Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2

Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2
89 : DBMJCP : Strategi


__ADS_3

“Ha?! Ahahaah? kamu yakin aku ingin melakukan itu untukmu?!” 


Suara keras yang datang itu pun berasal dari Vinella yang sedang menelepon seseorang sambil berjalan masuk kedalam toko yang dimana baik itu Dhavin, Revina dan Adel berada. 


“‘Baiklah, asal kamu bisa membayarku lebih mahal. Jika seperti itu, aku pasti akan melakukan apapun yang kamu inginkan. Makannya, berikan aku uangnya sekarang, biar aku beli sesuatu yang bisa membuatmu tertawan oleh penampilanku ini.” 


Padahal arti dari yang dikatakan oleh Vinella itu adalah : “Baiklah, aku akan melakukan hal bodoh dengan berbicara keras seperti orang gila, asal Bos bisa membayarku lebih. Dan karena aku sedang melakukannya untuk Bos, Bos harus membayarku sekarang agar Bos bisa kabur dengan Nyonya dari sini.” 


Karena kedatangan Vinella cukup mengganggu dengan suara kerasnya, dua dua orang pegawai itu berjalan menghampiri Vinella. 


“N-Nona, apakah anda bisa memelankan suara anda.”


“Apa?! Kenapa aku harus melakukan itu?” Tanya Vinella dengan nada yang sedikit tinggi. “Aku mengganggu ya? Padahal aku juga ingin datang kesini untuk membeli, tapi kelihatannya kamu ingin mengusirku dari sini.”


Ketiga orang pegawai itu pun tersentak kaget, karena rupanya Vinella mengunjungi toko mereka untuk membeli juga, maka ia pun tidak segan untuk memberikan keramahan yang bisa mereka berikan kepada Vinella. 


“M-maafkan saya, saya tidak bermaksud mengusir anda.”


“Yah, itu kan sudah jadi kebiasaan orang-orang seperti kalian, pilih-pilih pelanggan.” Dengan nada sombongnya, Vinella mengibarkan rambut panjang miliknya dan berjalan masuk lebih dalam lagi. 


“Ini kelihatannya bagus juga. Aku beli yang ini saja ah.” Wanita yang hendak di tanyai oleh Adel pun sudah memilih pilihannya dan langsung pergi menuju meja kasir, sehingga Adel pun sama sekali tidak mendapatkan jawaban atas pertanyaannya tadi. 


“Tolong bungkus yang ini.” 


Adel yang tidak mendapatkan informasi apapun tadi, terpaksa melanjutkan tujuannya yang lebih berarti ketimbang mendengar hal yang sudah lewat tadi. 


“Huh, manusia memang berbeda, bahkan karakter serta cara berpikirnya pun berbeda. Kalau saja-” Adel meletakan paper bag yang dia bawa hasil belanja tadi ke atas sofa, lalu memilih pilihan yang terpajang di patung manekin. 


“75D”


Tapi selagi kalimat miliknya tadi sempat menggantung di udara, Adel pun diam-diam memperhatikan Vinella yang sedang menyuruh dua orang pegawai toko untuk mencarikan pakaian da lam dengan ukuran yang Vinella sebutkan tadi. 


“B-baik.” Kedua pegawai itu langsung mencari ukuran sesuai dengan keinginan Vinella. 


“Nona, apakah anda butuh bantuan?” Menyambut Adel yang baru saja mulai memilih. 


“Tidak, aku hanya ingin melakukannya sendiri.” Tolak Adel, sama sekali tidak menerima bantuan, karena jika menerima bantuan, yang ada hanyalah rayuan untuk pilih yang ini dan itu, padahal ia hanya perlu beli tiga, dan itu bisa bertambah jika di rayu oleh orang seperti mereka.


“Kalau butuh bantuan, silahkan datang pada saya.” Pesan wanita ini kepada Adel. 


‘Sebenarnya siapa yang ada di dalam kamar itu? Kenapa lama sekali?’ Pikir Adel sambil melirik ke arah kamar pass yang dimana tirainya masih tertutup. Hingga Adel melihat ada kursi roda yang menganggu di samping kamar pass itu. “Sudahlah, kalau aku memperhatikannya terus, bisa-bisa aku akan terlambat. 


Dengan begitu, Adel pun memfokuskan kembali urusannya.

__ADS_1


“Yang mana Nona, ini atau yang ini?” memberikan pilihan kepada Vinella. 


“Oh, aku ingin model yang seperti ini, biar terlihat lebih seksi.” Vinella memperlihatkan model yang dia dapat dari seorang temannya itu kepada mereka berdua. 


“Whoow~ Pasti anda akan memperlihatkan pada pasangan anda ya?” Salah satu pegawai itu penasaran. 


Sambil menyerahkan pesanan Vinella yang pertama rekan kerjanya segera mengambil permintaan yang baru saja di katakan oleh Vinella. 


‘Pasangan apa, aku hanya sengaja beli biar tidak ada yang curiga dan protes aku hanya berteriak seperti orang gila tadi. 


Tapi untungnya Adel itu tidak menyelidikiku lebih. Hanya saja, aku jadi membeli yang tidak ingin aku beli.’ Benak hati Vinella. 


Hingga Vinella sadar kalau Bella masuk kedalam kamar pass, Vinella langsung memberi pesan kepada Bos nya itu. 


______________


Dhavin yang berhasil menunggu di dalam berdua sampai membuat banyak dalih untuk Revina, sampai Revina yang merasa lelah, segera Dhavin pangku karena hanya ada satu kursi saja, akhirnya acara duduk romantis itu berakhir juga. 


“Kita ke tempat selanjutnya. Yang lebih menyenangkan dari ini. Apa kamu mau?” Bisik Dhavin dengan nada menggoda tepat di telinga kanan Revina. Sampai Revina sendiri jadi merasa geli, karena Dhavin sempat menggigit daun telinganya, sedangkan salah satu tangannya melingkar di perutnya. 


“Iya.” Lirih Revina, karena dia memang berusaha untuk menahan rasa geli yang membuatnya ingin tertawa. 


Mendengar jawaban Revina, Dhavin menurunkan Revina dari pangkuannya, meninggalkan pakaian da lam semua pilihan yang sudah di pilih oleh Revina maupun Dhavin di sana. 


SREK.


Padahal mereka semua ingin mengutarakan suara takjub mereka, tapi semua suara itu langsung mereka telan kembali setelah di berikan kode tutup mulut oleh Dhavin dengan cara menempelkan jari telunjuknya di bibirnya sendiri. 


Maka dari itu, semua orang di sana pun tanpa sadar jadi mengiyakan untuk menutup mulu mereka semua, meskipun sipu malu dari rona wajah mereka semua kembali muncul, karena merasa takjub dengan penampilan dari Dhavin yang bagi mereka cukuplah memukau. 


“Ad-mph.!” Revina yang hendak bicara setelah berhasil duduk kembali di kursi roda pun langsung di bungkam kembali dengan ciuman. ‘Kenapa mereka semua jadi menutup mulut setelah kami berdua keluar? Dan Dhavin ini, dia benar-benar tidak ingat tempat.’ 


Setiap kali ciuman itu terlepas, Revina yang hendak bicara itu langsung di bungkam kembali. 


“Pu-mph-”


Dhavin melepaskan tautan diantara mereka berdua setelah melihat Revina yang terlihat ngos-ngosan. Tapi sebelum Revina berbicara dan mengeluarkan suara, Dhavin pun memberikan bisikan kecil. “Bicara, aku cium.”


Tentu saja pilihannya adalah diam. 


Setelah dirasa beres, Dhavin memberikan kode pada salah satu diantara mereka bertiga untuk membungkus semua yang Dhavin dan Revina pilih dan ditinggalkan di dalam kamar pass. 


Dan anggukan setuju pun segera membuat Dhavin membawa Revina untuk segera pergi dari sana. 

__ADS_1


‘Aku tidak tahu aku harus memuji Bos cekatan atau lelet, tapi akhirnya semuanya jadi beres. Adel dan Bos serta Nyonya jadi tidak bertemu langsung.’ Satu perasaan lega itu pun sukses menyelimuti hati Vinella yang sedang di goda dengan deretan pakaian da lam yang di perlihatkan oleh mereka berdua.


“Ini, kami sudah membawa pesanan seperti yang anda mau dengan berbagai warna.”


“Aku pilih yang hitam.” Akhirnya Vinella memilihnya tanpa sungkan, karena dia baru saja mendapatkan tambahan gaji hasil dari perbuatannya untuk menarik perhatian banyak orang tadi. 


“Yang ini, mana warna yang akan anda pilih?” 


“Merah dong~” Jawab Vinella dengan santai.


“Ini?” 


“Putih saja. Ok, aku beli tiga itu.” Tunjuk Vinella ke arah tiga pilihan yang baru saja ia pilih. 


“Baik, akan kami bungkus.” Dengan senyuman paling ramah. 


“Huahh~ Akhirnya! Aku bisa bersenang-senang!” Semangat Vinella pun berhasil membuat kesalahpahaman besar untuk sebagian besar orang yang ada di sana. 


“Semoga anda sukses ya Nona.” Satu pujian itu pun keluar dari salah satu diantara mereka berdua. 


“Terima kasih. Aku pasti akan menyukseskan segala hal dengan diriku ini.” Ucap Vinella dengan wajah senang sekaligus membanggakan dirinya sendiri di depan mereka semua 


Yang lantas, kesalahpahaman pun semakin besar. 


‘Pasti wanita ini benar-benar penyuka permainan ranjang dengan kekasihnya. Senangnya dia.’ Batinnya, melihat Vinella sedang membayar dengan menggunakan kartu kredit. ‘Sedangkan pasangan yang tadi, mereka berdua romantis sekali. Aku harap bisa bertemu dengan mereka lagi.’ Senyuman tipis di akhiri dengan kekehan itu pun muncul juga. 


SREK…


Sedangkan Adel, dia kembali menatap heran semua orang yang kembali tersipu malu.


‘Sebenarnya hari ini ada apa dengan mereka semua?’ Pikir Adel, sama sekali tidak mengerti dengan suasana di sekitarnya yang aneh, karena hampir semua wanita di dalam toko, wajahnya kembali tersipu malu. ‘Jadi orang yang ada di sebelahku sudah pergi?’ 


Adel pun menyempatkan dirinya untuk menoleh ke samping kirinya. Tirai dari kamar pass yang awalnya tertutup, sudah terbuka dengan keadaan ada satu orang pegawai yang sedang membereskan pakaian da lam yang sedikit berserakan. 


‘Aku tidak tahu harus berpikir apa lagi.’ Tidak mau tahu dengan suasana yang ada dan apa yang sebenarnya sudah terjadi, Adel pun pergi ke kasir setelah Vinella pergi lebih dulu dengan barang belanjaannya. “Ini, aku mau bayar.”


“Baik Nona, tunggu sebentar.” Pegawai di bagian kasir ini mendata belanja yang Adel beli itu. 


DRRTT…


DRRTT…


Adel mengangkat telepon nya. 

__ADS_1


“Apa? Jadi acaranya di undur jadi jam tujuh malam?” Tanya Adel pada satu orang yang ada di ujung telepon.


-”Ya. Tapi tenang saja, malam ini justru akan bertambah ramai, karena banyak undangan yang aku sebar. Intinya kamu tidak akan kecewa, untuk menunggu beberapa jam lagi.”- Jelas orang yang ada di ujung telepon. 


__ADS_2