
Revina yang saat itu memang tidak tidur malam, karena kedua anaknya sempat rewel selama beberapa jam, ia jadinya menonton tv di ruang tv sendirian, dan hanya berusaha untuk menghibur hatinya yang kesepian itu, sampai karena ia haus sebab makan banyak camilan, dia pun ingin minum.
Di saat itulah, Revina begitu terkejut saat gelas yang ia pegang itu pecah, seolah itu adalah sebuah pertanda?
Tapi memang benar, karena di waktu kecil, ia juga pernah menjatuhkan gelas, dan di saat itu juga ia mendapatkan sebuah kabar buruk kalau kakeknya meninggal.
'Tapi, walaupun begitu, aku benar-benar berharap kalau gelas tadi bukan pertanda buruk lainnya. Aku mohon, aku mohon.' Kata Revina di dalam hati. Dia berhenti berjalan dan berdoa dalam diam sambil memejamkan matanya.
Betapa berharapnya ia ingin sekali bisa bertemu dengan Dhavin, itulah yang ia inginkan pada tuhan. Sampai ia berharap kalau doanya di kabulkan.
"Semoga! Aku ingin ketemu Dhavin!" Tekan Revina saking gemasnya rasa rindu yang sedang melanda hatinya itu.
Hingga, suara deru knalpot mobil yang lumayan senyap, tapi masih bisa Revina rasakan kalau di depan rumah ada kendaraan yang datang, Revina lantas menghentikan berdoa nya dan memutar tubuhnya ke belakang.
Barulah, tepat di saat Revina berbalik, suara pintu yang terbuka itu pun menumbuhkan satu harapan paling besar dari hati Revina yang paling dalam.
__ADS_1
KLEK....
Kedua pintu besar yang terbuka itu berhasil menampilkan dua sosok orang yang sangat Revina kenali.
Membuat mulut yang dari tadi tertutup itu, mengembangkan sebuah senyuman yang begitu lebar.
"Tuan, saya akan membawakan koper anda." Kata Arlsei, merebut koper yang sempat di pegang oleh sang Tuan besar.
"Kau seharusnya menawarkannya dari tadi." Kata Dhavin kepada Arlsei yang baru saja menawarkan bantuan dengan membantunya membawakan kopernya.
TAP.....TAP....TAP....
Lalu Dhavin dan Arlsei pun masuk kedalam rumah.
'D-Dhavin pulang!' teriakan bahagia di dalam hati Revina itu, segera Revina tuangkan dalam sebuah larian yang berakhir dengan pelukan. "Dhavin!" Panggil Revina dengan senang.
__ADS_1
Ya, bagaimana tidak senang, jika doa dari harapan kecilnya ternyata di kabulkan oleh Tuhan, dan membuat pria yang selama ini terus menyiksanya dalam rasa rindu sedalam palung Marian, akhirnya id obati dengan kedatangan Dhavin yang tiba-tiba sudah pulang tanpa memberikan kabar.
"Dhavin, kamu pulang? Heheh." Saking rindunya, Revina pun mengusel-ngusel wajahnya di depan dada bidang milik Dhavin. "Apa kamu lelah? Mau aku pijat? Atau mau mandi bersama? Kebetulan aku belum mandi juga.' Ungkap Revina dalam deretan pertanyaan yang terus keluar dari mulutnya, saking penasarannya ingin mendengar suara milik Dhavin lagi dalam mode suara menggoda dan memanjakannya.
Arlsei yang masih berada di sana, hanya bisa diam dan terus memperhatikan betapa Nyonya muda nya itu sangat ingin bertemu dengan sang Tuan.
Apakah romantisme diantara mereka berdua tetap masih ada?
Ketika ....
"Dhavin, kenapa kau diam? Tidak mau menjawabku?" Tanya Revina sekali lagi, lalu wajahnya ia berhentikan untuk mengusel-uselnya, setelah itu dia mendongak ke atas dan melihat wajah tampan milik suaminya itu nampak lebih tampan saat berekspresi serius.
Sampai suara Dhavin yang dari tadi belum kunjung keluar, akhirnya keluar juga.
Tapi ...
__ADS_1
"Siapa kau?"