
Dua puluh menit sebelumnya.
"Hmm...kelihatannya aku semakin tampan." Puji Dhavin pada dirinya sendiri sambil mengendarai mobil miliknya untuk pergi menuju lokasi tempat dia akan menjalani kencan pertamanya dengan Revina.
'Ya, aku kan memang terlahir tampan untuk Revina, jadi aku harap nanti saat dia melihatku dia jadi semakin menyukaiku.' Kata hati yang terdengar gila.
Sampai setelah Dhavin sadar kalau isi hatinya terus saja berkata Revina dan berharap ini dan itu kepada wanita itu, Dhavin tersenyum geli.
'Hahaha..., orang-orang sudah pasti menganggap aku pria yang posesif kepada Istrinya.' Pikirnya lagi. "Tapi- mau bagaimana lagi? Kenyataannya aku memang sudah di butakan oleh cinta." CIbir Dhavin kepada dirinya sendiri.
Karena lokasinya sedikit jauh, Dhavin tentu saja sudah memperkirakan waktu yang ia tempuh paling tidak lima belas menit, jika jalan raya sedang tidak dalam kondisi ramai.
Tapi jika sebaliknya, maka itu akan membutuhkan sampai antara dua puluh menit sampai tiga puluh menit.
Tapi kira-kira bagaimana caranya agar ia mendapatkan jalan eksklusif miliknya?
-"Tuan, saya sudah meretas semua lampu lalu lintas di kota, anda hanya tinggal jalan saja, karena jalan yang anda lalui sudah di pastikan bebas hambatan."-
Suara milik Lisa itu menjadi tanda kalau sekarang jalanan kota itu akan jadi miliknya sepenuhnya.
Karena apa, sebab di sepanjang jalan, semua rambu lalu lintas, hanya berwarna hijau, khusus untuk jalan yang Dhavin lalui.
"Kamu sangat membantu, Lisa. Aku mengucapkan terima kasih. Jaga levine dan Louisa dengan baik selagi kami tidak di rumah." Kata terakhir Dhavin sebelum dia memutuskan panggilannya.
-"Iya Tuan, saya akan menjaga Tuan dan Nona muda dengan baik."- Jawab Lisa.
Dan ketika sambungan telepon itu tertutup, Dhavin kembali melanjutkan perjalanannya dengan kecepatan yang lebih tinggi.
BRRMMM.......
_________________
Dan seperti yang di harapkan oleh Dhavin, tepat di petang hari, Dhavin sudah sampai di lokasi dengan perjalanan yang cukup lancar?
BRAK..
"Bos, ini bunga nya." Salah satu anak buah Dhavin datang sambil menyerahkan buket bunga mawar berwarna merah yang cukup besar.
Dhavin menerima bunga mawar itu dan menatapnya dengan tatapan penuh makna.
__ADS_1
"Kalian sudah bekerja dengan keras." Membawa buket bunga itu bersamanya, Dhavin berjalan pergi menuju lokasi.
"Semoga acaranya sukses Bos. Kamu undur diri untuk berpatroli." Jawab laki-laki berpakaian jas lengkap ini.
Untuk pergi ke tempat tujuannya, dia harus lebih dulu sedikit masuk kedalam hutan. Salah satu caranya adalah dengan melewati jalan setapak, yang mana jalan setapak itu sudah di hiasi deretan lampu di sepanjang jalan.
TAP...TAP....TAP......
Setiap langkah yang Dhavin ambil itu terus menjadi penentu jalannya waktu untuk dirinya lagi, untuk menemukan sesuatu yang menanti di depan sana.
Satu tahun.
Itu bukanlah waktu yang singkat sebagai orang yang sudah menjalani kehidupannya dengan seseorang yang Dhavin cintai.
Walaupun terasa singkat saat mengetahui kalau di hari ini adalah hari ke 365 hari mereka menjalin cinta di atas status perkawinan, tapi ternyata itu bukanlah waktu yang mudah untuk di lalui.
'Aku benar-benar sudah tidak sabar lagi, melihat dia muncul dengan gaun pengantin barunya.' Hati yang sudah terselimuti apa yang namanya cinta membuat Dhavin sudah tidak memiliki kesabaran untuk menunggu lagi.
Baginya, satu jam saja terasa seperti sepuluh jam. Dan karena Dhavin sudah melalui sembilan jam di luar, maka bagi Dhavin itu sudah setara dengan setengah minggu.
Sebuah kalung yang sempat ia dapatkan dari acara lelang akan menjadi hadiah utama yang akan Dhavin berikan kepada Revina. Karena dia tidak ingin hasil jeri payahnya di buang sia-sia karena Dhavin tahu bahwa Revina lebih suka dengan segala macam barang elektronik, setidaknya ia ingin memberikan kalung arti cinta miliknya kepada wanita itu.
PAK.
Dhavin menutup kembali kotak perhiasan itu dan kembali menggenggamnya di tangan kanannya, sedangkan di tangan kirinya, dia memeluk buket bunga mawar yang cukup besar itu.
Berharap kalau malam ini akan menjadi momen pertama yang bisa membuat mereka berdua semakin dekat.
'Revina~ Aku harap kamu bisa cepat sampai.' Benak hati Dhavin dengan senyuman tulus tersungging di bibirnya.
Dan Dhavin pun terus berjalan menuju tujuan utamanya.
_____________
DORR....
DORR...
__ADS_1
Tembakan terus saja terjadi. Target yang menjadi incaran dari dua orang bersenjata yang ada di belakang mobil yang di kendarai Arlsei tentu saja adalah sang Nyonya, yaitu Revina yang kini masih tertidur dengan nyenyak, padahal di samping itu semua Arlsei benar-benar sedang berusaha untuk melindunginya.
DOR....!
DOR..!
"Hahah...dia sendirian. Rasakan itu!" Ucap Cio dengan girang, karena dia akhirnya bisa menembak dengan bebas tanpa ada yang menghalanginya. Tentu saja karena semua halangan yang sudah di antisipasi oleh Arlsei sudah di singkirkan,
"Tuan Visco ingin wanita yang ada di dalam mobil itu tetap hidup, jadi kamu harus perhitungkan juga jika menembak mobil itu."
"Ya, tanpa di beritahu olehmu, aku bisa melakukannya. Seperti-" Dengan senyuman Devil nya, Cio mengganti senjata kecil miliknya dengan senjata laras panjang.
Degan bantuan kacamata khusus yang bisa digunakan untuk membantunya melihat dalam kondisi kegelapan, dia mencoba membidik ban mobil di depan.
"Seperti ini. Ayo kita lihat, bidikanku ini pas atau tidak ya?" Perlahan Cio menarik pemicunya.
'Mereka gigih sekali.' Detik hati Arlsei saat ia melihat penjahat yang ada di belakangnya sudah mengeluarkan senjata yang lebih mematikan dan cukup akurat, karena biasa di gunakan untuk seorang sniper.
Arlsei yang masih saja tidak memperlihatkan emosi miliknya sekalipun dia ada di bawah tekanan oleh beberapa anak buah Visco, akhirnya dia menggunakan fitur auto pilot. Yang mana fitur tersebut bisa membuat mobil jalan sendiri tanpa memerlukan dirinya.
Setelah Arlsei menyalakan fitur tersebut, kaca dari atap mobil terbuka.
"Tapi memangnya hanya kalian saja yang mempunyai senjata besar seperti itu?" Gumam Arlsei. Tanpa basa-basi, kotak kado yang sempat di letakkan di kursi penumpang itu Arlsei buka.
Lantas apa yang ada di dalam kotak itu, Arlsei langsung mengambilnya dan merakit senjata itu dengan cepat sehingga membentuk senjata laras panjang juga.
"Aku juga punya." Ucap Arlsei lalu mengeluarkan senjata itu ke lewat atap mobil, dan seketika Arlsei langsung mengarahkan senjatanya itu ke belakang dengan bidikan pada satu mobil yang terus saja mengikutinya.
Arlsei menundukkan kepalanya, tanpa bantuan dengan kacamata khusus, sebab di bagian teropong yang terpasang di senjata itu juga ada fitur penglihatan malam, maka tanpa membuang waktu lagi Arlsei mulai membidiknya.
TUK...TUK...TUK.....
Jari telunjuk Arlsei yang lentik itu terus mengetuk bagian pemicunya, mencoba menyesuaikan arah angin, suhu, dan waktu yang tepat.
'Aku adalah peluru.' Kata hati Arlsei. Dengan wajah datarnya itu, salah satu matanya terus tertuju untuk melihat lubang dari selongsong senjata milik musuhnya. 'Aku..adalah peluru.' Kata hati yang terus di ucapkan itu menjadi pemandu hati Arlsei untuk menembak dengan tepat.
Tepat sesuai dengan bidikannya, Cio dan Arlsei pun sama-sama menarik pemicunya.
Dan ....
__ADS_1