Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2

Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2
35 : DBMJCP : Tujuan asli


__ADS_3

"Kenapa Bos menyuruh kita keluar ya?"


"Mana aku tahu. Turuti saja apa kata Bos, yang penting kita itu bukan di pecat."


"Tapi ini...semua CCTV yang ada di dalam ruangan, harus dimatikan."


"Berisik, perintah Bos itu tidak perlu di pertanyakan lagi, duduk saja santai di bawah pohon ini."


"Iya tuh. Tau sendiri kan, semalam kita benar-benar dibuat lelah karena harus membersihkan lantai penuh darah, untunng saja Nyonya tidak terlalu banyak pergi ke sana kesini."


"Benar sih, tapi aku jadi penasaran apa yang sedang dilakukan oleh Bos saat ini ya?"


Berbagai pertanyaan dari rasa penasaran mereka datang juga. Dimana saat ini mereka semua terpaksa keluar dari rumah milik majikannya, dan sekarang mereka sedang duduk di bawah pohon rindang layaknya sedang piknik.


*


*


*


Tak..Tak...Tak....


Suara pisau yang sedang memotong di atas talenan berhasil menjadi suara paling identik dengan keberadaannya yang saat ini Dhavin sedang berkutat di dapur.


Karena itu, saat ini pria itu pun harus memakai celemek untuk melindungi pakaiannya dari segala insiden yang mungkin akan terjadi untuk mengotori pakaiannya.


Hanya saja, di samping celemek itu melindungi pakaian dari segala kotoran, sebenarnya Dhavin pun sedang menutupi timunnya yang masih saja berdiri itu.


Itulah penyebab Dhavin memerintahkan semua pelayan dan anak buahnya untuk keluar rumah, serta mematikan cctv untuk beberapa waktu, setidaknya sampai Dhavin menyelesaikan urusannya di dalam dapur.


Demi Revina yang ingin makan hasil usahanya, maka Dhavin harus menermia konsekuensi atas juniornya yang dibuat bangkit karena kesalahpahaman Dhavin sendiri soal Revina yang ingin makan.


'Kenapa aku mudah sekali membangunkan punyaku, hanya dengan sepatah kata dari mulut Revina yang ingin makan itu?' Pikir Dhavin di tengah-tengan pergulatannya dengan dapur yang sudah lama tidak Dhavin gunakan untuk memasak hasil karya Dhavin sendiri.


*


*


*


Satu jam kemudian.

__ADS_1


Karya hasil masakan yang Dhavin buat pun jadi juga, dan yang dimasak oleh Dhavin adalah nasi goreng dari kampung halaman Revina.


'Sudah selesai juga. Dia bilang suka jika ada banyak sayurnya, aku masih ingat sayur yang dia suka jika di masukan kedalam nasi goreng ini, ada sosis, telur, daging ayam cincang, tomat, nugget? Tapi ngomong-ngomong, ini sudah bukan termasuk lagi nasi goreng sederhana murah meriah yang Revina waktu itu belikan. Karena aku memakai semua sayuran dan bahan berkualitas lainnya, maka ini sama saja dengan masakan dari restoran bintang lima.' Pikirnya, dan Dhavin tersenyum bangga.


Dia bangga sendiri setelah berhasil berkarya dengan usahanya sendiri, dan berharap Revina bisa menyukainya juga.


Karena itu, setelah di anggap sudah jadi, Dhavin pun menatanya di atas troli makanan. Menyajikannya dengan beberapa makanan lain dan minuman biasa serta jus jambu, maka selesai sudah, Dhavin hanya tinggal mengantarnya saja dengan bantuan menggunakan list yang ada di dalam rumahnya.


'Semoga dia suka.' Senyuman tipis itu tetap saja menggantung di bibir seksinya.


Hanya dengan hadiah kecil itu, ternyata di dalam diri Dhavin, dia memiliki satu harapan yang cukup besar terhadap Istrinya, untuk menyukai makanannya itu.


KLEK.


Dhavin masuk kedalam kamar sambil menyapa istrinya yang ternyata tidur lagi. "Revina, aku sudah bawa sarapanmu."


Dhavin kemudian berdiri di belakang Revina yang kebetulan sedang tidur dalam posisi miring ke kanan. Dhavin kembali membangunkannya, namun kali ini dengan bisikan yang di bisikkan tepat di telinga kiri Revina.


"Bangun, sarapannya sudah siap." Bisikan yang cukup lirih, sampai-sampai Dhavin menjahili Revina dengan meniup telinga Revina, sampai Revina merasa tergelitik sendiri dengan telinganya yang gatal gara-gara ulah dari Dhavin itu.


"Hmm...?" Tapi Reaksi Revina hanya mendehem dengan tangan kiri mengusap telinganya yang gatal.


"Bangun, aku sudah lelah memasak loh, masa tidak bang-" Namun ucapannya seketika langsung berhenti saat pelupuk matanya menangkap adanya tiga kantong plastik yang tergeletak di tempat tidur mereka.


Dhavin mengambil tiga kantong lainnya yang memiliki isi yang sama.


"Aahhh..." Revina yang benar-benar terlelap tidur lagi itu langsung berganti posisi miring ke arah kiri, hingga satu barang yang sedang di genggam di tangan kanan Revina, hampir saja terjatuh.


PLUKK...


Dhavin dengan cekatan berhasil menangkap barang itu, yang tidak salah lagi adalah alat pompa ASI.


'Dia baru saja memerah s*u*su?' Tatap Dhavin, melihat piyama yang Revina pakai itu sudah separuh terbuka, dan berhasil memperlihatkan belahan dadanya. ".........!" Tidak melakukan apapun, Dhavin kabur dari sana menuju kamar mandi.


SRASZHH.....


Mendengar adanya suara air dari dalam kamar mandi, Revina tanpa sengaja jadi terbangun sendiri. Apalagi setelah merasakan adanya aroma wangi, maka Revina membuka matanya lebar-lebar dan segera menyambar makanan yang sudah di masak oleh Dhavin.


"Hmm...ini lumayan enak." puji Revina dengan satu suapan demi satu suapan masuk kedalam mulutnya.


"Jadi kamu suka itu?"

__ADS_1


"Ya. Lain kali buatkan ini lagi ya."


"Hmm.."


"Ada apa? Apakah permintaanku keterlaluan?"


"Bukan itu."


"Kalau begitu apa?" Penasaran sekali dengan maksud dari deheman singkat itu.


"Bukan apa-apa, aku hanya sedang berpikir banyak. Makan saja semuanya kalau memang suka." Ucap Dhavin dari dalam kamar mandi.


"Ok, makash sudah mau memasaknya untukku."


"Ya."


ZRASSHH.....


Padahal di dalam kamar mandi, Dhavin saat ini justru sedang duduk di dalam bathtup dengan lubang pembuangan di buka, tetapi air shower yang mengalir itu terus menghujani tubuh besar Dhavin yang saat ini seadang duduk dengan kaki kanannya sedikit di tekuk, dan tubuhnya sedikit membungkuk ke depan dengan kepala menunduk ke bawah.


Di bawah tekanan air deras dari shower dengan suhu air cukup hangat itu, tangan kiri Dhavin saat ini justru sedang bekerja untuk memuaskan naf*su nya yang diam-diam datang tanpa di ketuk.


Tentu saja.


Tanpa menyentuh Revina, dia sudah kembali terangsang. 'Kenapa aku bisa jadi sebodoh ini. Aku sungguh tidak bisa menahan untuk tidak menyentuhnya lagi. Dhavin, sebenarnya ada apa dengan kamu ini? Aku sudah pasti sudah tidak terlihat seperti manusia lagi, karena di dalam diriku, jiwa serigala yang kelaparan ini selalu bangkit sesuka hatinya.


Walaupun untungnya hanya di saat aku berdua dengannya, tapi tetap saja, kenapa aku tidak bisa menahan keinginanku yang sedang kelaparan ini?


Merepotkannya ternyata disini, kalau wanita sudah melahirkan, tentunya. Aku jadi tidak bisa menyentuhnya. Ah....sampai kapan, aku benar-benar ingin melakukannya lagi. Sungguh kekanakkan sekali aku ini.' Racau Dhavin sambil memijat-mijat pusakanya.


Sesaat Dhavin memejamkan matanya karena dia teringat dengan kejadian di setahun yang lalu sebelum dirinya menikah dengan Revina.


'Padahal banyak wanita di luar sana, tapi sayangnya pada dasarnya alasan lain aku tidak mau menikah dengan wanita pilihan dari Ibuku itu karena aku memang tidak punya reaksi apapun terhadap mereka.


Aku sudah mencobanya beberapa kali, selain sifat picik mereka yang hanya ingin mengincar uang dan status saja. Dan diantara itu, beberapa wanita berusaha untuk menggodaku, tapi aku tetap tidak memiliki reaksi untuk terangsang seperti ini.


Dan Revina adalah pengecualiannya. Aku pada dasarnya memang menyukainya, tapi di sisi lain, hanya dia saja yang bisa membuatku punya keinginan untuk berhubungan badan.


Makannya, Ibu sah-sah saja dengan pilihanku, karena dengan adanya Revina, sekarang aku jadi memiliki keturunan.


Dan sekarang?

__ADS_1


Setiap saat, aku bisa langsung terangsang, apalagi saat melihatnya tertidur seperti itu, aku sangat-' Dhavin pun menghentikan kalimat yang terlintas di dalam pikirannya, dia menggantinya dengan menjilat bibirnya dan berusaha keras untuk berimajinasi dengan khayalan tingginya, kalau dirinya saat ini sedang bermain di atas ranjang.


Dan waktu itu, saat


__ADS_2