
“Kok tiba-tiba rasanya jadi horor ya?
Mungkin karena aku selalu melihat rumah ini terus am kondisi terang, aku jadi merasakan hal aneh.” Gumam Revina. Tangannya terus meraba isi dari laci itu sampai dia mendapatkan sesuatu yang panjang, benda yang diinginkannya.
Hanya saja ketika tangannya mencoba mengambil barang miliknya, secara tidak sengaja punggung tangannya menyentuh sesuatu yang lain, tepatnya sesuatu yang menempel di langit-langit laci persis.
‘Ini apa?’ Batin Revina
Revina yang penasaran itu, mencoba merabanya dan menebaknya. Akan tetapi Revina tiba-tiba saja ada seseorang yang mendekatinya dari belakang. Oleh karena itu, Revina langsung berbalik dan…
“Siapa?!” Tangan kanannya langsung melayangkan segenggam stick glow in the dark kepada orang tersebut dengan cepat.
PRAKK….
Sosok dari seseorang yang terlihat tinggi juga besar, dimana bayangan yang tercipta akibat adanya cahaya bulan yang menyelinap masuk ke dalam kamarnya lewat tirai jendela, lantas membuat Revina langsung di lahap oleh bayangan tersebut.
“SIapa?! Lepaskan tanganku!” Ronta Revina saat pergelangan tangannya itu jadi sasaran untuknya, karena tangan Revina yang hendak dia gunakan untuk menyerang orang ini, justru berhasil di tangan dengan begitu mudahnya. “Lepas!” Revina semakin berusaha untuk lepas dari cengkraman tangannya.
Sampai beberapa stick glow in the dark yang dia pegang terjatuh dan dua stick yang tersisa itu masih Revina genggam, sampai kekuatan miliknya itu berhasil memecah pelindung yang terdapat di dalam stick itu dan membuat cairan dalam stick tersebut pun bercahaya.
“Apa kau tidak dengar?! Lep-” Revina langsung melayangkan kaki kanannya untuk menendang orang misterius di depannya, akan tetapi perbuatannya itu pun menjadi bumerang untuk Revina sendiri, sebab selain tangan kanannya di tangkap, saat itu pula kaki kanannya juga di cekal.
GREPP…
“............!” Sontak saja Revina langsung kalap, karena tangan dan kakinya sudah ditangkap oleh orang ini.Namun, karena hal itu, Revina pun jadi merintih sakit sebab pergerakan kakinya jadi terlalu lebar. “Akhh….”
“I-itu sakit ya?”
Rasa takut yang dimiliki Revina berangsur-angsur sirna, selepas suara berat milik dhavin menyeruak masuk ke dalam indera pendengarannya. “D-Dhavin? Kenapa kamu?’
“Memangnya aku dikira siapa?”
__ADS_1
Lalu ketika stick glow in the dark itu didekatkan ke wajah pria ini, maka terlihat sudah wajah sebenarnya, yaitu Dhavin Calvaro.
“A-aku kira kamu penjahat.”
‘Instingnya bagus juga.’ Batin Dhavin.
“T-tapi itu sakit..ahw..pelan-pelan.” Protes Revina saat Dhavin menurunkan kaki kanan Revina.
“Maaf, aku membuatmu takut.” Kata Dhavin.
“Hmm…” Dehem Revina tidak puas hati dengan Dhavin yang ternyata adalah orang di balik sosok hitam, misterius dan menakutkan. “Kalau kamu tahu aku takut, kenapa tadi diam saja dan tidak melepaskan tanganku?” Tanya Revina di detik itu juga.
“Lagian, kamu terlihat bersemangat sekali ingin menyerangku. Aku mau bicara, tapi kamu memberikanku kaki, jadi itu masih benar-benar belum sembuh ya?”
“Jelas lah.” Ketus Revina, kembali mendapatkan kekhawatiran dari dhavin sekaligus sebuah godaan setelah tangan dan kakinya di lepas dari cengkramannya. ‘Tapi untung saja gelap, dia jadi tidak melihat tubuhku.’ benak hari Revina.
Akan tetapi Revina yang hendak memungut handuk yang ada di lantai itu, revina justru tiba-tiba saja di peluk.
“Antara takut juga tidak.” Jawab Revina, membalas pelukan hangat dari Dhavin? Tentu saja.
“Jawaban macam apa itu?” Tanya Dhavin.
“Aku tidak takut dengan gelap, tapi aku takut sosok di balik kegelapan.” Jelasnya. ‘Kenapa dia tiba-tiba seperti khawatir sekali aku akan ketakutan karena gelap seperti ini?’ Batin Revina.
Dhavin pun terkesiap degan jawabannya Revinam seakan kalau Dhavin memberitahukan identitas sebenarnya kepada Revina, Revina akan meninggalkannya.
“Lalu bagimu, apakah aku menakutkan?”
“Kadang.” Lirih Revina. ‘Bukan kadang, sebenarnya sering. Apalagi aku sering melihatmu diam-diam pergi meninggalkanku sendirian di kamar. Saat kamu dengan senyap ganti pakaian di dalam kamar gelap, rasanya kamu jadi seperti orang yang berbeda.’ Kata hati Revina yang sebenarnya.
Saat setelah dinyatakan hamil, maka Revina pun jadi tidak bisa melayani Dhavin lagi, dan dari situlah ketika Revina sedang tertidur di bawah kamar yang gelap, Dhavin selalu mengecek lebih dulu apakah Revina sudah tertidur atau belum. Setelah mendapat jawaban Revina sudah tertidur, Dhavin pun perlahan meninggalkannya. Pergi menuju lemari dan mengganti pakaian piyamanya dengan kaos dan jaket ataupun mantel coat berwarna hitam. Di dalam kegelapan kamar itulah, dimata Revina, Dhavin jadi seperti sosok yang lain.
__ADS_1
Masih di dalam pelukannya Dhavin, Revina tiba-tiba saja meminta sesuatu. “Pinjam handphone mu.”
“Untuk apa?” Dhavin mengendus aroma sampo yang dipakai oleh Revina, masih melekat cukup kuat, dan merasa kalau aromanya itu jadi manis.
“Untuk apa lagi? Ini kan gelap, aku kedinginan. biarkan aku pakai baju dulu. Setelah Itu bisa lanjut memelukku.” Jelas Revina.
“Tapi aku bisa menghangatkan tubuhmu itu dengan tubuhku, lebih hangat daripada baju dan jaket yang ada di dalam lemari itu.” Timpal Dhavin. Benar-benar tidak mau memberikan kelonggaran kepada Revina untuk lepas darinya.
“Itu akan menyesakkan.” Celetuk Revina, ingin lepas dari pelukannya Dhavin.
Matanya Dhavin menyipit,”Sesak dalam artian apa itu? Kenapa aku hanya berpikir kalau punyaku makin tidak muat di dalammu itu ya?” Goda Dhavin, mencoba mencairkan suasana.
BLUSH…
Revina sejujurnya sudah tersipu malu, akan tetapi disebabkan sedang dalam keadaan gelap, maka wajah sipunya itu tidak akan terlihat di mata Dhavin.
“Sudahlah…aku kedinginan nig. Aku mau ambil baju.” Revina harus kemabli di sadarkan daripada suasana hasutan manis menuju godaan yang diucapkan oleh Dhavin ini.
Dhavin melepaskan pelukannya, lalu menanggalkan mantel coat kelabu miliknya untuk di pakai oleh Revina sementara waktu. “Biar aku pilihkan untukmu.”
“Aku bukan barbie yang dipili-”
“Shhtt… kamu harus tahu Revina-” Dhavin mengeluarkan handphone miliknya, menyalakan lampu flash dan mulai mencari piyama yang cocok untuk Revina. “Selama satu bulan lebih, aku kesepian tanpamu, kamu pikir rasanya seperti apa coba?”
DEG…
Revina jadi diam membisu, ketika mendengarkan kesepian ternyata benar-benar terucap dari mulutnya Dhavin.
Benarkah Dhavin begitu kesepian tanpa dirinya? Mengingat setiap malam Dhavin selalu pergi dan membuat Revina jadi tidur sendirian dalam waktu yang lama?
‘Kenapa aku masih tidak mengerti dengan sikapmu itu ya?’ Pikir Revina.
__ADS_1