Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2

Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2
140 : DBMJCP : Keinginan


__ADS_3

“Yang tadi itu cukup mendebarkan. Aku bahkan sama sekali tidak tahu kalau ternyata orang itu menyimpan helikopter militer itu di suatu tempat.” Ucap pria ini, sembari mencengkram lengan tangan kanannya, gara-gara mendapatkan luka hasil dari pengintaiannya tadi. 


“Tapi Tuan harus tahu juga, itu juga sebagai tanda peringatan untuk anda, bahwa beliau tidak boleh di usik lagi.” Beritahu pria muda yang berjalan di belakang sang majikan nya itu. 


“Ya, aku tahu soal itu. Tapi kamu lihat saja tadi, pemandangan tadi cukuplah menyenangkan! Hahah, aku pikir wanita yang hanya punya ekspresi ketakutan dan suka berteriak, ternyata bisa menyimpan sisi beraninya!” Ekspresi yang awalnya begitu datar dan hanya di lapisi senyuman remeh, berubah menjadi ekspresi kebahagiaan. 


Di tengah dirinya mendapatkan tontonan menarik, sebab Visco dipertemukan dengan Freddy, di dalam situasi itu juga ia juga melihat seorang wanita yang rupanya menjadi target dari pertengkaran milik mereka berdua. 


“Buktinya saja ini, dia bisa menembakku dengan tepat.” Tangan yang kini sudah bersimbah darah pun menjadi bukti atas apa yang ia dapatkan tadi. 


“Kalau seperti itu, maka artinya anda tidak boleh meremehkan wanita itu Tuan.” Peringatanya lagi. 


Laki-laki awal tiga puluh tahunan ini pun memicingkan matanya, dengan senyuman simpul penuh makna, ia pun menjawab : “Benar, kamu sangat benar. Wanita itu memang tidak bisa aku remehkan, mengingat tembakannya cukup akurat sekali.”


“Maka dari itu, saya ingatkan anda untuk tidak lagi sembarangan menembak. Karena mereka bertiga bukanlah lawan yang di anggap enteng, sampai Nona Inaci malah jadi korban juga, padahal Nona Inaci adalah orang yang sudah cukup terlatih dan bisa menahan segala racun, tapi Nona-” Ia pun tidak bisa melanjutkan kata–katanya lagi. 


“Mau seberapa kuat manusia, baik itu dalam seni bela diri, maupun punya daya tahan terhadap racun, pada akhirnya kita itu hanyalah pion milik Tuhan. Jadi kamu tidak usah menyinggung soal wanita itu lagi, dia hanyalah titipan pion dari tuhan untukku agar aku bisa menggunakannya dengan baik, hanya itu saja peran kalian semua selama menjadi anak buahku.” Jelasnya, pria ini pun terus berjalan pergi keluar dari area hutan dan memasuki mobil sedan yang sengaja ia sembunyikan di bawah dedaunan. 


Orang ini pun terdiam, sebab apa yang di katakan oleh Tuan nya itu memang benar adanya. Karena itu, ia sama sekali tidak memiliki niat untuk melanjutkan pembicaraannya lagi karena yang paling penting adalah membawa Tuan nya itu pergi keluar dari area sana sebelum ada yang menyadarinya, atau lebih tepatnya ketika helikopter milik Visco lewat, maka ada kemungkinan kalau anak buah Visco akan menembakinya lagi. 


__________________

__ADS_1


“Sayukurlah, kalau kamu tidak apa-apa.” Kata Revina merasa lega karena Dhavin tidak kenapa-kenapa. 


‘Kenapa kamu malah berekspresi lega seperti itu? Padahal yang hampir saja terluka itu adalah kamu.’ Pikir Dhavin, sembari berusaha untuk kembali berdiri, Dhavin pun menggapai wajah Istrinya yang sudah bercampur aduk, antara lega, bahgia, juga ada tersirat kesedihan di mata Istrinya itu. 


Sungguh berat, menghadapi fakta kalau malam ini, malam yang seharusnya menjadi malam kebahagiaan mereka untuk mengenang kemabli satu tahun pernikahannya, harus berakhir seperti ini.


Revina, ia terpaksa harus menyebrangi ujian yang di lakukan oleh Ibunya dengan menggunakan Visco. Tapi karena ada orang lain ikut campur dengannya, maka ujian untuk Revina pun hanya berakhir di sini. 


Ya, jika tidak ada orang lain yang ikut campur, ada kamungkinan bahwa Revina sudah pasti sudah bi bawa oleh Visco. 


“Bagaimana? Apa kamu mau lanjut atau pulang?” Tanya Dhavin khawatir kepada Revina yang terlihat masih syok juga. 


“A-apa k-amu mau menuruti satu keinginanku?” Tanya balik Revina dengan raut wajah sedih, karena upacara untuk pernikahan untuk yang kedua kalinya di malam ini sudah gagal, gara-gara kedatangan Visco. 


Sebagai pria yang sedang bucin kepadanya, sudah pasti pria ini akan menuruti semua keinginannya. Tapi untuk kesopnan, Revina tentu saja akan bertanya lebih dulu, karena setidaknya ia tidak langsung menuntut pria ini melakukan keinginannya. 


“Katakan saja, aku akan mengabulkannya.”


“Aku …, ingin kita merayakannya di sini saja.” Revina sengaj mengatakan itu, sebab setelah ia bertemu dengan Dhavin, keinginannya untuk pulang pun ia tangguhkan. 


Revina masih belum ingin pulang, tapi jika mau pergi untuk melanjutkan pergi ke lokasi yang sudah di tentukan, Revina sudah tidak sanggup lagi untuk pergi dari sana, tapi di satu sisi ia masih ingin merayakannya ulang tahunnya. 

__ADS_1


“Maaf jika aku egois, tapi aku masih ingin kita merayakan ultah pernikahan kita, dan-” Revina semakin menundukkan wajahnya ke bawah. “Tapi aku sudah tidak ingin pergi ke tempat yang sudah kamu siapkan, dan aku sendiri juga masih belum ingin pulang.”


“Revina, kamu tidak perlu minta maaf seperti itu, ini kelalaianku, aku seharusnya pergi bersamamu juga, jadi hal seperti ini-”


“Mau kamu ada di sisiku atau tidak, pasti jalan ceritanya akan tetap sama juga, Visco ak-mph..?!” Wajah Revina seketika langsung di raih Dhavin, dan membungkam mulutnya dengan bibirnya. 


Hanya kecupan sesaat, Dhavin pun berkata : “Revina, aku ingatkan, jangan panggil nama pria lain di depanku, apalagi orang itu.”


“Apa kamu kenmph..!” Revina semakin mengeryitkan matanya karena Dhavin kembali mengecupnya dalam kurun waktu lebih dari sepuluh detik untuk sekedar membungkam mulutnya itu agar tidak mengucapkan nama pria lain tepat di depannya. 


“Jangan katakan apapun lagi, aku akan mengurus semuanya untukmu, jadi diam dan istirahat disini.” Selesai berkata seperti itu, Dhavin mengeluarkan handphone nya, dan mencari sinyal apakah di sana ada alat menghalang sinyal atau tidak, setelah di rasa tidak ada lagi, Dhavin memerintahkan anak buahnya untuk datang menyusul dan membereskan kekacauan yang ada di sana. 


“Aku, ingin kita seperti sedang piknik.”


Dhavin melirik ke arah Revina, lalu ke samping kanannya, sebuah pada rumput yang cukup luas, dan Dhavin akhirnya sedikit mendonga ke atas langit, yang mana bulan purnama berwarna sedikit kebiruan dengan posisi bulan masih berada di sebelah timur, membuat Dhavin berpikir kalau keinginan Revina yang begitu sederhana itu adalah agar bisa bermalam sambil menikmati pemandangan bulan.


______________


Di tempat Adel berada.


“Hah …., siapa yang sudah mengirimu?” Tanya Adel, saat ini ia sudah berada di dalam mobil. Setelah berhasil keluar dari kamar isolasi yang di lakukan oleh seseorang, yang sebenarnya Freddy lah yang menangkap dan menjebloskannya ke ruang bawah tanah dari markas, Adel langsung bergegas menyamar dan menyelinap keluar, gara-gara ada seseorang yang membantunya. 

__ADS_1


Dan saat ini Adel sudah ada di dalam mobil truk sampah bersama dengan anak buah milik seseorang? 


Siapa? Adel masih belum tahu karena pria ini masih belum menjawab pertanyaannya.  


__ADS_2