Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2

Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2
124 : DBMJCP : Merencanakan


__ADS_3

"Dua umpan sudah di makan." Gumam pria ini, dialah Dhavin Calvaro.


Karena adanya perubahan rencana yang cukup besar, Dhavin terpaksa memindahkan lokasi pertemuannya dengan Revina di tempat lain.


________________


Flashback On.


Di meja rapat, meskipun pada akhirnya ruang rapat itu tetap saja di dalam kantor Dhavin, tapi tetap saja yang akan mereka bahas adalah sesuatu yang cukup penting.


Tepat di jam satu siang itu, Dhavin memanggil kembali Freddy yang sempat dia usir, karena ujung-ujungnya anak itu adalah orang yang dia butuhkan.


Dan rapat tidak akan terlaksana jika tidak ada Arlsei. Meskipun Arlsei saat ini sedang ada di rumah, karena pada dasarnya anak muda itu di tunjukkan untuk menjaga Revina, makannya dia sama sekali tidak ikut dalam rapat langsung, kecuali dengan melakukan Video Call.


Dhavin, Vinella, Freddy, dan Arlsei. Empat sejolin yang tidak bisa di pisahkan, mereka berempat adalah kelompok inti yang di bentuk oleh Dhavin sendiri karena tugas mereka berempatlah yang cukup berat, sedangkan para anak buah nya, tentu aja hanya berperan sebagai pion saja.


Pion yang bahkan tidak mereka ketahui kalau rencana tersembunyi ini akan membuat pikiran para anak buahnya akan jadi kacau.


"Padahal hanya rencana ulang tahun pernikahanmu, tapi kenapa sampai punya rencana sebesar itu?" Tanya Freddy dengan  malas, karena lagi-lagi orang yang akan turut andil adalah mereka berdua lagi?


"Kamu pikir aku ingin?" Gerutu Dhavin dengan tatapan mata datar. Dia menoleh ke arah lautan gedung yang ada di balik kaca. 


Sama seperti pemandangan yang ada di luar sana dengan ratusan gedung dan ribuan angunan serta ratusan ribu manusia yang ada di sana, maka resiko yang harus di tanggung dari Revina yang merupakan Nyonya Calvaro juga sama banyaknya dengan hal itu.


‘Aku sendiri juga inginnya hal yang sederhana, tanpa ada banyak gangguan. Tapi seperti yang harus kalian tahu, Visco itu sudah tahu kelemahanku. Sebanyak apapun aku bergerak, sebanyak itu juga Visco akan melakukan sesuatu untuk mengusik kehidupan pribadiku.’ Pikir Dhavin. Bahkan untuk melihat wajah Revina yang ketakutan saja, Dhavin sangat tidak tega. 


Apalagi jika Revina mengetahui fakta dirinya itu adalah Istri dari serang Bos Mafia?


‘Kira-kira seberapa takutnya dia jika aku mengatakan hal yang sebenarnya kepadanya?’ Pikirnya lagi. 


Merasakan terjerat dengan hal yang berkaitan dengan wanitanya, Dhavin yang harus cepat-cepat mengatur rencana, langsung duduk di kursi kebesaran nya, lalu menutup semua jendela itu dengan papan besi yang secara otomatis turun dan menutupi semua jendela besar itu dengan cukup rapat, hingga kantor milk Dhavin berubah menjadi gelap. 


Gelap yang kemudian berubah menjadi remang-remang, sebab hanya di temani dengan.

__ADS_1


Suasana yang cukup dingin pun terjadi diantara mereka semua, termasuk Arlsei yang sama sekali belum angkat bicara, karena menunggu Tuan nya itu lebih dulu berbicara. 


“Vinella, Freddy, Arlsei. Aku tahu ini pekerjaan yang cukup membosankan, sampai kalian berdua-” Ucapannya terhenti untuk sekedar menatap Vinella dan Freddy. “Membuat masalah saat aku menyuruh kalian menjadi bayanganku.”


Vinella yang sadar dengan ucapannya Dhavin, hanya tersenyum tawar, karena ia sungguh melakukan kesalahan sebagai seorang yang di tunjuk untuk menjadi soosk pengganti Revina, sang Nyonya majikan nya. 


Tapi karena Nasi saja sudah menjadi bubur, jadi apa yang harus Vinella perbuat selain menunggu hukumannya?


“Aku akan memastikan soal permasalahan kalian berdua beberapa hari belakangan ini, akan aku urus dengan hukuman yang cukup lumayan. Tapi asal jika kali ini kalian berdua melakukannya dengan baik, maka aku akan memberikan kalian berdua keringanan, walaupun hanya seujur jari.”


“Jadi maksud Bos, malam ini kita berdua melakukan peran kita lagi, dan Bos akan meringankan hukuman kami atas kesalahan yang lalu itu?” Tanya Vinella mengkonfirmasi ucapan Dhavin barusan. 


“Ya,” jawab singkat Dhavin. “Tapi sayangnya kali ini akan banyak perbedaan.” Imbuhnya.


“Apakah yang Tuan maksud itu adalah peran tambahan?” Tebak Arlsei, akhirnya memotong pembicaraan mereka. 


“Ya, itu termasuk juga.” Tapi jawaban Alves kian melemah, karena pikirannya sungguh tetap memikirkan Revina yang ada di rumah. ‘Aku jadi tidak fokus, gara-gara teringat dengan kejadian satu tahun yang lalu. Karena Revina, aku bertarung dengan Visco. Kali ini, orang itu masih saja belum kapok untuk melawanku. 


"Bos?" Panggilan dari Vinella yang terdengar seperti suaranya Revina, lantas membuat Dhavin kembali tersadar, bahwa sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk mengulas masa lalu yang sudah berlalu itu.


'Jangan terpikirkan soal masa lalu lagi, berhenti pikirkan itu. Dhavin, Dhavin, tanggung jawabmu itu lebih besar dari sebelumnya.' Benak hati Dhavin pada dirinya sendiri. 'Padahal aku sudah tahu konsekuensi menjadikan Revina Istriku, aku seharusnya tidak mengeluh seperti ini. Aku seharusnya bersiap untuk segala situasi.'


Dhavin mencoba menata pikiran dan hatinya. Kali ini ia akan menyesuaikan rencananya agar tidak di ketahui oleh Revina.


Ya, sebab rencana ini agak sedikit lebih besar dari biasanya.


Jika biasanya yang memerankan adalah Freddy dangan Vinella, maka sekarang tidak.


Dia membutuhkan lebih banyak pemain di dalam drama yang akan Dhavin buat dengan caranya sendiri, dan tentu saja akan mendapatkan bantuan dari Arlsei juga.


"Bos, apakah aku akan memerankan sebagai Nyonya lagi?" Tanya Vinella yang bahkan sebenarnya jawabannya saja sudah cukup jelas.


"Ya, kamu akan memerankan sebagai Nyonya seperti biasanya." Sahut Arlsei, mewakili keterdiaman dari Dhavin.

__ADS_1


"Lalu aku harus apa?" Tanyanya lagi.


"Setelah rapat selesai datang ke rumah Tuan." Imbuhnya lagi.


Vinella menatap Dhavin secara bergantian dengan Arlsei yang kini wajahnya muncul di layar monitor besar yang terpampang jelas di depan mereka bertiga layaknya sedang menonton bioskop.


Lalu Dhavin yang masih duduk di kursi miliknya, membuka laptop yang sudah dia persiapkan. "Tapi sebagai perbedaannya di sini adalah Vinella, kamu akan bekerja sama dengan Arlsei, lakukan akting dengan baik. Sedangkan kamu-"


Freddy yang sedang duduk bersandar dengan kedua tangan di silangkan di depan dada, menoleh ke arah Dhavin dan mereka berdua pun jadi saling menatap satu sama lain.


"Kamu yang mengantarkan Revina kepadaku dengan helikopter."


".........?!" Meskipun Freddy terdiam, tapi perubahan sorotan matanya tetap menunjukkan kalau Freddy memang tengah terkejut dengan perintah yang di layangkan oleh Dhavin Calvaro ini.


"Berarti, maksudnya aku dengan Arlsei, Freddy dengan Nyonya?" Kata Vinella untuk memastikan. "Aku memakai mobil sedangkan Nyonya pakai Helikopter?"


"Ya."


"Tapi Bos, Nyonya kan, tidak pernah naik helikopter? Apa Bos yakin untuk tetap membawanya naik helikopter?" Tanya Vinella khawatir.


Tapi reaksi Dhavin justru adalah senyuman tipis yang cukup membgongkan, karena Vinella cukup terpikat dengan senyuman milik Dhavin ini.


'Kenapa dia selalu punya senyum yang memikat seperti itu? Freddy, kamu itu seharusnya punya daya menarik lebih dominan dari pada Bos.' Pikir Vinella, sambil memberikan kode kepada Freddy dengan sorotan matanya yang serius.


'Apa lagi yang di pikirkan wanita ini?' Freddy pun membalas tatapan mata milik Vinella itu.


"Justru itu, karena dia belum pernah naik helikopter dengan kesadarannya sendiri, bukannya ini akan jadi pengalaman menariknya?" Walupun Dhavin tahu kalau hal itu cukup kasar untuk Istrinya, tapi mau bagaimana lagi? Dhavin hanya ingin agar Istrinya bisa cepat sampai di lokasi. 'Seperti katamu Freddy, Revina memang harus mulai menghadapi kelemahannya sendiri sedikit demi sedikit. Agak menyebalkan sih, karena aku harus mendengar saran dari orang sepertimu. Tapi apa yang kamu katakan memang ada benarnya.'


Melihat Dhavin tiba-tiba mengatakan hal mengejutkan seperti itu, Freddy dalam diam hanya tersenyum remeh. 'Pada akhirnya kamu mengikuti apa yang pernah aku katakan ya, Dhavin.


Aku tidak peduli soal hukuman yang aku terima nantinya karena masalah yang terakhir kali, karena ujung-ujungnya Revina itu, dia setidaknya harus mencoba untuk menghadapi persoalan remeh seperti itu. Bahwa dunia ini lebih keras, dan jika dia tidak tahu cara untuk menghadapinya, dia sendiri yang akan tertelan dari kerasnya hidup ini, yaitu jatuh dalam keterpurukan.


Revina, setidaknya kamu tahu kan, konsekuensi dari memilih orang seperti Dhavin.'

__ADS_1


__ADS_2