
"Revina," Panggil Dhavin, kepada Istrinya yang sedang asik goyang pan*at.
"Hmm?" Revina sendiri, karena di dalam rumah tersebut sedang di putar sebuah musik yang cukup menyenangkan, Revina hanya berdehem pelan sambil menggoyangkan panta*t nya entah ke kanan dan ke kiri, karena nadanya begitu asik untuk di jadikan goyangan yang begitu pas dan hot, Revina tetap mengabaikan alasan kenapa namanya tiba-tiba saja di panggil.
"Kenapa hm? Apa kamu tidak punya jawaban lain yang lebih spesifik? Kenapa atau apa?"
"Lah, itu sudah kamu tanyakan sendiri, sejatinya juga sudah kamu wakilkan sendiri pertanyaan yang ingin kamu dengar itu." Tanpa sadar jadi membalas ucapannya Dhavin dengan panjang lebar, sampai membuat Dhavin merasa seperti sedang di berikan sebuah ujian.
Tepatnya, ujian mental dan ketahanan fisik.
"Revina, suamimu memanggilmu kamu seharusnya siap untuk mendengarkan, bukan asik menghayati mendengarkan musiknya." Untuk sekedar membuat teguran pun, Dhavin sebenarnya sudah susah, sebab dirinya sudah berhasil di pancing untuk satu hal besar yang sedari tadi di tahannya.
Tapi demi menjaga kesannya, setidaknya hari ini di depan Revina, Dhavin berusaha untuk menjaga akal sehatnya terhadap gerakan aneh, tapi penuh dengan dorongan untuk ...
"Atau kamu benar-benar ingin aku tusuk?"
".......!" Revina sontak seketika jadi diam dan menghentikan aktivitasnya yang sudah berhasil memanas-manasi Dhavin.
Revina langsung beralih posisi menjadi duduk, lalu kemudian ia pun menoleh ke arah Dahvin berada.
Kedua anaknya sudah di berikan kepada Lusi dan Lisa, lantas apa yang akan di lakukannya sekarang?
Ketika di ruang keluarga hanya ada dua orang yang saling pandang satu sama lain?
"Ingin di tusuk kan?" Seringai Dhavin seraya menatap spontan ke arah kaki Revina.
Revina dengan begitu cepat menggelengkan kepalanya tidak mau.
__ADS_1
"Kalau tidak mau, bagaimana kamu harus bertanggung jawab soal ini?" Setelah mengatakan hal tersebut seolah frustasi, padahal sedang membanggakan dirinya sendiri, jari telunjukknya pun menunjuk ke arah menara yang masih di penjara di dalam celananya.
"Kan kamu sendiri yang mendirikannya, kan? Kenapa minta tanggung jawab kepadaku?" Revina agak ngeri, jika menara yang ada di dalam celananya Dhavin, di keluarkan.
Antara wah hebat, tapi juga wah terlihat cukup untuk menyiksanya seharian penuh, dua kesan itu terus saja terukir di dalam baik itu pikiran maupun jiwanya.
"Heh~" Dhavin awalnya menaikkan salah satu kakinya ke atas sofa, meletakkan tangan kirinya di atas lutut yang sudah di tekuk itu, dan wajah dengan ekspresi yang begitu cerah itu, mengarahkan senyuman lebar ke arahnya. Senyuman penuh dangan banyak arti tapi satu tujuan. "Ini kan salahmu, kenapa menunjukkan pant*atmu kepadaku? Dengan goyangan bor milikmu, aku pikir kamu memang sedang sengaja untuk memancingku kan?"
Perlahan, namun pasti. Dhavin perlahan mulai membungkukkan tubuhnya ke depan, mengarahkan tangannya ke permukaan sofa dan berakhir dengan terus merangkak ke arah Revina, yang refleks langsung mundur ke belakang.
Sudah jelas, sekarang Dhavin mirip persis dengan seekor beruang. Beruang Grizzly yang baru saja menemukan mangsa kecilnya, yaitu seekor kucing yang sedang ketakutan itu.
"D-Dhavin, ini masih pagi." Kata Revina, tiba-tiba mengatakan itu secara spontan.
"Memangnya kenapa kalau masih pagi? Bukankah jam pagi justru akan lebih menyehatkan tubuh untuk berolahraga?" Ledek Dhavin, ia tahu persis kalimatnya mengarah ke mana, tapi dengan sengaja mengartikannya dengan kalimat lain.
Pesona Dhavin yang tidak mampu menghilang, sekalipun tubuhnya masuk dalam lumpur, dan yang tersisa hanya suara berat tapi terasa maskulin.
"Tapi ini terlalu dini." Revina jadi takut, apalagi gerakan yang diperlihatkan Dhavin saat merangkak ke arahnya itu, benar-benar seperti hewan buas yang sudah menemukan korban untuk di makan sampai habis tanpa sisa sedikitpun.
Bahkan, darah pun akan di jilat sampai bersih, lantas bagaimana dengan kali ini?
Apa yang akan di habiskan oleh mulut penuh dengan kalimat maut itu?
"Terlalu dini apaan Revina? Ini sudah cukup matang untuk di biarkan untuk bermain-main." Suara yang kian melembut, namun cukup menghanyutkan, membuat Revina sesaat jadi terkecoh sekaligus terlena.
Sampai tanpa sadar, Dhavin sudah sampai di depannya persis, meraih salah satu kaki Revina, dengan satu kali seret, Dhavin berhasil menyeret tubuh Revina itu agar bisa berada di bawahnya.
__ADS_1
Dan terjadilah adu tatapan, atara kesenangan juga kekhawatiran.
"Sampai disini apa kamu masih mau menolak untuk bertanggung jawab kepada suamimu sendiri?" Tanya Dhavin, kedua tangannya pun sudah berada di samping kanan dan kiri kepala Revina.
"A-aku-" Revina menutup matanya, dan menjawab dengan keraguan paling besar. "A-akan bertanggung jawab."
"Apa? Karena suaramu selembut kapas dengan angin sepoi ringan, aku jadi kurang mendengarnya dengan jelas." Pinta Dhavin kepada Revina, agar kembali menjawab jawabannya tadi.
"Aku akan bertanggung jawab." Ketus Revina, jadi kesal karena selalu saja menjadi bahan godaan dari Dhavin, yang entahnya....., pria ini sama sekali tidak ada tanda-tanda bosan terhadapnya.
Sehingga hal itu pun jadi keanehan tersendiri untuk Revina.
"Hoh~ Aku jadi penasaran bagaimana ka-mph~"
PLOP....
Dhavin seketika menggantungkan kalimatnya, tepat satu tamparan sedikit kuat menyapa siswi kecilnya yang ada di bawah sana.
"R-Revina, i-ini..." Sepersekian detik itu juga, wajah Dhavin jelas langsung tersipu, sampai kedua tangannya yang di gunakan untuk menopang tubuhnya, perlahan jadi gemetar sendiri setelah mendapatkan satu rangsangan hebat yang di buat oleh tangan ajaib milik Istrinya itu.
Karena tangan itu, berhasil membuat sebuah kesenangan tersendiri untuk Dhavin.
"B-bagaimana?" Revina yang terjerat sendiri dengan suasana serba aneh, jika sudah berdekatan dengan Dhavin ini, bertanya dengan mata malah menatap ke arah lain, sebab ia serasa tidak sanggup untuk melihat ekspresi wajah Dhavin yang begitu menggoda ketika harus mendengar suara de*sahan yang harus tertahan di mulut dengan bibir seksi itu.
"K-kamu tanya bagaimana? Terus lanjutkan, sampai tuntas. Sekarang juga." Kata Dhavin, membuka matanya dengan sekuat tenaga, dia pun menatap Revina dengan mata menyipit. "Itu enak sekali."
Revina yang sudah ketahuan meliriknya, wajahnya jadi langsung tersipu.
__ADS_1