Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2

Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2
21 : DBMJCP : Puas


__ADS_3

Berhasil membuat Dhavin berbalik, Revina pun balik badan juga, lalu melepas mantel coat pemberian Dhavin tadi, dan setelah itu dia pun kemudian memakai satu persatu pakaiannya. 


Di tengah kesibukan Revina, Dhavin yang sempat mengintip untuk beberapa saat pun berpikir : ‘Tadi itu hampir saja. Aku harus memindahkan postol itu dari sana, sebelum Revina menemukannya.’ 


Biarpun begitu, saat ini Dhavin pun tidak boleh tinggal diam dengan sesuatu yang sedang terjadi di depan pintu persis. 


-”Tuan, saya sudah memperbaiki listriknya.”- Ucap Arlsei di ujung telepon yang sedari tadi terus tersambung dengan Dhavin. 


-”Biarkan dulu.”- Dhavin menjawabnya dengan nada yang cukup lirih. 


Untungnya karena sedang dalam kondisi gelap, Revina pun tidak menyadari kalau saat ini telinga kanannya sebenarnya sedang menggunakan headset nirkabel, dan sedang melakukan panggilan bersama dengan Arlsei.


Revina yang masih belum menyadari tingkah Dhavin yang saat ini, membuat Dhavin akhirnya kembali waspada. 


Dhavin memicingkan matanya, lalu menarik senjata yang sebenarnya tersimpan baik di sarung pistol yang mengikat di paha kanannya. Dengan peredam suara yang sudah terpasang tepat di moncong pistol, Dhavin pun dengan segera mengangkat tangannya ke depan, tepatnya adalah ke arah pintu kamarnya, dimana Dhavin dengan sengaja tidak menutup pintunya. 


Sampai akhirnya tanpa basa basi lagi, Dhavin menarik pemicunya. 


PHIU..


“.........!” Revina yang sedikit terkejut itu buru-buru memeluk Dhavin dari belakang seraya bertanya, “Suara apa itu tadi?” 


Dhavin yang tiba-tiba saja di peluk dari belakang, cepat-cepat meletakkan kembali senjatanya ke tempatnya. ‘Fyuh..dia ternyata masih saja terkejut, untung saja aku tidak meletakkan pistolku di belakang pinggangku, kalau iya…dia akan protes, kenapa aku punya pistol, pasti itu yang langsung dia katakan kepadaku.’ demi tidak mendapatkan kecurigaan karena terlalu lama menjawab pertanyaannya Revina, Dhavin langsung membuat alasan, “Aku pikir ada salah satu lampu yang pecah. Maklum, aku yang biasanya menyuruh mereka menggantinya dengan rutin, aku terlambat memberitahunya.”


Alasan konyol yang tidak berdasar, hanya itulah yang sempat terpikirkan di kepalanya itu. 


“Begitu ya? Tapi aku khawatir dengan Levine dan Louisa, temani aku ke kamarnya ya?” Pinta Revina. 


“Baiklah, aku akan menemanimu.” Jawab Dhavin. Padahal arti lain dari ucapan yang baru saja Dhavin katakan adalah..


‘Kalian cepat bereskan.’


Dengan panggilan telepon yang masih terhubung dengan Arlsei, Arlsei yang berada di suatu tempat, memberikan pesan kepada beberapa anak buahnya, agar segera pergi ke depan kamar Tuan nya itu. 


*


*


Dan dalam sekejap mata, beberapa anak buah Arlsei, sudah tiba di lokasi.


“Cepat seret dia. Lalu bersihkan itu.” Ucap satu orang ini kepada ketiga temannya, agar seorang pelayan yang baru saja Dhavin tembak barusan segera di bawa pergi. 


“Ok.” Ketiga orang ini memberikan jempol mereka sebagai jawaban pasti.


Setelah mayat pelayan itu sudah berhasil di seret pergi, tidak…tapi membawanya dengan tandu dan membawanya pergi dari sana, dua orang lainnya bertugas untuk membersihkan lantai yang terkena darah dari mayat pelayan tadi.

__ADS_1


Seperti di pel, lalu dikeringkan, setelah lantai marmer harga selangit itu benar-benar kering, mereka menyemprotkan cairan khusus agar tidak tercium aroma amis dari darah manusia tadi. 


Dan dalam waktu yang terbilang singkat itu, mereka pun berhasil menyelesaikannya dengan cukup cepat. 


-”Tuan, mereka sudah membersihkan seluruh area.” Kata Arlsei.


Sudah mendapatkan konfirmasi dari Arlsei mengenai kondisi di luar kamar, Dhavin pun akhirnya mengajak Revina keluar untuk menemui Levine dan Louisa.


“Mereka tidak menangis ka nya?” Tanya Revina merasa khawatir kepada Levine dan Louisa.


“Saat aku masuk ke rumah, aku tidak mendengar mereka berdua menangis,” Jawab Dhavin. Dhavin terus menuntun Revina keluar dari kamar.


KLEK..


Beberapa orang yang tadinya berdiri di dekat pintu, salah satu diantara mereka memberikan kode pada teman-temannya untuk segera pergi dari sana. 


“............” Ketiga orang ini mengangguk, dan dengan langkah senyap, mereka berjalan menjauh dari depan kamar milik majikan mereka. 


Dhavin sempat melirik pada anak buahnya yang baru saja pergi, dan saat ini salah satu diantara mereka memberikan tanda acungan jempol, bahwa semuanya sudah beres. 


Setelah membuat konfirmasi kepada majikannya, mereka pergi dari sana, dan Dhavin kembali memperhatikan Revina yang saat ini sedang berjalan di sampingnya. 


‘Padahal aku sudah membereskannya beberapa kali, kenapa mereka semua masih punya nyali untuk datang ke tempatku terus? Mereka ini…benar-benar mengincar Revina ya?’ Dhavin sekilas menutup matanya.


KLEK..


Tanpa memperdulikan mereka berdua yang saat ini memberikan sambutan, Revina justru sedang mendongak ke atas, sebab : “Ternyata disini masih terang? Eh..Dhavin, kenapa kamar ini terang, sedangkan di selain disini gelap?” Tanya Revina saat itu juga. 


“Bukan hanya disini. Tapi listriknya memang sudah kembali menyala. Arlsei pasti baru saja memperbaikinya.” Sahut Dhavin. 


“Arlsei? Dia bisa memperbaiki listrik rumah ini?” 


“Apa?” Dhavin langsung menoleh ke arah istrinya itu. “Apa kamu terkesan dengan kemampuan yang dimiliki oleh Arlsei?”


“Iya lah…tanpa perlu memanggil petugas listrik, dia ternyata punya bakat seperti itu.”


“Apakah kamu menyukainya?”


“Iya.”


“Lebih daripadaku?”


“Mana mungkin.”


“Lalu apa-apaan dengan ucapanmu tadi? Kenapa di telingaku terkesan kamu menyukai dia?”

__ADS_1


“Apakah kamu cemburu?” Satu pertanyaan disamping tatapan mata penuh ingin tahu langsung tertuju kepada Dhavin Clavaro. “Aku menyukainya, karena dia selain hebat, tampan, punya segala kemampuan. Aku hanya memujinya, karena dia mau bekerja disini, padahal um-”


CUP…


“Revina..” Panggil Dhavin dengan nada penuh penekanan. “Jangan sekali-kalinya memuji pria lain di depanku.” Tegas Dhavin, memberikan peringatan langsung kepada Istrinya yang terus saja memberikan Arlsei bumbu pujian. ‘Padahal aku lebih hebat, kenapa kamu memuji anak bau kencur itu?’ Kernyit Dhavin, tidak puas hati dengan ucapan dari Istrinya yang terkesan menjunjung tinggi Arlsei, yang notabene nya adalah seorang anak buah sekaligus pelayan pribadi milik Dhavin Calvero.


Baru mendapatkan satu peringatan dengan sebuah kecupan, yang mana hal itu berhasil membungkam mulut Revina yang terus membicarakan Arlsei, tanpa pikir panjang juga, reaksi Revina yang awalnya sedikit terkejut itu, berhasil menarik niat Revina untuk..


CUP…


Kecupan singkat itu langsung dikembalikan kepada yang punya. 


Dhavin tentu saja sedikit melebarkan matanya, karena ulah istri kecilnya itu cukup lumayan menantang. 


“Memuji saja kenapa iri? Kamu kan sudah mendapatkan banyak pujian dariku.”


“Kapan? Kenapa aku tidak ingat?” Tanya Dhavin lagi. 


“Berarti sirkuit otakmu sedang bermasalah.” Tatap Revina datar terhadap Dhavin yang saat ini wajahnya masih berada di depannya persis. 


“Iya, sirkuit otakku memang sedang bermasalah, jadi sebagai Istri, seharusnya tahu bagaimana cara memperbaikinya kan?” timpal Dhavin. 


Dua kilatan dari sorotan mata mereka berdua langsung terasa sampai ke kedua orang wanita yang saat ini bekerja menjadi babysitter.


“................” Revina masih menatap datar wajah Dhavin. 


Dhavin yang mendapatkan tatapan serta ekspresi datar dari Revina, langsung dibuat terkejut, karena….


PLAKK…


Revina tiba-tiba saja menepuk kedua pipi Dhavin secara kasar, sekaligus menangkap wajah tampan Dhavin, hingga mereka berdua benar-benar larut untuk saling berc*i*uman.


CUP…


“Dhavin, kau lebih hebat dari siapapun dan dari segi apapun. Apakah kamu puas?!” Desak Revina, tidak mau membuang waktu lagi untuk melayani percakapan yang terus saja terjadi dengan Dhavin, Dhavin, dan Dhavin, seakan dirinya memang tidak ada teman lain untuk Revina ajak bicara. 


Masih di dalam cengkraman kedua tangan Revina, wajah tampannya pun memberikan senyuman paling lebar yang pernah ada.


“.............!” Revina jadi salah tingkah sendiri melihat Dhavin bisa memberikan senyuman selebar itu, bahkan dimata Revina sendiri jadi terkesan seperti orang gila, karena senyuman lebar itu benar-benar kurang cocok dengan bibir seksi yang biasanya tersenyum tipis, miring, dan diam tanpa senyuman. 


“Puas.” Kata Dhavin.


Sedangkan kedua babysitter itu, hanya bisa diam tanpa membuat suara apapun, karena tidak mau menghancurkan momen bahagia diantara kedua majikannya itu.


‘Apalah daya, aku masih jomblo.’ Batn babysitter ini.

__ADS_1


‘Kenapa Tuan dan Nyonya selalu mengumbar kemesraan di depan kami? Aku sangat iri.’ 


__ADS_2