat di dalam mimpinya tadi, hal itu membuat hati Revina sakit dan terasa sesak. "Mungkin saja, ada kejadian-"
"Kejadian apa Revina, coba katakan dengan jelas. Jangan terpotong-potong seperti ini." Pinta Dhavin, agar Revina bisa menjelaskannya dengan lebih jelas, apa yang ingin di katakannya itu untuk membahas soal mimpi yang di mimpikan Revina tadi, hingga membuat istrinya itu tiba-tiba memberikan sebuah kepanikan yang langsung tersammbung pada hati Dhavin yang ikut panik juga.
__ADS_1
"Apakah suatu hari, ada kejadian yang membuat Louisa menganggapku bukan sebagai Ibu nya?"
Dhavin seketika mematung. 'Memangnya apa yang sebenarnya Revina mimpikan ini? Kenapa dia tiba-tiba mengatakan itu, seolah ada hal besar yang akan terjadi. Dan barusan apa yang di katakannya? Louisa tidak menganggap Revina sebagai Ibunya? Yang benar saja, itu tidak mungkin.' Dhavin pun mencoba menguhkan hatinya agar itu semua hanyalah mimpi belaka yang tidak mungkin akan terjadi.