
CUP...CUP...CUP....
"R-Revina, b-berhenti." Dhavin sontak jadi kewalahan dengan aksi Revina yang tidak karuan itu, karena terus memberikan ciuman basah di semua dari sisi wajah tampannya.
"Nggak, aku masih belum puas." Dan Revina yang entah urat malunya pergi kemana, dengan beringas, dia langsung menciumi wajah dari Dhavin Calvaro, sehingga ...
____________
Di bandara, tepat di landasan pacu, sebuah jet pribadi berwarna hitam layaknya burung hantu, karena memang di cat seperti seekor burung, dua pilot dan dua orang bodyguard sudah berdiri di samping tangga dari pesawat tersebut.
"Aku tidak mengerti kenapa tiba-tiba Bos menyuruh kita merubah warna cat pesawatnya ya?" Kata satu orang anak buah Dhavin yang akan ikut dalam keberangkatan Bos nya, tentunya.
"Kamu itu, kan Nyonya juga akan datang, untuk mengantarkan Bos ke sini, jadi tentu saja Tuan akan memberikan kejutan aneh kepada Nyonya." Jawab rekan kerja dari laki-laki tadi.
Berkerut-kerutlah dahi laki-laki ini dengan cara aneh dari majikannya yang ingin memberikan kejutan kepada sang Istri.
"Ternyata, selera Bos kita memang aneh."
Lali-laki ini tersenyum pasrah. "Jika kamu mengatakan Bos itu aneh, bukannya berarti kita artinya juga sama-sama aneh, karena mau bekerja di bawa Bos yang seperti itu?"
"Eh, ucapanmu kenapa benar sih? Ah, aku jadi ketularan aneh juga, nantinya." Gerutunya, lalu menghela nafas pelan.
Terik matahari yang kian meninggi, membuat peluh mereka akhirnya muncul juga.
Walaupun mereka berdiri di samping pesawat, dimana bayangan dari pesawat itu berhasil membuat mereka tidak langsung kena teriknya matahari yang mulai meninggi, tetap saja mereka sudah merasa kepanasan.
Dan tidak lama kemudian, mobil yang mereka tunggu-tunggu pun datang juga.
"Hahh..., akhirnya Bos datang juga." Merasa lega dengan kehadiran dari majikan mereka.
Sedangkan teman kerjanya, hanya menggelengkan kepalanya dengan tingkah dari temannya itu. "Jika tidak mau panasan seperti ini, kenapa kamu tidak menolak saja saat penunjukan tadi malam?"
"Aku mana mungkin mau menolaknya, kita itu akan pergi dengan pesawat, dan itu ke dubai! Dubai loh, disana itu banyak wanita cantiknya, apalagi hidungnya yang kelewat mancung dan tubuh yang tinggi, aku kan ingin lihat secara langsung." jelasnya, dengan mata sudah seperti mau keluar dari tempatnya, karena saking semangatnya ingin pergi ke luar negeri.
"Ya elah, jika mau kesana, kenapa tidak kerja di sana saja? Bos kan punya kantor cabang di sana, kamu bisa ajukan pemindahan, jadi bisa lihat sepuas hatimu." Ledek laki-laki ini, sangat ingin sekali menampol mulut dari temannya, gara-gara ngoceh dengan hal yang tidak berguna itu.
Tapi, karena mobil yang mengantarkan Dhavin dan Revina sudah berhenti di depan mereka, maka tidak ada satu pun dari mereka yang melanjutkan percakapan tadi, selain dengan serius, langsung masuk dalam mode bekerja secara profesional dengan cara membukakan pintu mobil.
__ADS_1
Yah, awalnya memang cukup lancar, untuk memerankan sebagai anak buah yang baik dan terlihat patuh, tapi semua itu langsung kandas, ketika matanya melihat wajah dari Bos nya di penuhi dengan lipstick merah.
"B-bos?"
'Akkh! Kenapa wajah Bos seperti itu?!'
Ke empat orang yang hadir dalam penyambutan itu, sama-sama membuat reaksi terkejut mereka ketika melihat wajah Bos mereka yang dipenuhi dengan lipstick.
"B-bos, wajah Bos itu-" anak buah pertama Dhavin, terkesiap dengan senyuman sinis yang menghiasi bibir dari Dhavin itu terkesan seperti baru merasakan kemenangannya.
"Memangnya ada apa dengan wajahku hm?" Tanya Dhavin dengan nada sombong, sembari memperbaiki jas yang ia pakai, senyuman tipis dengan noda lipstik tepat di sudut bibirnya yang tidak terhapus dengan benar, membuat wajah Dhavin terlihat semakin antara lucu tapi cukup mengesankan.
"Hah...hah..., Dhavin, rasanya aku masih kurang banyak memberimu hadiah." Ucap Revina, dia saat ini dalam posisi seperti orang yang mau merangkak, dan sama hal nya dengan apa yang di alami oleh Dhavin, sudut bibir Revina juga ada lipstick yang kena terik keluar dari area bibir, sehingga memberikan kesan seperti dua orang gila yang tidak bisa mengerti kegunaan lipstick itu apa.
Melihat Revina terlihat sedih, karena akan di tinggal pergi olehnya, Dhavin berbalik dan menuntun Revina keluar dari mobil.
"Nyonya," Mereka berempat langsung memberikan hormat dengan cara menunduk, dan Revina hanya memberikan anggukan kecil sebelum dia akhirnya keluar dan langsung memeluk tubuh Dhavin.
"Dhavin, hati-hati ya?" ucap Revina.
'Ah~ Aku jadi ingin punya pendamping hidup seperti Nyonya.' Kata hati pria ini, sampai secara tidak sengaja, dirinya melihat kalau Nyonya mereka, keluar tanpa menggunakan alas kaki, padahal jalan aspal yang di pijak mereka sudah mulai panas, tapi terlihat, kalau majikan yang satu itu terlihat tidak begitu memperdulikan telapak kakinya sendiri.
"Kamu juga, jaga dirimu baik-baik, nanti saat aku sampai, aku akan segera meneleponmu." jawab Dhavin, matanya yang sendu itu terus menatap wajah Revina yang sudah terlihat kacau karena perbuatan Dhavin sendiri.
Dan sama seperti Dhavin, Revina pun menatap wajah pria ini dengan cukup seksama, betapa sedihnya ketika pria yang selama ini menjaganya, selalu berada di sisinya apapun yang terjadi, sebentar lagi akan pergi.
"Jangan hapus ini ya?" Pinta Revina, mengusap pipi Davin yang sudah Revina berikan stempel bibir nya.
"Ap-"
"Biarkan seperti ini sampai kamu mandi dengan benar di hotel, apa kamu mau?" Melihat mata sayu itu mengharapkan permintaan kecilnya di kabulkan, Dhavin pun menjawabnya dengan senyumannya.
"Kamu ingin membuatku malu ya?" sindir Dhavin.
Tersinggung dengan ucapannya itu, Revina menjauhkan tangannya dari pipinya. Tapi, bahkan sebelum tangannya Revina jatuh dan menjauh dari wajahnya, Dhavin segera menangkapnya, dan menariknya ke dalam pelukannya.
BRUK....
__ADS_1
Pelukan itu pun membawa Dhavin untuk melangkah mundur, sehingga tepat di saat anak tangganya di belakang sudah tepat di sana, Dhavin pun langsung duduk lalu bersandar ke belakang sampai akhirnya membiarkan Revina ia peluk di atas dada.
Jantung mereka berdua, perlahan di pacu untuk berdegup lebih cepat dari biasanya, dua nafas yang menyatu, kehangatan di tengah suhu udara yang kian memanas, Dhavin dan Revina pun saling memberikan sentuhan fisik terakhir mereka sebelum mereka berdua berpisah dalam jarak ratusan bahakan ribuan kilometer.
"Dhavin, punggungmu sakit loh." Khawatir Revina.
"Apa yang lebih sakit dari pada meninggalkanmu di sini?" Tanya Dhavin, memuat satu perasaan yang sebenarnya tidak ingin di pisahkan dengan jarak. "Dan ini-" Dhavin menuntun tangan Revina untuk kembali menyentuh wajahnya, dan berkata lagi : "Bukanlah permintaan yang seberapa, jadi aku tidak mempermasalahkan mereka akan mengatakan apa, karena ini stempel mu untukku. Memberitahu mereka kalau aku sudah ada yang punya, jadi jangan di masukkan ke hati, dengan apa yang aku katakan tadi, apa kamu mengerti?"
"Tapi, aku merasa baru saja membuat permintaan konyol padamu."
"Pfft.."
'B-Bos tertawa?!'
'Ada apa ini? Aku jadi tidak tega melihat Bos pergi meninggalkan Nyonya.'
'Aduh, aku jadi merasa kasihan kepada Nyonya deh.'
'Ya ampun, kenapa Bos yang biasanya kalau sendirian berhadapan dengan kami, selalu pakai tampang seram, tapi saat dengan Nyonya, Bos ternyata bisa tersenyum dan tertawa seperti itu? Aku jadi iri.'
'Nyonya, harap jaga diri baik-baik ya, saya akan menjaga Bos dengan sepenuh hati, agar Bos tidak melirik ke wanita manapun di sana.'
Satu persatu, pikiran dari ke empat anak buah Dhavin pun bermunculan, karena merasa bersimpati pada hubungan dua orang yang sudah menjalin kasih selama satu tahun itu, benar-benar membuat orang lain merasa tidak sanggup untuk memisahkannya.
Tentu saja, apalagi saat pesawat besar yang sedang melintas dengan laju pesawat yang pelan, banyak dari para penumpang yang sama-sama kagum, ketika mereka tidak sengaja melihat Dhavin yang duduk di tangga, sedang memeluk Revina dalam hubungan paling membuat banyak orang sangat iri.
"Ya ampun, kenapa ada pasangan seromantis itu?"
"Aku mau lihat- apa yang seb- Wahh! Gila, orang kaya mah beda, yang perempuan itu, tidak memkai sepatu, tapi dengan posisi seperti itu dengan kekasihnya, itu membuatku sangat iri! Gila, aku harus mengabadikan mo-"
"Kepada para penumpang, siapapun yang memotret beliau, handphone anda akan kami sita." Siaran dari seorang pramugari di kabin pesawat, sontak membuat nyali mereka semua menciut, karena handphone yang sudah siap untuk memotret, akan benar-benar di sita, jika mengambil gambarnya.
"Baiklah, demi privasi dan kenyamanan semua orang, kami akan memeriksa handphone kalian, karena mungkin saja ada yang diam-diam sudah mengambil gambarnya." pramugari cantik ini pun tersenyum ramah kepada semua orang.
Ya, tampang nya saja yang kelihatan sedang tersenyum ramah, padahal senyuman itu mengandung sekali banyak makna, terutama sebuah ancaman, kalau ada yang berani untuk memotret kedua majikannya, maka ancaman itu pun akan berlaku saat itu juga.
"Jadi bagaimana?" Senyuman milik Vinella yang tidak pernah pudar itu, sontak membuat banyak pasang mata yang sudah merasa segan untuk mengambil konsekuensi itu, karena ekspresi wajah Vinella yang terlihat ramah itu, tidak main-main.
__ADS_1