
“Ayo masuk.” Dhavin menyambut Revina sekaligus menawarkan Istirnya itu untuk masuk kedalam Fitting Room.
Revina menerima sambutan tangan milik Dhavin, lalu beranjak dari kursi roda dan akhirnya mereka berdua pun masuk bersama.
Ketegangan yang memacu mental mereka pun sedikit hilang selepas sepasang suami Istri itu akhirnya masuk kedalam ruang ganti bersama-sama?
“Kyaa …, ini sangat mendebarkan. Aku baru pertama kali melihat ada sepasang suami istri seromantis itu.” Ucap pegawai yang pertama.
Dua wanita lainnya hanya menganggukkan kepalanya sebagai tanda setuju.
“Kau benar, kau lihat tadi, suaminya bahkan sampai mencium istrinya, karena tidak mau melihatnya menangis karena malu. Aku benar-benar sangat iri.”
“Benar itu, benar. Aku bahkan mengecek pakaian da lam yang di pilih oleh suaminta tadi, ukurannya bisa benar-benar pas dengan yang lain, bahkan kalau di pikir-pikir, kelihatannya langsung pas di tubuh Istrinya juga.”
Mendengar pernyataan itu, ketiga wanita tersebut langsung diam.
“Tanpa mengukurnya, tanpa menyentuhnya, hanya dengan sekali lihat, bisa pilih dengan ukuran yang pas.”
Tiga orang, tiga kepala, tapi satu imajinasi pun muncul secara bersamaan. Hingga rona wajah mereka bertiga terlihat juga secara bersamaan.
‘Berarti suaminya memang sudah hafal betul dengan ukuran milik Istrinya.’
‘Hanya sekali lihat, bisa pas. Kira-kira seberapa banyak suaminya menidurinya sampai hafal seperti itu?’
‘Dia memang pria yang cukup mengerikan. Tapi apapun itu, siapa yang tidak suka dengan caranya untuk meluluhkan hati semua orang di sini?’
“Ah~”
Satu lenguhan tidak jelas itu sukses membuat mereka semua yang ada di luar menghentikan aktivitas dan pembicaraan mereka.
‘A-apa yang sedang mereka lakukan di dalam?’ Satu pertanyaan yang sama dari tiga orang wanita tersebut.
“T-tunggu, jangan-”
‘Jangan apa?’ Pikiran mereka semua jadi terhanyut dalam imajinasi yang liar.
“Hahh~ Lihat sudah sebasah ini, dan tembus juga. Ini harus di ganti.” Ucap Dhavin, memberikan saran yang harus di turuti.
“B-basah? Kenapa otakku jadi traveling seperti ini.” Lirih salah satu diantara mereka bertiga, karena merasa tidak tahan dengan suasana yang terdengar cukup intim itu.
Padahal di dalam Fitting Room.
“Itu kan salahmu, membuatku seperti ini.” Revina menuntut, yang salah adalah Dhavin, dan memang benar, Dhavin lah yang pertama kali membuat perkara. ‘Jika dia tidak menggunnting semua pakaian da lam, aku tidak mungkin hanya memakai celana dan rok itu saja. Kan jadinya aku tidak memakai pembalut.
Karena aku tahu dia akan membelikanku rok yang baru, tapi tetap saja sih, dia ini benar-benar pria yang cukup mengerikan. Posesif sekali denganku, sampai dia seperti ini kepadaku setiap hari, merayu, menggoda, dan menyentuhku sana sini.’
__ADS_1
Revina pun menghela nafas dengan kasar. Dia jadi merasa gerah, setiap kali berdua dengan Dhavin. Terus memulai cerita sampai harus berbagi nafas di tempat yang sama juga.
“Karena sudah seperti ini, pakai yang atasan dulu. Sini aku bantu lepasin.” Ucap Dhavin. Sebagai orang yang tidak kenal malu itu, dia menuntun Revina untuk membuka pakaiannya.
SRUK.
Memang benar, sekarang istrinya sudah tidak memakai apapun. Tapi karena ia sudah menyiapkan pengganti dari semua yang sudah Dhavin gunting, jadi ia akan melihat penampilan baru milik Revina.
“Ternyata masih saja malu seperti ini.”
“Siapa yang tidak malu, kamu kan pria?” Sahut Revina sammbil merungut dan membuang muka.
“Ya~ Dan kamu adalah wanita.” Dengan senyuman dan tatapan lembutnya saat melihat aksi lucu dari Revina yang sedang berwajah masam, dan mencoba menutupi apa yang harusnya memang di tutupi di depan orang lain, jika memang benar-benar punya rasa malu. ‘Manis sekali dia ini. Aku jadi tidak bisa menahannya.’
Lalu Dhavin pun langsung memeluk tubuh Revina saat itu juga.
“K-kenapa tiba-tiba memelukku?” Terkejut Revina.
“Hanya ingin. Masa tidak boleh, memelukmu di saat aku memang ingin memeluk wanitaku sendiri?” Kata Dhavin, mulai merasakan aneka rasa yang bisa Dhavin rasakan ketika mereka berdua akhirnya berpelukan seraya berbagi nafas di tempat yang sama.
“Hmm….”
Karena di depan mereka sebenarnya ada sebuah cermin besar, maka Dhavin pun melihatnya, melihat Revina memang sudah benar-benar bertubuh polos.
Tapi karena ia tidak sengaja melihat adanya darah yang sempat menyusuri area paha nya Revina, ia pun melepaskan pelukannya.
“Baik Tuan, kami mengerti.” Jawab mereka bertiga secara serentak.
‘Dia benar-benar memperhatikanku?’ Batin Revina sambil mundur sedikit menjauh dari Dhavin.
Dhavin yang sudah melepaskan pelukannya itu langsung memilih warna dan model mana yang lebih dulu yang harus Revina coba.
“Coba yang ini.” Dhavin menawarkan warna merah untuk permulaan.
“Hmm..” Revina pun membalikkan tubuhnya, sehingga dia memunggungi Dhavin.
Dan Dhavin, ia pun membantu memakaikan bra itu ke tubuh Revina.
“Ini bagus. PIlih yang ini.”
“Katanya aku disuruh memilih sendiri.”
“Memang, tapi itu nanti, setelah aku.” Kata Dhavin.
Satu pilihan sudah dipenuhi, pilihan kedua, ketiga sampai seterusnya. Dhavin memakaikan nya ke tubuh Revina.
“Eh ini.” Revina segera melirik ke bawah. Dia mendapati adanya Asi yang keluar.
__ADS_1
“Sini.” Dhavin yang kebetulan membawa saputangan, menyeka cairan itu lebih dulu.
Rona pipi itu kembali menghiasi wajah Revina. Dia tetap saja masih belum bisa terbiasa dengan perlakukan manja yang di berikan oleh Dhavin kepadanya.
“Sebenarnya ini sudah mulai sakit, aku seharusnya sduah memompanya. Dan aku lupa, membawanya.”
Dhavin jadi bingung sendiri melihat Revina memang terlihat sedikit merasa sakit, ketika Dhavin menyeka air Asi itu dari tempatnya langsung. ‘Mau kencan saja kenapa ada halangan yang seperti ini?’
Dhavin dalam diamnya tersenyum mencibir dirinya sendiri, akhirnya dia bisa ikut merasakan betapa susahnya menjadi pasangan dari status yang kini berubah menjadi Ayah, dia harus memperhatikan lebih banyak hal mengenai kebutuhannya Revina.
“Tuan, saya sudah membawa apa yang anda minta.”
‘Datang juga.’ Dhavin segera berbalik, dan mengambil pesanan yang ia minta beberapa waktu lalu. “Kamu pakai saja langsung itu, dan gaunnya, pakai juga.”
Revina menatap datar gaun yang baru Dhavin terima itu sungguh tidak sesuai dengan yang di inginkannya.
“Sekarang aku sudah tidak lagi memakai gaun dengan resleting di belakang, harus di depan.”
Dhavin lagi-lagi jadi salah, karena ia menyadari kalau penggunaannya selain biar jadi praktis, jika resletingnya di depan, tujuan lainnya memang agar bisa di buka di waktu yang di perlukan, mengingat sudah memiliki dua bayi kembar yang harus di beri makan secara langsung atau sambung.
“Berikan yang resletingnya di depan.” Dhavin jadi mengembalikannya lagi kepada pegawai toko tersebut.
“B-baik.”
‘Dari pada meninggalkannya, lebih baik aku pesan agar Vinella membelikannya dan membawanya kesini.’ Dhavin pun akhirnya mengeluarkan handphone yang sedari tadi ia simpan dalam mode hening. ‘Apalagi yang di lakukan wanita ini? Dia benar-benar menerorku.’
Dhavin menatap layar handphone nya dengan cukup serius. Karena deretan panggilan tidak terjawab, semuanya berasal dari Vinella.
Karena itulah, Dhavin kembali menelepon wanita itu lagi.
______________
“Hmm …, ini sudah dan ini juga sudah. Kalau begitu, karena kebetulan aku mendapatkan undangan untuk pesta kolam renang, sekarang aku hanya perlu membeli pakaian renang.” Dan yang di maksud dengan pakaian renang, tidak lain adalah pakaian da lam.
Tidak ada yang berbeda dari itu, makanyya Adel pun masuk ke toko yang sama dengan Dhavin dan Revina yang memang sudah ada di sana.
“Ternyata di sini ramai juga.” Gumam Adel baru saja masuk kedalam toko.
Tapi yang lebih membuatnya terheran adalah Adel melihat banyak wajah yang tersipu malu. Dengan ekspresi wajah dengan pipi merona seperti itu, sudah pasti ada sesuatu yang menarik kan?
Adel yang penasaran itu pun mencoba menghampiri salah satu wanita yang kebetulan memang sedang memilih pakaian da lam.
“Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa wajah kalian banyak yang merona seperti itu?” tanya Adel dengan tatapan penuh menyelidik.
“Itu karena a-”
Sampai suara dari tawa yang cukup keras langsung mencuri perhatian semua orang.
__ADS_1
"Hahahaha....!"