
TOK…TOK….TOK…..
“Ehmm…” Dhavin mengernyitkan matanya saat ada gangguan dari pintu yang tiba-tiba saja di ketuk oleh penganggu.
“Tuan? Apakah Nyonya di dalam?”
‘Lisa?’ satu nama yang langsung terlintas di dalam kepalanya setelah mendengar suara yang Dhavin kenal. ‘Dia mencari Revina, apa ada hubungannya dengan Louisa dan Levine? Tapi dia lagi tidur.’ Pikir Dhavin, melihat Istrinya sudah terlelap tidur di sampingnya, setelah seedikit melakukan permainan kecil yang menguras mental antara jiwa juga raga mereka berdua.
Namun karena Dhavin cukup penasaran apa yang akan Lisa lakukan jika sudah menemui Revina, Dhavin beranjak dari tempat tidurnya dan membuka pintu.
“Ada apa? Apa ini ada kaitannya dengan Levine dan Louisa?” Dan tebakannya benar.
“Ehm, itu benar Tuan. Saya sudah mencoba memberikan susu formula pada Tuan dan Nona muda, tapi mereka tidak mau.”
“Apa artinya mereka ingin minum ASI nya Revina? Secara langsung?” Dhavin mengernyitkan matanya, dia sedikit terganggu karena ia jadi merasa tersaingi dengan kedua anaknya yang pilih-pilih.
“I-iya, kan Nyonya juga Ibu dari Tuan dan Nona muda.”
“Bukankah di frezeer searusnya masih ada stok ASI nya?”
“Sebenarnya- itu sudah habis dari semalam Tuan.” Lisa memberitahu dengan wajah enggan, karena ia merasa segan untuk melihat ekspresi dari majikannya yang terlihat sedikit terkejut.
“A-apa perut mereka itu gentong? Padahal Revina sudah menyediakan stok banyak untuk mereka berdua. Kenapa habisnya cepat sekali?” Gerutu Dhavin, ia tidak percaya kalau kedua anaknya akan kuat minum susu. “Tapi dia sedang tidur,” Dhavin menoleh ke belakang dan memperlihatkan kepada Lisa bahwa sang Nyonya sedang tidur lelap.
Lisa pun sedikit mengintip, dan benar, apa yang di katakan oleh majikannya itu sang Nyonya memang sedang tidur siang.
“Lalu saya harus bagaimana Tuan? Tuan muda dan Nona muda sama-sama sedang rewel di kamarnya.” Ucap Lisa, jadi bingung, di satu sisi majikannya sedang tidur siang karena masih lelah, sebab pagi-pagi buta tadi sempat begadang untuk menyimpan ASI dalam kantong Asi, tapi semua itu sudah habis dalam beberapa waktu saja.
Sedangkan di satu sisi, kedua majikan baru nya sedang rewel.
‘Padahal dia pasti masih lelah dengan apa yang terjadi semalam, apalagi pagi tadi dia juga terbangun karena harus memerah ASI. Aku jadi sadar, betapa merepokannya Revina jadi Ibu.
Karena Levine dan Louisa sama-sama kuat minum, walaupun Revina sudah banyak makan, tapi karena waktu tidurnya masih terpotong banyak juga untuk memenuhi kemauan dari mereka berdua, aku lihat dia samkin kurus saja.
Ngomong-ngomong, aku baru sadar, rambutnya juga rontok, apa itu juga efek dari melahirkan juga?’
‘Apa yang sedang Tuan pikirkan? Apa Tuan juga bingung mau membangunkan Nyonya atau tidak?’ Lisa yang melihat raut wajah Dhavin begitu serius, jadi merasa segan untuk membuyarkan pikiran dari sang majikan yang begitu terasa penting.
“Aku akan membangunkannya. Tapi aku minta lakukan satu hal padamu.”
“Ya, katakan saja Tuan. Saya akan berusaha untuk melakukan apa yang anda minta dengan baik.”
“Setelah ini Arlsei untuk sesaat akan berlibur, paling tidak tiga hari. Jadi ada beberapa tugas yang harus kamu kerjakan.”
__ADS_1
“Baik, jadi apa yang anda inginkan?”
“Sebenarnya tugasmu cukup mudah.” Ucap Dhavin.
Dan Lisa pun menunggu-nunggu soal tugas yang akan di limpahkan kepadanya.
_____________
Sore harinya.
Saat Revina sudah menyelesaikan perannya menjadi seorang Ibu yang baik, walaupun tidak sempurna seperti Ibu lain pada umumnya, karena Revina mengambil sedikit perannya, sebab kedua anaknya di asuh oleh Lisa dan Lusi, tapt di saat Revina masuk kedalam kamar, dia sudah di sambut oleh dua orang asing.
“Hm? Kalian siapa? Kenapa kalian ada di dalam kamarku?” Revina jadi curiga dengan keberadaan dari dua orang asing yang Revina tidak kenali itu.
“Perkenalkan saya Lina, dan ini asisten saya, Mery.” Wanita ini memberikan hormat dengan salam sapa kepada Revina, dan di ikuti dengan satu orang lainnya yang berdiri di sampingnya persis. “Kami disini untuk membantu anda merawat rambut anda.”
“Apa kalian di utus oleh Dhavin untuk mengurus soal permasalah rambutku?”
Mereka berdua memberikan anggukan iya.
‘Padahal aku sudah menyembunyikannya dengan baik, tapi dia masih bisa tahu kalau rambutku rontok. Sebenarnya aku sudah memakai beberpaa sampo, tapi tetap saja tidak menunjukkan hasilnya.’ karena sebuah kebetulan yang pas, Revina menganggukkan sebagai jawaban tanda setuju juga. “Baiklah, lakukan apa yang bisa kalian lakukan, untuk permasalahan soal rambutku ini. Jadi aku harus apa?”
“Nyonya hanya perlu berbaring di sini saja.” Menunjuk tempat washbak keramas yang sudah di letakkan di samping tempat tidur. “Tapi munkgin lebih baik anda mandi terlebih dahulu, jadi nanti anda akan lebih santai, karena tubuh anda sudah bersih.”
Perawatan rambut yang dilakukan oleh mereka kepada Revina, akhirnya membuat Revina sendiri melupakan satu hal, kalau Dhavin sebenarnya sedang pergi.
_____________
‘Aku jadi merasa bersalah. Aku meninggalkannya tanpa pamit. Tapi semoga dia merasa nyaman dengan perawatan rambutnya. Aku tidak mau dia terlihat seperti perempuan yang tidak terawat, sampai aku tidak menyadari kalau dia punya masalah sepele seperti itu.
Kenapa dia tidak bilang kalau rambutnya rontok sih? Padahal dari ujung rambut hingga ujung kaki, semuanya itu berharga, tapi yang punya tubuh itu sendiri malah seperti mengabaikan hal seperti itu.’
“Bos, apa ada sesuatu yang salah pada laporanku?”
Dhavin saat ini berada di kantornya, dan dia sedang di hadapkan oleh salah satu anak buahnya, mengenai perkembangan perbaikan gedung yang sempat terbakar itu.
Dhavin sontak mengalihkan pandangannya dari berkas yang sedang ia baca kepada anak buahnya itu.
“Ya, masalahnya kenapa kau terlalu cantik, sampai aku hampir selalu salah mengira kau bisa jadi Revinaku sih?” Rutuk Dhavin sambil melempar berkas laporan milik Vinella, yang sebenarnya bercampur dengan laporan milik Freddy juga.
“A-apa?” Terkejut Vinella dengan jawaban dari Bos nya itu. “Itu pujian atau sindiran?”
“Dua-duanya.” Ketus Dhavin.
__ADS_1
JLEB.
Sakit tapi tidak berdarah, Vinella sedkit merasa sakit hati karena ia memang cantik, tapi dia tidak memiliki hak untuk bisa mendapatkan Bos nya karena sudah ada yang punya, dengan kata lain itu juga hinaan untuk Vinella sendiri.
“Karenamu, aku jadi terus kepikiran dengan wanitaku yang ada di rumah. Padahal aku juga harus bekerja, tapi-”
“Jadi maksud Bos, keberadaanku adalah kesalahan?” Sela Vinella detik itu juga.
Dhavin bungkam untuk sesaat. “Aku bukan mengatakan itu untuk menyalahkanmu. Tapi aku hanya frustasi dengan diriku sendiri. Kamu tahu sendiri dengan perubahanku antara tahun lalu dengan sekarang setelah aku menikah, tahu kan?”
Vinella mengangguk paham.
“Semenjak ada wanita itu, pikiranku seolah-olah berisi gudang tentang dia saja. Untuk fokus kerja saja, lumayan sulit.”
“Tapi bukankah Bos pada akhirnya menemukan kebahagiaan Bos sendiri setelah melajang seperempat abad?” Tutur Vinella.
Apa yang di ucapkan oleh Vinella pun ada benarnya.
‘Dia benar, tapi juga ada yang salah. Salahnya hanya pada satu titik, kenapa aku sebegitu terseret dengan cinta?’ Benak hati Dhavin, sampai dering dari handphone miliknya membuat Dhavin segera menarik segala pikirannya.
DRRTT…
“Halo?” Yang menelepon adalah Arlsei. “Kenapa kamu tiba-tiba menelepon? Bukankah seharusnya kamu sedang liburan?”
‘Apa? Liburan? Siapa yang sedang liburan? Sebentar, jika di lihat dari Bos langsung mengangkat teleponnya, pasti Arlsei. Apa, Bos memberikan liburan kepada anak itu?’ Vinella diam-diam jadi berusaha menguping, di samping dia sedang membereskan berkas yang sempat terjatuh dan berhamburan akibat Dhavin yang meletakkannya dengan sembarangan sampai terseret dan jatuh.
-”Saya hanya ingin memberitahu anda, kalau orang yang semalam menyerang Nyonya, adalah orang yang berhubungan dengan Adel.”-
“Tunggu-tunggu, kenapa kamu bisa tahu secepat ini? Padahal untuk masalah itu aku menugaskannya kepada Freddy.”
-”Ini dari rencana saya sendiri. Jadi Freddy akan tetap apda bagiannya untuk mengurus soal Adel, sedangkan aku akan mengurus penyerangan yang terjadi malam tadi.”-
“Hah~” Dhavin menghela nafas panjang, “Padahal aku menyuruhmu untuk liburan, tapi-”
-“Ya, liburan saya untuk menyelidiki orang yang saya curigai. Lagi pula anda hanya memutuskan untuk membuat saya menikmati liburan, dan saya sudah menikmatinya dengan cara saya sendiri. Jadi bukankah ini tidak ada masalah dengan pemberian liburan dari anda untuk saya?”- Jelas Arlsei. Arlsei sekarang ada di suatu tempat, yang bahkan Dhavin sendiri tidak percaya kalau Arlsei memanfaatkan liburan yang sudah Dhavin berikan, justru untuk melakukan hal lain diluar itu semua.
“Benar sih.” Dhavin jadi kehilangan kata-katanya, karena ucapannya Arlsei memang benar.
Hak untuk menikmati liburan yang sudah Dhavin berikan kepada Arlsei, sedang Arlsei gunakan, tapi sayangnya itu bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk Dhavin lagi, dan lagi.
TUT.
‘Dia terlalu patuh, sampai tidak memikirkan dirinya sendiri. Arlsei,’ pikir Dhavin.
__ADS_1