Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2

Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2
163 : DBJCP : Ketahuan


__ADS_3

"Tidak, tunggu..jangan lakukan itu disini."


"Apa kau malu?" Tanya Dhavin, jari-jemarinya yang begitu lentik itu menggesek area sensitif milik Revina. "Ini rumahku, mereka otomatis langsung pergi jika sudah tahu apa yang aku kode kan pada salah satu pelayanku. Jadi kau tidak perlu khawatir." Imbuh Dhavin.


Revina menatap wajah Dhavin yang kini mangkrak di atas wajahnya persis. Tidak ada penghalang apapun di antara mereka saat ini, membuat segala sentuhan yang mereka berdua dapatkan langsung mereka rasakan saat itu juga.


"Ya, tapi-" Revina melirik ke arah pintu jendela yang ada di samping kanannya di depan sana.


Kaca yang tadinya bening, sudah berubah jadi gelap.


Dan ketika satu sentuhan milik Dhavin, dimana salah satu jari itu bermain di bawah sana dan mulai menyusup masuk kedalam, di saat itu juga Revina membelalakkan matanya bersamaan dengan de*sahan yang hilang timbul.


"A-ah~ D-dhavin, berh..henti ahh!" Sayangnya apa yang di inginkan Revina kepada pria yang ada di atasnya itu sama sekali tidak di gubris, dan malahan terus bermain di sana, membuat rasa panas yang kian Revina rasakan itu, segera menyapa kedatangan ujung jari Dhavin yang ada di dalam dengan sebuah ca*iran bening yang hangat.


Padahal di samping itu, Revina sedang merasa ada satu ancaman yang sedang mendatangi mereka berdua.


'A-ada orang di luar, tapi Dhavin ini, uh.., dia saking terlenanya, apa dia tidak bisa waspada dengan sekitarnya?'' pikir Revina mulai cemas.


"Ada apa sayang, kenapa kau malah terus menatap ke arah sana?" Dhavin yang tidak suka lawan bicaranya tidak menatap matanya, tentu saja Dhavin segera mencengkram wajah Revina agar tidak menoleh lagi.

__ADS_1


"D-Dhavin itu...di ..luaahh~" d*sa*an miliknya pun keluar dari mulutnya lagi. 'Menyebalkan! Di luar ada orang!'


Tapi karena tubuhnya benar-benar sensitif dengan sentuhannya Dhavin, Revina pun tidak bisa mengeluarkan kata-kata yang ingin ia ucapkan untuk memberitahu Dhavin.


"Hm? Luah apa Baby?" Bisik Dhavin dengan nada penuh menggoda, tepat di samping telinganya Revina.


Revina bergidik ngeri, padahal dirinya bukan bayi, tapi Dhavin malah membuat kalimat yang menyebalkan untuknya.


"Di uahh~!" Revina sontak langsung memejamkan matanya ketika jari itu benar-benar keluar masuk sembarangan tanpa ada aturan, membuat Revina akhirnya langsung menggelinjing nikmat.


Dan Dhavin sendiri, saat melihat itu jadi tersenyum puas, karena ia bisa menikmati pemandangan yang sudah lama tidak ia lihat.


Membuat gerakan lekukkan tubuhnya dengan begitu eksotis, semakin menjadikan Dhavin merasa bertambah gila.


"Jangan mengatakan it- angh~ D-Dhavin..., be...berhenti." Pinta Revina dengan wajah sudah putus asa. Dia lemas, sentuhan yang ia dapatkan dari jari jemari nakal suaminya itu benar-benar sukses untuk membuat Revina merasakan lagi sesuatu yang akan keluar dari sana.


"Kenapa aku harus berhenti? Ini baru permulaan, bahkan ini baru pemanasan untukmu." Jawab Dhavin, tidak bisa menghilangkan senyuman yang di penuhi dengan semangat yang membara, baik di hati, jiwa, mupun raga.


Semuanya, semua yang ia rasakan adalah hasil dari transferan Revina yang begitu menggoda untuk Dhavin sendiri.

__ADS_1


Senyuman cerah dangan rona pipi dan telinga yang benar-benar menghias wajahnya itu, semakin membawa Dhavin ingin terpancing lebih dari sekedar bermain dengan jarinya saja.


"Tapi di...di luarh~"


"Diluar kenapa?" Bertanya lagi, tapi di susul dengan jilatan lidah terhadap telinga Revina. "Kamu mau kita melakukannya di kolam renang? Apa itu maksudmu?"


Revina menggeleng dengan kuat, lalu dengan putus asanya, Revina mencengkram lengah Dhavin dengan begitu kuat ketika tubuhnya benar-benar berada di titik puncak kenikmatannya.


"Kalau bicara yang benar dong, aku kan jadi susah menebaknya."


"Di luar, l-luarmphh!" Teriak Revina, sampai ia yang tidak kuasa menahan diri untuk orgasme sendirian, langsung menggigit bahu Dhavin.


"Shh...!" Desis Dhavin merasa sakit.


Tapi di saat itulah, tiba-tiba saja pintu jendela tersebut terbuka.


KLEK....


"Saya yakin, kalau Tuan sedang tidur. Makannya tid-" Kata-kata yang sempat keluar dari mulutnya Arlsei seketika langsung menghilang bersamaan dengan ekspresi wajah Arlsei yang begitu datar, tapi terselip rasa terkejut yang bisa Freddy lihat, setidaknya itu untuk pertama kalinya.

__ADS_1


"Kenapa kau berhenti bicara?" Freddy yang bingung melihat Arlsei tiba-tiba saja mematung, membuat Freddy terpancing untuk melihat apa yang ada di depannya.


"Kalian berdua, keluar dari sini!" Pekik Dhavin dengan wajah penuh amarah, sampai Revina yang ada di bawahnya persis, segera menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya.


__ADS_2