Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2

Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2
36 : DBMJCP : Nasi goreng


__ADS_3

KLEK..


Dhavin akhirnya bisa keluar dalam keadaan lega, karena dia bisa mengeluarkan semuanya dengan cukup lancar, walau membutuhkan waktu yang cukup lama.


"Baru tidur?" Tapi satu pertanyaan yang dikeluarkan dari mulut yang baru saja makan satu setenagh piring nasi goreng itu justru bertanya baru tidur?


"Ya. Aku tidak sengaja ketiduran."


"Dengan shower yang menyala sampai lima belas menit itu?" Tanyanya lagi.


"Ya..begitulah, jika bukan karena sesuatu, aku tidak akan ketiduran."Balasnya. "Tapi- " Dhavin berusaha mengalihkan topik pembicaraan mereka dengan menatap satu piring yang sudah kosong itu. "Kamu benar-benar suka itu?" Penasaran lagi dengan jawaban yang sebenarnya sudah di jawab oleh Revina sendiri.


"Iya. Kenapa tanya lagi?"


'Tapi aku yang masak saja sebenarnya belum mencicipinya. Apakah seenak itu, sampai nasi goreng milikku saja sudah hampir habis.' Tatap Dhavin terhadap piring yang saat ini sudah nasi gorengnya tinggal separuh.


"Eh?" Revina yang hendak memakan sesuap lagi itu, tiba-tiba saja tangannya di hentikan oleh Dhavin, dan mengalihkan tujuan dari sendok itu kedalam mulut Dhavin sendiri.


"Nyam~" Satu suapan itu berhasil masuk dan membuat Dhavin membuka matanya dengan sempurna. "Bhwekk..." Dhavin langsung membungkukkan tubuhnya di atas sebuah tong sampah dan memuntahkan nasi goreng miliknya itu.


"Kenapa?" Salah satu alis Revina terangkat.


"Kamu tanya kenapa?! Apa lidahmu bermasalah, asin seperti itu kenapa kamu justru memakan terus? Bilang saja kalau asin, jangan malahan memuji kalau nasi gorengnya enak. Apa kamu tidak tahu, kalau itu juga akan mempengaruhi ASI mu nanti untuk Levine dan Louisa?!" Tanpa sadar mulut Dhavin langsung membebel kepada Revina yang langsung terdiam lagi.


"T-tapi itu memang enak kok." rintih Revina, tiba-tiba jadi takut dengan peringatan yang sedang diberikan oleh Dhavin kepadanya.


"Enak apanya Revina? Bahkan itu cukup asin. Aku saja yang memasaknya akan langsung buang itu ke tempat sampah. Harusnya aku tadi mencicipinya dulu sebelum memberikannya kepadamu. Salah..ini benar-benar salah, sini, jangan makan lagi." Dhavin segera merebut piring yang masih di pegang oleh Revina itu.


Mengetahui piringnya akan direbut, Revina tiba-tiba saja berteriak, "Akkhhh....! Aku hanya ingin makan ini kenapa kamu mengomeliku!"


PRANKK...


Dari pada memberikannya kepada Dhavin, Revina yang emosinya naik itu lebih memilih melempar piringnya ke depan, sehinga sekarang saat ini keadaan lantai pun sudah sepenuhnya kotor dengan nasi yang bereserakan.


KLANG...


Tidak hanya piring, tapi juga sendok yang di pegangnya. Revina pun melempar sendok itu dengan kuat hingga mengenai cermin yang terpajang sebagai hiasan di dinding, dan..

__ADS_1


PRANKK...


"Revina! Aku hanya memberitahumu, apa yang kamu makan apalagi dengn tingkat keasinan yang tinggi itu akan mempengaruhi produksi ASI mu nanti, kasihan kan Levine dan Louisa meminum ASI mu itu?"


"Kan ada susu formula! Berikan saja itu dulu! Kenapa hanya karena ini aku jadi yang disalahkan?!" teriak Revina.


Emosi Revina yang tidak stabil itu pun akhirnya pecah dengan kalimat yang dia ucapkan itu menggunakan nada yang tinggi kepada Dhavin.


Sayangnya Dhavin yang tersulut emosi karena amarah dari Revina pun membuat Dhavin jadi bertindak dan berkata lagi. "Kan itu tugasmu sebagai Ibu, jangan malah menyalahkan aku, di sini aku sebagai suamimu bertugas memberitahumu."


"Diam! Aku tidak mau mendengarnya lagi! Aku tidak mau diceramahi olehmu!" Racau Revina dengan kedua tangan sudah dia gunnakan untuk menutup kedua telinganya.


"Revina!" Dhavin langsung membungkuk dan mencengkram kedua tangan Revina itu.


"Lepaskan! Kamu jahat! Hanya karena nasi goreng kamu memarahiku! Padahal aku memang suka! Tapi kenapa aku harus punya batasan untuk makan apa yang aku suka itu?! Walaupun asin, aku menghargai usahamu mau memasaknya untukku! Memangnya apa salahku ingin makan itu!" Jerit Revina lagi dengan tangisan yang sudah pecah, dan tentunya gara-gara Dhavin lagi dan lagi.


DEG!


Dhavin langsung mematung di tempat, dengan kedua tangan masih mencengkra, kedua tangan Revina yang tidak mau lepas untuk di gunakan untuk menutup kedua telinganya.


Sampai beberapa detik berikutnya, suara pintu tiba-tiba saja terdengar.


Kedua babysitter itu tanpa permisi langsung menarik kedua tangan Dhavin agar menjauh dari Revina.


"Rev-"


"Tuan, anda harus keluar." Pinta Lisa kepada Dhavin dengan berusaha untuk menarik Dhavin agar keluar dari kamar.


"Tuan, pergelangan tangan nyonya sudah memerah, lepaskan cengkraman anda dari tangan Nyonya Tuan." Lusi pula dia bertugas mencoba untuk membantu melepaskan cengkraman tangan Dhavin dari pergelangan tangan Revina.


"Hiks....hiks...." Revina langsung menundukkan kepalanya di atas kedua kaki yang sudah dia tekukke atas, dan terus meringkuk dalam tangisan ynag sudha pecah itu.


"Mari Tuan, jangan ganggu Nyonya dulu." Kata Lisa lagi.


Sekalipun saat ini Dhavin lagi-lagi masih hanya berbalut handuk yang melingkar di pinggangnya, Lisa dan Lusi tidak peduli dengan penampilan milik Tuan nya itu selain berusaha untuk menarik Dhavin keluar dari kamar.


"Revina ak-" Dhavin yang seketika merasakan rasa bersalah itu hendak menggapai tangan Revina lagi, tetapi apa yang bisa dilakukan ketika tubuhnya terasa tidak bertenaga melihat Revina menangis seperti itu?

__ADS_1


Apalagi dengan keberadaan dari Lisa dan Lusi yang punya tenaga sama kuatnya, maka kedua wanita ini pun berhasil membawanya keluar dari kamar Dhavin sendiri.


KLEK.


Setelah berada di luar, Arlsei sudah mempersiapkan pakaian ganti untuk Dhavin. Sedangkan Lisa dan Lusi sudah melepaskan cengkraman mereka dari pada mencengkram lengan Dhavin untuk membuat pria ini keluar dulu dari kamar dan mencoba memisahkan antara Tuan dan Nyonya mereka lebih dulu.


"Ini Tuan." Arlsei menyerahkan satu stel pakaian santai untuk Dhavin.


"Sebaiknya anda jauhi Nyonya dulu. Jika seperti ini, emosi Nyonya bisa saja semakin buruk dan lebih mudah untuk tidak stabil." Kata Lusi memberikan peringatan kepada Dhavin ini.


"Owee...owee....owee...."


"Owee...owee...owee...."


"Kami berdua permisi dulu." Sambung Lusi kepada Dhavin yang masih berdiri mematung di depan pintu kamarnya sendiri itu.


Lalu Lisa dan Lusi pun pergi untuk menangani Levine dan Louisa yang saat ini sedang menangis.


"Tuan, ini ada undangan untuk anda." Arlsei pun menyerahkan undangan dengan amplop berwarna hitam, namun memiliki desain mewah karena di hias oleh tulisan berwarna emas.


Akan tetapi Dhavin tetap menghiraukan Arlsei yang saat ini sedang menyodorkan undangan dari seseorang untuk pergi ke suatu acara milik seseorang, sebab saat ini yang terfokus di dalam pikiran Dhavin saat ini adalah Revina.


Revina yang ada di dalam sana, Dhavin benar-benar ingin sekali minta maaf kepada wanita yang sudah Dhavin buat menangis itu hanya karena nasi goreng?


"Hahaha...." Tiba-tiba saja Dhavin jadi tertawa sendiri mengingat karena perkara di antara mereka berdua saat ini adalah karena asebah nasi goreng buatnnya sendiri .


Dan karena itu pula, saat ini Revina menangis dengan emosi yang lagi-lagi Dhavin buat tidak stabil itu.


Gara-gara apa lagi?


Dhavin sedikit mengomelninya. Itulah yang Dhavin lakukan kepada wanita yang sebenarnya dia sayangi dan dia cintai itu.


Sedangkan Arlsei sendiri, dia hanya diam dengan saja melihat Tuan majikannya itu tiba-tiba jadi tertawa sendiri di depan pintu kamarnya sendiri.


Sehingga saat ini Arlsi pun diam di tempat dengan kedua tangan masih menyodorkan undangan milik sang majikan itu, dan tidak akan pernah dia tarik lagi sebelum sang Tuan mengambil undangan itu dari tangannya.


"Gara-gara nasi goreng, Arlsei, ini sungguh mengeglikan kan?" Tanya Dhavin kepada Arlsei.

__ADS_1


"Entahlah."


__ADS_2