Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2

Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2
22 : DBMJCP : Mempermainkan


__ADS_3

Setelah mengatakan puas, sebagain tanda akhir dari rasa protes miliknya dari Revina, Revina pun akhirnya melepaskan kedua tangannya dari wajah tampan milik Dhavin.


Setelah itu, Revina langsung mengalihkan pandangannya kepada kedua anaknya itu.


Selagi Revina mata dan pikirannya teralihkan dengan Levine dan Loisa, Dhavin melirik kearah dua babysitter itu.


Terlihat merkea berdua sedang berusaha untuk menyembunyikan senjata mereka berdua di dalam celemek yang mereka berdua pakai.


'Lisa dan Lusi, mereka berdua adalah dua orang yang tidak sengaja aku temukan di bawah kolong jembatan. Aku memungut mereka untuk bekerja di dalam markasku.


Karena kebanyakan anggota mafia adalah pria, mereka berdua adi aku tempatkan di dapur. Aku meletakkan mereka berdua di sana agar mereka tidak terlalu menonjol, kalau sebenarnya mereka adalah mantan atlet taekwondo yang terlupakan.


Dengan begini, disamping mereka bisa mengurus Levine dan Louisa, maka bakat mereka juga tidak sia-sia. Hahaha...aku memang pintar. Melihat LIsa dan lusi hari ini mampu bekerja dengan baik, aku jadi bisa tetap memperkerjakan mereka disini sebagai penjaga kedua anakku.' Setelah itu, Dhavin kembali memperhatikan Revina yang saat ini sedang memberikan Asi kepada Louisa yang hampir merengek itu. 'Karena dengan begini, aku kan jadi bisa berduaan dengan Revina.' Dhavin pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan pemikirannya tadi.


Hanya saam kembalikepada kenyataan yang ada!


Dhavin melihat di lemari ada satu kain putih yang terjepit dan juga ada noda darah, secaa Dhavin langsung memberikan kode untuk Lisa dan Lusi agar segera memindahkan mayat itu.


"Keluarkan dan pindahkan itu." Kata Dhavin tanpa suara.


"............" LIsa dan Lusi saling pandang sat u sama lian, setelahnya, mereka berdua mengangguk untuk melaksanakan perintah dari Dhavin..


"Owee...owee..."


"Levine menangis. " Revina jadi sedikit sulit sendiri karena dirinya juga sedang menggendong Loisa. "


"Nyonya..sepertinya Tuan Levine ingin di gendong oleh Tuan." Perintah Lisa, memancing Revina agar menyuruh Dhavin ikut menggendong dan menenangkan Levine.


"Dhavin, coba kau gendong dia lagi." Perintah Revina sesuai dengan skenario.


"Mari Tuan, biar saya bantu." Lisa sesaat menyerahkan pisau belati kepada saudaranya, lalu berjalan menunju tempat tidur milik Levina. Lisa menggendongnya dan menyerahkan bayi kecil itu kepada Dhavin yang sudah ada di samping Revina.


"Owee....owee....owee...." Tangisan bayi itu masih berlangsung.

__ADS_1


"Shhtt...Levine tidurlah lagi." Ucap Dhavin dengan rasa aneh, karena sendirinya tidak tahu apa yang harus dia ucapkan.


"Pfftt...." Revina, Lisa dan Lusi langsung menahan tawa mereka karena pria jangkung yang terlihat seperti beruang dan hanya mengerti segala hal kasar, tiba-tiba jadi bertingkah seperti orang gila.


"Apa kalian barusan menertawakanku?" Dhavin langsung menyela gelak tawa mereka bertiga yang masih beru saja di tahan.


Mereka bertiga langsung bungkam setelah mendapatkan tatapan sengit dari DHavin.


"Owee...owee..."


Dhavin mengerutkan keningnya, melihat Levine kembali menangis. 'Yang benar saja, aku tidak boleh memberikan mereka peringatan?'


Dhavin segera memejamkan matanya dan kembali memberikan ayunan kepada Levine yang tadi menangis.


Namun ketika tangisan itu sudah reda, "Hee...." Tiba-tiba saja wajah kecil dari anak laki-laki Dhavin, di dalam tidurnya itu, Levine tersenyum lebar!


Sampai Revina, LIsa dan Lusi langsung terkesiap melihat ekspresi Baby levine yang baru saja tersenyum cerah setelah berhasil mempermainkan suasana hati DHavin.


"Oweee....oweee...


Revina dengan buru-buru memposisikan kembali buah dadanya agar bisa sampai di mulut Louisa.


Dan Dhavin harus menangkap momen itu, sehingga mata Dhavin pun benar-benar tidak dapat teralihkan untuk tida menatap apa yang sedang revina berikan kepada Louisa.


'Kenapa dia menatapku seperti itu? Mesum.' Revina segera berbalik untuk memunggungi Dhavin.


"Sini dong, kenapa memunggungiku?" Tanya Dhavin seolah tidak mengerti.


"Lagian tatapan matamu itu sedang kearah kemana?" Cicit Revina.


"Aku sedang menatap anak perempuanku sendiri, kenapa? GR ya? Kalau aku sedang memperhatikan asetmu?" Goda Dhavin sambil membungkuk untuk berbisik di telinga Revina persis.


BLUSSH....

__ADS_1


Revina berjalan satu langkah ke depan demi menjauhkan diri dari hasutan paas dhavin.


Dhavin terkekeh melihat reaksi Revina yang masih saja mudah untuk di goda. "Dari pada berdiri terus, kita duduk di sana saja." Bujuk Dhavin mengajak Revina keruang sebelah yang kebetulan masih satu ruang dengan kamar Levine dan louisa.


"........... " Karena pada dasarnya Revina memang lelah jika berdiir terus samil menggendong Louisa, Revina pun mengiyakan ajakan dari Dhavin.


Dhavin tersenyum lembut, karena Revina mau menuruti ajakannya.


Dikarenakan Revina berhasil di bujuk untuk ke kamar sebelah oleh Dhavin, maka Lisa dan Lusi pun menjadikan hal tersebut sebagai kesempatan untuk mereka berdua memindahkan mayat yang tersimpan di dalam lemari pakaian.


KLEK..


Setelah dikeluarkan dari lemari dan menggotong mayat itu secara bersamaan, mereka langsung di datangi oleh Arlsei i pria bertembok muda, berwajah tampan sebelas dua belas dengan Dhavin.


"Kalian-" Arlsei sedikit menoleh ke arah samping kiri, dimana ada lima anak buahnya yanng sudah berbaris di belakangnya persis.


"Ya Tuan?"


"Bawa mayat itu ke gudang belakang juga, sisanya langsung bersihkan apapun yang terlihat kotor, dan jangan samai tercium bau darah lagi, karena di hidungku, aromanya cukup menyengat." perintah Arlsei kepada pasukan yang dia bawa.


"Baik." All


DUa orang mengambil alih mayat yang hendak di bawa Lisa dan Lusi, ke empat orag yang tersisa itu segera membersihkan noda darah yang sempat menetes di lantai.


Setelah melihat ke empat oang itu bekerja, maka saat ini yang Arlsei lakukan adalah "Lisa, Lusi, " Panggil Arlsei kepada babysitter berwajah kembar ini.


"..........?" Lisa dan Lusi sama-sama menatap satu pria di depannya itu.


"A..." Sayangnya Arlsei hanya mengatupkan mulutnya, "Teruslah waspada, jaga Tuan dan Nona muda." Setelah berkata demikian, Arlsei langsung meninggalkan mereka yang sedang dalam kondisi ekspresi bingungnya.


"Sebenarnya Tuan Arl mau mengatakan apa?" Tanya LIsa kepada kembarannya.


"Hmm..." Lusi hanya mengangkat kedua bahunya tidak tahu.

__ADS_1


__ADS_2