
"Apa aku menyuruhmu untuk mengundang dia kesini?"
Vian menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Lalu kenapa anak buahku malah datang kesini?" Matanya terus memaku wajah takut milik Vian, karena sudah berani mengundang salah satu anak buahnya yang berharga untuk pergi ke pesta semacam ini?
"Karena aku mengundangnya. Ayolah Dhavin, jangan membuat wanita itu bekerja terlalu keras seperti itu, biarkan dia bersantai sedikit." Tapi Vian dengan beraninya membujuk Dhavin agar bersikap sedikit lebih santai, setidaknya seperti itu.
Vian yang memang merasa terpojok itu, mencoba meluluhkan hati Dhavin yang sedang jadi batu.
Mungkin karena memang Vian dengan sengaja mengundang Vinella ke pesta nya. Vinella yang berharga karena di perankan untuk menjadi bayangan Istrinya, makannya Dhavin jadi sedikit keras dengan kinerjanya.
"Tidak." Dhavin sepenuhnya menolak ucapannya seraya melepaskan cengkraman tangannya dari kerah baju belakang Vian ini.
"Tapi dia itu butuh refreshing loh. Lihat saja, kamu saja pasti selalu bersenang sen-"
Melihat tatapan sengit Dhavin semakin menjadi-jadi, Vian pun bungkam juga. "Siapa yang kamu bilang bersenang-senang? Ternyata kamu memang tidak tahu apa yang terjadi padaku selama satu setengah bulan ini." Tutur Dhavin sedikit mendorong tubuh Vian agar tidak menghalangi jalannya, karena ia ingin duduk di sofa.
"Ha? Memangnya apa yang terjadi? Sumpah, aku sendiri sangat sibuk, karena aku lebih fokus ke keluargaku, jadi aku sama sekali menghiraukan semua informasi dari luar." Sela Vian.
Karena Vian lebih fokus untuk memperebutkan hak sebagai kepala keluarga yang baru untu menggantikan kakeknya, karena sang Ayah sama sekali tidak berminat pada posisi itu, maka dari itu Vian menutup semua informasi dari luar.
Lalu apa yang barusan ia dengar tadi?
'Dhavin mengalami insiden selama satu setengah bulan? Memangnya apa yang sebenarnya terjadi?' Tapi Vian sama sekali tidak mendapatkan jawaban, karena Dhavin memilih untuk bungkam, yang artinya ia tidak akan bicara untuk saat ini?
Lihat saja sekarang, Dhavin lebih memilih untuk duduk diam, bersandar ke belakang, salah satu kaki dari pahanya kanannya di tumpukan di atas kaki kiri, memejamkan matanya sambil bersilang tangan di depan dada.
Suatu pose yang sungguh membuat orang sebenarnya semakin penasaran, sebenarnya apa yang terjadi pada diri Dhavin sehingga Vian sendiri benar-benar ingin berteriak dan memaksa mulut yang sedang diam itu untuk membuka mulutnya.
Tapi apa yang terjadi jika rupanya alasan Dhavin bersikap seperti itu adalah karena ada orang di luar?
TOK...TOK...TOK....
Vian yang masih berdiri di depan Bos Dhavin yang sedang bersikap sombong itu, berjalan pergi untuk mencari tahu siapa orang yang baru saja mengganggu perbincangannya dengan tamu terhormatnya.
"Apa?" Ketus Vian, setelah dia berhasil membuka pintunya.
"Saya mengantarkan minuman dan makan malam untuk anda dan tamu anda." Jawab pelayan ini sambil membawa troli makanan. "Bukankah anda yang bilang untuk menyajikan ini jika tamu anda datang?"
Vian mengerjapkan matanya, dia lupa kalau ia akan makan malam bersama dengan Dhavin juga. "Huh~ Mungkin karena aku lapar kali ya, masuk dan cepat keluar."
"Baik Tuan, permisi." pelayan ini pun kembali mendorong troli makanan ke dalam ruang tamu, dan segera menyajikan semua makanan yang ia bawa serta minumannya.
____________________
Sedangkan di satu sisi lain.
TAK...
__ADS_1
Satu tusukan keras sampai menghantam permukaan piring dari garpu yang Revina pegang dengan posisi yang tidak elegan sama sekali itu berhasil membuat beberapa pelayan yang ada di dapur dan sedang menunggu Nyonya Revina selesai makan langsung mengangkat kedua bahunya.
TAK..
Tidak hanya satu atau dua kali, tapi itu sudah kesekian kalinya.
"Nyonya kenapa ya? Melihatnya seperti itu, aku jadi takut." kata pelayan pertama.
TAK.
Rekan dari pelayan itu pun menjawab. "Apalagi? Nyonya pasti sedang menunggu Tuan."
"Tapi ini kenapa posisinya jadi terbalik? Satu setengah bulan lalu, Tuan yang selalu makan sendirian dengan wajah sedih, dan sekarang Nyonya."
"Kita memang benar-benar memiliki majikan yang cukup, entahlah ..., serasa banyak drama aneh. Tapi aku suka sih." Pelayan yang sedang berdiri bersandar di depan pintu kulkas ini pun menengadah ke atas, seolah sedang berkhayal?
Kenyataannya memang sedang berkhayal.
"Aku juga, tapi aku sama sekali tidak suka jika melihat Nyonya dan Tuan malah jadi makan sendiri-sendiri seperti itu."
Ke empat pelayan yang ada di dapur itu pun jadi saling merenung.
Di posisi Revina sekarang, dia sungguh merasa galau, karena ia sama sekali belum pernah makan bersama dengan Dhavin, gara-gara beberapa hari ini ia juga mengalami beberapa insiden secara bergantian dengan waktu yang tidak jauh.
'Akhh....padahal baru di tinggal beberapa jam, tapi rasanya kenapa jadi seperti sudah satu hari?' Revina sama sekali tidak bisa makan dengan benar. Karena hanya dengan melihatnya dan mencium aroma dari makanannya saja, ia merasa kalau perutnya sudah cukup kenyang.
TAK.
Tidak ada selera.
Dari ekspresi wajahnya saja sudah mewakili kalimat itu dengan cukup jelas.
TAK.
KRAK.
Satu lagi tusukan, berhasil menghancurkan piringnya.
Revina yang tanpa sadar memberikan tenaga lebih pada garpu yang di pegangnya, tentu saja jadi terkejut, karena piringnya sudah pecah!
"Nyonya, anda tidak apa-apa?" Tanya Arlsei langsung menghampiri Revina, dan menjadi wakil dari semua pelayan yang ada di dapur, karena mereka semua tidak akan bisa menangani apa yang sedang menjadi masalahnya majikan mereka yang ini.
"A-ah..! M-maaf, aku jadi memecahkan piringnya." Revina jadi panik, dan karena kepanikannya itu pula, Revina yang buru-buru berdiri itu tanpa sengaja tangan kirinya juga jadi menyenggol gelas berisi jus, hingga akhirnya gelas tersebut pun pecah juga.
PRANK.....
"A-arlsei, maafkan aku! Aku tidak sengaja menyenggolnya." Revina yang makin panik itu langsung mudur ke belakang hingga kursi yang ia duduki itu terjungkal.
BRAK....
__ADS_1
Melihat kekacauan yang terjadi di meja makan, Alresei menghela nafas pelan untuk menata pikiran dan hatinya agar terus tenang.
Revina yang merasa bersalah karena juga membuat kursinya jatuh ke belakang, buru-buru pergi untuk memperbaiki posisinya, tapi tangannya langsung di cegat oleh tangannya Arlsei.
"Nyonya, biarkan para pelayan saja yang melakukannya." Beritahu Arlsei.
Revina yang terkadang selalu lupa bahwa ia sudah di layani oleh beberapa pelayan yang siap bekerja untuk di perintah olehnya, langsung mematung.
"Karena anda lelah, sebaiknya anda Istirahat di dalam kamar, biar saya mengantarkan makanannya ke kamar."
Tangan yang akhirnya hanya menggenggam angin kosong saja itu, Revina tarik kembali, dan berkata : "Iya."
Dengan perasaan yang bercampur aduk, antara kecewa, sedih, juga merasa bersalah, Revina bawa semua perasan itu ke dalam kamar.
Setelah Revina pergi ke kamarnya lagi, Arlsei dengan ekspresi seperti biasa, tenang dan punya tatapan mata yang dingin, segera mengucapkan kalimat perintah. "Kalian semua kesini dan bereskan semua belingnya."
"B-bak Tuan." Jawab mereka berempat secara serentak, sambil berlari berpencar untuk mengambil peralatan bersih-bersih.
Sedangkan Arlsei sendiri, dia mengambil makanan yang masih utuh ke piring yang baru dan di desai dengan sedemikan rupa sehingga terlihat lebih berkelas tapi juga enak dipandang, karena Arlsei membuatnya seperti bento, yang di satukan di dalam piring dengan berbagai karakter layaknya bekal untuk anak-anak.
__________________
"Akhh ... Kenapa aku galau seperti ini? Jangan-jangan-" Revina segera menggelengkan kepalanya, dia tidak ingin berprasangka berlebihan mengenai Dhavin yang keluar sore hari dan sekarang sudah jam tujuh, Dhavin sama sekali belum pulang.
Hatinya dan pikirannya merasa cemas. Sampai kecemasan itu menghilangkan kecemasan mengenai dirinya yang kemarin malam sempat menggunakan pistol untuk membalas serangan dari orang yang ada di luar Villa, sampai ia tahu kalau ia berhasil membunuhnya?'
Pikirannya jadi kacau balau, rasanya kepalanya juga jadi puing, dan lengan dari tangan kirinya juga terasa sakit.
'Aku tidak mau memikirkannya, tapi aku benar-benar terus kepikiran. Kalau hatiku sedang tidak tenang, aku kepikiran Dhavin yang entah pergi kemana. Walaupun dia memang mengatakan bertemu dengan temannya, kalau begitu apa alasan dari perasaanku yang gelisah ini?
Dhavin, Dhavin, Dhavin. Dia selalu bisa membuatku tidak bisa berpaling darinya. Apa dia menggunakan guna-guna kepadaku agar aku tidak bisa lepas dari pesonanya?' Karena kekhawatiran yang ia miliki, Revina pun mengambil handphone nya yang dia letakkan di atas nakas, karena sedang di charge.
Dan Revina langsung menekan nomor satu sebagai panggilan cepat untuk menghubungi Dhavin.
Satu untuk Dhavin, dua untuk Arlse, tiga untuk Freddy, ke empat baru untuk Ibu nya.
Tidak adil ya?
Tapi memang itulah keinginannya, menjejerkan deretan laki-laki yang ia sukai, baru ibunya.
Tidak peduli lagi soal urutan panggilan cepat, teleponnya saat ini sudah terhubung.
"Ha-"
BRUK.
-"Ah~ T-tuan-"-
Suara milik seorang wanita itu seperti sebuah petir dari sebuah peringatan untuk membuat pikirannya menghentikan segala kalimat yang ingin ia katakan kepada Dhavin.
__ADS_1
'S-siapa? Suara wanita ini siapa?' Hanya dengan mendengarnya saja, sekilas hatinya seperti di sayat pisau. 'Aku tidak ada urusannya dengan ini. Dia bisa melakukan apapun. Jadi aku tidak punya hak untuk penasaran. Tidak ada, tidak ada.' Lirih Revina di dalam benak hatinya.
Hanya saja, meskipun hatinya terus mencoba berkata demikian, tapi tidak dengan matanya yang akhirnya kembali menangis.