
Tepat setelah adanya tembakan yang berhasil menciptakan noda pertama pada tubuh Revina, hiasan rambut kupu bentuk tusuk konde yang digunakan untuk menata rambut Revina dengan model di gelung pun akhirnya terlepas dan membuat rambutnya langsung terurai menutupi sisi wajahnya yang sempat terkena cipratan darah.
Setelah itu, teriakan pun datang juga dan berasal dari pemilik orang yang sedang Revina duduki.
“Akhh..” Teriakan atas rintihan dari rasa sakit yang dialaminya pun sukses menarik perhatian mereka semua.
Teriakan yang begitu memilukan itu pun benar-benar membuat wajah Revina langsung terbengong, karena selain teriakan keras yang cukup mengganggu, ada satu hal lain yang paling membuat mentalnya lumayan terguncang, dan itu adalah tangan.
‘T-tangan, tangannya terputus?!’ Pikir Revina dengan wajah bengong. Matanya menyisir tanah di sebelah kanannya yang sudah tergeletak, dan itu memang sunggu sebuah tangan yang memang milik dari pria yang sedang ia duduki itu.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Revina pun melihat kengerian arti dari sebuah senjata yang memang menjadi pilihan antara untuk membunuh atau sekedar peringatan yang bahkan itu adalah peringatan yang cukup keras.
__ADS_1
‘A-apa? Siapa? Siapa orang yang menargetkanku lagi?!’ Sadar dengan posisinya yang merasa itu bukanlah posisi yang menguntungkan, karena peluru tadi sempat mengenai tusuk rambutnya hingga patah dan mengakibatkan rambutnya jadi terurai, sedangkan di satu sisi peluru itu mengenai tangan dari pilot ini, Revina langsung beranjak menjauhi pria ini.
“Akhh…!”
“Julio!” Pekik pria ini, orang yang sesaat tadi bertarung dengan anak buah Freddy. Ia dengan buru-buru mendorong tubuh lawannya itu dengan keras untuk menjauh, dan berlari menghampiri Julio, yang mana Julio ini adalah teman sekaligus orang yang sudah ia anggap sebagai saudara sendiri.
“Nyonya, apa anda baik-baik saja?” Tanya anak buah Freddy kepada majikannya yang terlihat syok berat dengan pemandangan yang memang mengerikan, karena dalam waktu yang cukup singkat itu tangan seseorang bisa langsung terputus setelah mendapatkan satu kali tembakan.
‘Baik-baik apa? Itu tangan, tangannya terputus! Di depan mataku.’ Kata Revina dalam hati. Karena itulah, Revina saat ini masih terdiam, karena ia memang masih mencoba mencerna situasi yang awalnya menegangkan menjadi mengerikan.
‘Visco sesaat terkejut, ini menunjukkan ada orang lain yang membantu atau memang hendak menyerang Revina?’ Pikir Freddy.
__ADS_1
_______________
Di salah satu pohon yang menjulang tinggi, seorang pria sedang duduk bersandar ke batang pohon. Ketika kaki sebelah kanan dalam posisi di luruskan, kaki sebelah kiri sedikit di tekuk ke atas, dan tanpa tangan kosong, saat ini di atas lututnya terdapat senapan laras panjang, ia menggunakan lutut sebagai penopang senjata yang ia gunakan untuk menembak dengan jarak yang cukup jauh itu.
“Kelihatannya aku terlalu terang-terangan memberikan pengalaman buruk untuk Nyonya.” Gumam pria ini.
Ya, dia adalah Arlsei.
Karena merasa curiga gara-gara teleponnya di tutup oleh Nyonya besar, yaitu Liana di tengah-tengah berbincang dengan Tuan nya, Arlsei sempat mencari tahu keberadaan dari sang Nyonya yang sudah naik ke helikopter. Tapi karena sayangnya di tengah perjalanan itu sendiri helikopter yang di naiki oleh Freddy dan Nyonya berhenti di suatu tempat, Arlsei pun dengan terpaksa melakukan sesuatu dengan caranya sendiri, dan itu adalah dengan mengawasinya dari jarak jauh.
Salah satu dari perbuatannya, ia berhasil menyelamatkan Nyonya sebelum mendapatkan serangan dengan menggunakan obat bius itu untuk membuat Nyonya tertidur.
__ADS_1
Tapi sebagai imbas dari penyelamatannya, Arlsei pun pada akhirnya memberikan pengalaman mengerikan kepada Nyonya.
Dan seperti yang dapat ia lihat dengan jarak lebih dari satu setengah kilometer itu, Arlsei melihat majikannya sedang berdiri mematung, sampai Freddy sendiri ada kemungkinan berpikir kalau serangan tadi yang membuat salah satu tangan milik anak buah Visco terputus, serta membuat rambut milik sang Nyonya jadi terurai adalah perbuatan dari musuh yang lain.