Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2

Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2
26 : DBMJCP : Ragu lagi?!


__ADS_3

'Hmmm...tatapan matanya itu, jangan-jangan dia mau membuat perhitungan dengan semua anak buahku yang aku sengaja tempatkan disana.' Pikir Dhavin. Dia tentu saja tidak sekedar menyerahkan pekerjaan penyamaran itu kepada salah satu asistennya Arlsei yang Dhavin pinjam untuk melakukan penyamaran, melainkan orang-orang yang ada di cafe itu juga termasuk anak buahnya juga.


Mereka sengaja di tempatkan disana agar melihat situasi dan kondisinya secara langsung, sedangkan Dhavin sendiri, tentunya dia hanya duduk di balik layar.


Dhavin sudah menyadap pembicaraan Adel bersama dengan temannya, dan saat ini dia pun sedang mengamati Adel dari Cctv yang ada, serta mencoba membaca ekspresi wajahnya yang terbilang..


"Jelek," Lirih Dhavin, melihat Adel yang terlihat sedang menahan marah, karena berhasil di provokasi oleh Revina palsu tentunya.


"Apa? Jelek? Aku tahu kok, aku memang jelek, tapi jangan di depanku juga." Kata Revina, menghancuran perasaan Dhavin yang sedang mengumpat tentang Adel, dan ternyata hasil umpatan dari kata jelek itu terlihat jadi langsung tertuju juga pada Revina yang saat ini sedang berdiri dan tengah menggendong Levine yang akhirnya kembali tertidur itu.


'Aku salah lagi, kenapa kalimat yang aku pikirkan tadi jadi keluar dari mulutku juga? Revina kan jadi salah paham sendiri.' Pikir Dhavin seraya menyimpan kembali handpone lipatnya kedalam saku celananya.


Dia berdiri, lalu berjalan menghampiri Revina yang sudah berwajah masam itu.


Setelah di belakang Revina persis, Dhavin tentunya langsung memeluk Revina dari belakang, sambil menelusupkan tangan kanannya ke dalam piyama atau bisa dibilang lingeri model kimono itu untuk masuk ke dalam.


"Kamu salah paham" Dhavin meletakkan dagunya di atas kepala Revina persis.


"Salah paham apa, tadi kamu sendiri mengataiku jelek. Wajah kah, atau tubuhku yang sudah jelek. Sudah pasti kan? Apalagi karena aku sudah melahirkan, jadinya...perutuku sep-"


Satu elusan lembut yang tiba-tiba masuk kedalam lingerie dan diam-diam menggerayang dari perutnya lalu turun ke bawah, berhasil membuat Risyella jadi diam.


"Perut? Apa peduliku dengan perutmu yang longgar itu? Nanti kalau rutin melakukan perawatan, apa yang sudah di pakai olehku ini bisa kembali seperti semula, jadi jangan khawatirkan soal penampilanmu. Dan jika itu wajah, aku bahkan bisa membuatmu lebih cantik. Tapi aku sudah suka dirimu yang seperti ini, dan kamu tiba-tiba merungut karena aku mengatakan jelek, padahal bukan untuk dirimu?"


Dhavin pun terus mengelus lembut aria bawah perut Revina itu.


Sudah pasti semua wanita akan merasa tidak percaya diri dengan penampilannya, apalagi setelah hamil dan melahirkan, di mata mereka rata-rata kalau tubuhnya sudah tidak bagus lagi?


Mungkin memang begitu, tapi apa jadinya untuk Dhavin sendiri? Dia tidak begitu memperdulikan penampilan Revina saat ini, karena, "Revina, jangan pedulikan soal penampilan yang kamu pikir penampilanmu itu sudah jelek. Karena dimataku itu, aku tidak begitu memperdulikannya, selain kamu yang sudah mempertaruhkan nyawamu sampai koma untuk melahirkan kedua anak kita."


Setelah mengatakan itu, Dhavin pun mengalihkan posisi kepalanya untuk mendarat di bahu kanan Revina.

__ADS_1


"Aku memohon padamu, aku sudah mengatakannya berulah kali, kalau aku menyukaimu itu apa adanya, bukan ada apanya. Apa kamu masih belum paham soal itu, padahal kita sudah hampir satu tahun menikah."


Secara Dhavin jadi termenung, karena Revina selalu saja tidak percaya diri dan masih saja ragu dengan ketulusan hatinya yang sudah dia berikan dan mencoba dia tunjukkan kepada Revina, kalau semua yang sudah dia lakukan kepadanya itu benar-benar nyata akan dari lubuk hatinya yang paling dalam.


"Sini Nyonya," Lirih Lisa, kepada Revina untuk menyerahkan Levine kepadanya, dan akan membuat kedua majikannya itu berduaan dulu.


Setelah Levine di berikan kepada Lisa, Revina yang sudah tidak memegang apapun itu langsung meraih tangan Dhavin yang sedang berkeliaran di area perutnya.


"Sehari saja, jangan menggodaku seperti ini." ucapnya.


"Jawab dulu, kenapa kamu selalu saja ragu dengan ketulusan hati yang sudah sering aku tunjukkan kepadamu ini. Kenapa tidak percaya sih, Revina..jawab," Tuntut Dhavin, setelah itu di akhiri sebuah cubitan kecil di bawah perut Revina.


"Hati kan selalu berubah, ak-"


"Jangan katakan itu. Setiap hati dari setiap manusia memang selalu berubah seiring waktu berlalu, tapi asal kamu tahu, hatiku ini tidak akan berubah." Sela Dhavin saat itu juga. Dengan ekspresi yang sedang menangah amarahnya, karena istrinya sellau ragu dengan ini dan itu, padahal tadi saja mengucapkan rasa suka, Dhavin pun secara refleks jadi memeluk Revina dengan lebih erat lagi. "Paham kan?" Imbuhnya, dengan sorotan mata yang tajam, lalu karena saat ini dagunya ada di bahu kanan Revina, dia beralih posisi untuk sedikit menggigit kulit dari bahunya Revina.


"A-akh...i-iya..paham-paham. Aku tidak akan mengatakan hal itu lagi." Angguk Revina, merasa sesak dengan pelukan yang dilakukan oleh Dhavin kepadanya. 'D-dia..memelukku sangat erat. Hah...hah...lalu apa-apaan dengan tangan kanannya itu, dia sedang pergi ke arah mana...disana...masih sakit.'


Revina mencakar lengan Dhavin aat ujung jari Dhavin tiba-tiba menleusup masuk ke area prbadinya.


"A-aakh...D-Dhavin...i-itu..s-sakit..jangan lalukan di...sana." pinta Revina.


Dikarenakan Dhavin tiba-tiba saja bermain di area sana, Revina yang tidak tahan dengan sensasi sakit bersamaan dengan geli juga aneh yang tiba-tiba saja muncul itu, membuat sepasang kaki Revina langsung lemas.


BRUK...


Dan Dhavin yang kembali tersadar dari amarah yang tertahan di hatinya itu, dengan sigap langsung menghentikan tangan kanannya yang berulah, dan tangan kirinya langsung menahan tubuh Revina sebelum benar-benar terduduk di lantai, sehingga saat ini tubuh Revina pun menggantung di lengan kiri Dhavin yang kuat itu.


"M-maaf, aku tadi terlalu emosi." Kata Dhavin, seraya menahan bobot tubuh Revina yang cukup ringan itu.


'Emosi? Yaa..semua orang juga akan emosi jika aku berkata atas keraguanku secara berkali-kali. Ini memang salahku juga, jadi memancing emosinya.' Tunduk Revina.

__ADS_1


Revina yang masih menggantung di lengan kiri Dhavin hanya termenung, merasakan tangan Dhavin yang memang berotot itu.


Dhavin yang melihat Revina diam di lengannya seperti sedang merajuk dengannya, segera menarik tangan kanannya yang tidak sengaja, tadi bermain di area sana, tapi apa yang Dhavin dapatkan, jarinya ternyata ternodai dengan darahnya Revina.


'Apa ini? Kenapa ada darah? Dia baik-baik saja kan?' Takut Revina kenapa-kenapa, apalagi saat ini melihatnya diam, Dhavin berjalan mundur sambil membawa tubuh Revina yang masih menggantung di tangan kirinya, dan langsung membuatnya duduk di pangkuannya secara otomatis.


BRUKK


"Vin...disini sakit?"


'Dia bodoh atau apa? Kenapa harus menepuk punyaku dengan tepukan pelan seperti itu? Kan rasanya jadi aneh, berkedut juga.' benak hati Revina sambil berwajah masam. 'Ini sudah malam, dan dia masih saja menggodaku seperti ini.'


"Sudaha tidak apa-apa kok. Aanti darahnya juga berhenti."


"Tidak apa-apa apanya? Jariku berdarah karena punyamu itu masih terluka kan?" Balas Revina.


"Kalau sudah tahu kenapa menjamah kesana."


CTASS...


'Benar juga, kenapa aku melakukannya? Aku tanpa sadar menginginkannya, atau tepatnya karena tadi aku sempat marah, makannya yang aku pikirkan adalah melakukan sesuatu di sana.' pikir Dhavin. Dia pun jadi merasa bersalah dengan melakukan hal yang tidak baik pada Istrinya yang sedang dalam masa pemulihan. "Coba sini aku periksa."


"Tidak."


"Sini." Dhavin mengangkat tubuh Revina sesaat, setelah itu dia mendorongnya pelan agar Revina berbaring di sofa, lalu kemudian Dhavin dengan sengaja, mengangkat piyama yang dipakai oleh Revina itu ke atas sampai ke pinggang, sehingga saat ini Revina memperlihatkan pangkal pahanya, yang dimana di area sana, celana da*a*mnya itu sudah hampir tembus oleh darah.


"DHavin...ini memalukan. Jangan." Revina menarik lagi ujung piyamany.a


"Akan aku panggilkan dokter."


"Hei DHavin, ini sudah tengah malam, jangan ganggu orang tidur."

__ADS_1


"Itu tugasku, membangunkan orang tidur. Lagi pula aku yang gaji dokter itu, jadi apa masalahnya?" PUngkas dhavin. Masih dalam posisi dimana kedua kaki Revina ada di depan dhavin, saat itu pula Dhavin mengambil handphone nya lalu menghubungi dokter yang dia kenal, tentu saja dia akan memilih Winda sebagai orang yang akan dia bangunkan di tengah malam seperti ini.


__ADS_2