Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2

Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2
105 : DBMJCP : Bangun tidur ...


__ADS_3

"Hoammhh~" Setelah melampui alam mimpi yang menyenangkan, Revina menguap lebar dengan air mata menitis dari sudut matanya.


Antara kekurangan udara atau kurang tidur, yang pasti adalah keduanya.


"Dhavin~ Dhavin~ Dhavin~" Revina terbawa arus senang karena ia bisa tidur bersama dengan pria itu.


Padahal belum satu minggu dirinya keluar dari rumah sakit. Tetapi perasaan seperti sudah berpisah lama, memnag selalu saja seperti membekas di dalam hatinya.


Itulah yang membuat sekarang dia tiba-tiba saja terkekeh, gara-gara dia bisa menghabiskan waktu malam bersama lagi, padahal sebelumnya ia marah karena ketika ada di telepon, dia mendengar Dhavin sedang bersama dengan wanita lain.


Tapi semuanya sudah menghilang begitu saja seperti angin lalu.


"Hehehe...." Dengan mata kembali terpejam Revina mengusap permukaan kasur yang biasanya ditempati oleh Dhavin.


Aromanya masih tersisa, dan Revina sangat menyukainya, feromon si pemikat hati dan pikiran.


"Huupp....hahhhh~" Revina masih saja senang, bahkan dia tersenyum lebar karena meskipun di sampingnya itu Dhavin sudah tidak ada, tapi karena aromanya masih tertinggal, hal tersebut pun membuat Revina seperti berhalusinasi kalau sosok Dhavin masih berada di sampingnya, dan pria itu sedang memiringkan tubuhnya ke arahnya sambil mengusap punggung Revina. 'Dia sungguh sudah mengikatku dengan pesonanya.'


Dia tidak bisa membuka matanya, karena ia tidak mau khayalan yang sudah terbentuk di dalam kepalanya menghilang begitu saja.


Akan tetapi....

__ADS_1


"Nyonya sudah bangun kan?"


"A-Arlsei?!" Revina yang terkejut setengah mati dengan suara Arlsei yang sangat dekat, langsung bangkit dalam posisi duduk sambil menutupi tubuhnya dengan selimut, karena ia masih tidak memakai apapun gara-gara perjalanan panjang yang Revina dan Dhavin lalui secara bersama selama semalaman. "A-ada apa, kenapa tiba-tiba masuk tanpa mengetuk pintu?"


Siapa yang tidak kelabakan dan gugup, jika Revina yang sedang asik berhalusinasi malah di ganggu dengan kedatangan orang lain yang muncul secara senyap!


'Arlsei ini, dia seperti hantu saja, kenapa aku sampai tidak menyadari kalau dia ada di belakangku tadi?!' Pekik Revina dalam hatinya. Bahkan karena dia saat ini melihat wajah Arlsei terus saja seperti tembok, Revina perlahan jadi salah tingkah sendiri, sebab di mata laki-laki ini terlihat seperti orang yang tidak memiliki keinginan.


"Saya sudah mengetuknya beberapa kali, tapi anda sendiri yang tidak mendengar ketukannya." Arlsei meletakkan meja lipat di atas kedua kaki Revina, dan barulah Arslei meletakkan nampan yang ia bawa di atas meja tersebut, agar wanita ini segera makan.


"I-ini, tapi aku belum mandi loh, ku harus ma-"


"Mau sudah mandi atau belum tidak ada hubungannya dengan perut anda yang sudah harus di isi. Ini sudah telat untuk jam sarapan pagi anda, jadi silahkan makan terlebih dahulu, lalu barulah anda mandi." Penjelasan yang cukup jelas itu membuat Revina paham, kalau ia tidak boleh telat makan.


Karena urusan pertamanya dia sudah selesai, Arlsei berbalik dan pergi begitu saja.


'Dia pengertian juga. Pintar, muda, bisa masak, dan tampan?' Rona wajahnya kembali muncul. 'Tidak seperti Dhavin sih. Tapi aku juga menyukainya karena tampan. Ahhh! Aku memang lemah dengan wajah tampan.'


Revina yang frustasi dengan pikirannya itu tiba-tiba jadi mengacak rambutnya sendiri.


Dia mengambil sendok dan pertama tama dia mengambil sup untuk dia minum. 'Apakah Dhavin memilih anak buahnya berdasarkan wajah? Dia ternyata sungguh pengertian juga ya? Aku jadi menghalu, jika dia tidak ada di sisiku seperti ini.'

__ADS_1


Kekehan gelak tawa yang sedang tertahan itu pun tetap saja keluar dari mulut yang masih menggigit sendok secara terbalik.


"Hihihi..."


Sedangkan Arlsei yang baru saja kembali dari luar, sempat melihat Nyonya muda nya itu tersenyum dengan tawa yang terdengar seperti orang yang baru saja menemukan siasat yang licik.


'Apa yang sedang di pikirkan Nyonya?' Benak hati Arslei. Sekarang dia membawa perlengkapan mandi untuk Nyonya nya itu, serta membawa satu orang pelayan di belakangnya untuk ikut masuk kedalam kamar.


'Ha? Kenapa Arlsei datang lagi?' Revina yang terkejut itu langsung melepaskan gigitan sendok nya itu dari mulutnya.


"Setelah anda selesai makan, saat mandi anda akan di temani oleh dia," Arlsei menunjuk seorang pelayan yang memiliki rambut pirang.


"Tapi aku kan bisa mandi sendiri?" Sedikit mengeluh karena ia masih belum terbiasa saat mandi di temani seseorang.


"Apa anda lupa kalau hari ini adalah hari yang anda dan Tuan tunggu-tunggu?" Imbuh Arlsei, bahwa hari ini bukanlah hari yang sembarangan.


"Memangnya hari har- ...!" Akhirnya Revina ingat, kalau hari ini adalah hari ulang tahun pernikahannya! 'Aku kan pesan kalau aku ingin acaranya seperti saat aku menikah, jangan-jangan-'


Dan seperti dugaan, pintu kembali terbuka, memasukkan tiga orang pelayan wanita tengah membawa patung manekin yang di pakaikan sebuah gaun pengantin berwarna putih!


KLANG....

__ADS_1


Sendok yang sempat Revina pegang itu langsung jatuh ke atas piring setelah dia melihat gaun pengantin yang sekarang ada di depan matanya, sangatlah cantik.


__ADS_2