
"Jadi Dhavin, tolong lepaskan aku. Aku sangat ingin menemui mereka berdua." Pinta Revina, mencoba membujuk agar pria yang ada di belakangnya itu melepaskan pelukannya.
"Tidak, jangan dulu. Apakah kamu tidak sadar kalau saat ini kamu sedang demam? Jika kamu pergi, aku takutnya mereka bisa tertular." Jawab Dhavin.
Dia pun benar-benar tidak bisa melepaskan pelukannya, karena saat ini dia sedang berusaha untuk menenangkan sekaligus mencegah Revina yang sedang sakit itu pergi dari pandangannya.
Dia tidak akan membiarkan Istrinya itu berkeliaran di luar hanya karena ingin menemui Levine dan Louisa gara-gara mimpi yang Revina dapatkan tadi.
"Tapi-" Revina semakin mengeratkan cengkraman tangannya kepada lengan Dhavin yang masih memeluknya itu.
Dia sungguh merasa hatinya sakit karena dia mendapatkan mimpi yang cukup buruk dan Revina sungguh tidak ingin hal itu terjadi.
Tapi mau seberapa Revina mencoba untuk menahannya, menahan air matanya, nyatanya dia benar-benar tak kuasa untuk terus membendungnya, hingga akhirnya air matanya yang tertahan itu pun tumpah juga.
Tanpa isak tangis yang biasanya terjadi, Revina justru terdiam sambil menggertakkan giginya agar Dhavin tidka tahu kalau sekarang dirinya sedang menangis.
"Tapi sayangnya, mau di sembunyikan pun, Dhavin tetap saja bisa mengetahuinya.
"Revina, apa kamu menangis?" Tanyanya, dan mencoba membalikkna tubuh Revina agar berdiri sambil menghadapnya.
Karena ketahuan, Revina pun hanya menjawab, "Hmm..." sebagai balasan, karena dia benar-benar merasa lelah untuk sekedar berbicara lagi.
Dhavin yang melihat tubuh Revina lebih pendek darinya saat ini sedang menangis, tangannya pun langsung meraih pinggang ramping Revina dan mendekapnya dalam pelukannya, sambil berkata : "Kalau memang mau meangis, menangis saja. Tidak perlu di tahan."
Mendengar hal tersebut, Revina membalas pelukannya Dhavin dan menangis dalam dia tanpa ada sepatah kata kalimat apa pun lagi yang keluar dari mulutnya.
Sudah seperti itu, Dhavin pun meletakkan tangan kanannya di atas kepala Revina dan mengusap lembut kepala Revina agar perempuan ini bisa lebih tenang.
Revina mencengkram kuat pakaian Dhavin dan terus berada di pelukannya itu untuk menikmati usapan kepalanya.
__ADS_1
___________
"Kenapa? Apakah kamu takut kalah taruhan denganku?" Tanya Visco sambil tersenyum tipis melihat Dhavin palsu yang di perankan oleh Freddy itu sedang diam sambil menatap tongkat billiard yang sedang di sodorkan oleh Visco secara langsung sebagai awal tantangan untuk Freddy.
Seperti yang sudah Freddy pelajari dengan kebiasaan Dhavin saat membuat gerak-gerik dalam menghadapi seseorang yang sangat di waspadainya, maka Freddy pun dengan tenang bisa melakukannya juga untuk menghadapi Visco ini.
"Hanya sederet bola, apanya yang takut?" Kata Freddy, menerima tantangan dari Visco untuk melakukan taruhan dengan cara bermain Billiard.
"Kyaa...! Tuan Dhavin! Ayo, biarkan kemenangan ada di pihak anda!"
"Ayo Tuan Visco, anda juga tidak boleh kalah. Ayo..menangkan taruhan ini."
Sora sorai dari acara pesta ulang tahun itu pun berhasil menambah keramaian yang ada di dalam hotel tersebut.
Dan permaianan Billiard menjadi awal pertandingan untuk mereka berdua agar bisa membuat acara semakin meriah, sekaligus mencoba keberuntungan dengan melakukan sebuah taruhan.
Dan taruhannya adalah siapa yang kalah, maka orang tersebut harus mencium seorang wanita secara acak.
Dari situ Liam langsung melempar koin tersebut ke atas dan saat itu juga, sebelum koin itu terjatuh, Liam lebih dulu menangkapnya dengan menggunakan punggung tangan kirinya dan segera menutupnya dengan telapak tangan kanannya.
Barulah, saat di buka, ternyata koin dari sisi kepala menjadi pemenangnya, yang artinya Visco akan memulai dulu permainannya.
"Aku duluan ya, ini akan jadi permainan yang mendebarkan, ya kan Dhavin?" Lirik Visco terhadap Dhavin yang menerima kekalahannya lebih dulu.
Tanpa basa basi lagi, Visco menyentak satu bola putih ke depan dengan menggunakan tongkat pilihannya, dan setelah itu bola yang menggelinding itu pun menabrak lima belas bola yang sudah terkumpul itu.
CTAK...
Lima belas bola di tambah satu bola putih yang menjadi gacoan, langsung menggelinding ke segala arah.
__ADS_1
Ada dua di antaranya yang langsung masuk, sisanya berada di posisi yang cukup saling berjauhan.
Ketika menyentaknya kembali, Visco kalah, yang demikian permianan akhirnya di mainkan oleh Dhavin juga.
"Apakah Tuan Dhavin bisa memasukkan semua bola itu?" Bisik wanita ini, yang saat ini berada di lantai dua.
Dengan berada di sana, maka permainan bisa di lihat dengan lebih jelas.
CTAK...
Satu bola berwarna hitam dengan nomor tujuh langsung masuk.
"Wah..Tuan Dhavin memang hebat." Puji wanita yang lainnya. Karena dia menyukai Dhavin, maka dari itu dia jadinya mendukung pria tersebut.
Di satu sisi lain, Adel dan Safina sedang duduk saling berhadapan dan kebetulan berada di lantai dua.
"Pakan kamu juga sama-sama tertarik dengan pria dingin itu?" Tanya Safina tidak bisa mengalihkan perhatiannya dari Freddy yang sedang menyamar menjadi Dhavin.
"Kalau sudah tahu, kenapa tanya?" Ketus Adel. Karena kesendiriannya terusik dengan kedatangan Safina yang tiba-tiba duduk di seberang meja persis.
Safina akhirnya mengalihkan perhatiannya untuk menatap Adel ini. "Ternyata kamu punya tujuan yang sama denganku ya?" Tanyanya lagi, dengan sebuah tebakan yang lantas membuat Adel jadi membalas tatapannya Safina yang terlihat seperti memiliki mata yang tahu segalanya itu.
"Apa maksudmu?" Adel jadi mulai waspada dengan Safina ini.
"Kamu sangat menginginkan pria itu kan? Sampai kamu diam-diam ternyata sudah menyiapkan sesuatu yang bisa melancarkan rencanamu. Dan sesuatu itu ada di dalam lipstick mu.
Safina pun menunjuk pada satu dompet yang salalu di pegang oleh Adel, sedangkan di dalamnya memang ada sebuah lipstick, tapi di balik lisptick itu ada satu obat yang memang sudah Adel persiapkan, karena Adel sengaja ingin datang ke pesta yang di adalan oleh kenalan Ayah nya ini, agar Adel bisa menemukan pria yang tepat untuk menjadi korban dalam sebuah jebakannya.
Dan Safina, yang merupakan wanita yang lebih tahu dunia dari pesta yang di adakan oleh kalangan orang kaya, yang diam-diam mebawa pikiran penuh siasat untuk saling menjatuhkan satu sama lain, tentu saja tahu dengan rencananya Adel ini.
__ADS_1
'Dari pada dia yang hanya kenal Visco karena ayahnya kenalannya Visco, aku justru lebih punya kedudukan sendiri di sisi Visco. Dan wanita ini, dia datang kesini hanya untuk mencari kesenangannya sendiri.' Pikir Safina terhadap Adel.