
"Uhmm...hah..." Vinella perlahan membuka matanya, sinar pagi dari mentari pagi yang sudah benar-benar muncul itu berhasil menyadarkan Vinella untuk bangun. 'Hah! Oh iya, aku semalam...
Vinell celingukan, kesamping kanan dan kiri, pria yang semalam membuatnya bersenang-senang sudah tidak ada di sampingnya, tapi sayangnya ada yang mengganjal dari tubuhnya yang terasa dingin?
"Hi..! Aku memang benar-benar melakukannya dengan dia? Hah! Bagaimana bisa, bagaimana ini bisa terjadi ya? Dia yang berinisiatif membantuku, apa yang membuat dia bisa punya pikiran seperti itu? Padahal saja, dia bisa langsung merebut keperawananku, tapi dia sungguh menepati janjinya." Alhasil, dia pun bangun dalam kondisi telanjang.
Tapi ada sesuatu yang dia rasakan selain tempat tidur miliknya yang sudah basah karena Vinella berhasil menghujani tempat tidurnya sendiri dengan air miliknya, serta cairann lain yang rupanya aroma lainn, khas yang pastinya hanya di miliki oleh pria, apa lagi kalau bukan lava kepunyaannya Freddy.
"Hmm..tapi bau apa ini?" gumam Vinella saat merasakan aroma sedap yang masuk ke dalam kamarnya.
Karena penasaran, dia pun beranjak dari tempat tidurnya. Mengambil handuk kimononya dan keluar dari kamar. Dan rupanya aroma harum yang membuat perutnya lapar itu berasal dari dapur yang jarang Vinella pakai, karena Vinella jarang sekali masak, sebab terlalu sibuk untuk sekedar memasak.
Tapi siapa yang sedang berkutat di dalam dapurnya, dia adalah Freddy.
"Mau makan ini atau makan denganku?"
Sebuah ucapan dari pilihan yang cukup menggiurkan itu segera datang kepada Vinella yang sebenarnya malam tadi bisa makan dengan puas gara-gara pria di depan sana.
_________
"Dhavin, aku ingin makan." Pinta Revina kepada Dhavin.
"Kenapa tidak bilang dari tadi, jika begitu aku akan memakanmu juga." Pungkas Dhavin saat itu juga, dimana saat ini baru saja keluar dari kamar mandi dan hanya bermodalkan kain handuk saja yang Dhavin gunakan untuk menutupi harta pribadinya itu.
Maka dari itu, mendengar Revina ingin makan, yang tercetus adalah dia langsung berjalan menghampiri Revina yang masih tiduran di atas tempat tidur, dan menindihnya.
BRUK.
"Ei, apa ini?" Revina mengernyitkan matanya, melihat saat ini Dhavin dengan sangat cepat sudah ada di atas tubuhnya dan menindihnya.
"Katamu ingin makan, kalau begitu ayo, makan bersama." Sambil berkata demikian, tangan kanan Dhavin pun sudah menarik handuk yang melingkar di pinggangnya.
Melihat hal tersebut, sejujurnya Revina sudah menelan ludahnya sendiri, karena ternyata Dhavin dengan cukup intens bisa membuat timunnya itu jadi besar dan cara membesarnya pun di dapan mata Revina sendiri?!
"T-tapi bukan itu yang aku maksud." Sekalipun berkata seperti itu, matanya tidak bisa teralihkan untuk menatapnya.
__ADS_1
"Lalu apa?" Anehnya, Dhavin justru bisa bertanya lagi apa maksudnya?
"Tentu saja yang aku maksud itu adalah makan untuk mengisi perutku."jelasnya.
"Lah, artinya sama saja kan? Mengisi perutmu lagi dengan pasukan kecebongku?" tapi yang masuk kedalam kepala bodoh Dhavin yang memang sedang kelaparan karena ingin memakan Revina lagi adalah kata penuh Vulgar yang mengarah ke hal lain. "Kamu mau buat anak lagi?"
BLUSHH....
Tentu saja Revina jadi tak kuasa menahan malunya. Padahal dua sekali keluar saja sudah merepotkan, Dhavin justru menawarinya lagi.
Revina tentu saja menggeleng tidak.
"Jadi sudah sadar, kalau aku sendiri sebenarnya tidak mau membuatmu hamil lagi." Sungguh kata-kata yang sebenarnya bisa menjadi tembakan hati yang cukup menyakitkan Revina.
"Ha? Kenapa? Apa alasanmu? Aku mau-mau saja, kok."
"Tapi aku tidak mau. Karena aku tidak mau melihatmu seperti kemarin."
Revina membelalakkan matanya, rupanya alasan Dhavin tidak mau memiliki anak lagi setelah ini, karena Dhavin tidak mau melihat diri Revina tersiksa dalam kesakitan yang membuatnya jatuh koma?
"Ngidam?" Tanya Dhavin singkat, seraya meraih tangan Revina agar bertanggungjawab dengan timunnya yang sudah besar itu.
"Iya, aku ngidam masakanmu. Aku belum pernah makan masakanmu, makannya aku tanya." Ucap Revina.
DEG.
Dhavin langsung tersadar, kalau selama ini dirinya belum pernah memasak makanan untuk Revina, padahal saat masa kehamilan nya Revina, justru Revina yang sedang hamil itu terus memasak untuknya.
Jika bukan karena masa kehamilan dimana Dhavin terus mual tidak ingin makan selain masakannya Revina, tentu saja Dhavin tidak akan mungkin menyuruh Istrinya itu untuk terus memasak makanan khusus untuknya.
Dan sekarang, dirinya harus gantian melayani Revina yang ingin makan hasil dari masakannya.
Bagaimana ini?
Dhavin sendiri sebenarnya jadi lupa cara memasak karena dalam satu setengah bulan kemarin galau di tinggal tidur istrinya selama itu. Jadi Dhavin tentu saja menyuruh seseorang untuk memasak.
__ADS_1
"Apa saja kan?"
"Terserah, apa saja yang kira-kira bisa kamu masak." Revina sungguh mulai punya keberanian diri untuk memijat timun yang bisa membuatnya makan dengan kenyang juga, tapi dengan cara lain.
"Nanti aku akan memasak makanan untukmu. Tapi ini juga harus dari tanggungjawabmu. Padahal aku baru selesai mandi." Gerutu Dhavin sambil menunjuk juniornya.
"Salah sendiri, salah paham."
"Itu karena ucapanmu yang membuatku salah paham."
"Berarti sirkuit otakmu memang pada dasarnya hanya tahu itu dan itu saja kan?" Jawab Revina dengan selamba.
"Sudah berani mengataiku?" tanya Dhvin.
"............" Revina akhirnya jadi tidak mau mengatakan apapun lagi, karena merasa kalau Dhavin terdengar kesal.
Siapa yang tidak kesal coba. Ketika timunya besar tapi tidak ada yang memakannya. Siapa yang susah? Dhavin sendirilah yang susah.
Dia baru saja keluar dari kamar mandi untuk melakukukan ritualnya, tapi kali ini dia juga harus menambahkan ritual bersama dengan meditasi yang cukup lama demi menidurkan kekasihnya yang selalu melekat pada tubuh bagian bawah Dhavin.
"Tapi-, aku benar-benar tidak ahli dalam hal ini. Mandi saja sana, tanganku lelah dan aku suda-"
KRUYUKK...
Mata Dhavin melebar, dia lagi-lagi membuat istrinya susah.
Dhavin memejamkan matanya, mencengkram pergelangan tangan kanan Revina agar berhenti memuaskannya dengan cara itu. "Istirahat saja dulu, nnati kalau makanannya sudah siap, aku akan memberitahumu."
Dengan lapang dada, Dhavin pun beranjak dari atasnya Revina.
"T-tapi itumu?"
"Jangan dipikirkan," Dhavin pergi masuk kedalam kamar walk in closet yang memang ada di dalam kamar mereka juga.
BRAK..
__ADS_1
"Apakah aku keterlaluan? Tapi tanganku ini memang tidak ahli, ini saja sudah lelah." Revina pun menatap tangannya sendiri dan membuka tutup ke lima jarinya itu. 'Tapi dia sendiri yang salah kan? Koneksi otaknya selalu saja memikirkan hal mesum terus. Klaau saja aku sudah sembuh, aku pasti akan memuaskannya juga. Tapi karena aku sedang seperti ini, mau bagaimana lagi?'