
“Kamu beneran dapat nomornya Revina?” Tanya wanita ini kepada temannya yang ada di depannya itu, dialah yang barusan menelepon Revina sesaat tadi.
“Iyalah. Kamu tidak percaya? Ini nih..lihat, foto profilnya saja pakai wajah jelek dia.” Adel menyodorkan handphone nya ke arah temannya itu dan mengkonfirmasi kalau nomor yang barusan Adel hubungi itu benar-benar milik Revina.
“Ok..ok..aku percaya. Tapi untuk apa kamu menghubungi dia?”
“Apalagi kalau bukan melihat seperti apa penampilan si dekil itu sekarang.” Sindir Adel. Dia sejujurnya hanya ingin melihat seperti apakah nasib dari perempuan miskin yang dulu sempat dia bully. “Apakah setelah disini dia punya kehidupan lebih baik, atau tidak, aku hanya ingin tahu saja. Tahu sendiri kan? Betapa jeleknya dia, sampai aku sendiri tidak tahan untuk menjelek-jelekkannya?”
“Iya sih. Tapi…kenapa kamu sangat posesif sekali membully dia? Itu kan sudah lama, lebih baik ja-”
“Halah~ Kamu ternyata masih saja seperti dulu. Jangan terlalu menceramahiku, nikmati saja apa yang akan aku lakukan kepada si dekil itu.” Pungkas Adel.
Wanita ini pun hanya bisa terdiam, karena dia tidak memiliki kuasa apapun untuk mencegat Adel untuk tidak melakukan hal onar seperti yang dilakukan saat SMP dulu.
Lalu ketika dirinya tidak sengaja mau minum jus jeruknya, tiba-tiba saja Adel memperlihatkan dua butir pil berwarna putih.
“Adel~” Tekan wanita ini kepada Adel, agar tidak melakukan apapun saat Revina datang.
“Ini akan menyenangkan, susah loh mendapatkan obat ini.” Bisik Adel, mengulas senyum kemenangan, sebab di tangannya saat ini ada dua butir obat perangsang. Dan tentu saja dia akan memasukkannya kedalm minuman yang akan di hidangkan untuk Revina nanti. “Harganya juga mahal, jadi tidak boleh di sia-siakan loh.” Imbuhnya, masih dengan nada berbisik.
Cafe lotus, bukanlah sekedar cafe biasa, karena cafe besar itu di bagi menjadi empat tempat secara bersamaan, yaitu bar, restoran, tempat judi, juga tempat karaoke.
Apalagi jika malam sudah tiba, maka Cafe Lotus akan lebih ramai ketimbang pagi sampai sore nya.
Dan sekarang, Adel bersama dengan temannya itu memilih tempat restoran sebagai tempat mereka berkumpul. Adel memilih tempat itu sendiri mengingat Revina bukanlah orang yang akan bersinggah di tempat seperti bar ataupu karaoke, bahkan tempat perjudian. Bagi Revina, tempat itu adalah lokasi paling tabu.
“Hahh…disini memang sangat menyenangkan, coba kita lihat, kira-kira Revina saat ini seperti apa ya?” Ucap Adel pada dirinya sendiri. Karena kemungkinan dirinya akan menunggu lama, maka Adel pun mencoba memainkan handphone nya. Dia membuka sosial media miliknya, terus scroll untuk mendapatkan informasi yang terlihat menarik.
“Hmm…kamu ini benar-benar deh. Aku tidak mau tanggung jawab dengan apa yang terjadi nantinya loh.”
__ADS_1
“Iya..iya, kamu tenang saja. Duduk diam dan makan saja itu, kamu disini itu hanya untuk menemaniku saja.” Cetus Adel.
Sampai di saat dirinya sedang membuka beberapa sosial media milik Revina, dia tidak sengaja menemukan satu akun yang mengikuti akun milik Revina, dan namanya adalah..
“Dev?” gumam Adel. Dia mencoba mencari tahu apa saja yang ada di dalam akun itu, dan ternyata akun sosial media milik Dev itu memperlihatkan beberapa foto punggung milik seorang pria.
Yang pertama adalah foto saat tidak memakai pakaian, dan pria itu sedang berdiri di atas dek kapal menghadap ke laut, yang kedua adalah foto saat baru saja melakukan GYM, yang ketiga foto ketika baru saja keluar dari kolam renang, dan yang terakhir adalah foto saat pria itu memakai setelan jas berwarna putih. Jas putih yang memperlihatkan kalau pria itu seakan akan menghadiri acara formal.
“Wowww…pria ini hebat.” Ketika tangan kanannya sedang memegang handphone, tangan kirinya pun menepuk tangan temannya itu agar sama-sama melihat foto yang baru saja Adel temukan. “Lihat ini.”
“Lihat apa?”
“Ini loh..lihat. Tubuhnya hebat banget. Aku sudah menduga dia ini pasti pria yang kaya raya, aku jadi penasaran dengan wajahnya.” ungkap Adel ketika melihat kembali satu persatu foto yang dia temukan dari akun bernama Dev, yang sebenarnya itu adalah akun pribadi milik Dhavin satu tahun lalu, sebelum Dhavin menikah.
“Ngomong-ngomong, pria ini mem follow akunnya Revina, dan semua foto milik Revina juga di like.”
“Tapi jangan percaya juga, banyak akun yang isinya penipuan. Mana tahu foto yang akun ini unggah adalah foto milik orang lain kan?” Peringat temannya Adel ini.
“...............” Adel pun menarik kembali semua pikirannya tadi tentang punggung seorang pria yang Adel dapat itu, bisa saja memang punya orang lain. “Tapi ini keren loh. Aku jadi ingin bertemu dengannya. Coba aku kirim pesan ke dia ah.” Dengan iseng-iseng, Adel pun membuat pesan singkat lewat akun sosial media Dhavin yang sudah lama Dhavin tinggalkan itu.
__________
TING…
“.............?” Dhavin yang saat ini sedang ada di dalam mobil dengan seorang wanita cantik, tentunya, langsung melirik ke arah handphone miliknya.
“Ada apa bos?” Tanya wanita ini. Karena wanita ini cukup penasaran, maka dia pun memiringkan tubuhnya ke sisi kanan Dhavin.
“Ini akun sosial media milikku yang lama.” Jawab Dhavin.
__ADS_1
“Seperti yang aku duga Bos, foto dari punggungmu itu sepintas langsung menggoda banyak wanita di luar sana.”
Dhavin menaikkan salah satu alisnya, lalu menoleh ke arah wanita yang sedang duduk di sampingnya persis. “Lalu bukannya kamu sendiri wanita? Pasti menyukaiku juga kan?”
“Ya…aku akan jujur saja. Aku memang menyukai Bos, tapi kan Bos sudah punya seseorang. Jadi aku terpaksa membuang hatiku ini Bos, karena itu, nanti bayar aku lebih ya.”
“Heh…masalah uang itu tidak masalah. Urus saja si Adel itu, dan aku baru tahu ternyata yang baru saja chat itu, kebetulan dia juga.” Jelas Dhavin.
“Baik Bos.”
“Eh tunggu..” Dhavin langsung memegang bahu wanita itu agar tidak pergi dulu.
“Ada apa?” Tanyanya, seraya menoleh ke arah samping kiri.
“Aku peringatkan, jaga wajah itu. Maksudku jangan buat onar, kamu tahu maksudku kan?” Ucap Dhavin memberikan peringatan kepada wanita yang saat ini sedang menyamar menjadi Revina, alias Istrinya.
“Aku tidak akan mencemarkan nama baik Nyonya, kecuali….”
Dhavin langsung memberikan tatapan sengit kepada wanita ini. “Kecuali apa?”
“Dari segi apa yang Bos ceritakan kepadaku, yang akan membuat onar dulu adalah dia. Karena itu, aku harus bagaimana membereskannya?”
“Hah…jadi terpakasa pakai itu?” Tanya balik Dhavin.
“Ya…jika tidak pakai itu, sosok dari istri anda ini akan di bully habis-habisan oleh dia. Jadi mau tidak mau, aku harus terkesan…seperti *******, kalau bisa.” Jelas wanita ini, setelah itu senyuman manis yang terukir dan terlihat mirip dengan Revina pun berhasil menyadarkan Dhavin agar melepas cengkraman tangannya dari bahu wanita ini.
“Terserahlah, lakukan hal yang tidak merugikan citra Revina, mengerti?” Tegas Dhavin.
Wanita ini sesaat duduk kembali dan mengulurkan tangan kirinya untuk menepuk wajah tampan milik Dhavin ini.
__ADS_1