
"Tuan, ini kunci mobilnya." Arlsei memberikan kunci mobil kepada sang Bos majikan.
Dhavin menneria kunci pemberian dari Arlsei. Sebelum benar-benar masuk kedalam mobil, Dhavin menyempatkan dirinya untuk menoleh ke belakang dan melihat ke arah lantai dua, dimana kamar miliknya yang saat ini sedang di tempati istrinya sendirian, ada di sana.
"Dan Nyonya besar sudah menunnggu di kediamannya. Anda diminta untuk menjemput Nyonya di sana agar bisa berangkat bersama." Beritahu Arlsei.
"Hm...Jaga aik-baik rumah ini, lebih tepatnya apa yang ada di dalam." Perintah Dhavin kepada pelayan pribadinya itu.
"Baik Tuan, sesaui dengan perintah, kami akan menjaga tempat ini, melindungi Nyonya serta Tuan dan Nona muda." Jawab Arlsei dengan penuh hormat.
Dengan ekspresi wajah yang terasa enggan untuk meniggalkan lagi Istrinya sendirian di sana, pada akhirnya Dhavin tetap saja masuk kedalam mobil, dan segera menyalakan mesin mobilnya, lalu dia pun pergi meninggalkan kediaman Calvaro miliknya itu.
Setelahnya, Arlsei pun kembali masuk ke dalam rumah, untuk menyiapkan makan malam untuk sang Nyonya majikannya.
Tapi baru juga sepuluh menit barlalu, di tengah-tengah kesibukannya untuk membuatkan makanan sedap untuk sang majikan si putri tidur itu, tiba-tiba saja ada yang meneleponnya.
DRRTT...
__ADS_1
DRRTT...
Mendengar handphone miliknya berdering, Arlsei segera mengangkatnya.
"Ada apa?" Tanya Arlsei dengan kalimat yang cukup singkat namun padat.
-"Tuan, ada keadaan darurat. Markas kita, di lantai lima belas, terjadi kebakaran, dan saat ini sudah mulai merambat ke lantai lain."-
"Bagaimana bisa? Lalu bagaimana situasinya sekarang? Apa unit pemadam kebakarannya sudah datang?" Tanya Arlsei lagi. Dia segera mencuci tangannya, dan menanggalkan celemek miliknya. Setelah itu Arlsei pergi ke kamarnya untuk mengambil laptop miliknya.
Arlsei kemudian menyambungkan telepon tadi dengan headseat bluetooth, dan barulah ketika kedua tangannya sudah bebas dari segala pekerjaan dapurnya, Arlsei pun segera menggunakan ke sepuluh jarinya itu untuk berkutat di atas laptop miliknya.
"Freddy dimana?" Gerakan dari ke sepuluh jarinya cukup cepat, sekaligus cukup cepat untuk menemukan kalau kantor milik mereka ternyata benar-benar mengalami sebuah kebakaran.
-"Tuan Freddy sedang tidak bisa di hubungi."-
"Di saat seperti ini?" Arlsei pun mengernyitkan matanya. "Kau, buka basmenet dari garasi nomor sepuluh sampai lima belas, yang ada di lantai bawah tanah. Bawa itu semua keluar dan lakukan pemadaman." Perintah Arlsei.
__ADS_1
-"Memangnya di sana ada apa Tuan?"-
"Kamu akan tahu sendiri jika sudah membukanya. Kodenya adalah xxxxxx. Jadi jangan hanya menunggu saja, karena mengandalkan orang seperti mereka itu tidak akan ada gunanya." Jelas Arslei.
-"Baik."-
TUT.
Setelah panggilan berakhir, Arlsei pun mencoba untuk melakukan panggilan dengan Dhavin.
Akan tetapi...
"Kenapa Tuan tidak bisa aku hubungi?" lirih Arslei. Dan ketika sudah mencobanya sampai lima kali pun, semua itu tidak membuahkan hasil yang memuaskan. Hasilnya sama saja, Dhavin yang belum lama pergi itu, handphone nya sama sekali tidak bisa di hubungi.
_______________
Di tempat Dhavin berada, atau lebih tepatnya Dhavin yang kini masih sedang berkendara dengan mobil mewahnya.
__ADS_1
Tepat di bawah mobil yang Dhavin kendarai itu, ada satu alat yang menempel dengan posisi yang cukup tersemmbunyi. Alat kecil itu memiliki cahaya lampu berwarna merah, yang merupain alat pemancar sekaligus alat untuk membatasi jaringan telepon untuk Dhavin seorang.