
“D-Dhavin~” Revina memanggil nama agung dari sang suami tercinta nya itu dengan ekspresi kurang baik.
Siapa yang akan merasa baik-baik saja ketika harta yang harus ada karena harus di gunakan setiap saat, kini sudah menjadi sampah.
Apalagi kalau bukan kain yang di gunakan untuk menutupi aset nya. Semuanya habis di gunting oleh pria yang kini sedang duduk riang di atas tempat tidur dengan laptop di pangku. Sedangkan Revina sendiri, dia sudah terduduk di atas karpet sambil memandangi tong sampah yang kini hanya berisi potongan kain dari pakaian da lam nya.
“Hmm…” Sahut Dhavin dengan deheman ringan. “Apa kamu butuh sesuatu, sayang?”
Bulu kuduk Revina langsung meremang saat kalimat sayang, tiba-tiba keluar dari mulut beracun itu?
Tidak biasanya pria itu akan memanggilnya dengan kesan kasih sayang seperti itu, makannya Revina jadi merasa aneh sendiri mendengar balasan nya Dhavin ini.
“Aku butuh ini.” Revina pun memutar tubuhnya ke belakang sambil memegang salah satu bra yang sudah di potong jadi dua, sehingga kini dia hanya memegang satu bagian saja.
Dhavin akhirnya mengalihkan perhatiannya dari laptop ke arah barang yang ada di tangannya Revina dan menjawab : “Untuk apa butuh itu, tidur saja dengan penampilanmu seadanya seperti itu.” jawaban yang sungguh ringan di mulut Dhavin itu.
Sebenarnya ada satu kebiasaan aneh yang dimiliki oleh Dhavin, pria dengan berjuta bahasa, karena tak mampu mengungkapkan segala pujian atas tampang penuh dengan pesona yang menghanyutkan segala mata orang yang memandang, dan terutama kaum wanita.
Apa itu?
“Sebenarnya kenapa kamu melakukan ini? Kan jadi membuang-buang uang untuk beli ini lagi.” Pertanyaan berisi kalimat protes pun Revina ungkapkan langsung pada pria yang sedang duduk itu.
“Uang kan bisa aku cari dengan mudah. Dan kamu tanya alasannya apa, karena suka.”
Dengan senyuman konyolnya, Revina jadi semakin bingung dengan karakter dari Dhavin itu sebenarnya seperti apa?
“Aku suka melihatmu bisa berpenampilan sederhana seperti itu.” Imbuhnya, memperhatikan penampilan Revina dari atas sampai bawah, maka yang Dhavin lihat pada diri Revina adalah Lingerie yang cukup menerawang itu.
Karena Dhavin yang memintanya, Revina pun jadi tidak bisa menolak keinginan dari suaminya itu, maka dari itu sekarang dia sama sekali tidak memakai apa itu yang namanya pakaian pertama untuk penutup tubuh.
“Kamu~” Revina yang merasa risih itu, mundur ke belakang sambil menutup area bawahnya.
“Dan sekalian, pelayan kita jadi tidak perlu menambah banyak pakaian kotor yang harus di cuci, khusus untuk hari ini.” Tambahnya lagi.
__ADS_1
“Tapi itu pemborosan uang, aku tid-”
“Shhht~” Dhavin dengan santainya, menempelkan jari telunjuk sebelah kanannya ke depan bibirnya persis agar Revina diam.
Dan Revina memang diam untuk seketika itu, tetapi tetap saja Revina terus memperlihatkan ekspresi tidak suka nya.
“Lagi pula aku punya segudang uang yang bisa aku pakai sesuka hati, dan hanya untuk pakaian da lam mu, sudah aku bilang aku bisa membelikanmu lebih banyak lagi dari yang biasanya kamu pakai itu.” Jelas Dhavin. Benar-benar jadi orang yang tidak bisa mengontrol keinginannya sendiri untuk tidak memberikan pelajaran kepada Istri kecil nya itu agar bisa berpenampilan sesuai dengan keinginan Dhavin sendiri.
Revina menggembungkan pipinya.
Dhavin jadi tersenyum geli melihat ekspresi cemberut milik Revina yang di perlihatkan secara terang-terangan. Padahal selama beberapa waktu ini wanita yang sedang berdiri di depan sana selalu dalam keluhan hati juga tangisan karena permasalahan ini dan itu yang datang dalam waktu yang cukup berdekatan.
‘Tapi semua itu kelihatannya sudah Revina lupakan. Ternyata bagus juga ideku untuk memberikan pelajaran kepada Revina dengan cara seperti itu. Aku bisa menikmati penampilannya, dan di saat yang sama aku jadi tidak melihat wajahnya yang sedih itu.’ Entah gerangan apa yang baru saja Dhavin lakukan, Dhavin merasa ikut senang karena semua itu terasa seperti mimpi saja.
Semua yang terjadi dua hari kemarin, kemarin serta hari ini, semua itu bisa dilewati dan sudah tidak di permasalahkan lagi, karena Revina tipe orang yang mudah melupakan sesuatu yang tidak ingin di pikirannya.
Itulah satu keuntungan, Dhavin jadi tidak memiliki masalah lagi dengan Revina.
“Laki-laki memang tidak pernah mengerti.” Gerutu Revina, akhirnya memungut sisa kain yang di gunting oleh Dhavin itu ke dalam tempat sampah. “Kalau aku pakai yang baru, aku pasti kena sensitif lagi.” Beritahu Revina.
“Senanglah, berarti artinya kamu tidak perlu memakai apapun di depanku.” Jawab Dhavin dengan serta merta.
Kesal selalu mendapatkan godaan maut seperti itu dari mulut beracun itu, Reveina pun jadinya mengambil pakaian da lam yang sudah dia masukan ke dalam tong sampah itu, lalu dia lempar tepat ke wajah Dhavin.
BRUKK..
“Makan tuh.”
Senyuman cerah di wajah Dhavin pun kian pudar, dan tergantikan dengan senyuman tawar.
Dhavin menoleh ke arah Revina yang sedang berekspresi masam itu, dan bertanya, “Kamu sedang menggodaku ya?” Senyuman tawar itu pun semakin mengembang dengan tatapan mata penuh minat.
“Apa?” Salah satu alis Revina terangkat. ‘Kenapa jadi menggodanya? Padahal yang aku lempar hanyalah potongan kain dari pakaian da lam ku yang dia potong sesuka hati.’
__ADS_1
Di atas kepalanya sudah ada satu bagian tempurung yang tergunting dan terpisah dengan pasangannya, di wajahnya sempat ada tali dari Bra yang juga terpotong karena ulah Dhavin sendiri, di pangkuannya, papan keyboard miliknya, intinya semua sisi tempat Dhavin duduk itu sudah dipenuhi dengan potongan kain dengan warna acak dari pakaian da lam yang Dhavin potong dan sudah Revina buang kedalam tempat sampah.
Tapi karena semua itu sekarang ada di tubuhnya, maka secara tidak langsung Dhavin seperti mendapatkan panggilan dari Revina.
"Baik, aku akan makan, tapi kalau bisa aku ingin memakanmu." Sahut Dhavin, sambil meraih tangan Revina yang kini akhirnya sudah berada di dalam genggamannya.
Revina terkejut, karena dia tidak sadar sejak kapan tangannya sudah di cekal oleh pria ini?
"Ahh..." Tapi dengan akal miliknya itu, Revina merintih sakit, karena kebetulan tangan yang sedang Dhavin cengkram itu, bagian lengan atasnya sedang terluka. Jadi Revina yang memang masih merasakan sakit, berpura-pura itu sangat sakit sampai tidak bisa menahan suara rintihannya sendiri. "J-jangan tarik seperti itu, ini sakit."
Alasan dari tipuan kecil kembali muncul.
Dhavin yang langsung tersadar dengan tindakannya itu menyakiti lengan Revina yang terluka, Dhavin segera melepaskannya saat itu juga.
'Eh..ampuh juga, dia merasa bersalah ya? Makannya langsung melepaskan tanganku.' Pikir Revina, merasa hatinya mendapatkan kemenangan, karena Dhavin berhasil dikelabuhi.
"A-aku tidak sengaja." Dhavin segera membuat permintaan maaf.
Memungut pakaian da lam yang sudah menjadi sampah dari tubuh serta kepala juga papan keyboard nya untuk di masukkan kembali ke dalam tempat sampah, Dhavin berdiri dan mendudukkan Revina di tempat Dhavin tadi duduk.
'Apa yang mau dia lakukan? Kenapa suasananya jadi langsung berbeda seperti ini?' Revina yang tiba-tiba di baiki lagi oleh Dhavin pun jadi kebingungan.
"Revina."
"Ya?"
Dhavin menatap wajah Revina yang sudah terlihat baik dari yang terakhir kalinya. Sungguh, Dhavin merasa memiliki kehormatan besar bisa mendapatkan Istri seperti Revina yang punya penampilan dan sifat yang sederhana.
'Mungkin ini memang takdir. Jika waktu itu Ibu tidak membuatku melakukan perjodohan sampai aku sendiri merasa muak dan memutuskan pergi ke luar negeri, aku tidak akan mungkin bertemu dengannya. Menggelikan, tapi anehnya aku memang menyukai wanita yang seperti ini.' Pikir Dhavin. Dia sama sekali tidak menyesali semua keputusannya.
Maka dari itu, Dhavin pun akan tetap mencoba agar Revina nyaman dengannya.
Walaupun hanya dengan sekedar modal tampang, dirinya bisa membuat Revina menyukai dirinya, tapi yang namanya hati perlu di jaga, maka dari itu, Dhavin akan melakukan apapun untuk wanita di depannya ini.
__ADS_1
"Ada apa? Mau bicara apa? Jangan membuatku penasaran seperti ini." Protes Revina, karena dia jadi dibuat menunggu dengan rasa penasaran yang sedari tadi mendiami hatinya.
"Aku-."