Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2

Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2
64 : DBMJCP : Kepergian


__ADS_3

Esok harinya.


Karena Revina tidak bisa berkeliaran lebih dulu di rumah karena harus banyak istirahat, maka tentu saja Dhavin lah yang lebih dulu berkeliaran, baik itu dari dalam rumah maupun luar rumah.


"Jadi semalam disini ada kejadian itu? Pantas saja aku harus memerankan posisinya di sana dan menghadapi Visco sialan itu." Rungut Freddy seraya duduk di atas bumper mobil depan bersama dengan Arlsei, lalu di tangan kanannya saat ini ada segelas kopi yang di buat oleh Arlsei secara pribadi untuk Freddy yang lelah karena harus berhadapan dengan pria merepotkan lainnya selain Dhavin.


"Apa kamu sudah lelah dengan peranmu itu?" Tanya Arlsei secara tiba-tiba kepada Fredy yang sesaat tadi memperlihatkan ekspresi seperti orang yang sedang frustasi.


Freddy yang hendak menyeruput kopi yang di letakkan di dalam gelas termos itu, akhirnya mengurungkan niatnya untuk minum, sebab di saat yang bersamaan pula Freddy melihat si pria bucin kepada Istrinya itu sedang mengawasinya dari mobil yang sedang Dhavin naiki.


"Tidak, aku justru menikmatinya, karena aku bisa menarik perhatian banyak orang seperti dia." Jawab Freddy atas pertanyaan Arlsei barusan. 'Termasuk bisa tidur dengan Istrinya, itu adalah satu hal yang tidak pernah aku pikirkan sebelumnya. Apalagi-' 


Freddy menyentuh dada bagian kirinya itu yang sempat mendapatkan gigitan ganas oleh Revina, dimana bekas gigitan merah yang dilakukan oleh Revina masih berada di sana. 


Tapi kembali lagi ke kenyataan.


Dia saat ini sedang di tuntut oleh tatapan mata Dhavin yang cukup tajam itu agar segera pergi dari rumahnya,, tentunya. 


Makannya Freddy pun pamit kepada Arlsei.

__ADS_1


“Aku sudah di suruh pergi, jaga wanita itu baik-baik. Karen akulah orang yang pertama kalinya membawanya kesini.” Ucap Freddy kepada Arlse.


Arlsei segera beranjak dari depan mobil sedan yang akan di kendarai oleh Freddy untuk pergi itu. 


TIN…


Dan salam terakhir itu sebenarnya sukses membuat Revina yang tadinya masih tidur, langsung membuka matanya dengan cukup lebar. 


‘Apa Dhavin kembali pergi tanpa bersalaman denganku?’ pikir Revina, lalu beranjak dari tempat tidurnya dan pergi menuju balkon kamarnya yang saat dirinya sedang berada di lantai tiga. 


‘Sebelum aku kembali, aku harap kamu sudah mengumpulkan semua informasinya.”


“Oh ya…aku dari tadi belum melihat para penjaga, apa mereka benar-benar belum sadar?”


“Karena mereka mendapatkan serangan di bagian titik Vital, mereka masih dalam kondisi perawatan. Ini hanya berlangsung sementara waktu saja, sebab mereka semua hanya dihadapi serangan peluru yang berhasil ditahan oleh seragam mereka.” Jelas Arlsei panjang lebar. 


Dikarenakan semua pengawal yang bertugas untuk berjaga di kediaman pribadi Calvaro itu sudah cukup mengantisipasi serangan mendadak yang seperti itu, maka semua orang yang ada di kediaman Calvaro itu diberikan pakaian khusus anti peluru. 


Dan semua seragam yang dipakai oleh mereka semua akhirnya memperlihatkan kegunaannya kepada si pemakai. 

__ADS_1


"Baguslah jika memang ternyata usaha untuk mengeluarkan biaya lebih dari anggaran yang sudah di sediakan, ternyata membuahkan hasil seperti ini. Tapi Arlsei, cari orang yang menyerang Revina." Ungkap Dhavin.


"Kelihatannya Nyonya juga sudah bangun, apa anda pergi seperti biasanya dengan cara diam-diam sebab Nyonya tadi masih tertidur?" Tanya Arlsei memberitahu Dhavin kalau Istri dari Bos nya ini sudah bangun dari tidurnya dan sekarang sedang menatap penuh dengan wajah penasaran ke arah mereka berdua dari balkon kamar.


Mendengar informasi itu, Dhavin langsung mengeluarkan kepalanya lewat jendela mobil dan sedikit mendongak ke atas.


Dan dengan bodohnya, Dhavin melambaikan tangannya kepada Revina yang diam membisu dalam seribu bahasa.


Tentu saja Dhavin tahu apa yang di pikirkan oleh Istrinya itu. "Aku akan segera pulang." Lambaian tangannya masih berlangsung dengan cukup lama karena dia ingin melihat Revina membalas lambaian tangannya itu.


"Padahal aku tidak bertanya." Gumam Revina, akhirnya mau membalas lambaian tangan Dhavin yang sedang bertingkah aneh itu.


Dan dengan senyuman bodoh Dhavin, Revina justru semakin berekspresi datar dan pergi dari balkon untuk masuk kembali ke dalam kamarnya.


"Arlsei, bukannya aku yang seharusnya berekspresi masam seperti itu karena dia malam tadi sempat tidur dengan Freddy, kenapa dia yang jadinya berwajah masam kepadaku?" Tanya Dhavin, selepas melihat Istrinya kembali masuk kedalam kamar.


"Kan saya sudah bilang, jika anda keluar sebaiknya beritahu Nyonya dulu. Karena setiap kali Nyonya bangun dari tidurnya dan melihat anda sudah tidak ada di sisinya, siapa yang tidak merasa kesal karena di tinggal sendiran seperti itu?"


Dan penjelasan dari Arlsei pun membuat Dhavin jadi berpikir keras.

__ADS_1


__ADS_2