
"Apa yang sedang kalian lakukan disini?" Satu suara yang cukup dingin itu pun langsung menyapu segala pikiran milik mereka semua.
"T-tuan!" panggil pria dengan penampilan setelan jas hitam ini kepada pria yang tidak lain adalah Arlsei.
Dan panggilan dari satu orang itu pun berhasil menyita perhatian sembilan orang yang tersisa untuk melihat ke arah Arlsei yang memang sedang berdiri di belakang mereka semua, seakan sedang mengawasi?
Arlsei memang sedang mengawasi mereka semua!
Karena itu, mereka semua pun langsung berdiri serentak dengan posisi kepala menunduk.
"Kenapa tidak ada yang jawab?" Dengan tampang Arlsei yang memang tidak memiliki ekspresi apapun selain ekspresi datar, Arlsei pun memperhatikan anak buahnya itu satu per satu.
"Dhavin...i-itu jangan! Jangan di gunting!" Satu teriakan lagi kembali keluar.
"Malam ini akan aku gunting semua, biar kamu tidak memakai pakaian da*lam lagi di depanku." Jawab Dhavin tanpa merasa bersalah apapun.
Mendengar suara kedua majikannya itu kembali muncul, Arlsei pun semakin menatap mereka semua dengan lebih dingin lagi, dan langsung mengangkat jari telunjuknya, menggerakkannya ke depan dan belakang, sebagai kode untuk mereka agar segera pergi dari sana dan melakukan pembicaraan di tempat yang lebih aman.
Dan mereka semua langsung berjalan mengikuti Arlsei pergi.
“Akh! Kamu suami mesum!”
“Sudah tahu aku pria sekaligus suami yang seperti ini, makannya jangan sembarangan menolak permintaanku. Kan imbasnya jadi seperti ini?” di dalam kamar, Dhavin dengan entengnya menjembreng pakaian da lam milik Rivina yang baru saja di keluarkan dari laci lemari dan langsung mengguntingnya hingga dua tali itu putus.
“Dhavin!” Teriakan dari nama Dhavin pun kembali mengisi kamar milik mereka berdua.
Sedangkan di kamar yang di tinggali oleh kedua anaknya yaitu Levine dan Loisa.
“Owee…owee….”
__ADS_1
Ketika Levine sedang menangis, merengek sendiri dan membuat Lisa kewalahan,
Maka tidak dengan Loisa. Dia hanya menangis sesaat sebelum akhirnya matanya kembali tertutup, tapi dengan satu tingkah yang membuat Lusi yang sedang menggendong Loisa tersenyum tawar, itu adalah karena Loisa yang sedang tidur, tiba-tiba saja tersenyum.
“Heeee~”
“Lisa…Nona Louisa lucu ya, padahal sedang tidur, tapi bisa-bisanya tersenyum. Jangan-jangan Nona louisa sedang bermimpi indah.
“Kali saja.” Jawab Lisa singkat. Dia terus menggerakkan kedua tangannya dan mengayun-ayunkan tubuh Tuan muda nya itu agar diam.
“Owee…owee…owee..”
“Haduhh..ini Tuan muda kenapa? padahal tadi sudah minum susu sampai ketiduran, berarti artinya sudah kenyang. Shhtt…sshhtt…Tuan, tenang ya. Lihat, Nona Louisa saja tidur, kenapa Tuan justru menangis? Apa ada yang sakit? Atau ingin sesuatu?” Seperti orang gila sendiri, Lisa mencoba membujuk baby kecil yang ada di gendongannya itu agar tidak menangis lagi dan terus berusaha untuk ditenangkan.
“Aduh Lisa, Tuan muda kan belum pup. Mungkin itu sebabnya Tuan merengek. Perutnya pasti mulas ingin pup,” Beritahu Lusi kepada saudaranya itu bahwa alasan Levine menangis adalah karena ingin buang air besar. “Coba kamu posisikan Tuan muda agar bersandar ke dadamu dan tepuk punggungnya.”
Lisa pun mencoba sarannya Lusi, dan tidak berapa lama satu kentut langsung menyebar.
“Hoekk….” Lusi langsung merasa mual sendiri.
“Pfft…” Lusi mencoba menahan tawanya, karena kentut yang di hasilkan oleh Tuan muda Levine cukuplah bau hingga menyebar ke seluruh kamar yang mereka berempat tempati. “Tahan lis, ini konsekuensi jadi babysitter. Nanti juga terbiasa.” Kata Lusi, mencoba menenangkan Lisa yang terlihat begitu tersiksa dengan aroma yang cukup mengganggu indera penciumannya.
“Aku tahu, Aku tidak mempermasalahkan ini, karena kebbetulan aku jadi bisa menggendong Tuan muda manis ini dengan tangannku. Ini merupakan kehormatan besar untukku, sekalian duit yang Tuan berikan juga jadi bertambah tiga kali lipat.” Kata Lisa, dia tidak begitu mempermasalahkan posisinya yang harus menjadi pengasuh, karena dengan begitu penghasilan mereka berdua jadi bertambah banyak.
“Kamu benar, jika seperti ini, bulan depan kita bisa beli pertement. Ini merupakan pencapaian kita yang paling besar karena kita memulai usaha kita dari nol.” Lusi sebagai saudaranya pun mendukung ucapannya Lisa.
Dan mereka berdua pun jadi tertawa sendiri karena mereka benar-benar harus menjadi orang yang profesional, baik di bidang menjadi seorang pengasuh, maupun jadi anak buah Bos Dhavin yang mengharuskan diri mereka berdua untuk jadi pengawal pribbadi dari kedua majikan baru mereka.
________________
__ADS_1
Di rumah Adel.
"Emma, bagaimana? Apa kamu sudah menemukan siapa yang melakukannya?" Tanya Adel sambil membawa gelas mug berisi susu.
Dia membawanya berjalan untuk menghampiri Emma yang saat ini sedang duduk di depan meja makan.
Tapi bukan berarti Emma sedang makan, melainkan sedang menghadapi laptop miliknya dan tengah mencari informasi mengenai apa yang terjadi beberapa waktu lalu dimana di halaman belakang rumahnya, ada tiga orang mayat dalam kondisi yang mengenaskan.
Adel tentu saja tidak peduli itu mayat siapa, karena yang dia pedulikan adalah siapakah yang berani meletakkan mayatnya di daerah rumahnya?
“Maaf Nona, ternyata semua Cctv yang ada di sekitar sudah lebih dulu diamankan.” Jawab Emma.
Adel tentu saja membuat reaksi cemberut karena ternyata ada yang lebih jeli untuk lebih dulu mengamankan dirinya sendiri sebelum ketahuan oleh Adel.
“Kalau begitu gimana a-’
Emma yang masih belum bisa mengalihkan pandangannya dari depan layar laptop, langsung menyela ucapan dari Nona majikannya itu. “Tapi ada saksi mata kalau semalam ada helikopter, jadi ada kemungkinan kalau semalam ada yang datang kesini. Dan Nona jangan mengharapkan apapun pada pelayan baru itu, karena dia sudah saat kita berdua pulang dari pesta, pelayan itu sudah molor dan tidak tahu apapun.”
SLURPP..
Adel menyeruput susu segar yang baru dia seduh itu, lalu membawanya pergi menuju teras samping rumahnya yang berhadapan dengan kolam renang.
“Berarti ini memang benar-benar ada hubungannya dengan Revina itu. Atau jangan-jangan Bos nya itu sangat melindunginya, makannya orang suruhanku itu berakhir pulang tanpa nyawa?”
“Itu adalah pemikiran yang benar Nona.” Dukung Emma atas ucapan Nona Adel barusan.
"Tapi yang jadi pertanyaannya itu adalah siapa? Aku sangat penasaran siapa Bos yang sangat melindungi Revina itu. Karena ini sampai membuat ketiga orang itu mati di gigit sampai mengenaskan seperti itu, dan di tambah, menggunakan helikopter? Emma." Adel yang tadinya melamun menatap ke arah kolam renang dengan air yang berkilau berwarna biru itu, langsung memutar tubuhnya ke belakang dan menghadap ke arah Emma yang sudah berdiri dari tempat duduknya.
"Ya Nona?" Tanya Emma, penasaran dengan reaksi dari Nona majikannya yang terlihat baru saja menemukan sesuatu yang besar?
__ADS_1
"Bukankah menurutmu ini bukannya terlalu berlebihan untuk ukuran orang yang ingin melindungi Revina yang pekerjaannya seorang pelayan? Sampai menggunakan helikopter? Itu sungguh seperti orang yang sedang memberikanku peringatan tertinggi kalau aku tidak boleh-"
"Ya..artinya anda tidak boleh mengusik teman sekolah anda, karena artinya teman Nona yang anda maksud itu berarti memang punya hubungan lebih dekat dari sekedar pelayan pribadi. Itulah pendapat dari saya." Sela Emma, membawa fakta baru dan membuka pikiran Adel, kalau apa yang barusan di katakan oleh Emma memang ada benarnya.