
'Mau di pikirin berapa kalipun, tidak akan ada habisnya.' Itulah yang dipikirkannya, sebelum akhirnya Revina kembali di buat kembali mengingat momen dirinya sedang melahirkan.
Gara-gara perutnya sakit ingin buang air besar, tapi yang ada adalah tidak bisa keluar dengan mudah, dan perut memang sudah cukup mulas itu pun jadi membuat diri Revina untuk kembali mengejan.
“Shh…” Desis Revina, seraya menunduk dan memegang lututnya.
‘Dia kenapa?’ Dhavin yang tertarik dengan apa yang dilakukan oleh Revina itu, kembali di buat mengintip.
Terlihat sang Istri sudah membungkuk hampir memeluk lututnya sendiri, dan di tengah-tengah itu semua Dhavin sedikit mendengar Revina mengeluarkan suara mengejan, tapi juga seperti orang yang sedang frustasi.
“Apa kamu baik-baik saja?”
Sayangnya, Revina yang sudah terlanjur melamun sendiri jadi tidak mendengar pertanyaan yang di tanyakan Dhavin kepadanya.
Yang ada saat ini adalah Revin ajadi bergumam sendiri, seakan gumaan itu adalah sebuah jawaban yang di tanyakan oleh Dhavin tadi. “‘Hanya karena ingin buang air besar saja, kenapa aku jadi merasakan sakit lagi. Susah sekali jadi wanita.
Kalau seperti ini aku kan jadi berpikir lebih baik jadi laki-laki saja. Tidak hamil, melahirkan, dan masih bisa buang air besar. Ini…? Aku sedikit sulit.” Hatinya tiba-tiba saja kembali meradang. Dia sama sekali merasa kesusahan dalam menghadapi apa itu menjadi Ibu, gara-gara setelah melahirnya, semuanya jadi banyak kendala.
Kebebasannya terasa sudah direnggut.
‘Sebentar, kenapa aku jadi punya pikiran seperti itu? Inikan namanya aku jadi terlihat seperti orang yang tidak bersyukur kan?
Padahal aku dikaruniai dua anak, tapi aku langsung mengeluh ini dan itu.”
‘Rev~’ Dhavin yang mendengar itu, hatinya jadi tersentuh sendiri.
Revina semakin menunduk, dan kedua tangannya pun dia gunakan untuk memegang kepalanya, dan menambahkan gumaman kecilnnya lagi. “Ternyata, aku hanya memang belum siap menajdi seorang Ibu. Sampai aku malah memarahi Dhavin hanya karena nasi goreng tadi pagi.
Padahal dia hanya mencoba memperingatkanku. Tapi aku membalasnya dengan kemarahanku yang terlihat tidak berdasar itu.
Revina, kamu memang sungguh, egois ya.”
SPLASH..
Dhavin tiba-tiba beranjak dari bathtub.
Lalu, sayangnya gumaman yang terdengar sedang mengeluarkan rasa kesal pada dirinya sendiri, berubah menjadi bahan untuk membuat Revina tertawa sendiri.
“Pfftt…yang lain pasti tidak seperti ini kan? Pasti hanya aku saja yang mengeluh. Ya kan? Aku kan-” Revina jadi menjambak rambutnya sendiri, matanya mengernyit, dan air mata yang sudah tidak dapat di tampung lagi akhirnya pecah juga.
__ADS_1
TAP..
Dhavin yang lagi-lagi melihat Revina menangis, hatinya jadi trenyuh.
Apakah sebegitu menyakitkannya untuk menghadapi diri sendiri menaikkan status untuk jadi seorang ibu, sampai Revina kembali menangis?
Dhavin yang baru saja keluar dari bathtub dalam kondisi tanpa busana itu langsung berjongkok di depan Revina dan langsung memeluknya.
Merasakan tubuhnya di peluk dengan tubuh yang baru saja menerima sabun beraroma yang menenangkan pikiran dan hatinya itu, Revina pun jadi semakin menangis.
Dia bukan menangis karena kesal, tapi..
“Huwaaa….! Dhavin..maafkan aku, a-aku..aku tidak seharinya memarahimu, padahal kamu bermaks-”
Dhavin menyela ucapannya seraya mengusap punggung Revina dengan penuh perasaan, “Tidak Revina, akulah yang harusnya minta maaf. Aku harusnya mencicipi nasi gorengnya. Tapi karena aku terlalu yakin, aku jadi terbawa emosi karena kamu tidak menolak memakan makanan yang aku masak.
Aku hanya ingin memberimu peringatan saja kepadamu. Tapi aku tidak berpikir kalau apa yang aku katakan jadi menyinggung perasaan dan emosimu.
Akulah yang salah. Maafkan aku, karena kamu sekarang jadi menderita.”
Revina pun hanya mendengarkan apa yang dikatakan oleh Dhavin ini.
Revina semakin mengernyitkan matanya, menunduk ke bawah dengan posisi dahinya diletakkan diatas bahu sebelah kanan Dhavin persis, setelah itulah, Revina jadi benar-benar melihat ke arah bawah.
“Memang sangat ingin menghargai masakanmu, tapi aku jadi sep-”
“Aku sebenarnya memang sudah diperingatkan kalau emosimu itu memang sedang tidak stabil, tapi aku malah jadi memprovokasimu.
Kalau kamu memang merasa bersalah, aku memaafkanmu. Tapi karena disini akulah yang mengawali kesalahan dan membuat kita berdua saling bertengkar, aku juga minta maaf.” Ungkap Dhavin di sela-sela dia terus mendapatkan cakaran dari Revina yang terlihat seperti sedang menahan sesuatu yang sakit?
Dhavin yang ingin melepaskan pelukannya untuk melihat reaksi apa yang sedang dibuat oleh Revina, justru mendapatkan penolakan.
“Rev, ada apa? Kamu bel-” Kalimatnya terhenti di tengah-tengah, tentunya dia ingat apa yang sedang Revina rasakan saat ini adalah rasa sakit karena sedang tidak bisa buang air besar.
“Sakit..jangan tanya lagi. Ini sakit.” Rintih Revina.
“Kalau tidak bisa keluar ya jangan di paksakan. Itu akan membuatmu punyamu jadi lebih sakit.” Beritahu Dhavin kepada Revina.
“Tapi..perutku, ini cukup mulas.” Balas Revina dengan penuh penekanan.
__ADS_1
Dan jawabannya, tentu saja menunjukkan Revina yang punya sifat keras kepala itu tetap mempertahankan niatnya untuk tetap bisa buang air besar saat itu juga.
“Tidak Revina, jangan dipaksakan. Aku akan memanggil pelayan untuk mencari obat agar kamu bisa buang air besar dengan mudah.” Bujuk Dhavin.
Tapi sifat keras kepalanya tetap saja menempel pada diri Revina, karena saat Dhavin hendak berdiri, Revina justru menahannya, sampai Dhavin jadi jatuh terduduk karena terpeleset.
BRUK..
“Revina, jangan terlalu semangat begitu. Kasihan punyamu kesakitan.” Kata Dhavin dengan senyuman tawar, karena mereka berdua saat ini sedang dalam keadaan suasana aneh yang dibuat pertama kali oleh Revina lagi, dan lagi.
Semuanya tentu saja tidak ada habis-habisnya, jika sudah menyangkut dengan diri Revina yang menurut Dhavin cukuplah unik.
Dan itu adalah salah satu dari sekian banyak hal yang membuat Dhavin tertarik untuk terus terikat dalam perasaan cinta yang tidak bisa dilihat tapi bisa dirasakan dengan cukup jelas.
Dan itu bisa dirasakan lewat hati.
“T-tapi, i-ini..” Revina tidak bisa melepaskan pelukannya antara Dhavin dan dirinya. Sampai tangan Revina, tentu saja mampu mencakar kulit tebal Dhavin sampai meninggalkan jejak disana sebuah garis merah.
Sebuah jejak tanda semangat, bukti kalau Revina tidak membiarkan Dhavin pergi dari sisinya sedetikpun, sekalipun sedang buang air besar.
“Ini tinggal sedikit lagi.” Tekan Revina.
“Apakah sedikitnya jika sudah benar-benar sembuh dan bersih, aku bisa mencicipimu lagi?”
‘Kenapa di saat-saat seperti ini, dia kembali mengeluarkan kalimat hasutan seperti itu? Apakah pria ini lahir dari gen iblis?’ Pikir Revina, dan dalam kasus dirinya sedang mulai berada di puncaknya, Revina sudah tidak lagi membuat cakaran, karena akhirnya dia berhasil untuk.
PLUK..
Pelukan itu berakhir dengan Dhavin yang masih terduduk di lantai kamar mandi di depan Revina dalam kondisi telanjang, tiba-tiba laki kanannya dia posisikan di tekuk ke atas, dengan tangan kanan diletakkan di atas lututnya, sedangkan kaki kirinya dia selonjorkan kedepan. Setelah itu Dhavin pun menundukkan kepalanya ke bawah dengan senyuman terlukis dari bibirnya yang terus saja memperlihatkan kesan seksinya.
Senyuman itu benar-benar mewakili rasa ingin tertawa, karena setelah satu setengah bulan lalu dirinya mendampingi Revina melahirkan anaknya, maka saat ini dirinya baru saja menemani Revina kembali untuk melahirkan kotorannya sendiri.
“Hahh~” Dhavin yang tiba-tiba saja menghela nafasnya itu, membuat Revina jadi membuka matanya lebar-lebar.
Ya…apalagi saat ini, ketika dirinya masih memeluk Dhavin yang sudah terduduk di lantai karena sempat terpeleset itu, membuat kedua matanya kembali ternodai oleh harta milik Dhavin yang terlihat sedang tidur, karena tidak seperti biasanya, jika dekat dengannya dalam kondisi yang terasa sedikit intim, maka belalai itu akan segera berubah menjadi panjang, maka tidak dengan kali ini.
Itu terlihat biasa saja.
Sampai beberapa saat kemudian, karena Dhavin sudah sadar sedang di tatap oleh Revina, sang Istri dengan sejuta kegokilan, perlahan belalai itu mulai panjang juga.
__ADS_1
‘Kenapa tiba-tiba panjang lagi?!’ Revina dengan buru-buru, segera melepaskan pelukannya, lalu tangan kanannya dia arahkan ke belakang untuk menekan kran kloset, agar hasil usaha untuk mengeluarkan sisa dari kerakusannya dalam makan, bisa segera hilang dari tempatnya.