
Menghiraukan apa yang di tanyakan Vian kepadanya, Dhavin langsung menelepon seseorang.
Tidak butuh waktu lama, karena orang yang Dhavin hubungi itu langsung mengangkatnya.
-”Ha”-
“Apa yang sedang kau lakukan sekarang?” Tanya Dhavin pada seseorang yang ada di ujung telepon.
-”Apalagi kalau bukan bekerja.”-
“Apa itu maksudnya bekerja sambil duduk santai seperti itu?”
‘G-gawat, dia ternyata langsung menemukan anak buahnya yang aku undang itu.’ Vian yang terkejut dengan kenyataan bahwa ia sebenarnya mengundang Vinella pergi ke pestanya, diam-diam hendak kabur dari sana.
Tapi sebelum itu terjadi, tangan Dhavin lebih dulu menangkap kerah baju Kevin.
“............” Dan itu pun di susul dengan tatapan yang cukup dingin dari Dhavin kepada Vian yang hendak kabur dari sisinya.
-”S-seperti itu?”- Suara dari seorang wanita yang siapa lagi kalau bukan Vinella, kembali terdengar masuk kedalam telinga Dhavin.
Dan orang yang sedang Dhavin hubungi pun akhirnya menyadari keberadaannya!
“Jangan menatap ke arah sini.” Tekan Dhavin memperingatkan, lalu membalikkan posisi tubuhnya sehingga kini Dhavin memunggungi sekumpulan orang yang sedang bersenang-senang itu.
-”B-baik.”-
“Aku akan menanyakanmu setelah kamu selesai, dengan pekerjaan yang kamu maksud itu, mengerti?” Peringat Dhavin sebelum ia akhirnya memutuskan panggilan itu secara sepihak.
Selesai menutup telepon, Dhavin menyeret Vian masuk ke dalam rumah.
_________________
“Pria itu?” Adel yang tidak sengaja melihat ke arah balkon itu, tanpa di sengaja jadi melihat Dhavin yang sedang menyeret Vian masuk. “Bukannya itu Dhavin ya?” Tanya Adel pada dirinya sendiri sambil menutupi mulutnya, karena ia berharap kalau hanya dirinya saja yang sadar dengan keberadaan Dhavin yang rupanya adalah kejutan dari apa yang di katakan oleh Vian tadi siang.
Adel yang baru saja datang dan hendak ikut dalam perkumpulan yang ada di dalam kolam renang sana, tiba-tiba mengurungkan niatnya. Karena tujuannya sekarang berubah. Dia ingin menemui Dhavin saat ini juga, apalagi di saat dirinya sedang memakai bikini, maka dia berhadap kalau laki-laki itu akan tergoda olehnya.
Sedangkan di sisi lain. Vinella yang kini memang sedang duduk santai di kursi santainya, sudah berekspresi serius.
__ADS_1
“Ada apa? Kenapa wajahmu seperti orang yang baru saja melihat hantu seperti itu?” Tanya teman Vinella. Sebenarnya juga teman baru kenal, tapi karena melihat raut wajah Vinella terlihat buruk, ia pun jadi merasa khawatir. “Apa jangan-jangan yang barusan meneleponmu itu kekasihmu ya?” Imbuhnya.
‘Kekasih apaan dia ini, yang meneleponku itu penggenggam nyawaku. Bos, kenapa kamu kamu ada di sini juga sih? Bagaimana dengan Nyonya? Apa Bos memilih berdalih meninggalkan Nyonya agar bisa ikut pesta ini juga seperti tahun sebelumnya?’
Vinella pun masih ingat sekali dengan pesta kolam renang yang di adakan di salah satu hotel bintang lima, dimana Dhavin benar-benar ikut pergi ke pesta itu, sampai banyak sekali wanita yang datang dan mengerumuninya.
‘Aku pikir Bos sudah khilaf, tapi masih sama ya?’ Pikirnya lagi.
Dan lamunannya kembali menghilang setelah teman barunya itu tiba-tiba saja ingin menyentuh buah dadanya.
“Vin, sebenarnya bagaimana caramu bisa punya dada sebesar ini? Aku sangat iri.” Pertanyaan yang bear-benar cukup jujur itu sungguhan terlontar dari mulutnya.
“Karena besar sendiri, jadi aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu itu.” Jawab Vinella.
“Apa kamu sudah pernah melakukannya dengan kekasihmu? Pasti bisa hebat kan?”
“Jika kamu mendekatiku hanya karena penasaran denganku, lebih baik pergi.” Kata Vinella memperingatkan. Karena dia sungguh tidak suka jika ada orang yang terlalu penasaran dengannya.
“Jangan begitu dong Vin, kan kita baru ken-”
“Karena kita baru kenal itulah, pasti memang ada sesuatu yang membuatmu ingin mendekatiku kan?” Tatapan matanya yang sedang menyelidik wanita di sampingnya itu pun sontak membuat raut wajah dari wanita tersebut jadi aneh, antara takut dan entah, itu seperti ekspresi yang cukup di paksakan untuk terus bersikap normal. ‘Kamu pasti suruhannya Adel, iya sajalah. Pakai mencoba tersenyum kepadaku terus lagi. Itu sudah ketahuan bohongnya.’
‘Banyak sekali alasan. Bualan sampah di pertahanin.’ Tapi Vinella yang tidak begitu peduli dengan alasan apa yang akan di ucapkan oleh wanita itu, Vinella pun beranjak dari kursinya, dan berjalan pergi meninggalkannya.
“Apa? Ambil saja sendiri. Aku ingin kembali main voli.” Kata pria ini pada temannya.
Hingga, saat Vinella sedang berjalan di tepi kolam, tanpa sengaja ada laki-laki yang berjalan tapi tidak lihat jalan, sehingga ketika Vinella berusaha untuk menghindar cipratan air dari orang yang barusan masuk kedalam air kolam dengan gaya batu, mereka berdua pun langsung terjatuh.
BRUK.
“Akh..” Rintih Vinella saat dia akhirnya terjatuh dengan serta merta ke lantai yang keras.
“E-eh. M-maaf.” Kata pria yang kebetulan jatuh dan menindihnya.
“Prwiwit.”
“Ciee….terusin saja itu, tanggung. Mumpung sudah di posisi pas!” Teriak salah satu orang laki-laki yang sedang ada di dalam kolam renang dan sedang memegang bola Voli.
__ADS_1
“Betul itu, betul. Lanjutin di kamar gih, pasti menyenangkan.” Satu orang lainnya pun mendukung juga.
BLUSH….
Laki-laki yang sempat menindih Vinella itu pun langsung tersipu malu, saat dia mendapati apa yang dinamakan pemandangan wah, karena melihat sepasang aset yang di bungkus dengan rapi oleh kain yang tidak seberapa lebar untuk menutupi dua buah itu, menghasilkan pemandangan menakjubkan untuknya.
“Kamu memang pria normal.” Tatap Vinella dengan tatapan datar.
“Ayo, cium, cium, cium,” Bujukan dari semua orang langsung memeriahkan suasana di halaman belakang rumah mewah milik Vian.
“Tidak, saya minta ma-”
Kesal dengan teriakan itu, Vinella langsung menepis tubuh laki-laki yang ada di atasnya itu dengan menggunakan tangan kanannya dalam sekali percobaan.
BYURR…..
Seketika suasananya menjadi hening, dan Vinella kembali berdiri dengan tatapan mata dari semua orang yang terkejut dengan cara menyingkirkan pria dengan sekali percobaan itu benar-benar berhasil membuat orang tersebut jatuh.
Setelah berdiri, Vinella pun memberikan pesan terakhir. “Kebetulan dia bukan tipeku. Jadi jangan meneriaki hal yang tidak berguna itu.” Tekan Vinella sebelum akhirnya ia pergi meninggalkan area tempat di adakannya pesta itu.
“Phuahh…!” Laki-laki ini pun akhirnya keluar dari dalam air, setelah harus menyesuaikan posisi tubuhnya yang sempat masuk dan hampir terus tenggelam, di dasar kolam.
“D-dia seram.”
“U-untung saja bukan aku. Jika aku, mungkin aku langsung di habisi dengan pukulannya itu.”
Pada akhirnya tidak ada satu pun yang ingin membahas Vinella karena sifat dingin yang di perlihatkan untuk mereka semua, membuat mereka sama sekali tidak ingin berurusan dengannya.
‘Aku dengar Adel juga di undang ke sini. Dari tadi aku sama sekali belum melihatnya, aku harus mencarinya sekarang. Apalagi mengingat Bos juga ada di sini, pasti akan ada sesuatu.’ Vinella berjalan dengan langkah lebar dan cepat.
Ia sama sekali tidak ingin terjadi sesuatu apapun, karena yang tadi siang saja sudah membuat Vinella sendiri merasa malu setenagh mati, karena harus berteriak seperti orang gila, padahal orang yang sedang meneleponnya itu adalah Bos nya sendiri.
_______________
Di sebuah lorong mewah, lantai marmer berwarna hitam berpadukan dengan dinding berwarna putih berhiaskan berbagai lkisan mahal serta dekorasi plafon yang mewah membuat kesan ia sedang berada di lorong Istana.
Dan wanita yang sedang berjalan seorang diri dengan pakaian bikini berwarna merah maroon, membuat beberapa penjaga serta pelayan yang ada di sana langsung tersipu.
__ADS_1
“Nona, apa ada yang bisa saya bantu?” Tanya pelayan laki-laki tersebut kepada Adel.
Dengan wajah sipu malu yang sangat jelas sedang berusaha di tahan itu, Adel hanya menjawabnya sekilas tanpa menghentikan langkah kakinya. “Aku ingin menemui Vian. Sekarang dia ada di mana?”