Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2

Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2
44 : DBMJCP : Bukan dia


__ADS_3

"Akh..Dhavin, stop..berhenti melakukan itu, itu sakit. Nanti kalau habis bagaimana?" Revina mendorong Dhavin agar menjauh.


"Bukannya kamu bilang, bisa berikan susu formula pada mereka berdua?"


"Tapi aku sudah ingin keluar dari sini." Ucap Revina, dia benar-benar sudah berdiri dari kursinya, lalu segera beranjak dari sana untuk keluar dari kamar mandi, dari pada terus menerus di permainkan oleh Dhavin yang ternyata punya tingkat poesif yang sungguh tinggi.


BRAK...


"Padahal lumayan." Gumam Dhavin seraya menjilat bibirnya dengan jilatan yang terkesan seksi itu.


Hanya saja, ketika dia melihat adanya darah yang tertinggal di kursi itu, Dhavin pun langsung memejamkan matanya, dan membuka matanya kembali dengan perlahan.


Tidak seperti sorotan mata penuh naf*su seperti tadi, saat ini sorotan mata milik Dhavin langsung berubah menjadi lebih dingin.


'Devon, apalagi yang barusan kamu lakukan. Kan Revina jadi kabur dariku seperti itu.' gerutu Dhavin dengan kesal. Dia langsung menyiram tempat duduk yang tadi di duduki oleh Revina dan Dhavin sendiri saat ini jadi gantian duduk di kursi.

__ADS_1


Dia mendorong kursi yang sedan Dhavin duduki itu ke belakang, sehingga air shower yang dari tadi keluar itu akhirnya kembali mengguyur Dhavin.


Dhavin saat ini membungkukkan tubuhnya ke depan, dengan menumpukkan kedua sikunya di atas lutut, lalu kepalanya pun menunduk ke bawah.


Dia sekarang beanr-benar menyesali perbuatan yang sebenarnya tidak Dhavin perbuat. Karena perbuatannya yang ***** kepada Revina langsung adalah karena ulah dari sisi lain milik Dhavin, yaitu Devon atau nama panggilannya adalah Dev.


'Kenapa aku bisa lengah seperti ini? Revina pasti sudah menganggapku lebih dari sekedar mes*um biasa. Aku memang tidak mempermaslaahkan dia akan menjuluki aku apa, tapi perbuatannya tadi dari bedebah yang ada di dalam diriku ini ini, benar-benar membuatku seperti seorang yang tidak punya akal sehat. Sialan kau Dev, kau mempermalukanku lebih dari apa yang biasanya aku lakukan.' Batin Dhavin.


Dia kali ini benar-benar menyesal dengan perbuatan yang dilakukan oleh tubuhnya itu, karena membuat Revina jadi semakin kesal dan jadi terlihat tidak nyaman dengannya.


'Padahal aku sudah minta maaf, dia juga kelihatannya sudah memaafkanku. Tapi karena aku tadi melakukan hal itu, pasti dia kembali marah keapdaku.' Dhavin pun jadi semakin frustasi dengan tingkahnya yang cukup membuat Dhavin sendiri jengkel, bisa-bisanya minum susu dari aset milik Istrinya sendiri. 'Pasti hanya aku saja yang melakuan hal aneh seperti itu.'


'Dhavin ini, kenapa dia selalu melakukan hal semesm*um itu sih?' Revina yang berada di tengah kejengkelannya sendiri sayangnya juga memilki setengah rasa bahagia?


Revina hanya merasa dia tidak mempermasalahkan itu, tapi baginya apa yang dilakukan oleh beruang itu memang sunngguh mempermalukan dirinya sendiri di dapennya.

__ADS_1


'Tapi kenapa aku tidak cepat-cepat menolaknya saja? Justru aku seperti menikmatinya? Padahal apa yang dia lakukan kepadaku kan cukup keterlaluan.' Pikir Revina, dia pun jadi berusaha melindungi sepasang aset miliknya itu, karena dia benar-benar masih mampu merasakan bagaimana cara orang yang Revina kira adalah Dhavin itu melakukan hal itu kepadanya secara terang-terangan.


Karena tubuhnya terasa sudah mengigil, karena terlalu lama di dalam kamar mandi, sekalipun bermandikan air hangat, Revina pun pergi menuju kemari pakainnya untuk mencari pakaian yang akan dia kenakan untuk malam panjangnya lagi.


'Padahal aku sudah mencoba menyingkirkannya dari kepalaku, tapi aku tetap masih merasakannya. Revina, ternyata kamu sungguh tidak jauh berbeda dengan suamimu sendiri yang mes*um itu.' Pikir Revina sambil tersenyum dalam diam, karena momennya di dalam kamar mandi, lagi-lagi tidak bisa Revina tepis dengan mudah.


_________


"Bagaimana? Apakah wanita itu sudah keluar dari kamar mandi" tanya pria ini. Semua pakaiannya serba hita, dan di tambah topi hitam yang di kenakannya serta juga masker, maka wajahnya pun jadi tidak bisa terlihat dengan jelas, gara-gara pakaian serba tertutup dan menyamai keadaan dari malam yang cukup dingin itu.


"Aku sudah melihatnya, dia baru saja keluar, dan wow..dia keluar dengan penampilan yang cukup meggiurkan." Jawab pria ini, saat ini di tangannya ada teropong, yang dia gunakan untuk memantau objek yang cukup jauh dari dirinya.


"Apa maksudmu? Jangan tergoda dengan wanita yang kurus seperti lidi itu. Cepat bidik dia," Perintah pria ini kepada temannya itu.


"Bidik bagaimana? Beruang hitam itu masih ada di dalam kamar mandi. Lalu aku dapat informasi, kalau kita harus menunggu terlebih dulu beruang itu pergi dari rumah karena akan menghadiri pesta Tuan Visco." Beritahu pria ini kepada temannya itu.

__ADS_1


"Ouh..kalau begitu kita tunggu dulu." Mengangguk-angguk paham.


__ADS_2