Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2

Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2
31 : DBMJCP : Malam mereka berdua


__ADS_3

KLEK...


Freddy berakhir masuk kedalam rumahnya Vinella. Dan hal ppertama yan gdia dapatkan adalah ruangan yang cukup gelap.


Dia terus berjalan masuk lebih dalam hingga ke ruang tamu. Dan di saat itulah, sebuah serangan langsung datnag dari belakna.


SYUHTT...


Sebuah pisau belati sudah siap untuk menggorok leher Freddy yang sembarangan masuk kedalam rumah.


"Apa yang kamu lakukan di rumahku?" Tanya Vinella dengan suara sedikit parau. Meskipun begitu dia tetap memberikan tatapan waspada kepada Freddy yang terus berdiri dalam posisi tenang, seolah serangan itu memang sudah di ketahui oleh Fraddy sendiri.


"Aku hanya ingin memeriksamu."


"Memeriksaku untuk apa? Kamu ini bukan dokter, tidak ada yang perlu di periksa." jawab Vinella dengan nada penuh penekanan.


"Apa yang sedang terjadi padamu?" Freddy dengan tenang, justru menyentuh sisi tajam dari belati itu, dia dorong untuk menjauhkan dari lehernya yang berharga.


"Tidak terjadi apapun. Kenapa? Pulang saja sana, atau kamu mau imbalan karena sudah mengantarkanku pulang?" Tanya Vinella, dia dengan pelan mengimbangi gerakna Freddy yang berani meletakkan ujung jarinya di depan pisau belati yang bisa menyayat jarinya kapan saja.


"Kamu yakin dengan jawabanmu itu? Tidak terjadi apapun?" Tanya balik Freddy, dan saat itu juga tangan kiri Freddy langsung menjentikan jarinya.


KLIK..


Seketika lampu di dalam rumah milik Vinella langsung mneyala semua. Namun ketika Freddy berbalik untuk mengetahui apa yang sebenarnya sudah terjadi kepada Vinella, dia langsung di suguhkan dengan Vinella yang basah kuyup dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tidak hanya sampai di situ saja, sebab yang paling penting itu adalah Vinella sudah tidak lagi memakai pakaian, kecuali handuk kimono yang di pakai secara sembarangan.


Freddy tahu, Vinella buru-buru keluar dari kamar mandi karena meyadari ada yang masuk kedalam rumahnya, tetapi vinella tidak tahu kalau yang masuk ada Freddy, sehingga Vinella pun melakukan serangan mendadak dan hanya menggunakan pisau belati yang selalu disiapkan oleh Vinella untuk berjaga-jaga.


"Kenapa wajahmu memerah?" Salah satu alis Freddy terangkat melihat wajah Vinella yang sudah merah padam seperti kepiting rebus.


"Berisik!" Ketus Vinella. Dia yang sama sekali tidak memperdulikan penampilannya saat ini yang terlihat acak-acakan di depan seorang pria, langsung berjalan kembali untuk masuk kedalam kamar mandi dan melanjutkan urusannya.


Memangnya urusan apa?


Freddy yang sangat ingin tahu kenapa wanita ini begitu galak dengan wajah merah padam seperti itu, langsung mencegat Vinella pergi dengan mencengkram tangan kirinya.


GREPP...


"Kenapa kamu mencegahku pergi?"

__ADS_1


"Katakan dulu apa yang sedang terjadi kepadamu. Tidak mungkin tidak kenapa-napa. Apalagi-" Freddy tentu menyadari kalau kulit Vinella ternyata cukup panas. "Ini bukan demam kan?" Tanyanya. Lalu delikan yang lebih tajam itu tertuju pada aset yang di miliki oleh Vinella itu memang benar-benar belum tertutup dengan benar oleh handuk yang dipakainya. "Apa ada seseornag yang memberimu obat?" Selidik Freddy.


".........." Vinella langsung menepis cengkraman dari Freddy itu dengan cukup mudah. "Pergilah." Perintah Vinella.


"Aku bisa membantumu." tawar Freddy secara tiba-tiba.


"Apa?!" Mata Vinella melotot, dan terlihat seperti hampir melompat dari tempatnya. "Kamu menawariku?"


"Kenapa? Aku yakin aku bisa melakukannya."


"Tunggu~" Vinella menggeleng kuat kepalanya untuk mencari kesadarannya kembalii yang tadi hampir hilang tergantikan dengan pikiran tidak masuk akalnya, karena ndak menyeret pria ini pergi bersamanya. "Kenapa kamu menawariku hal yag aneh?"


"Aneh apa? Bukannya hal yang seperti ini itu sudah umum?"


"Tidak-tidak...aku tidak mau. Apalagi aku belum lama ini selesai haid. Aku tidak mau hamil karenamu." Tolak Vinella dengan terus terang atas tawaran dari Freddy yang dibilang cukup gila! 'Dia mau membantuku! Yang benar saja, aku pikir dia adalah pria yang tidak akan melakukan hal sepert itu. Ini di luar dugaanku.'


"Kamu yakin dengan itu?" Freddy tiba-tiba saja menyinggingkan senyuman miringnya. Ternyata wanita di depannya itu bisa menolak keras dengan cukup gamblang.


"Aku yakin lah. Aku tidak mau keperawananku di rebut olehmu, serigala." Delik Vinella dengan tatapan yang cukup tajam.


"Siapa juga yang mau merebut keperawananmu? Entah..yang disebut perawan itu dalam hal apa, apakah karena aku memakanmu, atau kamu yang hanya keluar saja termasukkah aku mengambil keperawananmu?"


BRUKK...


".........." Freddy pun pada akhirnya menonton Vinella yang sudah terbaring di lantai. Wajah merah dan nafas yang terlihat memburu, serta sifat keras kepala yang dimiliki Vinella karena terus menolaknya, akhirnya berakhir sampai disini saja.


"Hahh...hah...." Vinella melamun, tetapi tubuhnya terus bergerak kesana kesini karena ada sesuatu yang tidak nyaman di area abwah sana.


Merasakan simpati kepada salah satu anak buah Dhavin yang baru saja di pekerjakan untuk menyamar, tapi berakhir seperti ini, membuat Freddy akhirnya turun tangan.


Freddy langsung mengangkat ubuh Vinella yang cukup berisi, dengan artian cukup berat. Tapi itu tidak mempersulit dirinya untuk memindahkan tubuh Vinella ke dalam kamar yang kebetulan tidak jauh dari ruang tamu.


BRUK...


"A-apa yang mau kamu la-kukan?" Tanya Vinella dengan mata sayu, melihat Freddy saat ini membuka kemeja putihnya.


"Kan aku sudah bilang akan membantumu." Jawab Freddy.


Freddy yang saat ini sudah bertelanjang dada, perlahan merangkak naik katas tempat tidur Vinella, dan dia menyingkirkan tubuh Vinella agar berada di posisi tengah-tengah tempat tidur.

__ADS_1


"Serigala. Kamu harus tanggung jawab."


"Aku akan bertanggung jawab memakanmu sampai habis, Vinella." Kata terakhir itu berisi sebuah nada lirih seperti bisikan yang cukup menggoda.


".................." Vinella terus menatap tajam Freddy yang saat ini sudah berbaring di sisi kirinya, setelah itu Freddu mengarahkan Vinella agar miring ke kanan.


Saat itulah, aksi yang dilakukan oleh Freddy pun membuat isi kepala Vinella kosong semua, sebab semua sentuhan yang dilakukan Freddy terhadap tubuhnya, cukup membuat Vinella merasakan nikmat dalam sebuah kemenangan.


"Akh~ F-freddy, kenapa kamu..bisa melakukan i-ni kepadaku?" Tanya Vinella, di tengah-tengah tubuhnya sedang dimainkan oleh tangan Freddy yang cukup profesional! "Jangan-jangan...k-kau sering mel- Akh..." Des*ah Vinella saat pangkal pahanya perlahan dimasuki oleh jari Freddy yang lentik namun lebih besar dari jari milik Vinella itu.


Tidak hanya sampai disitu saja, Freddy dengan cukup ahli, meraih buah dada milik Vinella yang cukup menyennagkan untuk dimainkan.


Hanya saja, Freddy sama sekali tidak mengalami reaksi gairah yang sama di saat dirinya sedang membuat wanita ini Freddy puaskan dengan tangannya saja.


"Aku tidak pernah melakukannya kepada siapapun. Tapi aku tahu cara untuk memuaskan wanita sampai merasakan nikmat yang sama dengan saat berhubungan intim yang sesungguhnya. Jadi kamu tidak perlu takut, aku akan membuatmu hamil." Ungkap Freddy atas pertanyaannya Vinella barusan.


"Terserahlah, asal tidak membuatku kehilangan keperawananku." Tukas Vinella, sesaat kesadarannya kembali. Tapi setelah mednapatkan ciuman..


Cup..


Akal sehatnya kembali hilang di telan rasa manis dan kelembutan itu.


"Jadi maksudmu, asal aku tiak membobolmu, artinya masih perawan?"


"Kurang lebih..sep akh~"


Jawaban yang cukup memuaskan Freddy itu pun sukse membuat Freddy kemabli melakukan pekerjaannya untuk menyenangkan Vinella yang sedang dilanda siksa gairah dari ha*srat yang timbul karena sebuah obat.


Lalu dari situ pula, karena asal tidak memasukkan timun libanon nya kedalam pangkal paha milik Vinella, maka Freddy pun akan menggunakan itu untuk kepuasan lain yang akan di dapatkan oleh Vinella ini.


"AKhh...Fred, itu kenapa milikmu bisa cukup besar?" Tanya Vinella.


"Kenapa tanya aku, aku sendiri juga tidak tahu." Jawab Freddy , mau tidak mau melepas ketahannya untuk tidak membuat pusakanya bereaksi.


Malam purnama biru yang panjang pun memuaskan kedua orang ini di atas ranjang.


Tidak ada yang di rugikan di sana, karena itu Vinella akhirnya mengiyakan untuk di puaskan oleh tangan Freddy yang cukup profesional untuk menyenangkan, sekaligus melampiaskan keinginan dari naf*su nya itu.


Karena itu, lenguhan demi lenguhan dan de*s*ahan yang nikmat serta erangan yang berasal dari Vinella berhasil mengisi kamar itu secara signifikan.

__ADS_1


__ADS_2