Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2

Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2
153 : DBMJCP : Lakukan


__ADS_3

Ciuman yang berakhir dengan tubuh yang kian memanas, membawa mereka perlahan masuk ke dunia surga yang diciptakan oleh mereka berdua. 


‘Ah~ Dia memang baru saja mandi, pantas saja wangi. Tapi- karena dia minum wine juga, rasanya aku jadi tambah mabuk.’ pikir Safina, ia merasakan aroma rokok yang masih tersisa dari mulutnya Visco, meskipun Visco sendiri sudah membersihkan mulutnya. 


“..........” Visco hanya diam, sambil memimpin acara yang dimulai oleh mereka berdua di atas tempat tidurnya. ‘Daripada di sia-siakan, dan lagi pula dia sendiri yang masuk kedalam kandangku, dia memang pantas jadi santapanku. Walaupun aku pikir dia tetap menganggapnya sebagai wanita rendahan.’


Dari posisi kanan lalu ke kiri, ciuman itu tidak berakhir dengan bibir dengan bibir saja, melainkan sentuhan lain dari tangan Visco yang mendarat di bahunya Safina, dimana tangan itu menarik lengan baju pada pakaian Safina dan melengserkannya dari tempat hingga membuat Safina memperlihatkan apa yang dimilikinya kepadanya. 


Bagai burung lemah yang sudah putus asa akan diterkam oleh mangsa yang lebih besar, Visco langsung mengambil langkah berikutnya, mendorong kasar Safina ke belakang, sehingga Safina akhirnya terbaring dan berhadapan dengan Visco yang sudah menahan tubuhnya sendiri di atas tubuh Safina. 


“Safina, kamu memang wanita ja*lang ya?”


“Hm, kelihatannya aku memang akan jadi seperti itu di depanmu.”


Sontak Visco menyeringai, tanpa mengambil pusing lagi, Visco menarik ikat pinggang dari handuk kimono yang di pakainya, setelah itu barulah menurunkan handuknya dari tubuh atletisnya itu. 


Untuk beberapa orang, memandang tubuhnya saja sudah termasuk beruntung, namun apa jadinya jika bisa merasakan kemampuannya?


Safina memperlihatkan ekspresi menginginkanya. 

__ADS_1


Sungguh, akhirnya Safina menyerahkan semua yang dimilikinya kepadanya. 


Pesona yang tersebar dari tubuh Visco memang tidak bisa di tahan dari wanita polos yang ingin mencoba sesuatu yang tidak pernah di lakukan sebelum-sebelum ini.


Dan jelas, hal itu akan terjadi pada mereka berdua. 


“Jujur sekali ya?”


“Mungkin karena pengaruh alkohol?”


“Bisa jadi.” Sahut Visco singkat, lalu terus menatap wanita yang kini ada di bawahnya. 


“Heh, tidak sabaran sekali, jal*angku.” Hina Visco, lalu ia akhirnya menarik kerah baju Safina sampai ke bawah. Karena modelnya memang di peruntukan untuk memperlihatkan bahunya dengan jelas, ia pun hanya tinggal menurunkannya, dan akhirnya menariknya sampai membuatnya memperlihatkan sepasang buah yang cukup gemuk. 


Siapapun akan menikmatinya, bahkan termasuk Visco yang akhirnya mendaratkan telapak tangan kirinya ke salah satu buah tersebut, dibarengi dengan jilatan kecil ke permukaan leher Safina yang jenjang itu. 


“Hmm …”


Lenguhan yang tertahan membuat Visco mendaratkannya di beberapa titik lainnya, sampai Safina bisa mengeluarkan suara erotisnya.

__ADS_1


“Ukh…”


‘Ya, wanita ini memang benar-benar merasa kesepian. Sayang sekali, hanya karena Dhavin, dia memberikan tubuhnya untukku. Dan aku tebak, aku pasti dianggap sebagai Dhavin.’ Hanya saja, Visco adalah orang yang tidak begitu mempermasalahkan pikiran semacam itu. 


Karena ia sendiri mendapatkan keuntungannya, dan Safina sendiri juga mendapatkan ekspektasi yang sedang dibuat dengannya, maka hubungan diantara mereka berdua pun tidak ada yang dirugikan. 


CUP..


“Mph…” Safina kembali mengeluarkan suara kesenangan nya, dan Visco meraih kemenangannya karena berhasil membuat satu burung lumpuh di tangannya, dan ia makan dalam bentuk lain. ‘Ternyata menggelikan.’ Detik hati Safina. 


Sensasi geli terus menerus mendarat di tubuhnya, menciptakan gejolak dari lava yang perlahan keluar dari tempat penampungan. 


Apakah ada yang lebih menyenangkan dari kepuasan dari tubuh?


Safina yang merasakan hal itu, tidak dapat memikirkan apakah ada yang lain atau tidak, karena saat ini saja ia merasa bisa menikmati permainan panas yang akan dikerjakan oleh mereka berdua. 


“Terus, kenapa berhenti? Aku ingin lebih.” Tangan kanannya Safina meraih tangan kirinya Visco dan menuntunnya untuk tidak berhenti bermain di buahnya. 


“Tidak sabaran sekali.” Gumam Visco, dan tatapan matanya yang jenaka itu berhasil menembus diri Safina yang sudah kehilangan kendali akan pikiran rasionalnya, karena sudah mulai terbawa oleh gai*ah panas.

__ADS_1


__ADS_2