
Di bawah langit malam, helikopter terus terbang menyusuri luasnya bumi untuk menemukan sesuatu yang harus mereka jangkau.
"Ahh~" Revina melenguh karena ada perasaan yang sedang tidak enak, dan itu adalah perutnya.
"Apa Nyonya baik-baik saja?" Tanya seorang pilot yang duduk di sebelah kiri Freddy.
"Mana ada yang baik-baik saja, kepalaku rasanya pusing dan perutku mual. Memang, pakai helikopter itu bisa mempersingkat waktu, tapi ini benar-benar tidak mengenakkan. Rasanya ingin muntah." Ucap Revina, mengeluarkan semua keluhannya dengan wajah yang sudah mulai pucat pasi, karena dia benar-benar sedang menahan mual.
Ingin sekali bisa muntah, tapi semua itu tidak bisa, sebab Revina sendiri sebenarnya belum makan apa-apa, selain minum jus sebagai penahan lapar.
'Padahal aku sedang naik helikopter yang mewah ini, tapi aku sebagai Nyonya, sama sekali tidak bisa memperlihatkan diriku yang sopan dan wibawa ini. Aku sebenarnya malu, tapi mau bagaimana lagi? Aku di suruh untuk melakukannya seperti biasa oleh Dhavin.
Tapi aku benar-benar pusing, rasanya ingin sekali muntah. Tapi demi bisa makan bersama dengan Dhavin nanti, aku sengaja tidak makan.
Tapi akhirnya aku malah menderita seperti ini. Ahh! Padahal aku punya kebiasaan mabuk darat, tapi ternyata aku juga mabuk udara.
Pantas saja, tiap kali aku pulang ke negaraku, aku selalu ketiduran, gara-gara Dhavin memberikanku obat tidur, makannya aku sama sekali tidak merasakan apapun.' Protes Revina pada dirinya sendiri.
"Tahan saja, tidak lama lagi juga sampai ke tempat suami idamanmu." Goda Freddy, sukses membuyarkan semua lamunannya Revina tadi.
BLUSHH....
"Diam!" Pungkas Revina agar Freddy tidak lagi berbicara. 'Kenapa tiap kali bertemu Freddy, dan saat Dhavin tidak ada, aku selalu di goda olehnya?! Aku kan malu, Revina! Revina! Oh Revina! Kenapa aku punya suami dengan anak buah seperti ini sih?
Perawakannya saja sama, aku benar-benar bisa jadi gila jika mereka berdua berdiri bersama, dan aku salah mengambil orang. Bukannya Dhavin yang aku peluk tapi yang ada aku malah memeluk Freddy. Semoga kesalahan seperti itu tidak akan pernah terjadi.' Pikir Revina lagi.
Berharap kalau dirinya tidak melakukan kesalahan apapun sampai salah mengira kalau Freddy adalah Dhavin.
__ADS_1
Dan kembali ke fakta yang cukup nyata, perintah Revina agar Freddy diam pun sama sekali tidak di jalankan oleh Freddy.
"Sayangnya mulutku ini tidak bisa diam, bagaimana nih? Apakah kamu ingin membungkam mulutku dengan sesuatu?" Goda Freddy dengan sengaja, karena dia senang dengan segala reaksi serta tingkah yang di perlihatkan oleh Revina ini.
"Kalau saja kamu sedang tidak jadi pilot, aku pasti sudah membungkam mulutmu dengan sa-"
"Bibir."
"Tuan-" Panik laki--laki di sebelah Freddy, karena Freddy benar-benar berani untuk berbicara seperti itu kepada majikan nya sendiri.
".........! A-apa?! Apa kamu bilang tadi?" Revina seperti salah dengar, tapi juga sebenarnya tidak salah dengar kalau Freddy ingin di bungkam dengan bibir?
"Jika mau membungkam mulutku, aku ingin di bungkam dengan ini." Freddy lantas menoleh ke samping kiri dengan tubuh sedikit membungkuk, sehingga saat Revina yang kebetulan duduk di samping pintu sebelah kiri, dia langsung di perlihatkan dengan Freddy yang tiba-tiba mengetuk bibirnya sendiri dengan pelan dan di barengi dengan sebuah senyuman penuh maut.
Dengan wajah tersipu malu, Revina langsung memalingkan wajahnya ke arah lain, dan berkata : "Bungkam saja dengan bibir orang di sebelahmu." Ketus nya.
Freddy perlahan memperhatikan wajah Revina, tidak ..., bukan wajah, melainkan bibir Revina yang terlihat merah ranum itu.
Sudut matanya yang menangkap pemandangan itu, membuat Freddy terlihat benar-benar seperti orang yang sedang menyusun siasat lebih dari sekedar godaan.
'Tapi aku pikir, pakai bibirnya akan jauh lebih manis. Kenapa dulu aku tidak menjadikannya milikku saja ya?' Entah pikiran itu berasal dari mana datangnya karena bersifat tiba-tiba, padahal beberapa saat lalu Freddy sudah mengatakan kepada dirinya sendiri akan membiarkan perasaan itu menjadi masa lalunya, tapi sekarang dia memang agak sedikit menyesalinya.
Menyesal karena ia pakai membawa Revina pergi ke negara ini untuk memancing Dhavin pulang ke Rusia.
'Padahal aku sudah berulang kali agar aku tidak kembali memikirkan masa lalu yang sudah terlewati itu, tapi kenapa lagi-la-' Kalimat di dalam pikirannya sontak saja langsung menghilang setelah dia mendapatkan lampu sorot dari arah depan yang cukup menyilaukan arah pandang mereka berdua.
"Tuan Freddy, di depan kita-" Pilot yang ada di sebelah kiri Freddy itu menghentikan kalimat pemberitahuannya, karena tiba-tiba ada helikopter yang sedang datang untuk menghadang mereka?
__ADS_1
Tapi tebakannya memang benar, karena tidak lama kemudian, helikopter itu terbang di depan helikopter yang di naiki oleh Freddy dan Revina, membuat jalur penerbangan mereka terhenti gara-gara di halangi oleh satu helikopter tersebut.
'Helikopter itu-' Walaupun lampu sorot yang berasal dari helikopter yang ada di depannya itu cukup mengganggu, tapi Freddy sekilas tahu siapa pemilik dari helikopter tersebut.
-"Cek ..., cek..., 123, apa kalian dengan suaraku?"-
Suara itu langsung masuk ke headphone yang mereka bertiga pakai.
Itu adalah pesan transmisi yang di lakukan oleh orang yang ada di depan mereka lah yang sedang melakukan pembicaraan dengan mereka.
"Suara siapa ini?" Tanya Revina, karena ia baru kali pertamanya mendengar suara itu, yang jelas lagi-lagi suara milik seorang laki-laki.
-"Apa kabar Nyonya Calvaro,"-
Panggilan paling terhormat itu langsung membuat wajah Revina jadi terkejut.
"Si-"
"Jangan dengarkan ucapannya." Pungkas Freddy, sebelum Revina berbicara lebih dulu, Freddy pun mengendalikan helikopternya agar terbang lebih tinggi.
Tapi seperti yang di perkirakan, helikopter yang ada di depannya pun sama-sama menaikkan ketinggian nya juga, sehingga Freddy sungguh merasa terganggu dengan keberadaan dari keberadaannya itu.
-"Kenapa tidak menjawab? Apa anda takut, Nyonya Calvaro? Oh tidak, tapi Nyonya Revina?"-
'Kenapa dia bisa tahu kalau aku Revina?' Terkejut Revina.
Dan senyuman dari bibir pria pemilik rambut putih perak yang ada di dalam helikopter yang ada di depan mereka pun seakan langsung tersampai, meskipun hanya dengan suara deheman kecil.
__ADS_1