Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2

Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2
97 DBMJCP : Imbas


__ADS_3

"Jadi kamu mau apa?" Dhavin yang sudah di selimuti apa yang namanya tengah berusaha untuk menahannya.


Dia menatapnya, tapi tidak ingin melakukan dengan anita ini.


"Masa tidak mengerti Tuan, tentu saja aku harus membantumu keluar dari apa yang namanya rangsangan kan?" Adel mulai mengusap dada bidang milik Dhavin. 'Aku harus mendapatkanmu malam ini. Mau bagaimanapun dan dengan cara apapun, aku harus mendapatkan tubuhnya. Lagi pula, gen sesempurna ini, jadi aku akan membuatmu jatuh dalam pelukanku. Tidak dalam pelukan saja, tapi di bawah kenikmatan kita bersama. '


Niat terselubung milik Adel pun terlihat cukup jelas di mata Dhavin sendiri.


Lantas apa saja yang bisa di lakukan oleh wanita di depannya ini? Dengan mengandalkan tubuhnya yang molek itu aja?


"Tuan Dhavin, apa kamu sudah merasakan yang seperti ini?" Goda Adel seraya ia membuka tali simpul di belakang tengkuknya yang mengikat bra yang ia pakai.


Ia akan mencoba memberinya kepuasan dan memuaskan dengan menggunakan tubuhnya. Apalagi mengingat tubuh Dhavin sudah mulai terangsang karena pengaruh obat perangsang, maka Adel sagat yakin,


kalau ia akan mendapatkannya.


'Wanita ini, apa karena aku terlalu mewaspadainya ya? Aku jadi berpikir kalau wanita ini bahaya. Tapi sepertinya tidak. Lihat godaan bodohnya ini, aku sama sekali tidak berselera.


Meskipun dia punya tubuh bagus, tapi nyatanya aku sama sekali tidak menginginkannya.


Yang aku pikirkan saat ini justru adalah Revina.' Hanya dengan memikirkannya saja, Dhavin jadi kembali sadar, yang dia butuhkan saat ini bukanlah wanita lain, melainkan Revina.

__ADS_1


Entah apapun itu, walau Revina sedang tidak bisa di gauli, tapi tubuhnya Dhavin hanya ingin di sentuh oleh wanita yang kini ada di rumahnya.


Melihat Dhavin sendiri terdiam seperti itu, Adel pun lebih mendekatkan tubuhnya ke depan, ingin meraup bibir seksi milik Dhavin itu. Ikat dari tali bra nya pun terlepas juga, tapi Dhavin tidak memperdulikan apa yang dia lihat itu, karena ada satu fokus utama yang sedang Dhavin tatap itu.


Tapi ketika jarak diantara mereka berdua sudah hampir habis, tiba-tiba saja ada tangan yang memegang salah satu buah dadanya, hingga Adel langsung mend*esah.


"Ah~" Tapi karena ia merasa ada yang salah, sebab tangan Dhavin yang begitu lebar dan besar itu seharusnya dapat memenuhi ukurannya tapi yang Adel rasakan ukuran tangannya terasa lebih kecil, Adel pun sempat melirik ke belakang. "Apa yang ahmph...! Mphh...!"


Mulut yang hendak berbicara itu pun langsung di bungkam oleh tangan milik seorang wanita.


Dan Dhavin yang masih duduk di tempatnya sambil berusaha menahan gairahnya, langsung berkata : "Mulutmu terlalu berisik." Dengan nada tegas.


"Ya, mulut ini terlalu berisik. Apalagi hatinya, aku jadi ingin sekali membedah dadanya dan mengambil hatinya. Pasti banyak yang di ucapkan di dalam hatinya ini. " Dan ucapannya Dhavin tadi di sahut oleh Vinella yang berhasil membungkam mulut Adel dengan menggunakan telapak tangannya. Meskipun satu tangannya lagi, ia gunakan untuk menutup salah satu buah yang hampir terekspose di depan Dhavin.


Apalagi melihat Vinella memakai baju seragam yang cukup kebesaran, Adel hanya tahu kalau yang ada di belakangnya itu adalah seorang wanita.


"Lepasmph..!" Adel yang mulai memberontak itu hampir saja mulutnya berhasil berteriak jika Vinella tidak cepat-cepat menutup mulutnya lagi, melingkarkan tangannya yang kuat itu di depan Adel, dan menarik tubuh Adel untuk menyingkir dari atas pangkuannya Dhavin. "Mphh..!"


"Jangan berteriak sayang, kasihan tenagamu itu." Ejek Vinella dengan suara yang bisa ia sesuaikan dengan suara milik orang lain.


Dhavin sendiri ia hanya duduk bersandar ke belakang, menumpukan siku tangan kirinya di atas tangan sofa, lalu menyangga dagunya sambil memandangi Adel dengan tatapan dinginnya. Sebuah tatapan yang terlihat seperti orang ingin membunuhnya .

__ADS_1


Adel sendiri terkesiap saat melihat wajah itu, tatapan itu sungguh cukup menusuk tubuhnya Adel. 'Padahal tadi saat aku duduk di pangkuannya, dia sama sekali tidak terlihat dingin seperti itu, kenapa ini, dia seperti mau membunuhku?" Panik Adel.


Vinella menyeretnya sampai di depan tungku yang hanya di buat untuk hiasan saja.


"Lepmmh..!" Teriak Adel untuk di lepaskan.


Sedangkan si kepala rusa itu, alias Vinella yang sedang menyembunyikan wajahnya dari Adel, perlahan mendekat ke arah telinga Adel. "Apa kamu mau di lepaskan? Hm? Coba kita tanya dulu dengan Bos Dhavin itu."


Vinella lantas menoleh ke arah Dhavin yang masih duduk sambil memejamkan matanya. Dia tengah menahan keinginannya untuk tidak terburu-buru terangsang hebat dulu, karena ia harus bersikap dulu di depan Adel juga Vinella.


"Bos, kita mau apakan wanita ini?" Tanya Adel.


"Tawan dia," perintah Dhavin.


"He? Apa Bos tidak mau membunuhnya saja dulu?" Vinella tidak mengerti kenapa Bos Dhavin itu malah lebih suka untuk menahan Adel.


"Kenapa menduga aku akan mengatakan itu?" Dhavin balik tanya dengan keringat dingin sudah mulai membasahi wajah tampannya. Dia masih menahannya, makannya reaksi wajahnya kadang sedikit bercampur aduk.


"Ya, kan kita sudah lama mengawasinya, jadi saya pikir akan di bunuh, karena dia sampai punya nyali untuk berhadap dengan anda langsung seperti ini." Jari kelingking dari tangan kirinya yang sedang menutup mulut Adel itu pun menunjuk ke bawah, menunjuk bahwa Adel sungguh akan menggoda dengan menggunakan tubuhnya, dan hendak meraup keuntungan dari Dhavin yang sedikit teledor tadi.


"Ya, kan aku sekarang tahu, latar belakangnya. Jadi aku ingin mengambil kesempatannya." Dhavin tersenyum sinis melihat mata Adel yang memperlihatkan kilatan mata terkejutnya.

__ADS_1


'Apa? Bagaimana bisa? Padahal jelas-jelas baru kali ini aku menemuinya secara langsung, tapi kenapa dia sudah menyelidiki latar belakangku? Kenapa bisa? Jadi sudah berapa lama?' Semua pertanyaan yang tidak bisa Adel temukan secara langsung itu hanya berbuah penasaran. 'Tidak boleh, aku tidak boleh membuat diriku jadi tawanan. Kalau Ayah tahu nanti, bisa berabeh aku.'


__ADS_2