Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2

Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2
91 : DBMJCP : Tidak tahan.


__ADS_3

Langkah kaki kuda yang begitu cepat itu membawa Dhavin Calvaro pergi menghampiri Revina yang masih duduk di kursi santai.


Sinar terik matahari yang cukup menyengat itu, berhasil menguras tenaga dan keringat yang di miliki oleh pria itu.


Membuat seluruh tubuhnya itu berhasil di banjiri oleh peluh yang cukup banyak, dan cukup menyita perhatian Revina yang kini sudah berhadapan dengan sang kesatria berkuda.


"Hah ..., hah ..., hah ...." Dengan wajah penat, Dhavin benar-benar tidak bisa menghilangkan senyuman setiap kali menemui Revina.


"I-ini." Revina beranjak dari kursinya, lalu memberikan handuk kepada suaminya itu.


"Revina, kenapa kamu lagi-lagi memalingkan wajahmu seperti itu?" Tanya Dhavin, masih belum menerima sodoran handuk kecil dari Revina, karena dia lebih mementingkan reaksi Revina ini, yang suka memalingkan wajahnya dari hadapannya seperti itu terus.


BLUSH....


"L-lagian, k-kamu yang berkeringat seperti itu, justru jadi terlihat sangat seksi." Revina sendiri tidak tahu apa yang barusan mulutnya katakan, karena dia hanya menjawabnya dengan refleks, sekalipun nada yang di gunakan nya terkesan ragu.


"Pfft ..." Dhavin menghela nafas panjang, sedikit memiringkan kepalanya ke kanan, Dhavin pun tersenyum sambil bertanya : "Makannya, cepat sembuh, bia aku hadiahkan keringat perjuangan cintaku kepadamu."


Revina yang sungguh berhasil di rayu itu, tidak tahan untuk tidak melempar barang yang dia pegang itu, sehingga handuk kecil yang hendak di berikan kepada Dhavin itu, Revina lempar dan justru mendarat di wajah kuda.


NGIIKK.....


"Hii ..." Revina tersentak kaget saat kuda yang di naiki oleh Dhavin itu tiba-tiba saja meringkik dan bertingkah seperti ingin melompat-melompat.


"Shhhtt...." Dhavin menarik tali kekang pada kuda itu agar diam.


Sedikit membutuhkan waktu agar kuda yang wajahnya baru saja di lempari handuk itu, kembali diam.


"Jhossy, tenang. Istriku tidak sengaja kena rayuanku. Shhtt ..." itulah yang dikatakan Dhavin kepada Jhosyy, kuda hitam gacoan milik Dhavin Calvaro.


Kuda itu sempat berjalan berputar dengan kedua kaki depan sempat naik, seperti mau melompat. Tapi karena Dhavin bisa menenangkannya, maka kuda itu pun tidak berhasil mengamuk.

__ADS_1


Revina yang awalnya takut, perlahan kembali menatap sejolin itu. Jhossy dan Dhavin. Satu set untuk membentuk partner yang kuat.


"Lihat, dia sudah kembali tenang. Mana handukku." Dhavin jadi memintanya lagi.


"I-Ini." Revina jadinya mengambilkan handuk yang ke dua kepada Dhavin.


Namun, yang Dhavin tangkap bukanlah handuknya, melainkan pergelangan tangan Revina, sampai menariknya dalam pelukannya.


BRUK.


Akhirnya Dhavin pun berbagi keringat untuk sang Istri.


"D-dhavin, pakaianku kan jadi basah." Protes Revina, terpaksa menghirup aroma feromon berharga dari pria dengan berjuta pesona ini.


"Memangnya kenapa? Karena kepanasan, aku kan jadinya ingin sesuatu yang dingin. Jadi aku melakukan ini untuk mengajakmu duduk bersama." Jelas Dhavin. Dengan artian kata ingin mandi bersama.


"Tapi aku lagi malas mandi. Aku malas di kotori seperti ini." Keluh Revina terhadap tindakan yang di lakukan oleh Dhavin kepadanya.


"Ha~ Ya, aku galau karena aku sedang malas mandi. Tanganmu terkena kulit kuda, dan menyentuh wajahku? Itu banyak kumannya!" Revina mencoba menepis tangan yang sedang bermanja di bawah dagunya. "Aku lelah, aku malas ini dan itu, aku ingin tidur, tapi kamu membuatku mendapatkan feromonmu!"


Karena saking kesalnya, mendapatkan keringat kotor itu, tanpa sadar Revina jadi berteriak, sampai beberapa kuda yang sengaja di lepas dan sedang memakan rumput, menegakkan kepalanya, menatap ke arah Revina.


Beberapa tukang bersih-bersih serta tukang kebun serta anak buah Dhavin yang kebetulan sedang membereskan alat halang rintang yang sudah tidak di gunakan lagi itu, sama-sama melihat kearah Revina.


"Akhh ...!" Revina yang malu itu langsung lari dan kabur dari sana, melepas pelukan yang di bawa oleh Dhavin kepadanya. "Aku ingin pulang!"


"Rev-" Dhavin yang kebingungan itu, tangan kanannya hanya bisa meraih angin kosong saja, setelah dia gagal untuk mencegat wanita yang sudah menjadi Istrinya itu kabur dari sisinya.


Padahal tidak ada satu orang pun yang akan menertawainya ataupun akan membuat candaan, karena Dhavin sendiri sudah menyuruh semua anak buahnya agar tidak ada satupun diantara mereka yang membicarakan semua tingkah yang pasti mereka buat di semua tempat.


Dhavin yang kehilangan sosok dari Istrinya, karena sudah pergi lebih dulu meninggalkannya, hanya mengepalkan tangan kanannya yang akhirnya tidak mendapatkan apapun.

__ADS_1


Baik itu pelukan hangat, ataupun handuk yang sudah di siapkan untuk Dhavin.


Semuanya gagal Dhavin dapatkan.


"T-tuan, biar saya yang mengantarkan kuda milik anda ke kandang, anda segeralah menyusul Nyonya." Salah satu anak buah Dhavin pun sudah memegang tali kuda itu lebih dulu, berharap kalau masalah diantara dua majikannya yang bucin akut itu segera terselesaikan.


Tanpa sepatah kata lagi, Dhavin langsung turun dari kuda, meraih handuk baru yang di baru saja di ambilkan oleh seorang pelayan.


'Revina ini. Wajah malunya kenapa menggemaskan sih?' Melihat reaksi wajah Revina terakhir tadi, Dhavin pun tiba-tiba saja mengusap wajahnya dengan kasar.


Dhavin memang sudah tahu, sifat milik Revina yang seperti itu sudah sering Dhavin lihat. Tapi mau bagaimanapun, Dhavin merasa sifatnya yang masih saja pemalu, selalu saja menarik perhatiannya.


Sekarang sudah hampir satu tahun berlalu sejak dia melepaskan diri dari masa perjaka nya, memberikan berjuta-juta kecebong tanda cinta untuk Revina, dan nyatanya hal itu sama sekali tidak membuat Revina memiliki banyak perubahan dalam menangani sifatnya yang pemalu itu.


Pelukan, rayuan, semua sentuhan dan gombalan yang sengaja dia berikan selalu sukses membuat wajah cantik milik Revina selalu membuat pancingan besar untuk Dhavin sendiri.


Itulah, alasan dari Dhavin yang sama sekali tidak bisa melepaskan wanita itu dari sisinya serta genggamannya.


Dia akan terus membuat Revina berada di sisinya sepanjang waktu.


Sebenarnya itu yang ia rencanakan, hingga dering handphone miliknya, sukses menyita semua perhatiannya dari pintu itu ke layar handphone nya.


"Vian?" Salah satu alisnya terangkat.


Vian adalah salah satu teman dekatnya saat ia kuliah delapan tahun yang lalu. Tapi karena tuntutan dari keluarga Vian untuk mencoba meneruskan bisnis keluarganya yang ada di luar negeri, Dhavin dan Vian pun berpisah.


Tapi hal itu tidak membuat hubungan diantara mereka berdua terputus begitu saja.


Hanya saja karena akhir-akhir ini Vian sibuk karena urusan pengambil alihan posisinya sebagai kepala keluarga, komunikasi antara Dhavin dan Vian pun sempat terhenti selama lebih dari satu setengah bulan, dan kebetulan itu bertepatan saat Dhavin pulang kerumah dan menemukan Revina yang sudah mau melahirkan itu.


'Apa akhirnya anak ini sudah berhasil mengambil alih posisi milik kakeknya dari kedua saudaranya itu?' Tidak mau berlama-lama untuk mengulas kenangan masa lalunya, Dhavin pun mengangkatnya.

__ADS_1


Meninggalkan area pacuan kuda, dia pergi untuk menemui Revina yang sudah masuk kedalam mobil.


__ADS_2