Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2

Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2
111 : DBMJCP : Perjalanan.


__ADS_3

"Nyonya! Semoga sukses!"


"Iya Nyonya! Anda terlihat sangat cantik seperti dewi! Pasti Tuan Dhavin semakin tertarik kepada Nyonya."


"Benar Nyonya, anda jangan khawatirkan Tuan muda dan Nona muda, kami akan menjaganya dengan baik." Kata Lusi.


"Semoga perjalanan anda menyenangkan. Kami akan menantikan kepulangan anda." Ucap Lisa.


Mereka semua sudah berkumpul di lantai satu. Dengan berbagai ekspresi, antara senang bahagia, juga sedih tapi karena bahagia?


Revina kini sudah berdiri dengan gaun pengantinnya, karena inilah hari yang ia tunggu-tunggu. Menjalani kembali, mengarungi kembali nuansa nostalgia yang ia buat dengan Dhavin satu tahun yang lalu.


Aneh, tapi nyata.


Padahal malam tadi Revina sempat di selimuti rasa sedih dan kecewa saat mendengar Dhavin ternyata bersama dengan wanita lain, bahkan soal skandal yang sempat ada di medsos. Semua rasa sakit itu ternyata bisa menghilang dengan sendirinya, dan hal itu berkat mereka semua, para pelayan dan para anak buah Dhavin.


Termasuk dengan Dhavin yang terus memberikannya penjelasan soal kepercayaan, Revina pun jadi tahu bahwa rasa sakit, cemburu, bahkan amarah yang sempat meluap itu adalah bukti tanda dari cinta miliknya kepada Dhavin.


Entahlah...


Semua rasa yang selalu membingungkan itu tetap saja akan selalu ada di dalam dirinya.


"'Nyonya, Tuan pasti sudah menunggu, sebaiknya kita berangkat sekarang." Ucap Arlsei seraya mengulurkan tangan kanannya kearah sang Nyonya, untuk menuntunnya pergi masuk kedalam mobil.


"Semoga sukses ya Nyonya!"


"Kami akan selalu mendukung hubungan Nyonya dan Tuan!"


Revina yang tidak tahu mau berkata apa, hanya memberikan senyumannya di sertai dengan lambaian tangannya kepada mereka semua.


Tentu saja mereka semua juga melambaikan tangannya.


"Oe.."


"Ups..." Sontak semua orang langsung diam untuk tidak membuat kegaduhan lagi, karena mereka hampir saja akan membuat salah satu dari majikan muda mereka bangun dari tidurnya.


"Heeee" Ketika Loisa tadi hampir menangis, Levine justru tersenyum.


"Uwuuu...kenapa Tuan muda seimut ini. Tidakk imut saja, tapi juga tampan." Kata salah satu pelayan, saat melihat senyuman singkat yang tersungging di bibir mungil milik sang Tuan muda.

__ADS_1


"Tentu saja tampan, ini kan anak dari Tuan tampan dan Nyonya cantik, makannya gen nya jadi menurun juga."


Ketika mereka semua langsung teralihkan dengan kedua majikan muda mereka yang tidur tapi bisa memperlihatkan keimutannya, maka Revina dan Arlsei, kini sudah ada di depan mobil yang siap untuk berangkat.


'Dia ternyata bisa lebih rapi lagi. Lihat rambutnya yang klimis, dia terlihat sangat tampan juga.' Puji Revina di dalam hati melihat Arlsei yang sedang menuntunnya, bisa berpenampilan cukup rapi layaknya seorang aktor yang akan menerima penghargaan. 'Dia kan bisa segalanya, bahkan jika jadi aktor pun, dia akan tetap terkenal juga. Wajah memang hal paling utama sebagai cover pilihan menarik.'


KLEK...


Arlsei membukakan pintu belakang mobil untuk mengantarkan Revina masuk kedalam mobil.


'Aku jadi sudah tidak sabar lagi bertemu degan Dhavin. Dia akan berpenampilan seperti apa ya?' Revina mengambil satu ikat bunga yang sudah di letakkan di atas kursi, lalu dia pun masuk kedalam dengan hati-hati.


BRAK.....


Revina yang sudah masuk lebih dulu, melihat Arlsei seperti sedang berbicara dengan seseorang lewat alat komunikasi yang terpasang di telinga sebelah kirinya.


'Ah~ Aku jadi galau. Manusia memang rakus.' Benak hati Revina sambil memandang ikat bunga yang sedang ia pegang itu. 'Mata memang tidak bisa di jaga. Aku masih saja bisa tertarik dengan pria lain.'


Revina pun menghela nafas kasar. Padahal ia belum berangkat, tapi tubuhnya benar-benar lelah karena tegang sekaligus semua proses untuk segala macam hal untuk berhias diri juga membutuhkan banyak waktu.


'Jadi wanita itu melelahkan.' keluh Revina, sampai dia tidak lagi memperhatikan cara duduknya selain duduk dengan sepatu high heels sudah di lepas, kedua kakinya pun di naikkan ke atas kursi dan solonjoran. "Apa kamu ada obat anti mabuk?"


Arlsei yang baru saja masuk, segera mengambil obat anti mabuk perjalanan yang sudah Arlsei siapkan dan di tempel di botol mineral yang ia sodorkan ke arah Revina yang ada di belakangnya.


_____________


DI dalam perjalanan, baru juga jalan sepuluh menit, tapi sayangnya Revina yang tidak kuat jika berlama-lama duduk di bangku penumpang, menyuruh Arlsei untuk berhenti.


"'A-Arlsei, bisakah kita berhenti dulu?" Pinta Revina pada Arlsei, orang yang menyetir mobil untuknya, menjadi supir sekaligus penjaganya.


Tentu saja, menikmati bisa di jaga oleh pemuda tampan memang hal yang menjanjikan untuk Revina. Tapi yang lebih penting dari itu semua adalah mengenai perut dan kepalanya.


"Ada apa Nyonya? Bukankah anda sudah minum obat, seharusnya anda baik-baik saja." Kata Arlsei, masih belum memberhentikan laju mobilnya.


"Iya, tapi rasanya menyeramkan, jika sendirian di belakang. Dan aku lebih leluasa duduk di depan." Jawab Revina. "Walaupun sudah makan obat, rasanya tetap saja pusing ya?" Revina memegang kepalanya.


Bukan sekedar pusing, tapi juga mengantuk. Dan untuk menghilangkan perasaan itu, Revina ingin segera pindah, agar dia bisa melihat jalan dan membuat kesadarannya terjaga.


"Baiklah." Arlsei menuruti kemauan dari majikannya itu.

__ADS_1


Karena Revina saat ini sedang menggunakan gaun, Arlsei pun turun lebih dulu, membukakan pintu untuk sang Nyonya, dan membantunya masuk kedalam mobil kursi bagian depan.


"Ah..., kalau di sini, aku jadi tidak merasa sendirian lagi." Kata Revina dengan perasaan bahagia.


Arlsei hanya menata tingkah majikannya yang terlihat senang hanya karena pindah tempat duduk?


'Mungkin karena biasanya Nyonya duduk di depan, makannya saat di belakang, Nyonya jadi merasa kesepian.' pikir Arlsei.


Yah, lagi pula Revina memang sangat jarang keluar rumah, entah bepergian untuk belanja atau jalan-jalan, baik itu sendirian atau bersama dengan Dhavin, maka dari itu Revina hanya pernah duduk di kursi belakang sebanyak dua kali saja, waktu pulang dari rumah sakit, dan sesaat tadi.


Perlu waktu selama lebih dari dua puluh menit agar bisa sampai ke kota. Karena itu, untuk mencapai jalan lebih besar dan ramai, untuk Arlsei sendiri memerlukan waktu delapan menit lebih sedikit jika dalam kecepatan di atas tujuh puluh kilometer per jam.


Dan salah satu jalan yang harus mereka berdua lewati adalah padang savana yang sebenarnya di peruntukan untuk peternakan kuda dan sapi.


Dari situlah, di tempat yang agak jauh, terdapat orang yang sudah mulai membidik keberadaan dari mobil tersebut.


"Ternyata sapi dan kudanya tidak di masukan dalam kandang?" Tanya Revina secara tiba-tiba.


"Memangnya siapa yang akan berani untuk mencuri sapi dan kuda yang ada di peternakan ini? Semuanya kan milik Tuan sekaligus milik Nyonya." Jelas Arlsei, masih fokus menyetir.


"Ha? Kalau kuda aku pikir, Dhavin memang menyukai kuda. Tapi kalau sapi~ Apakah Dhavin mencoba beternak sapi untuk usahanya? Misal mengekspor daging sapi untuk negara lain?" Tebak Revina.


Arlsei sesaat memejamkan kelopak matanya, lalu tidak lama, Arlsei melirik ke arah sapi yang sedang duduk bergerombol di dalam pagar pembatas. "Tebakan Nyonya salah. Tuan beternak sapi untuk di ambil daging dan susunya. Tapi bukan untuk di jual, melainkan untuk stok makanan khusus untuk anda."


Revina yang baru mendapatkan fakta mencengangkan lain, langsung melongo. Dia melihat ke arah sebelah kiri. Ada puluhan ekor sapi yang sedang tidur, dan bagi Revina, itu cukup banyak.


"Jangan-jangan, susu yang setiap hari aku minum itu, adalah susu segar yang baru di perah?"


"Iya. Setidaknya sebelum di berikan kepada anda, semua terlebih dulu di proses untuk sterilisasi. Jadi termasuk aman."


'P-pantas saja, setiap aku bandingkan dengan susu yang aku minum dari dua kotak yang beda, rasanya sangat berbeda.' Benak hati Revina.


Dan kian waktu berlalu, Revina perlahan merasakan kantuk yang teramat sangat.


"Arlsei."


"Ya, Nyonya?" Sudut mata Arlsei melihat majikannya terlihat jadi melamun. Itulah yang biasanya di lakukan oleh orang yang ingin tidur.


"Apakah obatnya mengandung obat tidur ya? Rasanya aku seperti mau mati, jika aku tidak tidur sekarang." Gumam Revina. Rasa semangat yang beberapa waktu lalu masih ada, sudah menghilang karena ia sudah merasa ngantuk sekali.

__ADS_1


Arlsei awalnya terdiam sesaat, lalu menjawab : "Kalau begitu, anda tidur saja lebih dulu. Jika sampai, saya akan membangunkan anda."


"Ok, lah." Dan Revina pun tertidur tanpa memandang situasi yang sebenarnya. Sebab, setelah Revina tertidur dengan bersandar ke jendela, di sisi lain, seseorang sudah menarik pemicunya.


__ADS_2